LOGIN"Aku... aku juga masuk ke dalam gua dan... tak bisa keluar. Karena maksudku sebenarnya mencari Kitab Lima Setan yang disimpan dalam gua bekas tempat semadinya Ki Mangut Pedas. Tapi... tapi aku tidak lama. Aku tak sampai seharian di dalam gua itu kok! Cuma sebentar, lalu keluar lagi."
"Hemm!" Belati Binal mencibir. "Sebentar bagaimana? Ternyata kau jumpa aku lagi setelah tujuh hari aku terkapar luka parah di tempat tadi! Mungkin dua hari lagi aku tewas karena tak bisa sembuhkan luka racun dari pukulan si Dalang Setan itu!"
"Benar-benar aneh," gumam Baraka sambil merenung. Lalu, semua kata-kata Dewi Selimut Malam yang berhubungan dengan misteri gua tersebut terngiang kembali di telinga Baraka. Ternyata perputaran waktu benar-benar mengalami perbedaan yang menyolok antara di dalam gua dan di luar gua.
Pendekar berpotongan rambut punkrock itu membatin kata di hatinya, "Padahal cuma sebentar lho, kok bisa terpaut sampai satu minggu, ya? Aku bicara dengan Dewi Selimut
Ketika mereka tiba di tempat semula, mulut gua masih tertutup batu besar. Kali ini, Baraka menggunakan ilmu ‘Mata Malaikat’-nya karena dadanya masih diliputi oleh gemuruh kecemburuan atas kata-kata Nyai Kucir Setan itu.Claaap...! Claaap...!Tiba-tiba dari kedua mata Baraka keluar sinar terang berwarna putih keperakan. Bentuknya sebesar lidi, melesat dari kedua mata Baraka. Sinar putih keperakan itu begitu melesat langsung berputar cepat, makin lama semakin besar, memercikkan bunga api warna merah.Woos, wooos, woos, woos...!Sinar putih keperakan itu bagaikan sinar laser yang kini menghantam batu besar yang menutupi mulut gua.Glegaaarrr...!Batu besar itu pun terbang dan terbelah menjadi tiga bagian.Cahaya matahari pagi masuk ke dalam gua, sementara dinding gua semakin bergetar. Langit-langit gua pun bertambah hancur. Dengan gerakan cepat Pendekar Kera Sakti melesat keluar dari mulut gua yang menjadi lebar akibat sebagi
Perempuan yang mengaku bernama Nyai Kucir Setan itu tersenyum sinis dan berkata, "Gadismu sangat mengkhawatirkan kau, Baraka. Tapi jangan hiraukan dia! Ikutlah aku masuk ke lorong itu!""Tidak. Aku... aku mau keluar dari gua ini, Nyai.""Bukankah kau ingin menemuiku?""Ya, tapi bukan untuk hal-hal lain. Aku hanya ingin meminta maaf atas... atas peristiwa yang menimpa muridmu, si Karto Dupak itu! Aku tak sengaja membunuhnya. Dia sendiri yang menantangku dan melepaskan jurus mautnya itu. Aku hanya menangkis dan... dan....""Dan dia sekarang mati. Aku sudah memakamkannya begitu kau melangkah meninggalkan desa itu!""Oh...?" Baraka bernada heran."Itu memang kesalahan muridku sendiri. Sekalipun begitu, seharusnya kau tetap harus menebusnya dengan nyawa. Tapi jika kau mau melayaniku, kau akan kuangkat sebagai murid baru, Baraka!""Hmmm... maksudmu... maksudmu melayani bagaimana, Nyai?""Ah, kau berlagak bodoh. Aku tahu kau punya gai
