Kultivasi Ganda: Legenda Kultivator Penelan Langit

Kultivasi Ganda: Legenda Kultivator Penelan Langit

last updateLast Updated : 2026-10-07
By:  Rana SemithaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Terikat takdir hidup-mati dengan Permaisuri Shen akibat kutukan darah terlarang, Han Jue yang semula hanya budak penakut terpaksa menjadi senjata mematikan sang penguasa untuk membantai musuh istana demi bertahan hidup.

View More

Chapter 1

Bab 1. Tubuh Penelan Langit

"Argh! Siapa ini?!" erang Han Jue ketika sebuah tangan dingin mencengkeram pundaknya dengan kasar.

Ini adalah Paviliun Fengyue, tempat di mana seorang pelayan tak boleh keluar masuk sembarangan.

Han Jue baru saja selesai membersihkan tungku pembakaran dan hendak mengangkut sisa abu seperti biasa.

"Diam atau kucabut jantungmu."

Han Jue terpaku seketika. Tekanan di pundaknya berganti menjadi hempasan keras yang melempar tubuhnya ke atas peraduan kayu cendana dilapisi sutra emas bersulam perak.

Napas Permaisuri Shen memburu, keringat dingin membasahi jubah sutra emasnya yang kini terkoyak di bagian dada.

Guratan hitam keemasan menjalar mematikan di atas kulit mulusnya, Racun Naga Emas tengah merusak meridian dan meremukkan fondasi dewanya dari dalam.

Bau amis darah bercampur wangi teratai rahasia menguar pekat.

"J-Jubah Emas... Yang Mulia?!"

Han Jue menelan ludah, seluruh tubuhnya membeku ketika jemari lentik yang gemetar mencengkeram pelipisnya.

"Y-Yang Mulia, ampun! Hamba hanya pelayan yang membersihkan tungku—"

"Tutup mulutmu!" bentak Shen.

Darah kehitaman menetes di sudut bibirnya saat rasa sakit yang merobek meridian membuatnya makin histeris.

"Racun ini akan meledakkan intiku dalam hitungan detik. Kau... kau satu-satunya wadah bernapas yang tersisa di kamar ini!"

"Wadah?" Han Jue membelalak ngeri, merasakan hawa panas mendidih memancar dari tubuh sang permaisuri. "M-maksud Anda—"

"Jadilah wadah pembuangan racun ini, atau kubuat kepalamu meledak sekarang!" ancam Shen seraya mencengkeram kerah lusuh Han Jue hingga kain itu terbakar.

"Serap racun ini ke tubuh sampahmu, budak hina!"

"Tapi energi Anda akan membakar hamba menjadi abu!" raung Han Jue.

"Kau bisa tetap hidup jika menuruti perintahku!" jerit Shen.

Keputusasaan menuntunnya pada satu-satunya jalan keluar yang terlintas. Demi menyelamatkan nyawanya sendiri, sang permaisuri melakukan penyatuan energi yang putus asa malam itu.

Dengan kasar Shen menarik pakaian bawah pelayan itu.

Sebelum Han Jue sempat mencerna apa yang terjadi, penyatuan itu menciptakan gelombang energi mendidih yang langsung meledak ke dalam tubuhnya.

"Argh! Hentikan! Kumohon!" Han Jue meraung kesakitan saat logam cair seolah disiramkan langsung ke dalam pembuluh darahnya.

Dia terus meraung hingga pembuluh darah di lehernya menonjol.

Permaisuri Shen bergerak tanpa ampun. Dia terus membuang racun tersebut dan memindahkannya ke tubuh Han Jue.

Namun, tanpa disadari oleh Permaisuri Shen, keganasan racun naga dan benturan energi suci malam itu justru menjadi pemicu liar.

Sesuatu yang terkubur dalam garis keturunan Han Jue terbangun dari tidur panjang, sebuah garis keturunan bernama Tubuh Penelan Langit.

