LOGINPerguruan Mekar Bumi menjadi tempat Baraka singgah pertama kali setelah meninggalkan Bukit Kayangan. Kehadirannya yang membawa perdamaian antara Arum Selayang dan Rintih Manja diterima dengan baik oleh Nyai Lirih Dewi. Memang pada mulanya Nyai Lirih Dewi sempat curiga, menyangka Baraka memihak Arum Selayang.
"Seharusnya kau tidak ikut campur dalam urusan ini, Anak Muda," ujar sang Guru yang usianya sudah mencapai delapan puluh tahun, tapi masih kelihatan tegar. Kulitnya berkeriput, namun tulangnya masih lurus. Tak ada bungkuk sedikit pun. Matanya masih memandang dengan tajam, setajam pisau cukur. Wibawa dan kharismanya masih tinggi.
Dengan pakaian hijau tuanya Nyai Lirih Dewi menampakkan sikap kurang ramah kepada Baraka. Bahkan dengan nada ketus ia berkata, ”Apa perlumu membela Arum Selayang, sehingga kau yakin betul bahwa Arum Selayang tidak mencuri kitab pusaka kami?"
"Kalau dia mempunyai kitab itu dan sudah pelajari jurus 'Jaya Petaka', tentunya perguru
Perempuan yang mengaku bernama Nyai Kucir Setan itu tersenyum sinis dan berkata, "Gadismu sangat mengkhawatirkan kau, Baraka. Tapi jangan hiraukan dia! Ikutlah aku masuk ke lorong itu!""Tidak. Aku... aku mau keluar dari gua ini, Nyai.""Bukankah kau ingin menemuiku?""Ya, tapi bukan untuk hal-hal lain. Aku hanya ingin meminta maaf atas... atas peristiwa yang menimpa muridmu, si Karto Dupak itu! Aku tak sengaja membunuhnya. Dia sendiri yang menantangku dan melepaskan jurus mautnya itu. Aku hanya menangkis dan... dan....""Dan dia sekarang mati. Aku sudah memakamkannya begitu kau melangkah meninggalkan desa itu!""Oh...?" Baraka bernada heran."Itu memang kesalahan muridku sendiri. Sekalipun begitu, seharusnya kau tetap harus menebusnya dengan nyawa. Tapi jika kau mau melayaniku, kau akan kuangkat sebagai murid baru, Baraka!""Hmmm... maksudmu... maksudmu melayani bagaimana, Nyai?""Ah, kau berlagak bodoh. Aku tahu kau punya gai
"Pakai kepala ayam juga bisa!" jawab Baraka membuat suasana agar tak terlalu dicekam ketegangan.Tak ada cara lain kecuali mengikuti saran Telaga Sunyi. Titik putih yang tadi dilihat Telaga Sunyi saat Baraka masih terkapar itu sekarang masih ada. Titik putih itu bagaikan ada di ujung lorong. Dan mereka pun bergerak menyusuri lorong tersebut dengan saling bergandengan, karena suasana gelap membuat mereka sulit saling berhubungan jika terjadi bahaya secara mendadak. Tetapi anehnya titik putih itu semakin lama bukan semakin dekat, namun semakin terasa menjauh.Pendekar Kera Sakti segera hentikan langkah dan berkata kepada Telaga Sunyi, "Kita terjebak. Itu bukan titik sinar mulut gua! Perhatikan saja, sejak tadi jaraknya masih tetap jauh dan bahkan lebih jauh dari yang pertama kita lihat, bukan?""Benar juga. Jadi, kita tersesat di mana ini, Baraka?""Akan kucoba untuk melihat alam lain. Mungkin ada yang mengganggu kita, sehingga kita terkurung di sini tanpa
"Kenapa Kertapaksi dan Karto Dupak tidak mati di tangan Penguasa Teluk Neraka?""Mereka belum bertemu Penguasa Teluk Neraka. Coba kalau Kertapaksi bertemu dengan Penguasa Teluk Neraka, pasti dihajar habis oleh Penguasa Teluk Neraka itu.""Lalu, apa hubungannya denganku? Mengapa Kertapaksi dan Karto Dupak menyangka aku adalah kekasihnya Muria Wardani?""Mungkin kau memang kekasihnya? Mana kutahu!""Sumpah setan tujuh warna, aku bukan kekasihnya! Aku tidak kenal sama Muria Wardani.""Betul?""Yaah... masa' kau belum percaya juga. Aku toh sudah bersumpah! Mau sumpah apa lagi? Sumpah biar mati disambar lalat. Boleh!"Telaga Sunyi tertawa kecil. "Lelaki mana saja memang paling berani kalau disuruh bersumpah. Buat lelaki, sumpah adalah bunga bibir.""Terserah apa katamu, yang jelas aku tidak kenal dengan Muria Wardani.""Bagaimana kalau kutemukan dengan Muria Wardani. Berani?""Berani!" jawab Baraka bersemangat.
