LOGINMalam berdarah mengubah segalanya. Kaisar Liu Bing dibunuh oleh Jenderal Ming Lung, orang yang paling dipercaya untuk melindungi Kerajaan Wu. Dalam satu malam, takhta direbut, keluarga kerajaan dibantai, dan Dinasti Liu dinyatakan berakhir. Namun Ming Lung tidak mengetahui satu rahasia. Permaisuri Xing Fu berhasil melarikan diri sambil mengandung pewaris sah kerajaan. Sejak lahir, sang Putra Mahkota hidup sebagai buronan. Ia tumbuh dalam kemiskinan, kehilangan ibunya, dan diburu tanpa henti oleh orang yang telah merebut takhta ayahnya. Tak ada yang tahu bahwa anak kecil yang dianggap sampah itu menyimpan darah seorang kaisar. Saat ia dewasa, dunia persilatan akan menjadi pijakan pertamanya. Dengan pedang di tangan dan dendam yang membara, ia bersumpah akan mengembalikan Dinasti Liu ke singgasananya. Namun... mampukah seorang Putra Mahkota yang terbuang merebut kembali kerajaan yang telah dirampas selama puluhan tahun?
View MoreIbunda Lim Guan Yang terlihat sangat bahagia mendengar jawaban keduanya. Ia kemudian memandang Liu Weng Fu dan putrinya secara bergantian. "Kalau begitu, ibu sudah tidak perlu khawatir lagi. Kalian berdua memang sudah saling menyukai." Lim Guan Yang kembali menundukkan kepalanya karena malu. "Ibu... jangan bicara seperti itu." Ibunya tertawa kecil. "Kenapa malu? Bukankah tadi kamu sendiri sudah mengatakan bersedia?" Liu Weng Fu hanya tersenyum melihat tingkah Lim Guan Yang. Ibunda Lim Guan Yang kemudian berkata dengan serius, "Kalau kalian memang sudah sepakat, nanti kita bicarakan dengan keluarga. Ibu ingin hubungan kalian segera mendapat kepastian." Lim Guan Yang mengangguk perlahan. "Baik, Bu." Liu Weng Fu juga membungkuk hormat. "Saya akan mengikuti keputusan Ibu." Namun sebelum percakapan mereka berlanjut, terdengar suara seorang prajurit dari halaman. "Wakil Panglima Liu!" Liu Weng Fu menoleh. Seorang prajurit datang menghampirinya lalu memberi horm
Setelah kematian Liong Bun, Liu Weng Fu akhirnya terbebas dari segala provokasi yang selama ini membuatnya tertekan. Kini ia bisa menjalani hari-harinya dengan lebih tenang bersama Lim Guan Yang. Hari itu, Lim Guan Yang baru saja selesai menghadiri pemakaman ayahnya. Para keluarga dan kerabat Panglima Wei juga sudah berdatangan kembali ke kediaman untuk berkumpul bersama keluarga. Liu Weng Fu sedang duduk termenung seorang diri ketika tiba-tiba Ibunda Lim Guan Yang memanggilnya. "Nak Liu! Kesini sebentar. Ibu mau bicara denganmu!" Wanita itu melambaikan tangannya. Liu Weng Fu yang mendengar panggilan tersebut langsung bangkit dan menghampirinya. "Ada apa, Bu?" Ibunda Lim Guan Yang memandangnya beberapa saat. Kemudian ia tersenyum kecil. "Nak Liu, ibu ingin bertanya sesuatu kepadamu." Liu Weng Fu mengangguk. "Tanya saja, Bu." Wanita itu kemudian melirik ke arah putrinya yang sedang berbicara dengan beberapa anggota keluarga. "Kamu... suka dengan putri ibu?" Li
Tidak lama kemudian, Kaisar Ming berpamitan kepada Lim Guan Yang dan ibunya setelah berbincang beberapa saat. Akhirnya, Kaisar Ming meninggalkan kediaman Panglima Wei. Pasukan kerajaan yang sejak tadi berjaga mulai meninggalkan tempat itu satu per satu. Suasana yang sebelumnya ramai perlahan kembali sepi. Para pelayat dan kerabat Panglima Wei juga mulai pulang ke rumah masing-masing. Kini, hanya Liu Weng Fu dan Lim Guan Yang yang masih berada di dalam aula duka. Di hadapan mereka terbaring peti jenazah Panglima Wei. Lim Guan Yang masih berdiri di sana. Matanya terus menatap peti jenazah ayahnya. Air mata masih membasahi pipinya. Ia belum mampu menerima kenyataan bahwa ayah yang selama ini menjadi tempatnya bergantung telah pergi untuk selamanya. Liu Weng Fu kemudian berjalan mendekatinya. Ia berdiri di samping Lim Guan Yang dan menggenggam tangannya dengan lembut. "Nona Lim..." Lim Guan Yang tidak menjawab. "Relakan kepergian ayahmu," ujar Liu Weng Fu perlaha
Kaisar Ming akhirnya tiba di kediaman Panglima Wei. Sebelum Kaisar turun dari keretanya, para prajurit kerajaan segera membentuk barisan dan memblokir jalan keluar-masuk kediaman. Penjagaan diperketat. Masyarakat yang sejak tadi ingin melihat kedatangan Kaisar Ming semakin banyak berdatangan. Mereka berdesakan di luar halaman, berusaha melihat sosok Kaisar dari kejauhan. Pintu kereta terbuka. Kaisar Ming turun dengan mengenakan jubah kebesaran berwarna emas dan mahkota emas di kepalanya. Para prajurit segera memberi hormat. Kaisar Ming berjalan perlahan menuju pintu masuk kediaman. Melihat kedatangan Kaisar, keluarga Panglima Wei segera berlutut. "Salam sejahtera untuk Yang Mulia!" "Hidup Kaisar! Hidup Kaisar!" Kaisar Ming mengangguk perlahan. Tatapannya kemudian menyapu orang-orang yang berdiri di hadapannya. Namun tiba-tiba pandangannya berhenti pada seorang pemuda. Liu Weng Fu. Entah mengapa, pemuda itu tampak berbeda dari yang lainnya. Ada sesuatu dalam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.