LOGINTUBUH kurus mirip tulang dibungkus kulit segera naik ke atas sebongkah batu datar lebar. Rimbunan dedaunan bambu hutan membentuk lengkung bagai lorong beratap rimbun. Di bawah rimbunan dedaunan bambu hutan itulah batu datar setinggi dada orang dewasa itu tergeletak berlumut. Dan tubuh kurus tanpa baju kecuali hanya celana pangsi hitam segera duduk bersila dl atas batu tersebut.
"Kurasa tempat ini sangat cocok untuk bertapa! Selain suasananya tenang, hawa angkernya terasa meniup-niup te
"Rupanya aku dan dia telah terkepung sejak tadi! Dan... oh, siapa mereka itu! Manusia dari mana mereka!"Hal yang membuat Baraka semakin tambah terheran-heran adalah sosok para pengepung yang kini sedang berjoget seiring irama gendang bertalu itu. Mereka adalah orang-orang kerdil berkulit hitam dan berkilauan. Sepertinya kulit mereka dibalur minyak sekujur tubuh. Mereka hanya mengenakan cawat dari kulit binatang tanpa baju atau pakaian lain. Di pinggang mereka mengenakan sabuk yang penuh dengan pisau kecil. Mereka adalah para lelaki kerdil yang mempunyai bentuk wajah beraneka ragam; ada yang lonjong, ada yang bulat, ada yang mungil, ada pula yang pletat-pletot dengan tulang rahang tak seimbang besarnya. Rata-rata berambut pendek dan ikal.Sungguh lucu memandangi mereka saling berjoget dengan teriakan-teriakan kegirangan, bagaikan menikmati pesta yang penuh sukacita. Gadis Dungu sendiri sempat terkesima memandangi mereka dengan tangan masih tetap menabuh gendang. Tetapi
"Apa yang kau lakukan padaku! Mau menghantamku dengan sulingmu itu, hah!" sentak Gadis Dungu kepada Baraka dengan wajah berang.Yang dibentak hanya menggeram dalam hati penuh kejengkelan. "Kau selalu mencurigai aku dengan hal-hal yang buruk, Indayani! Kau sangka aku ini...," kata-kata itu terhenti kembali.Tiga mata pisau bergerak bagaikan cahaya putih dari tiga arah. Sasarannya adalah tubuh Gadis Dungu. Rupanya penyerang tersebut bukan hanya satu orang, melainkan lebih dari satu. Sedikitnya tiga orang ada di balik semak mengintai nyawa Gadis Dungu dan Baraka.Melihat tiga cahaya mengkerilap datang dari tiga arah, maka tangan Baraka segera menyambar lengan Gadis Dungu. Tangan itu disentakkan, sehingga tubuh Gadis Dungu bagaikan jatuh dalam pelukan Pendekar Kera Sakti.Wuuut...! Pluuk...!"Aih, kurang ajar!"Plak...! Pipi kanan Baraka ditampar keras oleh Gadis Dungu, karena gadis itu menganggap sedang ingin diperkosa oleh Baraka. Karuan saja
"Aku pun tahu bahwa ia menjadi Ratu di Pulau Dadap!""Syukurlah kalau begitu," gumam Baraka agak gondok hatinya, lalu terbayang ingatannya kepada seraut wajah cantik milik si Putri Kunang."Paman, mana yang lebih baik menurutmu: memaksa Peri Kedung Hantu untuk serahkan madu Bunga Salju atau pergi ke Pulau Dadap untuk temui Putri Kunang?""Kita tak akan unggul lawan Peri Kedung Hantu. Ada baiknya pergi ke Pulau Dadap minta bantuan Putri Kunang sahabatmu itu.""Baik, kalau begitu, tolong cari tahu di mana letak Pulau Dadap itu, Paman!""Baik. Aku akan tanya pada orang yang tahu letaknya."Baraka bersungut-sungut dongkol, "Uuh... keduanya sama-sama dungu! Mau dibantu malah berlagak sok tahu!"-o0o-KEDUA orang itu akhirnya ditinggalkan oleh Pendekar Kera Sakti. Ia merasa sia-sia menyediakan diri membantu Gadis Dungu yang tidak pernah mau mempercayai kata-katanya. Namun anehnya, baru beberapa saat Baraka tinggalkan ga
