Startseite / Pendekar / Pendekar Kera Sakti / 581. Siluman Selaksa Nyawa

Teilen

581. Siluman Selaksa Nyawa

last update Veröffentlichungsdatum: 26.10.2024 10:10:24

SEBELUM berangkat ke Puri Gerbang Kayangan, tempat kediaman Nyai Gusti Hyun Jelita yang menjadi kekasih idaman Baraka, Pendekar Kera Sakti murid Setan Bodong itu menyempatkan diri untuk singgah ke Bukit Kayangan. Kali ini ia terpaksa tidak bisa meninggalkan Dewa Racun, orang kepercayaan Nyai Gusti Hyun Jelita yang ditugaskan menjemput dan mengawal Baraka. Tetapi, Dewa Racun agaknya tahu diri dalam hal ini.

"Tem... tem... temuilah gurumu, akkk... akkk... aku akan menunggu di luar gua. Aaakk... a
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Pendekar Kera Sakti   1692. Part 22

    "Calon Istriku," sahut Baraka, kemudian menceritakan secara singkat tentang Hyun Jelita yang merupakan perempuan yang sudah ditakdirkan menjadi istrinya oleh garis perjalanan hidup mereka. Salju Kelana tundukkan kepala dan merasa sedih."Tapi selama kau belum mendapatkan seorang suami, aku tetap akan mendampingimu. Karena wajahmu persis sekali dengan Hyun Jelita. Kita memang bisa bersama-sama, tapi tidak bisa bersatu dalam kemesraan abadi."Salju Kelana menarik napas berusaha menenangkan gemuruh yang ada di hatinya, ia tidak bicara apa pun, sampai Kinanti akhirnya datang sambil menenteng seorang lelaki agak pendek berpakaian biru, badannya agak gemuk dan rambutnya pendek mengenakan ikat kepala biru juga."Aku tak tahu murid siapa dia, tapi kutemukan dalam keadaan mengintip kalian berdua," kata Kinanti sambil melemparkan tubuh itu bagai melemparkan sarung basah.Brruk...!Baraka memandang dengan dahi berkerut heran. "Bagus Sepasar...!" gumamnya liri

  • Pendekar Kera Sakti   1691. Part 21

    Dengan sikap baik, Baraka mengembalikan ikat kepala mereka. Permusuhan pun mereda, bahkan Brada bertanya kepada Pendekar Kera Sakti,"Urusan apa kau ada di sini bersama dua kekasihmu itu?"Salju Kelana dan Kinanti tersenyum masam. Baraka justru tertawa tanpa suara. Tapi ia segera menjelaskan perkara sebenarnya, dituturkan dengan sejelas-jelasnya, sehingga ketiga orang yang berjuluk Tiga Malaikat Batu itu menggumam lirih."Kami pun ada persoalan dengan Demit Lanang. Delapan murid kami dilenyapkan dengan sinar 'Bintara Jingga'-nya itu. Terlepas dia tahu itu murid kami atau tidak, tapi kami akan menuntut balas atas kematian delapan murid kami.""Kita sama-sama kehilangan buronan," kata Baraka. "Tapi aku yakin dalam waktu tak lama dapat menemukan di mana Demit Lanang bersembunyi.""Kita berlomba," kata Brada. "Siapa yang menemukan Demit Lanang lebih dulu, dia yang berhak membunuhnya!""Asal Ratu Jiwandani jangan sampai cedera oleh serangan

  • Pendekar Kera Sakti   1690. Part 20

    Mereka sama-sama memakai ikat kepala dari kain merah. Pakaian mereka rata-rata berwarna gelap. Satu orang memakai jubah berlengan panjang warna abu-abu, satu lagi mengenakan jubah tak berlengan warna hitam, dan yang satu lagi mengenakan jubah belahan samping warna hijau tua. Jubah belahan samping itu seperti kain yang dilubangi untuk masuk kepala, tanpa ada bentuk dan potongan model apa pun."Celaka! Rupanya mereka yang membuat Demit Lanang buru-buru pindah dari tempat ini!" bisik Kinanti kepada Pendekar Kera Sakti. Bisikan itu juga didengar oleh Salju Kelana."Siapa mereka itu, Kinanti?""Mereka musuh utama Maha Guru Teja Biru yang dikenal dengan nama: Tiga Malaikat Batu.""Aku baru mendengar julukan itu," bisik Salju Kelana."Mereka adalah; Denawa, Sogar, dan Brada. Mereka orang-orang Teluk Sangar, ilmunya tinggi-tinggi, kebal senjata dan tak mampu ditembus sinar apa pun. Barangkali Demit Lanang sudah mengetahui rencana kedatangan mereka, sehingg

