Putra Mahkota Yang Terbuang

Putra Mahkota Yang Terbuang

last updateLast Updated : 2026-07-22
By:  Noah harun Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Malam berdarah mengubah segalanya. Kaisar Liu Bing dibunuh oleh Jenderal Ming Lung, orang yang paling dipercaya untuk melindungi Kerajaan Wu. Dalam satu malam, takhta direbut, keluarga kerajaan dibantai, dan Dinasti Liu dinyatakan berakhir. Namun Ming Lung tidak mengetahui satu rahasia. Permaisuri Xing Fu berhasil melarikan diri sambil mengandung pewaris sah kerajaan. Sejak lahir, sang Putra Mahkota hidup sebagai buronan. Ia tumbuh dalam kemiskinan, kehilangan ibunya, dan diburu tanpa henti oleh orang yang telah merebut takhta ayahnya. Tak ada yang tahu bahwa anak kecil yang dianggap sampah itu menyimpan darah seorang kaisar. Saat ia dewasa, dunia persilatan akan menjadi pijakan pertamanya. Dengan pedang di tangan dan dendam yang membara, ia bersumpah akan mengembalikan Dinasti Liu ke singgasananya. Namun... mampukah seorang Putra Mahkota yang terbuang merebut kembali kerajaan yang telah dirampas selama puluhan tahun?

View More

Chapter 1

Bab 1 Pengkhianatan

Dentuman genderang perang mengguncang langit Kerajaan Wu.

Api berkobar di berbagai sudut ibu kota. Asap hitam membumbung tinggi, sementara jeritan para prajurit dan rakyat saling bersahutan.

Di dalam Aula Naga, Kaisar Liu Bing berdiri memandangi kobaran api dari balik jendela istana. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya dipenuhi kesedihan.

"Yang Mulia!"

Pintu aula terbuka. Permaisuri Xing Fu berlari masuk dengan napas tersengal. Gaun kebesarannya telah dipenuhi noda darah para pengawal yang gugur ketika melindunginya.

Ia langsung berlutut di hadapan Kaisar.

"Yang Mulia... kita harus pergi sekarang juga!" serunya sambil menangis. "Jenderal Ming Lung telah memimpin pasukan pemberontak memasuki ibu kota. Gerbang timur sudah jatuh, gerbang barat juga telah dikuasai. Sebentar lagi mereka akan tiba di istana!"

Liu Bing memejamkan mata. Ia tidak pernah menyangka orang yang paling dipercayainya justru menjadi pengkhianat. Menteri-menteri yang dahulu bersumpah setia kini satu per satu berlutut di hadapan Ming Lung. Istana yang dibangun leluhurnya kini tinggal menunggu waktu untuk direbut.

"Xing Fu..." ucap Liu Bing pelan. 

"Pergilah."

Permaisuri mengangkat wajahnya. "Tidak! Aku tidak akan meninggalkan Yang Mulia!"

"Di dalam kandunganmu..." suara Liu Bing bergetar untuk pertama kalinya.

 "...ada harapan terakhir Dinasti Liu."

Xing Fu membelalak. Tanpa sadar ia memegang perutnya.

"Aku rela mati bersama Yang Mulia!"

"Tidak!" bentak Liu Bing.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Kaisar meninggikan suaranya.

"Jika kita berdua mati malam ini, darah Dinasti Liu akan benar-benar lenyap dari dunia."

Air mata Xing Fu jatuh tanpa henti.

Liu Bing menoleh kepada pengawal kepercayaannya.

"Pengawal!"

Seorang pria berpakaian zirah segera berlutut.

"Siap, Yang Mulia."

"Bawa Permaisuri keluar melalui terowongan rahasia. Lindungi dia dengan nyawamu."

"Perintah diterima!"

Pengawal itu segera memegang lengan Xing Fu.

"Tidak! Lepaskan aku!" teriak Xing Fu sambil meronta. "Yang Mulia! Aku tidak akan pergi!"

Namun Liu Bing membalikkan badan. Ia tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya menangis.

Saat Xing Fu diseret keluar aula...

BRAAKK!!

Pintu istana bergetar hebat. Disusul suara benturan kedua.

BRAAAKK!!

Pintu utama akhirnya roboh.

Suara langkah kaki yang berat menggema memenuhi aula. Seseorang perlahan melangkah masuk. Pedangnya masih meneteskan darah, sementara di belakangnya berdiri ratusan prajurit pemberontak.

Liu Bing mengepalkan kedua tangannya. Akhirnya orang yang paling ia percaya datang untuk merenggut nyawanya.

Kaisar Liu Bing menatap Jenderal Ming Lung dengan sorot mata tajam. Meski istana telah dikuasai pemberontak, wibawa seorang kaisar masih terpancar dari dirinya.

"Ming Lung!" bentaknya. "Kau benar-benar berani mengangkat pedang kepadaku? Apa kau ingin membunuh rajamu sendiri?"

Jenderal Ming Lung tersenyum tipis. Tatapannya dingin tanpa sedikit pun rasa bersalah saat melangkah mendekati Liu Bing.

"Yang Mulia..." ujarnya pelan. "Hari ini memang hari kematianmu."

Ia mengangkat pedangnya ke arah Kaisar.

