LOGINMalam berdarah mengubah segalanya. Kaisar Liu Bing dibunuh oleh Jenderal Ming Lung, orang yang paling dipercaya untuk melindungi Kerajaan Wu. Dalam satu malam, takhta direbut, keluarga kerajaan dibantai, dan Dinasti Liu dinyatakan berakhir. Namun Ming Lung tidak mengetahui satu rahasia. Permaisuri Xing Fu berhasil melarikan diri sambil mengandung pewaris sah kerajaan. Sejak lahir, sang Putra Mahkota hidup sebagai buronan. Ia tumbuh dalam kemiskinan, kehilangan ibunya, dan diburu tanpa henti oleh orang yang telah merebut takhta ayahnya. Tak ada yang tahu bahwa anak kecil yang dianggap sampah itu menyimpan darah seorang kaisar. Saat ia dewasa, dunia persilatan akan menjadi pijakan pertamanya. Dengan pedang di tangan dan dendam yang membara, ia bersumpah akan mengembalikan Dinasti Liu ke singgasananya. Namun... mampukah seorang Putra Mahkota yang terbuang merebut kembali kerajaan yang telah dirampas selama puluhan tahun?
View MoreDentuman genderang perang mengguncang langit Kerajaan Wu.
Api berkobar di berbagai sudut ibu kota. Asap hitam membumbung tinggi, sementara jeritan para prajurit dan rakyat saling bersahutan. Di dalam Aula Naga, Kaisar Liu Bing berdiri memandangi kobaran api dari balik jendela istana. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya dipenuhi kesedihan. "Yang Mulia!" Pintu aula terbuka. Permaisuri Xing Fu berlari masuk dengan napas tersengal. Gaun kebesarannya telah dipenuhi noda darah para pengawal yang gugur ketika melindunginya. Ia langsung berlutut di hadapan Kaisar. "Yang Mulia... kita harus pergi sekarang juga!" serunya sambil menangis. "Jenderal Ming Lung telah memimpin pasukan pemberontak memasuki ibu kota. Gerbang timur sudah jatuh, gerbang barat juga telah dikuasai. Sebentar lagi mereka akan tiba di istana!" Liu Bing memejamkan mata. Ia tidak pernah menyangka orang yang paling dipercayainya justru menjadi pengkhianat. Menteri-menteri yang dahulu bersumpah setia kini satu per satu berlutut di hadapan Ming Lung. Istana yang dibangun leluhurnya kini tinggal menunggu waktu untuk direbut. "Xing Fu..." ucap Liu Bing pelan. "Pergilah." Permaisuri mengangkat wajahnya. "Tidak! Aku tidak akan meninggalkan Yang Mulia!" "Di dalam kandunganmu..." suara Liu Bing bergetar untuk pertama kalinya. "...ada harapan terakhir Dinasti Liu." Xing Fu membelalak. Tanpa sadar ia memegang perutnya. "Aku rela mati bersama Yang Mulia!" "Tidak!" bentak Liu Bing. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Kaisar meninggikan suaranya. "Jika kita berdua mati malam ini, darah Dinasti Liu akan benar-benar lenyap dari dunia." Air mata Xing Fu jatuh tanpa henti. Liu Bing menoleh kepada pengawal kepercayaannya. "Pengawal!" Seorang pria berpakaian zirah segera berlutut. "Siap, Yang Mulia." "Bawa Permaisuri keluar melalui terowongan rahasia. Lindungi dia dengan nyawamu." "Perintah diterima!" Pengawal itu segera memegang lengan Xing Fu. "Tidak! Lepaskan aku!" teriak Xing Fu sambil meronta. "Yang Mulia! Aku tidak akan pergi!" Namun Liu Bing membalikkan badan. Ia tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya menangis. Saat Xing Fu diseret keluar aula... BRAAKK!! Pintu istana bergetar hebat. Disusul suara benturan kedua. BRAAAKK!! Pintu utama akhirnya roboh. Suara langkah kaki yang berat menggema memenuhi aula. Seseorang perlahan melangkah masuk. Pedangnya masih meneteskan darah, sementara di belakangnya berdiri ratusan prajurit pemberontak. Liu Bing mengepalkan kedua tangannya. Akhirnya orang yang paling ia percaya datang untuk merenggut nyawanya. Kaisar Liu Bing menatap Jenderal Ming Lung dengan sorot mata tajam. Meski istana telah dikuasai pemberontak, wibawa seorang kaisar masih terpancar dari dirinya. "Ming Lung!" bentaknya. "Kau benar-benar berani mengangkat pedang kepadaku? Apa kau ingin membunuh rajamu sendiri?" Jenderal Ming Lung tersenyum tipis. Tatapannya dingin tanpa sedikit pun rasa bersalah saat melangkah mendekati Liu Bing. "Yang Mulia..." ujarnya pelan. "Hari ini memang hari kematianmu." Ia mengangkat pedangnya ke arah Kaisar. "Kerajaan Wu sudah jatuh ke