"Hmmm... sedikit," jawab Baraka tetap membiarkan keningnya diusap oleh jari-jari lentik itu. Telaga Sunyi memeriksa lebih teliti lagi dengan cara memandang lebih dekat karena cahaya kurang terang. Keadaan itu membuat Baraka dapat memperhatikan kehalusan kulit wajah dan kecantikan yang alami lebih jelas lagi."Cepat sekali pulihnya?" ucap Telaga Sunyi lirih, saat berkata begitu wajahnya tepat di depan Baraka."Berkat pertolonganmu, luka separah apa pun dapat sembuh dengan cepat.""Aku tak banyak membantu dalam hal ini," kata Telaga Sunyi sambil matanya menatap Baraka.Jari-jari tangannya masih merayapi pipi pemuda tampan itu, tapi bukan untuk memeriksa luka yang pulih kembali. Jari-jari itu bergerak pelan merayap ke bibir Baraka, kemudian mulut Baraka pun menangkap jari itu. Menggigitnya pelan, dan sang gadis gemetar sekujur tubuhnya."Jangan. Jangan, Baraka...," ucapnya lirih sekali ketika jari itu tak mau dilepaskan oleh mulut Baraka.Wajah
"Jurus pukulan keparat! Memang benar apa kata Guru, jurus pukulan 'Inti Bara' sulit dijinakkan, sulit disembuhkan, dan karenanya Guru berpesan agar aku pun tidak sembarangan dalam menggunakan jurus pukulan 'Inti Bara'. Tetapi si keparat Aryani itu mengumbar jurus ini seenaknya saja! Pantas kalau dia dinyatakan sebagai murid murtad yang tak pernah mau ikuti peraturan perguruan," ucap Telaga Sunyi sebagai ungkapan rasa kesalnya, ia tampak kebingungan menghadapi luka-luka Pendekar Kera Sakti.Duduknya di atas batu samping Baraka yang tingginya hanya sebetis kurang. Suaranya sering bercampur dengan desah penyesalan dan kesedihan."Sayang sekali Guru belum turunkan Ilmu 'Penyerap Luka' seperti yang sudah diajarkan kepada Dewi Gapit Mesra itu. Kalau saja Ilmu 'Penyerap Luka' sudah kumiliki, maka menghadapi keadaan Baraka seperti ini bukan hal yang sulit lagi bagiku."Ucapan lirih itu masih sempat didengar oleh Pendekar Kera Sakti secara samar-samar. Dengan susah payah
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga Sunyi yang baru saja berdiri. Namun pedang Telaga Sunyi menangkisnya dengan cepat.Trang... duaaar...!Tubuh Telaga Sunyi terpelanting hingga memutar. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk melayangkan tendangannya hingga kepala Dewi Gapit Mesra tersabet kaki Telaga Sunyi dengan keras.Plook...!Wuuut...! Tubuh Dewi Gapit Mesra terlempar ke samping. Jatuh dengan pundak membentur pohon cukup keras.Duurr...! Pohon pun bergetar sebagai tanda bahwa benturan itu mempunyai tenaga dalam cukup tinggi.Tab, tab, tab, tab...!Telaga Sunyi berjungkir balik di tanah dengan lincah dan cepat, tahu-tahu tubuhnya melayang dan mendarat di tanah datar tak jauh dar







