Share

668. Part 13

last update publish date: 2024-11-19 01:03:21

Dewa Racun cepat memandang Badai Kelabu dengan dahi berkerut tajam. Dan tiba-tiba di kejauhan sana dua manusia perempuan berlari mendekati mereka. Suara kecil memanggil Baraka. Dewa Racun makin terkesiap matanya memandang Melati Sewu sedang berlari bersama Badai Kelabu. Sedangkan orang yang baru saja menendang Pendekar Kera Sakti itu juga Badai Kelabu. Dewa Racun sempat dibuat bingung beberapa kejap.

Cepat-cepat Pendekar Kera Sakti melayangkan tendangan sampingnya ke arah Badai Kelabu

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Kera Sakti   1577. Part 3

    "Tapi perlu kau ketahui, Nona... bahwa aku tidur di atas daun bukan dengan maksud pamer ilmu padamu. Aku tak tahu kalau kau ada di sekitar hutan sini. Kupikir tak ada orang, jadi aku berani melakukan hal itu. Kalau kutahu ada orang di hutan ini, aku tak berani lakukan hal itu, sebab takut dianggap pamer ilmu. Padahal ilmuku sangat rendah. Tidak ada sekuku hitamnya dibandingkan ilmu yang kau miliki, Nona. Aku ini manusia biasa, pengembara yang tidak punya bekal apa pun kecuali seutas nyawa dan sejengkal mahkota bagi seorang lelaki...."Sambil berbicara panjang begitu, diam-diam tubuh Baraka terangkat sendiri secara pelan-pelan. Telapak kakinya mulai tidak menyentuh tanah. Semakin lama bicara semakin naik, hingga sang gadis membelalak melihat Baraka bisa melayang-layang di udara tanpa alas berpijak apa pun."Waah.. Ini sudah pamer ilmu namanya. Kata-katanya merendah tapi tindakannya meninggikan diri." Si gadis menjadi kagum dan mengakui kehebatan Pendekar Kera Sakti seca

  • Pendekar Kera Sakti   1576. Part 2

    "O, iya, ya! Kalau begitu, mari kita cepat pergi dari sini. Jangan mengganggu tidurnya. Nanti kalau kita berisik di sini tidurnya terganggu dan dia bisa marah kepada kita."Kedua orang itu segera pergi, tapi masing-masing berceloteh tentang kabar yang mereka dengar dari mulut ke kuping tentang kesaktian Pendekar Kera Sakti. Bahkan yang bertubuh pendek mempunyai pendapat, jika Baraka tidak sedang kelelahan, tentunya tak akan mau tidur di atas dedaunan sekecil itu.Mendung menyingkir dengan penuh kesadaran. Sang matahari menerobos celah dedaunan. Matahari sudah mulai bergeser ke barat. Cahayanya masih menyengat dan membuat Pendekar Kera Sakti terbangun dari tidurnya.Wuuuut...! Ia sentakkan pinggulnya dan turun dari atas dedaunan. Badannya menggeliat dengan otot dikeraskan. Mulutnya sempat menguap sebagai sisa kantuknya. Baraka sedikit terkejut saat meraba sabuk pinggangnya."Mana sulingku!"Jantungnya berdebar-debar karena tegang. Suling Naga Krishn

  • Pendekar Kera Sakti   1575. SULING NAGA KRISHNA

    ANGIN bertiup semilir sejuk. Barangkali karena mendung menggantung di langit dan hujan sedang berkemas untuk turun, maka angin pun membawa kelembaban udara yang sejuk. Cuaca seperti itu enak untuk tidur. Maka bersiaplah pemuda tampan berambut poni itu untuk mencari tempat buat baringkan badan. Setidaknya dengan duduk bersandar pun jadilah, yang penting bisa untuk pejamkan mata dan terlena tidur. Pemuda berpakaian rompi tanpa lengan itu tak lain adalah Pendekar Kera Sakti: Baraka.Karena tak ada tempat yang enak untuk baringkan badan, Baraka akhirnya berbaring di atas dedaunan semak tak berduri. Tempat yang sepi dan sangat kecil kemungkinannya dijamah manusia itu membuat Baraka tak segan-segan berbaring di atas dedaunan semak. Daun-daun itu tidak patah, bahkan tidak melengkung terlalu banyak. Padahal daun dan ranting kecil-kecil itu menyangga tubuh Pendekar Kera Sakti. Tentu saja hal itu dilakukan oleh Baraka dengan menggunakan ilmu peringan tubuh yang bekerja dengan sendiriny

