MasukSebenarnya siapakah lelaki berpakaian putih-putih itu? Mengapa ia bersemadi di dalam batang pohon?
Sejarah rimba persilatan sebenarnya pernah mencatat adanya seorang tokoh sakti yang jarang sekali menemui lawan tanding. Ia berjuluk Dewa Abadi. Tak seorang pun tahu, siapa nama aslinya. Yang jelas, Dewa Abadi adalah tokoh besar yang namanya sempat tercatat oleh para pujangga di tanah Jawa ini. Banyak mitos yang juga mengatakan kalau Dewa Abadi sebenarnya adalah seorang dewa.
Hanya
Baraka tersenyum mendengar gertakan orang berkumis tipis itu. Dengan tetap tenang ia bicara kepada si kumis tipis."Apa salahnya hingga kalian ingin membantainya!""Dia telah membunuh guru kami dua hari yang lalu! Tak ada cara lain menebus kesalahannya kecuali dengan membantainya!""Hmmm... siapa guru kalian itu?"Seorang yang berambut pendek berseru dari samping kiri Baraka, "Tanyakan sendiri kepada perempuan biadab itu. Dia pasti mengenal nama Tabib Parang Windul""Oh, jadi Tabib Parang Windu terbunuh juga!" gumam Salju Kelana dengan nada terperanjat."Jangan berpura-pura tidak tahu kau, Iblis! Menurut saksi mata kaulah yang membunuh Guru dengan menggunakan sebuah rencong. Kau taburkan racun dalam tubuh guru kami hingga jiwanya tak tertolong lagi.""Benar-benar biadab kau, Betina!" seru si baju merah."Heaaat...!"Orang berbaju merah langsung menyerang Salju Kelana dengan satu lompatan cepat. Parangnya ditebaskan ke ar
Senyumnya kian mekar, hingga lesung pipitnya membuat detak jantung Baraka semakin bertambah keras. Agar tak terlalu hanyut dalam kemesraan yang ada, Pendekar Kera Sakti segera alihkan pikirannya ke masalah tiga orang yang memaksa Salju Kelana agar menyerahkan Rencong Iblis tadi."Siapa mereka bertiga tadi, Salju Kelana?""Mereka murid-muridnya Tabib Lumbung Jagat," jawab Salju Kelana setelah bangkit dan duduk di depan Baraka. Ia mencari-cari tongkat kecilnya, dan Baraka mengambilkannya.Salju Kelana berkata lagi, "Tabib Lumbung Jagat tewas karena racun. Seseorang mengetahui pertemuan Tabib Lumbung Jagat dengan perempuan berjubah putih dan berwajah cantik. Maka para muridnya menyangka akulah perempuan itu. Mereka juga mendengar kabar tentang Rencong Iblis yang sedang mencari tumbal tujuh belas tabib. Aku sudah mencoba menjelaskan bahwa aku tidak mempunyai Rencong Iblis, tapi mereka tetap tidak percaya dan menuntutku agar menyerahkan rencong itu untuk membalas den
Hal itu dilakukan berulang-ulang sampai kulit wajah pucat si gadis menjadi mulai tampak segar kembali. Tubuhnya terasa mulai menghangat. Degup jantung gadis itu diperiksa dengan cara menempelkan telinga ke dada sang gadis. Ternyata sudah mulai bekerja seperti biasanya. Hanya jantung Baraka yang masih berdetak-detak cepat, terutama setelah telinganya menempel di dada sang gadis dan dada itu terasa memberikan kehangatan tersendiri bagi Baraka. Dada sekal dan montok itu akhirnya ditinggalkan oleh telinga Baraka, karena ia takut ketagihan ingin menempelkan telinga di dada itu terus."Dia mulai bernapas dengan lancar," pikirnya sambil pandangi si gadis. "Matanya mulai bergerak-gerak ingin membuka. Oh, syukurlah. Dia tertolong. Tapi... tapi agaknya perlu kuminumkan wedang rendaman suling mustikaku biar mempercepat penyembuhannya."Baraka mengambil mencoba menuangkan wedang ke mulut Salju Kelana. Tetapi mulut itu tak bisa terbuka lebar. Wedang itu akan mengguyur wajah Salju K
