Home / Pendekar / Pendekar Kera Sakti / 581. Siluman Selaksa Nyawa

Share

581. Siluman Selaksa Nyawa

last update publish date: 2024-10-26 10:10:24

SEBELUM berangkat ke Puri Gerbang Kayangan, tempat kediaman Nyai Gusti Hyun Jelita yang menjadi kekasih idaman Baraka, Pendekar Kera Sakti murid Setan Bodong itu menyempatkan diri untuk singgah ke Bukit Kayangan. Kali ini ia terpaksa tidak bisa meninggalkan Dewa Racun, orang kepercayaan Nyai Gusti Hyun Jelita yang ditugaskan menjemput dan mengawal Baraka. Tetapi, Dewa Racun agaknya tahu diri dalam hal ini.

"Tem... tem... temuilah gurumu, akkk... akkk... aku akan menunggu di luar gua. Aaakk... a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Kera Sakti   1700. Part 7

    PUSAT perhatian Kinanti tertuju pada Merak Cabul di Bukit Kasmaran. Menurutnya, orang kurus yang menyerangnya dengan pisau beracun itu pasti suruhan Merak Cabul. Besar kemungkinan Merak Cabul tidak kehendaki orang Bukit Birawa ada yang masih hidup, sehingga ia menyuruh orang kurus itu untuk membunuh Kinanti. Baraka akhirnya mengalah, tak mau berdebat panjang lebar tentang perbedaan pendapat itu. Sebab menurut Baraka, Merak Cabul tidak terlibat dalam perkara pembakaran istana Lembah Birawa itu. Jika benar orang yang menyerang istana Lembah Birawa adalah orang yang bersenjata Sabuk Gempur Jagat, maka Tulang Naga itulah orangnya."Pihakku tidak ada hubungannya dengan Tulang Naga. Kami tidak kenal dengan Penguasa Telaga Siluman itu. Tak ada alasan bagi Tulang Naga untuk menyerang istana kami! Pasti serangan itu datang dari si Merak Cabul yang masih menyimpan kecurigaan tentang tersimpannya Kitab Jati Mulya di tangan ratuku!"Kinanti ngotot sekali, sehingga Baraka akhirnya hanya angkat bah

  • Pendekar Kera Sakti   1699. Part 6

    "Nyai Songket...!" gumam Baraka bagaikan tak sadar mulutnya mengucap nama itu begitu ingatannya menemukan sepotong nama tersebut. Tapi sang nenek bagaikan tak peduli dengan gumaman Baraka. Matanya yang cekung tertuju pada Kinanti. Agaknya gadis cantik itu juga sudah mengenal Nyai Songket, sehingga ia segera menyapa dengan sikap tak ramah."Rupanya kaulah yang membunuh orang kurus itu, Nyai Songket!""Tutup mulut bodohmu, Kinanti. Aku tidak mengenal mayat orang kurus itu! Aku datang untuk bikin perhitungan sendiri denganmu! Kau telah membunuh muridku; Widowidi. Sekarang aku menuntut balas atas kematian murid kesayanganku itu, Kinanti!"Baraka sempat membatin, "Bahaya! Nyai Songket ini terkenal dengan ilmu teluhnya. Kinanti tak akan mampu mengimbangi kekuatan Nyai Songket. Agaknya aku harus segera bergerak untuk mematahkan tiap serangan Nyai Songket.""Hutang nyawa balas nyawa, Kinanti!" ujar Nyai Songket sambil bergeser ke samping dan diikuti oleh pandanga

  • Pendekar Kera Sakti   1698. Part 5

    Plaaaak...!Kinanti menampar keras-keras wajah orang kurus itu hingga orang tersebut terpelanting berputar empat kali dengan cepat. Kejap berikutnya ia roboh akibat tendangan kaki Kinanti yang cukup kuat. Tubuhnya terkapar di bawah pohon dalam keadaan tidak berkutik lagi. Sebuah pekikan kecil sempat didengar oleh mereka sebelum orang itu roboh.Pendekar Kera Sakti segera mendekati orang tersebut dengan perasaan heran dan curiga, ia memeriksanya dengan pandangan mata dan dahi berkerut. Kinanti menyusul mendekati Baraka. Wajah orang kurus itu telah memucat, mulutnya ternganga dan matanya terbeliak tak berkedip. Tak satu pun bagian tubuhnya yang bergerak. Bahkan dadanya tidak kelihatan sedang bernapas."Dia tewas!" ujar Baraka sambil pegangi urat leher orang itu dan matanya memandang Kinanti. Gadis berjubah kuning gading itu setengah tidak percaya, kemudian memeriksa pergelangan tangan orang tersebut. Ternyata memang tak ada denyut nadi lagi. Itu tandanya orang ter