  • Pendekar Kera Sakti   1574. Part 23

    Trabb...! Zlapp...!Sinar itu membalik ke arah pemiliknya lebih cepat dan lebih besar. Tapi Aswarani sudah pernah melihat kehebatan suling mustika itu, sehingga ia sudah menduga akan terjadi hal demikian. Maka dengan satu kali lompatan bersalto, ia lolos dari sinar baliknya itu.Blegarrr...!Sinar itu menghantam pohon besar. Dua pohon lenyap berubah menjadi debu."Kau boleh bangga dengan suling mustikamu, tapi tak akan mampu menahan jurusku kali ini, haaah...!"Claappp...!Sinar merah besar terlepas dari tangan Aswarani. Baraka menghadangnya lagi dengan suling mustika, namun kali ini sinar tidak membalik arah melainkan meledak di depan Baraka.Blegarrr....Pendekar Kera Sakti terbang melambung ke udara. Peristiwa itu pernah dialaminya ketika ia ingin menyelamatkan Bulan Sekuntum dalam peristiwa Keranda Hitam dulu. Kini keadaan Baraka terkapar dengan luka memar di sekujur tubuhnya. Semua yang menyaksikan hal itu menjadi tegang d

  • Pendekar Kera Sakti   1573. Part 22

    "Baik! Kudengar kau pun juga menantang pertarungan denganku. Semula aku ingin melupakan tantangan itu, tak ingin melayaninya. Karena kupikir kau pemuda yang layak dibelai, bukan layak dihancurkan. Tapi karena sikapmu sudah tak mau bersahabat lagi denganku, terpaksa kulayani tantanganmu. Sekarang, di sini juga, kita awali pertarungan kita. Tunjukkan kepada perempuan-perempuan itu bahwa kau mampu mengungguli ilmuku! Tapi tentunya kau tahu bahwa sekarang aku mengenakan Gelang Naga Dewa ini!"Aswarani menunjukkan gelang yang dimaksud dengan mengangkat tangan kirinya, ia menyambung kata, "Kau tak akan mampu kalahkan aku jika gelang ini masih ada di tanganku, Baraka!""Kusarankan, kembalikan gelang itu pada pemiliknya!"Anak Petir tertawa. "Hah, hah, hah, hah...! Kau mau coba-coba memerintahku, Pendekar Kera Sakti! Oh, jangan harap ucapanmu bisa membuatku tunduk dan menuruti perintahmu! Gelang ini adalah nyawaku. Kalau memang kau inginkan gelang ini kembali kepada pem

  • Pendekar Kera Sakti   1572. Part 21

    Ki Lurah Tunggoro segera keraskan semua uraturatnya, mengerahkan tenaga untuk melawan rasa panas yang membakar tangannya. Bulan Sekuntum sentakkan kaki dan melesat menerjang Ki Lurah Tunggoro dengan pedangnya.Wuuttt...! Namun tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro melemparkan sesuatu dari tangan kirinya. Ternyata sinar hijau seperti bola kecil yang diarahkan kepada Bulan Sekuntum.Pedang pun dikibaskan untuk menangkis tenaga dalam berbentuk sinar hijau itu.Wusss...! Dam...!Ledakan tersebut membuat Bulan Sekuntum terpental tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, ia jatuh terguling-guling sampai dalam jarak tujuh langkah dari tempatnya."Bulan Sekuntum terluka," bisik Dinada. "Lihat, wajahnya mulai pucat dan kebiru-biruan! Kita harus segera bertindak.""Jangan dulu," cegah Baraka. "Bulan masih mampu bangkit, ia pasti akan menyerang kembali."Tetapi tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro mengangkat kedua tangannya ke atas dalam keadaan telapak tangan terbu

  • Pendekar Kera Sakti   11. Sepasang Pendekar Golok Sakti

    Orang yang memanggul harpa tertawa. Wajahnya yang sesungguhnya tampan, dengan tajam memandang Sepasang Pendekar Golok Sakti yang juga kakak-kakak seperguruannya. Kemudian, pandangannya diarahkan pada Dewi Salindri yang semakin sengit melihat tatap mata nakal itu, sehingga napasnya turun-naik. Mat

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Pendekar Kera Sakti   77. Melarikan Katak Wasiat Dewa

    Dan karena dia pun, telah berhasil menguasai dengan sempurna ilmu 'Dewa Angkasa' yang merupakan salah satu bagian dari isi Kitab Tiga Dewa, kakek itu mampu menerbangkan tubuhnya sambil duduk bersila di atas lempengan batu. Kemampuan itu diperolehnya dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalam yang b

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Pendekar Kera Sakti   45. Khasiat Suling Krishna

    Tersurut mundur si pemuda polos Baraka. Bukan karena gentar, melainkan karena tahu kakek berikat kepala batik mempersiapkan pukulan 'Pelebur Sukma' yang teramat dahsyat."Hmmm... Menilik dari ilmu pukulan yang telah disiapkan kakek itu, dia pasti ingin membunuhku! Terpaksa aku harus menggun

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Pendekar Kera Sakti   8. Kelahiran Sang Naga

    Gunung Asmoro terlihat berdiri dengan angkernya malam itu, sebuah gerobak yang ditarik kuda berbulu putih belang coklat itu berhenti di depan bangunan besar yang mirip candi diatas puncak gunung asmoro. Saat itu di penghujung malam menjelang pagi. Perempuan tua yang duduk di samping pemuda sais gero

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status