ログインSlapp...!Lebar sinar itu hampir mencapai satu jengkal dan gerakannya cepat, mengejutkan lawan. Sinar merah patah-patah berhenti, karena Cumbu Bayangan harus menghadapi sinar kuning tersebut. Maka dengan menggunakan gagang pedang yang digenggam tangan kiri, Cumbu Bayangan mengadu kekuatan tenaga dalamnya. Dari lubang gagang pedang itu keluar sinar merah bagaikan semburan api yang amat terang. Sinar merah itulah yang menghantam sinar kuningnya Kunta Aji di pertengahan jarak mereka.Wuusss...! Blegarrr...!Tanah bergetar, beberapa pohon pun tampak terguncang akibat ledakan keras yang menggelegar itu. Kunta Aji terlempar ke belakang dan jatuh telentang dalam keadaan wajahnya menjadi hitam bagai disambar petir. Sedangkan Cumbu Bayangan melambung ke udara bagaikan diterbangkan oleh gelombang ledakan tadi. Namun ia masih sempat menjaga keseimbangan tubuh, sehingga sempat bersalto satu kali dan mendaratkan kakinya dengan tepat di tanah.Jlegg...!"Kismi..
"Poci Dewa tinggal di Bukit Serapah. Jika kau ingin menemuinya, pergilah ke arah utara sampai tiba di sebuah sungai, pergilah ke seberang sungai, karena Bukit Serapah ada di seberang sungai itu!""Apakah kau tak ingin mengantarku ke sana?""Aku harus mencari Ayunda. Belum tenang hidupku kalau belum membalas kematian Guru!" kata Pinang Sari dengan tegas.Baraka angkat bahu pertanda tak bisa memaksa kehendak Pinang Sari. Lalu, mereka pun berpisah dengan tatapan mata Pinang Sari yang mengandung arti rasa berat untuk lakukan perpisahan itu.Dalam pertengahan jarak, sebelum mencapai sebuah sungai, tiba-tiba Baraka membelokkan arah perjalanannya ke timur, ia lakukan hal itu karena mendengar suara seseorang berbicara secara samar-samar. Suara itu dikenal Baraka sebagai suara Kunta Aji.Rasa ingin tahu membuat Baraka mengendap-endap mendekati semak-semak ilalang, karena semak itu tampak gaduh dan berguncang gemerisik. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh
Baraka segera mendekati Pinang Sari dan segera mengerahkan hawa ‘Kristal Bening’-nya. Ujung jari itu keluarkan sinar putih bening bagaikan kaca.Sllaaap...! Juurrssss...!Sinar sebening kaca itu menghantam ulu hati, menembus beberapa kejap, lalu padam seketika.Beberapa saat kemudian, Pinang Sari mulai sadar dengan keadaan dirinya yang terkapar di rerumputan, ia segera bangkit pelan-pelan, sedangkan Baraka duduk di atas sebuah batu tak jauh dari si gadis berkulit sawo matang."Mengapa kau menyerangku sehingga akhirnya kau sendiri yang terluka," kata Baraka setelah gadis itu mencoba bangkit berdiri dan ternyata mampu berdiri tegak. Kekuatannya berangsur-angsur pulih seperti sediakala.Mata bundar bening itu memandang Baraka dengan cemberut. Mungkin ia masih menyangka bahwa Baraka ada di pihak Ayunda."Kalau kau tak menyerangku, kau tak akan menderita luka seperti itu," ujar Baraka lagi memancing perkataan Pinang Sari."Kau
Pikir punya pikir, pendapat itu betul juga. Baraka pun segera membatalkan niatnya untuk membawa Cumbu Bayangan ke Buyut Gerang. Pikirnya, di situ sudah ada Kunta Aji yang akan membawa Cumbu Bayangan ke perguruannya. Maka, Baraka pun segera berkelebat pergi ke arah pertarungannya Ayunda dengan seseorang yang belum jelas siapa orangnya.Kepergian Baraka melegakan hati Kunta Aji. Ia segera mengangkat Kismi, memanggulnya di pundak, lalu membawanya pergi. Sedangkan Baraka segera tiba di pertarungan itu. Rupanya Ayunda bertarung melawan seorang gadis berusia sekitar dua puluh lima tahun. Gadis itu memakai baju hitam dan celana abu-abu. Rambutnya lurus sebatas tengkuk lewat sedikit, bagian depan diponi. Kecantikan gadis itu membuat hidung mancungnya tampak jelas dan bibirnya tampak menggemaskan. Baraka terpesona sesaat memandang kecantikan yang alami dan berkesan lugu itu."Kau tak akan unggul melawanku, Pinang Sari!" gertak Ayunda sambil kembali lepaskan pukulan jarak jauhny