"Sudah kukatakan, ancaman apa pun yang akan kalian pakai, aku tetap tidak akan serahkan Rencong Iblis itu. Sebab memang aku tidak memilikinya!" kata Salju Kelana dengan suara bernada dingin. Tongkat kecilnya diketuk-ketukkan di tanah, menunjukkan sikap penuh waspada. Ia siap menyambut serangan lawan kapan saja datangnya.Si kurus berteriak, "Danuyuda, gunakan jurus 'Jala Geni', heeeaaat...!"Orang berbadan kurus itu menyentakkan tangannya ke depan, demikian pula temannya yang bernama Danuyuda itu. Lalu dari tengah telapak tangan mereka keluar lima larik sinar yang masing-masing tertuju ke arah Salju Kelana.Zraaab...!Salju Kelana diam sejenak, bagaikan tak menyadari datangnya lima larik sinar dari kanan dan kiri. Namun tiba-tiba tubuh gadis itu memutar cepat dalam satu sentakan putar. Mungkin lebih dari tujuh putaran dalam sekali sentak. Dan putaran itu memancarkan sinar hijau, menyebar ke sekelilingnya.Blegaarrr...!Sepuluh larik sinar me
Setelah mencium lembut, sebagai cium curian, gadis itu pun merebah kembali. Kemudian tertidur dengan nyenyak. Matanya tetap terbuka tak berkedip, menatap lurus dengan hampa. Pendekar Kera Sakti sengaja diam dulu, belum berani bergerak. Maksudnya membiarkan si gadis lelap dulu baru ingin usil lagi. Tapi rupanya terlalu lama diam membuat kelopak mata sulit dibuka kembali. Akhirnya Pemuda dari lembah kera itu pun benar-benar tertidur dengan nyenyak.Esoknya, ketika Baraka terbangun, ia menjadi sangat terkejut melihat Salju Kelana sudah tidak ada disampingnya. Bahkan di sekitar dalam gua itu pun tidak ada. Baraka cemaskan diri gadis cantik itu. Ia bergegas keluar dari gua."Kemana dia...! Sekadar buang air di tempat tersembunyi atau memang sengaja meninggalkan diriku!" pikir Baraka sambil-matanya memandang ke sana-sini.Wuuut, wuuuut...!Baraka melompat dari batu ke batu mencapai tempat yang lebih tinggi. Mata pun menyapu seluruh alam sekelilingnya."I
"Bagaimana kalau ternyata di perjalanan aku bertemu dengan utusan itu?""Jangan ganggu dia, nanti kau mati di tangannya!""Sebaiknya aku tak perlu mengganggu dia saja, ya? Biar aku tak mati di tangannya. Soalnya kalau mati di tangan orang seperti itu tidak terhormat.""Memang yang kukatakan tadi begitu! Kau jangan ganggu dia biar kau tak mati!" tegas Baraka agak menyentak-nyentak karena jengkel dengan ketulian Hantu Laut."Kita berpisah dulu, Hantu Laut.""Baraka, kusarankan kita berpisah saja sekarang.""Baru saja aku bilang begitu, Budeg!" bentak Baraka makin jengkel. Hantu Laut hanya mengguman dan manggut-manggut tanpa raut muka orang bersalah.Perjalanan menuju Lembah Sunyi memakan waktu hampir sehari semalam. Pendekar Kera Sakti sengaja tidak gunakan jurus 'Gerak Kilat Dewa Kayangan' yang mampu mempercepat perjalanan, karena takut kalau Salju Kelana tertinggal dan tak mengerti arah. Sebab itu mereka terpaksa bermalam di
Baraka segera berkonsentrasi, seluruh pikiran serta panca inderanya dipusatkan ke satu titik dalam benak. Hawa sakti dari Ilmu Angin Es Dan Api warisan Eyang Jaya Dwipa ini akan dipusatkan pada kedua tangannya. Maka perubahan pun terjadi. Rambut si pemuda yang berwarna hitam tersebut berubah menj
Ningrum mengkelap bukan main. Saking amarahnya tak dapat dikendalikan segera kedua telapak tangannya yang telah berubah jadi merah kekuningan didorongkan ke depan.Wesss! Wesss!Seketika meluruk dua sinar merah kekuningan dari kedua telapak tangan murid Raja Pedang Kupu-kupu siap mela
Yang terlihat dimata Baraka sekarang bukanlah sosok tua renta yang sebelumnya terbaring lemah tak berdaya dengan kulit tipis kering sekedar membalut tulang, bukan sosok bertubuh keriput seperti nenek-nenek menjelang ajal dan juga bukan sosok gadis pesakitan. Kini yang terbaring di atas Batu Puala
TIGA ORANG utusan dari Pulau Dedemit nyaris menghancurkan benteng Geledek Hitam. Hebat juga? Hanya tiga orang saja bisa bikin Geledek Hitam morat-marit, apalagi kalau enam orang? Mungkin benteng Geledek Hitam bisa didongkel dan diusung ke lautan sana!"Satu orang Pulau Dedemit sama dengan d