"Pakai kepala ayam juga bisa!" jawab Baraka membuat suasana agar tak terlalu dicekam ketegangan.Tak ada cara lain kecuali mengikuti saran Telaga Sunyi. Titik putih yang tadi dilihat Telaga Sunyi saat Baraka masih terkapar itu sekarang masih ada. Titik putih itu bagaikan ada di ujung lorong. Dan mereka pun bergerak menyusuri lorong tersebut dengan saling bergandengan, karena suasana gelap membuat mereka sulit saling berhubungan jika terjadi bahaya secara mendadak. Tetapi anehnya titik putih itu semakin lama bukan semakin dekat, namun semakin terasa menjauh.Pendekar Kera Sakti segera hentikan langkah dan berkata kepada Telaga Sunyi, "Kita terjebak. Itu bukan titik sinar mulut gua! Perhatikan saja, sejak tadi jaraknya masih tetap jauh dan bahkan lebih jauh dari yang pertama kita lihat, bukan?""Benar juga. Jadi, kita tersesat di mana ini, Baraka?""Akan kucoba untuk melihat alam lain. Mungkin ada yang mengganggu kita, sehingga kita terkurung di sini tanpa
"Kenapa Kertapaksi dan Karto Dupak tidak mati di tangan Penguasa Teluk Neraka?""Mereka belum bertemu Penguasa Teluk Neraka. Coba kalau Kertapaksi bertemu dengan Penguasa Teluk Neraka, pasti dihajar habis oleh Penguasa Teluk Neraka itu.""Lalu, apa hubungannya denganku? Mengapa Kertapaksi dan Karto Dupak menyangka aku adalah kekasihnya Muria Wardani?""Mungkin kau memang kekasihnya? Mana kutahu!""Sumpah setan tujuh warna, aku bukan kekasihnya! Aku tidak kenal sama Muria Wardani.""Betul?""Yaah... masa' kau belum percaya juga. Aku toh sudah bersumpah! Mau sumpah apa lagi? Sumpah biar mati disambar lalat. Boleh!"Telaga Sunyi tertawa kecil. "Lelaki mana saja memang paling berani kalau disuruh bersumpah. Buat lelaki, sumpah adalah bunga bibir.""Terserah apa katamu, yang jelas aku tidak kenal dengan Muria Wardani.""Bagaimana kalau kutemukan dengan Muria Wardani. Berani?""Berani!" jawab Baraka bersemangat.
"Hmmm... sedikit," jawab Baraka tetap membiarkan keningnya diusap oleh jari-jari lentik itu. Telaga Sunyi memeriksa lebih teliti lagi dengan cara memandang lebih dekat karena cahaya kurang terang. Keadaan itu membuat Baraka dapat memperhatikan kehalusan kulit wajah dan kecantikan yang alami lebih jelas lagi."Cepat sekali pulihnya?" ucap Telaga Sunyi lirih, saat berkata begitu wajahnya tepat di depan Baraka."Berkat pertolonganmu, luka separah apa pun dapat sembuh dengan cepat.""Aku tak banyak membantu dalam hal ini," kata Telaga Sunyi sambil matanya menatap Baraka.Jari-jari tangannya masih merayapi pipi pemuda tampan itu, tapi bukan untuk memeriksa luka yang pulih kembali. Jari-jari itu bergerak pelan merayap ke bibir Baraka, kemudian mulut Baraka pun menangkap jari itu. Menggigitnya pelan, dan sang gadis gemetar sekujur tubuhnya."Jangan. Jangan, Baraka...," ucapnya lirih sekali ketika jari itu tak mau dilepaskan oleh mulut Baraka.Wajah
"Jurus pukulan keparat! Memang benar apa kata Guru, jurus pukulan 'Inti Bara' sulit dijinakkan, sulit disembuhkan, dan karenanya Guru berpesan agar aku pun tidak sembarangan dalam menggunakan jurus pukulan 'Inti Bara'. Tetapi si keparat Aryani itu mengumbar jurus ini seenaknya saja! Pantas kalau dia dinyatakan sebagai murid murtad yang tak pernah mau ikuti peraturan perguruan," ucap Telaga Sunyi sebagai ungkapan rasa kesalnya, ia tampak kebingungan menghadapi luka-luka Pendekar Kera Sakti.Duduknya di atas batu samping Baraka yang tingginya hanya sebetis kurang. Suaranya sering bercampur dengan desah penyesalan dan kesedihan."Sayang sekali Guru belum turunkan Ilmu 'Penyerap Luka' seperti yang sudah diajarkan kepada Dewi Gapit Mesra itu. Kalau saja Ilmu 'Penyerap Luka' sudah kumiliki, maka menghadapi keadaan Baraka seperti ini bukan hal yang sulit lagi bagiku."Ucapan lirih itu masih sempat didengar oleh Pendekar Kera Sakti secara samar-samar. Dengan susah payah