tanganku. Tak ada lagi seorang pun yang mampu menyelamatkanmu." Liu Bing mengepalkan kedua tangannya. "Kurang ajar!" Suara bentakannya menggema di seluruh Aula Naga. "Aku yang mengangkatmu menjadi jenderal! Aku yang memberimu kekuasaan dan kehormatan! Tanpa aku, kau hanyalah prajurit miskin yang tak dikenal siapa pun!" Ucapan itu membuat wajah Ming Lung berubah muram. Urat di dahinya menegang, matanya dipenuhi amarah. "Diam!" bentaknya. "Jangan pernah mengungkit masa laluku! Justru karena aku selalu berada di bawah bayang-bayangmu, hari ini aku akan mengambil semuanya!" Ia mengangkat tangannya. "Prajurit! Habisi dia!" Puluhan prajurit pemberontak segera maju. Mereka saling berpandangan sejenak. Bagaimanapun, pria yang berdiri di hadapan mereka masih Kaisar Kerajaan Wu. Namun tak seorang pun berani membangkang perintah Ming Lung. "Serang!" Belasan prajurit menyerbu secara bersamaan. SREET! Liu Bing mencabut pedang emas kebesaran Dinasti Liu dari sarungnya. Kilatan cahaya memenuhi aula. "Kalau kalian menginginkan nyawaku... datanglah mengambilnya!" Tiga prajurit menyerang dari arah depan, kiri, dan kanan. CLANG! Pedang mereka berbenturan keras. Dengan satu putaran tubuh, Liu Bing menepis serangan dari kiri, lalu menusuk bahu prajurit di depannya. "Arghhh!" Darah muncrat membasahi lantai istana. Tanpa memberi kesempatan, ia kembali memutar pedangnya. SWIING! Seorang prajurit lain terpental setelah dadanya tersayat. Meski telah lama tidak turun ke medan perang, kemampuan Liu Bing masih membuat para prajurit bergidik. "Mustahil..." "Yang Mulia masih sekuat ini?" Beberapa prajurit mulai mundur. Mereka tak menyangka seorang kaisar masih memiliki ilmu pedang setinggi itu. Namun, di tengah pertarungan perhatian Liu Bing hanya tertuju kepada para prajurit di depannya. Ia tidak menyadari sepasang mata dingin sedang mengawasinya dari belakang. Ming Lung menggenggam pedangnya erat. Senyum licik terukir di sudut bibirnya. "Inilah kesempatanmu mati..." Tubuhnya melesat bagai bayangan. SREEET! Liu Bing merasakan serangan mematikan itu, tetapi ia terlambat mengantisipasinya. DUUK! Pedang Jenderal Ming Lung menusuknya dari belakang hingga menembus dada. Mata Liu Bing membelalak. Ia memuntahkan darah segar. Pedang emas di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. TANG! Suara logam bergema memenuhi aula. Tubuh Kaisar perlahan berlutut. Napasnya semakin berat. Ming Lung mencabut pedangnya tanpa belas kasihan. Darah menyembur membasahi lantai Aula Naga, lalu Liu Bing akhirnya roboh. Keheningan menyelimuti seluruh istana. Ming Lung memandang tubuh Kaisar dengan senyum puas. "Hahaha... akhirnya berakhir juga." Ia mengangkat pedangnya tinggi ke udara. "Mulai hari ini... akulah Kaisar baru Kerajaan Wu!" Sorak-sorai para prajurit pemberontak menggema memenuhi Aula Naga. Namun di balik tirai kayu yang menjadi pembatas antara aula besar dan lorong istana, Permaisuri Xing Fu yang sedang mengandung menyaksikan seluruh pembunuhan itu. Tubuhnya gemetar hebat. Air mata terus mengalir membasahi pipinya. Hampir saja ia berteriak dan berlari menghampiri Kaisar Liu Bing. Namun, seorang pengawal istana dengan sigap menutup mulutnya. "Maaf, Nyonya! Kita harus segera pergi! Kalau tidak, mereka akan menemukan kita!" bisiknya dengan wajah panik. Permaisuri menggeleng sambil menangis. Tatapannya tak pernah lepas dari tubuh Kaisar Liu Bing yang telah tergeletak tak bernyawa. "Liu Bing... hiks... hiks..." bisiknya lirih. Hatinya seakan menolak untuk pergi. Namun pengawal itu kembali menarik tangannya. "Maafkan hamba, Nyonya. Keselamatan calon Putra Mahkota lebih penting." Mendengar perkataan itu, Permaisuri memejamkan mata. Dengan berat hati ia akhirnya mengikuti langkah pengawal menuju lorong rahasia. Namun, baru beberapa langkah mereka berlari, seorang prajurit bawahan Jenderal Ming Lung melihat bayangan mereka. Matanya langsung membelalak. "Hei! Jangan kabur! Berhenti kalian!" Teriakannya menggema di seluruh lorong istana. Permaisuri dan pengawal itu langsung menegang. Tanpa menoleh ke belakang, mereka mempercepat langkah, berlari sekuat tenaga menuju lorong rahasia.Malam itu, kakek Liu Weng Fu berjalan menembus lebatnya hutan belantara. Sebatang obor di tangannya menjadi satu-satunya penerang di tengah kegelapan. Cahaya yang redup hanya mampu menerangi beberapa langkah di depannya, sementara di balik pepohonan, semuanya tampak gelap gulita. Meski langkahnya mulai terasa berat, kakek tua itu tidak berhenti. Di dalam benaknya hanya ada satu tujuan. Ia harus menyelamatkan Liu Weng Fu. