MasukTIDAK ada yang lebih indah di siang teduh berangin semilir selain merebah di bawah sebuah pohon. Melepas lelah dalam buaian angin lembah sungguh merupakan hal yang menyenangkan bagi Baraka. Sayup-sayup terdengar suara alunan seruling yang meliuk-liuk bagai meninabobokan setiap sukma. Suara seruling itu terdengar di kejauhan sana, arahnya sebelah barat daya. Baraka tersenyum dengan hati penuh bunga-bunga indah. Suara seruling itu diresapi betul, hingga rohnya bagaikan ikut menari gemulai seira
"Biarlah kita satu kamar, tapi kau tidur di lantai dan jangan seranjang denganku!" ujar Kinanti agak ketus."Kenapa begitu? Kau takut aku kurang ajar padamu?""Kau nakal," jawabnya sambil melengos ke arah lain. Ia biarkan senyum pemuda tampan itu mengembang makin mekar dengan suara tawa yang mengikik lirih.Tiba-tiba pandangan mata Kinanti tertuju ke arah pintu masuk kedai. Dua orang lelaki berbadan besar baru saja memasuki kedai tersebut dan segera mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Kinanti. Kedua lelaki itu berwajah buas, penuh dengan cambang dan kumis. Dari caranya memandang dapat diketahui sifatnya yang kasar dan urakan. Rambut mereka sama-sama panjang selewat pundak, tapi yang satu diikat dengan ikat kepala dari kulit macan tutul, yang satu lepas tanpa ikat kepala.Orang yang berikat kepala kulit macan tutul itu mengenakan celana hitam dan baju merah tua tak dikancingkan bagian depannya, sehingga sebilah golok besar yang terselip di sabuk hit
PUSAT perhatian Kinanti tertuju pada Merak Cabul di Bukit Kasmaran. Menurutnya, orang kurus yang menyerangnya dengan pisau beracun itu pasti suruhan Merak Cabul. Besar kemungkinan Merak Cabul tidak kehendaki orang Bukit Birawa ada yang masih hidup, sehingga ia menyuruh orang kurus itu untuk membunuh Kinanti. Baraka akhirnya mengalah, tak mau berdebat panjang lebar tentang perbedaan pendapat itu. Sebab menurut Baraka, Merak Cabul tidak terlibat dalam perkara pembakaran istana Lembah Birawa itu. Jika benar orang yang menyerang istana Lembah Birawa adalah orang yang bersenjata Sabuk Gempur Jagat, maka Tulang Naga itulah orangnya."Pihakku tidak ada hubungannya dengan Tulang Naga. Kami tidak kenal dengan Penguasa Telaga Siluman itu. Tak ada alasan bagi Tulang Naga untuk menyerang istana kami! Pasti serangan itu datang dari si Merak Cabul yang masih menyimpan kecurigaan tentang tersimpannya Kitab Jati Mulya di tangan ratuku!"Kinanti ngotot sekali, sehingga Baraka akhirnya hanya angkat bah
"Nyai Songket...!" gumam Baraka bagaikan tak sadar mulutnya mengucap nama itu begitu ingatannya menemukan sepotong nama tersebut. Tapi sang nenek bagaikan tak peduli dengan gumaman Baraka. Matanya yang cekung tertuju pada Kinanti. Agaknya gadis cantik itu juga sudah mengenal Nyai Songket, sehingga ia segera menyapa dengan sikap tak ramah."Rupanya kaulah yang membunuh orang kurus itu, Nyai Songket!""Tutup mulut bodohmu, Kinanti. Aku tidak mengenal mayat orang kurus itu! Aku datang untuk bikin perhitungan sendiri denganmu! Kau telah membunuh muridku; Widowidi. Sekarang aku menuntut balas atas kematian murid kesayanganku itu, Kinanti!"Baraka sempat membatin, "Bahaya! Nyai Songket ini terkenal dengan ilmu teluhnya. Kinanti tak akan mampu mengimbangi kekuatan Nyai Songket. Agaknya aku harus segera bergerak untuk mematahkan tiap serangan Nyai Songket.""Hutang nyawa balas nyawa, Kinanti!" ujar Nyai Songket sambil bergeser ke samping dan diikuti oleh pandanga