Pusaran di dalam dada Han Jue meledak seperti binatang buas yang kelaparan.

Alih-alih hanya menampung racun sebagaimana yang diinginkan Shen, teknik itu secara ganas membalikkan alur kekuasaan.

Pusaran Penelan Langit melahap racun naga emas, memurnikannya, lalu dengan kelaparan yang tak terkendali... mulai menyedot inti Darah Emas Phoenix milik Permaisuri Shen!

"A-apa... APA YANG KAU LAKUKAN?!" jerit Shen.

Permaisuri Shen merasakan jika Darah Emas Phoenix miliknya terus tersedot oleh Han Jue.

Wanita itu memberontak, terus mendorong tubuh Han Jue yang memeluknya erat.

"Hentikan! Itu fondasi dewa milikku!"

"Aku ingin, tapi aku tidak bisa melepaskannya!" raung Han Jue.

Tubuhnya bergetar hebat saat aliran energi suci dan racun beradu di dalam nadinya.

"Pusaran ini... melahap segalanya!"

"Lepaskan aku! Akhhh!" Shen meronta, memukul-mukul dada Han Jue dengan sisa tenaga yang kian menipis.

Han Jue, yang sebelumnya menjadi wadah yang dimangsa, seperti kehilangan kendali tubuhnya dan balik memangsa permaisuri Shen.

Dia tidak bisa menghentikannya, tubuhnya seperti lubang hitam yang terus menghisap kekuatan Permaisuri Shen.

Han Jue mencengkeram pinggang ramping permaisuri dan terus mempertahankan alur penyatuan tersebut.

Hawa panas dan dingin memecah udara kamar, mengunci keduanya dalam pergumulan keputusasaan dan kegilaan hingga fajar menyingsing.

***

Pagi harinya, Permaisuri Shen terbangun dengan napas memburu. Tubuhnya terasa luar biasa lemah dan kosong, seolah-olah seluruh kekuatannya telah dikuras habis tanpa sisa.

Di lantai dekat ranjang, Han Jue duduk meringkuk, bukan lagi sebagai pusaran buas yang memberontak semalam, melainkan pelayan yang ketakutan setengah mati.

Energi dahsyat di dalam dadanya bergejolak liar, membuat urat-urat di leher dan lengannya menonjol kehitaman bagai akar pohon mati.

Ia menatap kedua telapak tangannya yang kapalan dengan napas gemetar, perutnya mual menyadari anomali apa yang baru saja bangkit di dalam sana.

Shen menarik sisa jubah emasnya yang terkoyak untuk menutupi bahunya. Matanya membelalak saat menyadari Darah Emas Phoenix-nya telah berpindah mutlak ke tubuh pemuda itu.

Namun, alih-alih meratap tak berdaya, raut wajah sang permaisuri dengan cepat mengeras menjadi topeng es yang mematikan.

"Apa yang kau lakukan pada fondasiku, Pelayan sialan?" desis Shen tajam.

Suaranya serak dan parau, namun otoritas absolut seorang penguasa sama sekali tak luntur dari nadanya.

Han Jue tersentak mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang dengan keras. Wajahnya pucat pasi.

"A-ampun, Yang Mulia! Hamba tidak tahu!" Han Jue tergagap parah, keringat dingin kembali membanjiri pelipisnya.

"Tiba-tiba saja energi itu masuk ke dalam dada hamba... hamba sungguh tidak bisa menghentikannya!"

Shen menatap pelayan berlumur abu tungku yang kini mencuri kekuatan dewanya. Rasa hina, marah, dan insting bertahan hidup bergemuruh membakar akal sehatnya.

Dengan gerakan mematikan yang tak terduga dari tubuhnya yang melemah, tangan Shen meraba ke celah balik bantal sutra.

Jemari lentiknya melingkari gagang belati giok yang dingin.

"Satu kata lagi keluar dari mulut kotormu," desis Shen seraya menekan bilah itu lebih dalam, "akan kucabut nyawamu sekarang juga.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status