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, napasnya mulai memburu. Ia berhenti sejenak di bawah sebatang pohon besar, lalu meneguk air dari botol bambu yang dibawanya. Saat mengangkat kepala, pandangannya tiba-tiba tertuju pada segerombol tanaman liar yang tumbuh di sela-sela bebatuan. Mata kakek tua itu langsung berbinar. "Itu dia..." Tanpa membuang waktu, ia segera menghampiri tanaman tersebut. Dengan menggunakan pisau kecil di pinggangnya, ia memotong beberapa helai daun dan akar yang memang sedang dicarinya. Kakek tua mengembuskan napas lega. "
Liu Weng Fu kini benar-benar terdesak. Di belakangnya hanya ada bebatuan besar, sementara di depannya seekor serigala hutan terus mengawasinya dengan tatapan tajam. Tak ada lagi jalan untuk melarikan diri. Ia menggenggam erat batang kayu yang ujungnya runcing. Meski kedua tangannya sedikit gemetar, ia tetap berdiri tegak menghadapi binatang buas itu seorang diri. Tiba-tiba... Serigala hutan itu melompat cepat ke arahnya. Liu Weng Fu segera menjatuhkan tubuhnya ke samping. Cakar serigala hanya menyambar udara kosong. Tubuhnya terguling beberapa kali di tanah hingga lengannya terasa perih, tetapi ia segera bangkit kembali. Melihat mangsanya masih berdiri, serigala itu kembali menggeram. "GRRR..." Kali ini binatang buas itu melompat dari arah samping, mengincar kaki Liu Weng Fu. Tanpa berpikir panjang, Liu Weng Fu mengayunkan batang kayu di tangannya sekuat tenaga. "Plak!" Ujung kayu itu tepat mengenai kepala serigala. Serigala hutan itu terhuyung beberapa langkah k
Saat beruang hutan itu mengaum keras, ia langsung menerkam ke arah mangsanya. Gigi taringnya yang tajam terlihat mengerikan, seolah-olah telah lama menunggu mangsa yang tepat. Namun... Tepat ketika beruang itu hampir mencapai tubuh kakek tua dan Liu Weng Fu, kakek tua hanya melangkah setengah langkah ke depan. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, lalu melayangkan sebuah tinju sederhana yang tampak sama sekali tidak bertenaga. "Dessst...!" Tak disangka... Tubuh beruang hutan itu terpental puluhan meter ke belakang hingga menghantam beberapa batang pohon. Beruang itu mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya. Tatapan buasnya seketika berubah menjadi ketakutan. Tanpa berani menyerang lagi, beruang hutan itu segera berbalik dan melarikan diri memasuki hutan yang gelap. Liu Weng Fu yang menyaksikan semua itu hanya bisa melongo. Matanya membelalak penuh kekaguman. "Kek... luar biasa!" serunya sambil bertepuk tangan. "Hanya satu tinju saja, beruang itu langsung kabur!"
Sejak saat itu... Para prajurit Jenderal Ming Lung terus mencari keberadaan Permaisuri Xing Fu. Mereka menyusuri hutan, pegunungan, hingga desa-desa terpencil. Namun... Tidak seorang pun menemukan jejak Permaisuri Xing Fu. Pencarian yang berlangsung selama beberapa bulan itu tidak membuahkan hasil. Seolah-olah Permaisuri Xing Fu telah lenyap ditelan bumi. Para prajurit mulai putus asa. Bahkan di kalangan rakyat mulai beredar berbagai cerita. Ada yang mengatakan Permaisuri Xing Fu telah dibawa oleh penghuni dewa gunung. Ada pula yang percaya bahwa ia telah meninggal di tengah hutan belantara. Akhirnya... Jenderal Ming Lung memerintahkan agar pencarian dihentikan. Ia menganggap Permaisuri Xing Fu telah mati bersama anak yang dikandungnya. Namun... Mereka tidak pernah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Di sebuah goa terpencil yang tersembunyi jauh di pegunungan... Permaisuri Xing Fu telah melahirkan seorang putra. Putra Mahkota terakhir Kerajaan Wu. Sebelum mengembuskan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.