Plaaaak...!Kinanti menampar keras-keras wajah orang kurus itu hingga orang tersebut terpelanting berputar empat kali dengan cepat. Kejap berikutnya ia roboh akibat tendangan kaki Kinanti yang cukup kuat. Tubuhnya terkapar di bawah pohon dalam keadaan tidak berkutik lagi. Sebuah pekikan kecil sempat didengar oleh mereka sebelum orang itu roboh.Pendekar Kera Sakti segera mendekati orang tersebut dengan perasaan heran dan curiga, ia memeriksanya dengan pandangan mata dan dahi berkerut. Kinanti menyusul mendekati Baraka. Wajah orang kurus itu telah memucat, mulutnya ternganga dan matanya terbeliak tak berkedip. Tak satu pun bagian tubuhnya yang bergerak. Bahkan dadanya tidak kelihatan sedang bernapas."Dia tewas!" ujar Baraka sambil pegangi urat leher orang itu dan matanya memandang Kinanti. Gadis berjubah kuning gading itu setengah tidak percaya, kemudian memeriksa pergelangan tangan orang tersebut. Ternyata memang tak ada denyut nadi lagi. Itu tandanya orang ter
"Apakah Ratu Jiwandani tak tahu juga bahwa orang itu adalah si Tulang Naga?""Ratu tidak mengenal nama itu, karena ia tidak sebut-sebut nama Tulang Naga.""Jika Ratu tidak kenal dengan Tulang Naga, berarti orang yang membumihanguskan Lembah Birawa bukan dia."Kinanti segera berpaling menatap Pendekar Kera Sakti. Dahinya berkerut, pandangan matanya tajam penuh tanda tanya."Jika bukan Tulang Naga, lalu siapa orangnya yang memegang pusaka Sabuk Gempur Jagat? Setahuku sabuk pusaka itu dipegang olehnya.""Baru sekarang kudengar ada pusaka Sabuk Gempur Jagat," ujar Kinanti. "Tapi aku belum pernah melihat bentuknya.""Apakah malam itu kau tidak melihat sabuk pusaka itu digunakan oleh orang tersebut?"Kinanti gelengkan kepala. "Aku hanya mendengar pengaduan dari anak buahku. Api telah berkobar dan aku segera larikan sang Ratu tanpa sempat berhadapan dengan orang tersebut.""Jadi kau tidak tahu ciri-ciri si pemegang Sabuk Gempur Jagat?
Plaaak...!Tiba-tiba Kinanti layangkan tamparan tangannya ke wajah Wirya Tabah tanpa tanggung-tanggung lagi. Lelaki yang usianya lebih banyak dari Kinanti itu terpelanting jatuh bersimpuh akibat tamparan tersebut. Wajah yang ditampar menjadi merah, menandakan tamparan itu disertai hempasan tenaga dalam walau berukuran sedangsedang saja. Wirya Tabah tak berani melawan atau membalas, ia hanya bangkit dan tetap tundukkan kepala bersikap sebagai orang bersalah."Di mana rasa baktimu kepada negeri dan ratumu, Wirya Tabah! Dalam keadaan diserang bahaya sekeji ini kau pergi tanpa mau menanggung akibatnya. Pengabdian macam apa yang kau miliki itu, Wirya Tabah!"Kinanti angkat tangan kanannya dan ingin tampar Wirya Tabah lagi, tapi seruan Baraka menghentikan gerak tangan tersebut."Cukup!" Baraka kian mendekati Kinanti. "Jangan limpahkan dendam dan kemarahanmu kepada Paman Wirya Tabah, Kinanti. Bukankah ia pergi sudah seizin sang Ratu?"Mata gadis cantik it
Jleeg...!"Untung aku cepat pejamkan mata," katanya dalam hati. "Kalau tidak segera pejamkan mata, bisa buta mataku terkena sinar merah itu. Aku tahu letak kekuatan kipasnya itu. Aku tahu bagaimana cara mengatasinya. Kalau saja saat ini Cambuk Getar Bumi ada di tanganku, pasti tubuh si Muk
Sementara Baraka melakukan penyembuhan terhadap diri Peramal Pikun, di luar pondok itu Dewa Racun mencoba memancing ikan untuk santapan nanti. Ia memancing ikan bukan dengan kail maupun pancingan bila, melainkan menggunakan sehelai daun ilalang.Daun ilalang itu dibelah menjadi dua pada tia
Di kaki langit sebelah timur, matahari tersembul memantulkan sinar rona jingga. Ayam jantan liar mengumandangkan kokoknya yang gagah, menyapa hari di ambang pagi. Gumpalan awan berarak di cakrawala. Sementara, tiupan angin sejuk melengkapi lahirnya hari ini.Dalam terpaan lembut hawa pagi,
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai







