MasukCAHAYA pagi muncul dari balik bukit bertebing. Dari arah pantai tampak sosok bayangan hitam berdiri di tebing itu membelakangi matahari. Sosok bayangan hitam itu tampak berdiri tegak. kakinya merenggang, kedua tangannya sedikit mengembang berkesan gagah dan kekar. Garis bayangan pedang tampak membayang pula dn pinggang kirinya. Melihat bentuk pedang yang memanjang ke bawah. agaknya senjata itu tak layak dikatakan sebagai pedang. Lebih tepat jika dikatakan sebagai samurai bersarung hitam.
Rupanya di pantai sudah ada orang yang menunggu bayangan hitam itu. Orang yang menunggu di pantai itu mengenakan baju tangan panjang putlh dirangkap rompi merah dan celananya juga merah. Rompi dan celananya itu mempunyai hiasan benang emas bersulam. Rambutnya pendek, berikat kepala dari Logam emas dengan batu merah bening di tengahnya. Rupanya ia seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun. Tangannya memegang busur dengan anak panah siap dibidikkan, Pemuda itu ternyata anak raja Bumil
CAHAYA pagi muncul dari balik bukit bertebing. Dari arah pantai tampak sosok bayangan hitam berdiri di tebing itu membelakangi matahari. Sosok bayangan hitam itu tampak berdiri tegak. kakinya merenggang, kedua tangannya sedikit mengembang berkesan gagah dan kekar. Garis bayangan pedang tampak membayang pula dn pinggang kirinya. Melihat bentuk pedang yang memanjang ke bawah. agaknya senjata itu tak layak dikatakan sebagai pedang. Lebih tepat jika dikatakan sebagai samurai bersarung hitam.Rupanya di pantai sudah ada orang yang menunggu bayangan hitam itu. Orang yang menunggu di pantai itu mengenakan baju tangan panjang putlh dirangkap rompi merah dan celananya juga merah. Rompi dan celananya itu mempunyai hiasan benang emas bersulam. Rambutnya pendek, berikat kepala dari Logam emas dengan batu merah bening di tengahnya. Rupanya ia seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun. Tangannya memegang busur dengan anak panah siap dibidikkan, Pemuda itu ternyata anak raja Bumil
"Muri... ooohh...!"Habis sudah napas Sulang Dongo. Ia tak bernyawa lagi. Baraka menyesalkan kekerasan hati Sulang Dongo yang tak mau ditolong itu. Seandainya ia mau ditolong dan menyetujui perjanjiannya dengan Pendekar Kera Sakti, setidaknya sampai saat ini pun Sulang Dongo masih bisa menyebutkan nama Muria Wardani.Baraka segera mendekati Telaga Sunyi yang tundukkan kepala di bawah pohon. Dengan mata memandang tak berkedip suara Pendekar Kera Sakti pun terdengar jelas di telinga gadis itu."Mengapa dia mengulurkan tangan padamu, Telaga Sunyi? Mengapa dia memanggilmu Muria...?"Telaga Sunyi pun akhirnya tarik napas panjang-panjang dan berkata, "Memang akulah Muria Wardani!"Kini Pendekar Kera Sakti yang terperangah dengan pandangan mata tak berkedip sedikit pun. Seakan ada sesuatu yang menyumbat tenggorokan Pendekar Kera Sakti."Akulah Muria Wardani, dan akulah putri sang Adipati itu!""Ajaib sekali!" gumam Baraka. "Ajaib sekali, men
Setelah mereka melintasi desa ketiga, perjalanan terhenti kembali karena munculnya seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun yang menghadang langkah mereka. Lelaki itu bertubuh sedikit gemuk, mempunyai kumis lebat. Tampak gagah namun berwajah culas, ia mengenakan pakaian merah berlengan tanggung sampai lewat siku. Senjata yang dibawanya adalah golok lebar bergelang-gelang tiga buah pada bagian sisinya. Rambutnya yang panjang dijepit dengan ikat kepala warna merah juga."O, ini orangnya!" kata lelaki berkumis. "Ha, ha, ha, ha... rupanya hanya seorang bocah kemarin sore yang belum bisa buang ingus!""Apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?" tanya Baraka dengan heran."Apakah si manis itu belum sebutkan namaku?" sambil orang itu menuding Telaga Sunyi. "Sayang, ayo perkenalkan diriku kepada bocah ingusan itu!""Siapa dia, Telaga?" bisik Baraka kepada Telaga Sunyi. Gadis itu agak gugup, tapi akhirnya menjawab pertanyaan tadi."Dia yang bernama Sulang
Ketika mereka tiba di tempat semula, mulut gua masih tertutup batu besar. Kali ini, Baraka menggunakan ilmu ‘Mata Malaikat’-nya karena dadanya masih diliputi oleh gemuruh kecemburuan atas kata-kata Nyai Kucir Setan itu.Claaap...! Claaap...!Tiba-tiba dari kedua mata Baraka keluar sinar terang berwarna putih keperakan. Bentuknya sebesar lidi, melesat dari kedua mata Baraka. Sinar putih keperakan itu begitu melesat langsung berputar cepat, makin lama semakin besar, memercikkan bunga api warna merah.Woos, wooos, woos, woos...!Sinar putih keperakan itu bagaikan sinar laser yang kini menghantam batu besar yang menutupi mulut gua.Glegaaarrr...!Batu besar itu pun terbang dan terbelah menjadi tiga bagian.Cahaya matahari pagi masuk ke dalam gua, sementara dinding gua semakin bergetar. Langit-langit gua pun bertambah hancur. Dengan gerakan cepat Pendekar Kera Sakti melesat keluar dari mulut gua yang menjadi lebar akibat sebagi
Perempuan yang mengaku bernama Nyai Kucir Setan itu tersenyum sinis dan berkata, "Gadismu sangat mengkhawatirkan kau, Baraka. Tapi jangan hiraukan dia! Ikutlah aku masuk ke lorong itu!""Tidak. Aku... aku mau keluar dari gua ini, Nyai.""Bukankah kau ingin menemuiku?""Ya, tapi bukan untuk hal-hal lain. Aku hanya ingin meminta maaf atas... atas peristiwa yang menimpa muridmu, si Karto Dupak itu! Aku tak sengaja membunuhnya. Dia sendiri yang menantangku dan melepaskan jurus mautnya itu. Aku hanya menangkis dan... dan....""Dan dia sekarang mati. Aku sudah memakamkannya begitu kau melangkah meninggalkan desa itu!""Oh...?" Baraka bernada heran."Itu memang kesalahan muridku sendiri. Sekalipun begitu, seharusnya kau tetap harus menebusnya dengan nyawa. Tapi jika kau mau melayaniku, kau akan kuangkat sebagai murid baru, Baraka!""Hmmm... maksudmu... maksudmu melayani bagaimana, Nyai?""Ah, kau berlagak bodoh. Aku tahu kau punya gai
"Pakai kepala ayam juga bisa!" jawab Baraka membuat suasana agar tak terlalu dicekam ketegangan.Tak ada cara lain kecuali mengikuti saran Telaga Sunyi. Titik putih yang tadi dilihat Telaga Sunyi saat Baraka masih terkapar itu sekarang masih ada. Titik putih itu bagaikan ada di ujung lorong. Dan mereka pun bergerak menyusuri lorong tersebut dengan saling bergandengan, karena suasana gelap membuat mereka sulit saling berhubungan jika terjadi bahaya secara mendadak. Tetapi anehnya titik putih itu semakin lama bukan semakin dekat, namun semakin terasa menjauh.Pendekar Kera Sakti segera hentikan langkah dan berkata kepada Telaga Sunyi, "Kita terjebak. Itu bukan titik sinar mulut gua! Perhatikan saja, sejak tadi jaraknya masih tetap jauh dan bahkan lebih jauh dari yang pertama kita lihat, bukan?""Benar juga. Jadi, kita tersesat di mana ini, Baraka?""Akan kucoba untuk melihat alam lain. Mungkin ada yang mengganggu kita, sehingga kita terkurung di sini tanpa