  • Pendekar Kera Sakti   1689. Part 19

    Kinanti melangkah maju lebih dulu. Tapi tiba-tiba tangan Baraka segera menyambarnya dengan memeluk pinggang Kinanti dan membawanya melompat ke belakang."Mundur...!" sentak suara Baraka yang membuat Salju Kelana ikut-ikutan menyentak ke belakang. Ternyata Kinanti telah menginjak pasangan batu yang ditanam dalam tanah. Pasangan itu membuat munculnya jebakan berupa papan-papan berbesi runcing yang menghantam ke arah pintu gerbang dari bagian dalam.Wuusss...! Prakkk...!Sebagian papan ada yang menancap di pintu sebelahnya, sebagian lagi mengenai tempat kosong. Kinanti berdebar-debar memandang keadaan tersebut. Terbayang kengerian yang nyaris membuatnya mati terpaku besi-besi runcing pada papan-papan tersebut. Kalau saja Baraka tidak segera menyambarnya, ia akan mati dihujam puluhan besi runcing yang menyerupai paku-paku di papan itu.Salju Kelana berkata, "Agaknya tempat ini sengaja dipenuhi jebakan maut. Kita harus lebih hati-hati lagi, Baraka.""Ya

  • Pendekar Kera Sakti   1688. Part 18

    Baru menginap semalam di Lembah Birawa, esoknya Baraka sudah dihadapkan dengan dua masalah besar; penyerbuan Lodang Balak dan menghadapi hilangnya sang Ratu sendiri, ini sebuah tantangan bagi Pendekar Kera Sakti untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam mengatasi berbagai kesulitan. Karenanya semangat Baraka dalam mengejar Demit Lanang cukup tinggi. Apalagi ia didampingi Salju Kelana, serasa didampingi Hyun Jelita yang amat dirindukan itu. Tak heran lagi jika Baraka cukup menggebu-gebu untuk segera sampai di Perguruan Darah Surga.Perguruan itu terletak di dekat pantai, sebuah bukit yang cukup luas, sebagian lerengnya dibangun benteng kayu sebagai tempat menempa murid-murid perguruan tersebut. Tetapi ketika mereka sampai di benteng perguruan tersebut, ternyata keadaannya sangat sepi. Tak satu pun murid Perguruan Darah Surga yang terlihat mondar-mandir di depan pintu gerbang.Kinanti mengajak mereka untuk mengintai dari kejauhan, dan Kinanti pula yang berbisik kepada Salju

  • Pendekar Kera Sakti   1687. Part 17

    Lodang Balak kian garang. Pedangnya ditusukkan di depan, dan mata Baraka yang masih terpejam itu berhasil merasakan angin padat menghampirinya. Dengan cepat ia melompat bersalto ke udara.Wuuss...! Lalu dalam keadaan berjungkir balik di udara pedangnya berkelebat membabat lawan.Wuuuttt...! Craasss...!"Aahg...!" terdengar pekik tertahan si Lodang Balak.Punggungnya robek digores ujung pedang. Baraka berdiri tegak, kini ia membuka mata memandang lawannya yang menyeringai dengan berang. Sekalipun dada Baraka tampak membiru bekas pukulan tadi, namun ia masih kelihatan gagah, mampu berdiri dengan tegar."Kau sudah terluka, Lodang Balak! Kau harus mundur sesuai peraturan yang kita sepakati tadi.""Setan bangsat...! Tak ada kata mundur selama aku masih mampu berdiri! Heaaatt...!"Baraka memegang pedang dengan kedua tangan. Salah satu jurus ‘Pedang Kilat Buana’ dipergunakan. ‘Kilat Pembawa Maut’Zlaapp...!

  • Pendekar Kera Sakti   651. Part 14

    "Aku hanya ingin melihat, siapa orang yang menyerang Tapak Baja dari tempat persembunyiannya! Karena saat aku hendak membawamu pergi, Tapak Baja sedang terdesak oleh serangan berilmu tinggi," ucap Pendekar Kera Sakti.“Tak perlu. Tak perlu, Baraka! Sebaiknya kita tinggalkan saja merek

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-25
  • Pendekar Kera Sakti   573. Part 13

    Sementara Baraka melakukan penyembuhan terhadap diri Peramal Pikun, di luar pondok itu Dewa Racun mencoba memancing ikan untuk santapan nanti. Ia memancing ikan bukan dengan kail maupun pancingan bila, melainkan menggunakan sehelai daun ilalang.Daun ilalang itu dibelah menjadi dua pada tia

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-24
  • Pendekar Kera Sakti   452. Gairah Sang Ratu

    DIDALAM ALMARI, Baraka penuh gerutu dan kejengkelan. Perlu dicatat pula, salah satu gerutuannya berbunyi demikian: "Dasar pelayan nggak tahu diri, seenaknya aja ngunci almari! Apa nggak tahu ada orang di sini? Kalau begini kan bisa bikin aku mati kehabisan udara inti! Sial! Kudoakan biar nggak la

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-22
  • Pendekar Kera Sakti   322. Part 2

    Di kaki langit sebelah timur, matahari tersembul memantulkan sinar rona jingga. Ayam jantan liar mengumandangkan kokoknya yang gagah, menyapa hari di ambang pagi. Gumpalan awan berarak di cakrawala. Sementara, tiupan angin sejuk melengkapi lahirnya hari ini.Dalam terpaan lembut hawa pagi,

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-21
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status