Nada bicaranya semakin memanja. "Mengapa kau hiraukan, Baraka? Nanti kita kemalaman di perjalanan lho.""Aku kenal gadis berjubah kuning itu.""Terus kalau kenal mau apa?" nadanya sedikit ketus."Aku harus menolongnya. Kita ke lembah itu, Ayunda!""Tidak mau!" Ayunda cemberut. "Kalau kau mau ke sana, pergilah ke sana. Aku menunggu di sini saja.""Mengapa kau tidak mau ke sana!""Karena tujuanku pergi menemui Nini Pucanggeni, bukan mencampuri urusan orang lain!"Baraka agak tak enak hati, sehingga timbul kebimbangan yang menggelisahkan.-o0o-PERTARUNGAN itu sebenarnya merupakan pertarungan yang tak bisa dicampuri orang lain, karena yang bertarung adalah murid-murid satu perguruan. Cumbu Bayangan menolak paksaan Kunta Aji untuk pulang ke perguruan. Akibat penolakan itu, Kunta Aji menjadi jengkel dan mencoba dengan cara kasar. Tapi Cumbu Bayangan ternyata berani melayani serangan kakak perguruannya itu.
Ayunda menambah penjelasannya lagi. "Dulu anak itu dibuang bersama ibunya karena anak itu berupa manusia biasa, berbadan kurus, tidak seperti ayahnya. Tapi belakangan ini rupanya Gandapura sadar bahwa anak itu bagaimanapun juga adalah anaknya. Satu-satunya anak lelakinya adalah Ranggu Pura. Karenanya, ia mencari anak itu untuk menurunkan seluruh ilmunya. Jika Ranggu Pura sudah mendapat warisan ilmu dari Gandapura, maka ia pun akan menjadi manusia pemakan daging manusia."Pendekar Kera Sakti tertegun membayangkan wajah Ranggu Pura yang tampan dan punya sikap berjiwa ksatria. Dalam bicaranya pun penuh nada kejantanan dan mampu bersikap lemah lembut. Dalam hati Pendekar Kera Sakti pun berkata, "Jika Ranggu Pura mendapat warisan ilmunya Gandapura, maka sudah pasti dia akan menjadi manusia terkutuk dan membahayakan bagi keselamatan orang banyak, ia harus dimusnahkan jika sampai kembali kepada ayah kandungnya, sebab itu berarti dia sudah menerima warisan ilmu sang Ayah."Ayunda memecah kesu
"Karena sungai itu mengalir di samping kediaman sahabatku, Arum Kafan dan kedua adiknya. Jika air itu diminum, maka Arum Kafan dan kedua adiknya bisa mati!""Kekasihmukah Arum Kafan itu?" tanyanya masih sambil memetik-metik bunga. Seakan acuh tak acuh pada Baraka. Terdengar suara Baraka me
"Menyimpan segenggam cinta adalah lebih abadi daripada mencurahkannya, Cah Ayu. Barangkali kalian belum mengetahui, bahwa Pendekar Kera Sakti itu telah terikat hatinya oleh perempuan lain yang anggun dan bijaksana.""Siapa perempuan itu, Ki Darma?" sergah Kembang Darah ingin tahu.T
Setelah dijelaskan lebih rinci lagi maka meledaklah tawa Logayo bersama yang lainnya. Rupanya Logayo salah duga dan menyangka mau dibabat pedang oleh Ekayana, padahal Ekayana mau memberi laporan dan meminta tolong tentang tangannya yang kaku itu. Andai Ekayana datangnya tidak dari belakang Logayo
"Menurutmu, apa yang dicari gurumu di petilasan tempat tinggalnya dulu itu!""Sudah kubilang, aku tak tahu!" sentak Kirana. "Tapi sebelum guruku pergi, sudah pamit kepada salah satu temanku bahwa dia mau ke Cemara Tunggal. Lalu aku menyusulnya kemari dan menemukan Guru sudah terkapar di ba