  • Pendekar Kera Sakti   1697. Part 4

    "Apakah Ratu Jiwandani tak tahu juga bahwa orang itu adalah si Tulang Naga?""Ratu tidak mengenal nama itu, karena ia tidak sebut-sebut nama Tulang Naga.""Jika Ratu tidak kenal dengan Tulang Naga, berarti orang yang membumihanguskan Lembah Birawa bukan dia."Kinanti segera berpaling menatap Pendekar Kera Sakti. Dahinya berkerut, pandangan matanya tajam penuh tanda tanya."Jika bukan Tulang Naga, lalu siapa orangnya yang memegang pusaka Sabuk Gempur Jagat? Setahuku sabuk pusaka itu dipegang olehnya.""Baru sekarang kudengar ada pusaka Sabuk Gempur Jagat," ujar Kinanti. "Tapi aku belum pernah melihat bentuknya.""Apakah malam itu kau tidak melihat sabuk pusaka itu digunakan oleh orang tersebut?"Kinanti gelengkan kepala. "Aku hanya mendengar pengaduan dari anak buahku. Api telah berkobar dan aku segera larikan sang Ratu tanpa sempat berhadapan dengan orang tersebut.""Jadi kau tidak tahu ciri-ciri si pemegang Sabuk Gempur Jagat?

  • Pendekar Kera Sakti   1696. Part 3

    Plaaak...!Tiba-tiba Kinanti layangkan tamparan tangannya ke wajah Wirya Tabah tanpa tanggung-tanggung lagi. Lelaki yang usianya lebih banyak dari Kinanti itu terpelanting jatuh bersimpuh akibat tamparan tersebut. Wajah yang ditampar menjadi merah, menandakan tamparan itu disertai hempasan tenaga dalam walau berukuran sedangsedang saja. Wirya Tabah tak berani melawan atau membalas, ia hanya bangkit dan tetap tundukkan kepala bersikap sebagai orang bersalah."Di mana rasa baktimu kepada negeri dan ratumu, Wirya Tabah! Dalam keadaan diserang bahaya sekeji ini kau pergi tanpa mau menanggung akibatnya. Pengabdian macam apa yang kau miliki itu, Wirya Tabah!"Kinanti angkat tangan kanannya dan ingin tampar Wirya Tabah lagi, tapi seruan Baraka menghentikan gerak tangan tersebut."Cukup!" Baraka kian mendekati Kinanti. "Jangan limpahkan dendam dan kemarahanmu kepada Paman Wirya Tabah, Kinanti. Bukankah ia pergi sudah seizin sang Ratu?"Mata gadis cantik it

  • Pendekar Kera Sakti   1695. Part 2

    Puing-puing itu menyebar ke segala arah, menimbuni kepala si pemilik panah tersebut. Orang bermata agak besar itu hanya terperangah bengong pandangi Pendekar Kera Sakti. Namun hatinya sempat menggumam sendiri, "Hebat sekali dia? Panahku bisa dikembalikan dalam keadaan lebih cepat dan berkekuatan tenaga dalam cukup dahsyat! Gila! Agaknya aku tak boleh anggap remeh anak mudah itu. Hmmm... siapa dia sebenarnya? Aku sepertinya pernah melihatnya secara sepintas, tapi tak sempat mengenalnya lebih dekat lagi. Dilihat dari raut mukanya, agaknya dia bukan orang jahat. Sebaiknya kukurangi kecurigaan jelekku terhadap anak muda itu."Pendekar Kera Sakti semakin dekati orang tersebut. Dalam jarak tujuh langkah kurang ia berhenti dan menyapa dengan suaranya yang bernada kalem, mata memandang tanpa kesan permusuhan. "Apa maksudmu menyerangku, Paman? Siapa kau sebenarnya?""Justru seharusnya aku yang berkata begitu!" jawab orang itu masih menampakkan sikap permusuhannya.Baraka

  • Pendekar Kera Sakti   1552. ANAK PETIR

    TIDAK ada yang lebih indah di siang teduh berangin semilir selain merebah di bawah sebuah pohon. Melepas lelah dalam buaian angin lembah sungguh merupakan hal yang menyenangkan bagi Baraka. Sayup-sayup terdengar suara alunan seruling yang meliuk-liuk bagai meninabobokan setiap sukma. Suara seruli

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Pendekar Kera Sakti   1167. Part 2

    Jleeg...!"Untung aku cepat pejamkan mata," katanya dalam hati. "Kalau tidak segera pejamkan mata, bisa buta mataku terkena sinar merah itu. Aku tahu letak kekuatan kipasnya itu. Aku tahu bagaimana cara mengatasinya. Kalau saja saat ini Cambuk Getar Bumi ada di tanganku, pasti tubuh si Muk

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Pendekar Kera Sakti   1042. Part 17

    Kini pedang emas sudah ada di tangan Baraka. Dan tubuh Rangka Cula yang terkena jurus 'Yudha' itu menjadi terpotong-potong dengan sendirinya setiap ruasnya, sampai terakhir kepalanya jatuh ke tanah dalam keadaan sudah tidak sempurna lagi.Brukk...!Tubuh Rangka Cula rubuh dalam kead

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Pendekar Kera Sakti   987. Part 2

    "Menurutmu, apa yang dicari gurumu di petilasan tempat tinggalnya dulu itu!""Sudah kubilang, aku tak tahu!" sentak Kirana. "Tapi sebelum guruku pergi, sudah pamit kepada salah satu temanku bahwa dia mau ke Cemara Tunggal. Lalu aku menyusulnya kemari dan menemukan Guru sudah terkapar di ba

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status