"Kerajaan Wu sudah jatuh ke tanganku. Tak ada lagi seorang pun yang mampu menyelamatkanmu."

Liu Bing mengepalkan kedua tangannya.

"Kurang ajar!"

Suara bentakannya menggema di seluruh Aula Naga.

"Aku yang mengangkatmu menjadi jenderal! Aku yang memberimu kekuasaan dan kehormatan! Tanpa aku, kau hanyalah prajurit miskin yang tak dikenal siapa pun!"

Ucapan itu membuat wajah Ming Lung berubah muram. Urat di dahinya menegang, matanya dipenuhi amarah.

"Diam!" bentaknya. "Jangan pernah mengungkit masa laluku! Justru karena aku selalu berada di bawah bayang-bayangmu, hari ini aku akan mengambil semuanya!"

Ia mengangkat tangannya.

"Prajurit! Habisi dia!"

Puluhan prajurit pemberontak segera maju. Mereka saling berpandangan sejenak. Bagaimanapun, pria yang berdiri di hadapan mereka masih Kaisar Kerajaan Wu. Namun tak seorang pun berani membangkang perintah Ming Lung.

"Serang!"

Belasan prajurit menyerbu secara bersamaan.

SREET!

Liu Bing mencabut pedang emas kebesaran Dinasti Liu dari sarungnya.

Kilatan cahaya memenuhi aula.

"Kalau kalian menginginkan nyawaku... datanglah mengambilnya!"

Tiga prajurit menyerang dari arah depan, kiri, dan kanan.

CLANG!

Pedang mereka berbenturan keras. Dengan satu putaran tubuh, Liu Bing menepis serangan dari kiri, lalu menusuk bahu prajurit di depannya.

"Arghhh!"

Darah muncrat membasahi lantai istana. Tanpa memberi kesempatan, ia kembali memutar pedangnya.

SWIING!

Seorang prajurit lain terpental setelah dadanya tersayat.

Meski telah lama tidak turun ke medan perang, kemampuan Liu Bing masih membuat para prajurit bergidik.

"Mustahil..."

"Yang Mulia masih sekuat ini?"

Beberapa prajurit mulai mundur. Mereka tak menyangka seorang kaisar masih memiliki ilmu pedang setinggi itu.

Namun, di tengah pertarungan perhatian Liu Bing hanya tertuju kepada para prajurit di depannya. Ia tidak menyadari sepasang mata dingin sedang mengawasinya dari belakang.

Ming Lung menggenggam pedangnya erat. Senyum licik terukir di sudut bibirnya.

"Inilah kesempatanmu mati..."

Tubuhnya melesat bagai bayangan.

SREEET!

Liu Bing merasakan serangan mematikan itu, tetapi ia terlambat mengantisipasinya.

DUUK!

Pedang Jenderal Ming Lung menusuknya dari belakang hingga menembus dada.

Mata Liu Bing membelalak. Ia memuntahkan darah segar. Pedang emas di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.

TANG!

Suara logam bergema memenuhi aula.

Tubuh Kaisar perlahan berlutut. Napasnya semakin berat.

Ming Lung mencabut pedangnya tanpa belas kasihan. Darah menyembur membasahi lantai Aula Naga, lalu Liu Bing akhirnya roboh.

Keheningan menyelimuti seluruh istana.

Ming Lung memandang tubuh Kaisar dengan senyum puas.

"Hahaha... akhirnya berakhir juga."

Ia mengangkat pedangnya tinggi ke udara.

"Mulai hari ini... akulah Kaisar baru Kerajaan Wu!"

Sorak-sorai para prajurit pemberontak menggema memenuhi Aula Naga.

Namun di balik tirai kayu yang menjadi pembatas antara aula besar dan lorong istana, Permaisuri Xing Fu yang sedang mengandung menyaksikan seluruh pembunuhan itu. Tubuhnya gemetar hebat. Air mata terus mengalir membasahi pipinya. Hampir saja ia berteriak dan berlari menghampiri Kaisar Liu Bing.

Namun, seorang pengawal istana dengan sigap menutup mulutnya.

"Maaf, Nyonya! Kita harus segera pergi! Kalau tidak, mereka akan menemukan kita!" bisiknya dengan wajah panik.

Permaisuri menggeleng sambil menangis. Tatapannya tak pernah lepas dari tubuh Kaisar Liu Bing yang telah tergeletak tak bernyawa.

"Liu Bing... hiks... hiks..." bisiknya lirih.

Hatinya seakan menolak untuk pergi. Namun pengawal itu kembali menarik tangannya.

"Maafkan hamba, Nyonya. Keselamatan calon Putra Mahkota lebih penting."

Mendengar perkataan itu, Permaisuri memejamkan mata. Dengan berat hati ia akhirnya mengikuti langkah pengawal menuju lorong rahasia.

Namun, baru beberapa langkah mereka berlari, seorang prajurit bawahan Jenderal Ming Lung melihat bayangan mereka. Matanya langsung membelalak.

"Hei! Jangan kabur! Berhenti kalian!"

Teriakannya menggema di seluruh lorong istana.

Permaisuri dan pengawal itu langsung menegang. Tanpa menoleh ke belakang, mereka mempercepat langkah, berlari sekuat tenaga menuju lorong rahasia.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status