"Dia menyelamatkan nyawaku dari ancaman maut si Dupa Dewa, Paman. Entah apa maksudnya bersikap begitu, mungkin ingin kupuji atau ingin tunjukkan ilmunya yang cetek itu padaku. Yang jelas, para mudi Perguruan Serikat Jagal akan benci jika melihat si Dogol ini, sebab ia murid murtadnya Dupa Dewa!""Murid murtad berani nekat. Dia bikin jiwaku hampir sekarat karena serangannya yang tiba-tiba melesat! Aku perlu membalasnya supaya ia tidak kualat dan menjadi orang sesat!"Comblang Sajak mulai kerahkan tenaga dengan mengangkat kedua tangannya. Tetapi Gadis Dungu segera mencegah dengan satu tangan terangkat ke depan. "Tak perlu, Paman. Dia bukan orang tandingan kita. Paman Comblang Sajak hanya akan buang-buang tenaga jika melawan si Dogol. Ada baiknya kita bicara saja, apa perlunya Paman sembunyi di balik semak tadi?"Comblang Sajak hembuskan napas dan kendorkan urat-uratnya. Ia tak berani melanggar larangan si Gadis Dungu. Namun di belakang si Gadis Dungu, wajah Baraka
Mata bulat bening berbulu lentik itu alihkan pandang dengan sikap angkuh. Bibir mungil menggemaskan masih mencibir sinis seraya berucap kata dengan nada ketus, "Pura-pura tidak tahu! Bukankah kau sudah mengenal namaku sebagai Gadis Dungu! Kurasa semua murid Perguruan Serikat Jagal mengenal nama Gadis Dungu sebagai namaku! Tak usah berlagak bodoh kau, nanti kalau ada setan lewat kau benar-benar bodoh melebihi seekor kerbau!""Aku bukan murid Perguruan Serikat Jagal!" sentak Baraka dengan menggeram dongkol."Kalau begitu kau seorang pengkhianat yang sudah murtad dari ajaran gurumu; si Dupa Dewa itu!""Terserah! Anggap saja begitu!" jawab Baraka dengan ketus pula, wajahnya menjadi keruh karena bersungut-sungut."Lalu, siapa namamu!" tanya si gadis dengan acuh tak acuh setelah keduanya sama-sama diam dua helaan napas. "Namaku... namaku ya itu tadi; Baraka!""Ah, jawab yang benar!" sambil tangannya mengipas di depan hidung, lalu ia bersidekap dengan gen
2 Hari itu tidak ada gadis yang lebih beruntung daripada si Gadis Dungu. Tepat nyawanya terancam 'Racun Jamur Setan' Pendekar Kera Sakti datang menolongnya. Dalam keadaan sekarat, Baraka berhasil menyedot 'Racun Jamur Setan' itu dengan Suling Naga Krishna-nya dan dilanjutkan dengan menyembuhkan luka Gadis Dungu dengan hawa ‘Kristal Bening’. Akibatnya, keganasan 'Racun Jamur Setan' pun dapat dikalahkan. Gadis Dungu menjadi sehat, bahkan merasa seperti tidak pernah mengalami luka apa pun.Bilur-bilur merah akibat jurus 'Petir Menangis' yang hampir mencabik-cabik kulitnya itu pun lenyap tanpa bekas seujung jarum pun. Ketika gadis berjubah merah menyadari keadaannya yang telah pulih kembali, bukan ucapan terima kasih yang terlontar pertama kali dari mulutnya, melainkan sebuah pertanyaan yang bernada heran ditujukan untuk dirinya sendiri."Mengapa aku masih hidup?" sambil pandangi tubuhnya sendiri, tangannya, kakinya, dadanya, lalu buru-buru menatap ke depan. Di
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







