LOGINBerdebar-debar Pendekar Kera Sakti melihat pedang itu. Ternyata di situlah, di perairan telaga itulah pedang itu disimpan oleh Begawan Sangga Mega. Jelas tak akan mudah ditemukan atau dilihat orang, karena pedang itu ada di antara lapisan alam nyata dan alam gaib. Hanya orang-orang yang bisa melihat alam gaib saja yang bisa melihat seperti apa Pedang Guntur Biru itu.
Berbentuk sangat indah, menarik sekali. Setiap orang pasti berminat untuk memilikinya. Tapi Pendekar Kera Sakti menahan
Wajah Kunta Aji ditendang keras oleh gurunya sendiri hingga tubuh itu terjungkal ke belakang dan berguling-guling. Wajah yang sudah hangus itu menjadi semakin hangus karena tendangan tadi tak sadar telah mengeluarkan cahaya merah sebagai cahaya tenaga dalam berhawa panas.Kunta Aji mengerang karena kulit wajahnya melepuh. Bahkan pipinya melonyoh karena hawa panas yang tinggi itu. Buyut Gerang segera menolongnya dengan perasaan sesal, ia bahkan berkata, "Lain kali hinaan seperti itu jangan kau sampaikan langsung padaku. Pakai bahasa isyarat saja, jadi aku tidak merasa sedang dihina oleh mulutmu!""Maa... maaf, Guru.""Yang salah aku kok yang minta maaf kamu! Diamlah, kuobati dulu lukamu ini!""Fuih...!" wajah Kunta Aji ditiup satu kali. Hawa dingin terasa meresap ke dalam kulit. Setelah itu, Buyut Gerang berkata kepada para muridnya."Tak perlu ada yang ikut aku. Aku akan memenuhi tantangan si Poci Dewa itu! Kami akan bertarung sampai ada yang mati.
Slapp...!Lebar sinar itu hampir mencapai satu jengkal dan gerakannya cepat, mengejutkan lawan. Sinar merah patah-patah berhenti, karena Cumbu Bayangan harus menghadapi sinar kuning tersebut. Maka dengan menggunakan gagang pedang yang digenggam tangan kiri, Cumbu Bayangan mengadu kekuatan tenaga dalamnya. Dari lubang gagang pedang itu keluar sinar merah bagaikan semburan api yang amat terang. Sinar merah itulah yang menghantam sinar kuningnya Kunta Aji di pertengahan jarak mereka.Wuusss...! Blegarrr...!Tanah bergetar, beberapa pohon pun tampak terguncang akibat ledakan keras yang menggelegar itu. Kunta Aji terlempar ke belakang dan jatuh telentang dalam keadaan wajahnya menjadi hitam bagai disambar petir. Sedangkan Cumbu Bayangan melambung ke udara bagaikan diterbangkan oleh gelombang ledakan tadi. Namun ia masih sempat menjaga keseimbangan tubuh, sehingga sempat bersalto satu kali dan mendaratkan kakinya dengan tepat di tanah.Jlegg...!"Kismi..
"Poci Dewa tinggal di Bukit Serapah. Jika kau ingin menemuinya, pergilah ke arah utara sampai tiba di sebuah sungai, pergilah ke seberang sungai, karena Bukit Serapah ada di seberang sungai itu!""Apakah kau tak ingin mengantarku ke sana?""Aku harus mencari Ayunda. Belum tenang hidupku kalau belum membalas kematian Guru!" kata Pinang Sari dengan tegas.Baraka angkat bahu pertanda tak bisa memaksa kehendak Pinang Sari. Lalu, mereka pun berpisah dengan tatapan mata Pinang Sari yang mengandung arti rasa berat untuk lakukan perpisahan itu.Dalam pertengahan jarak, sebelum mencapai sebuah sungai, tiba-tiba Baraka membelokkan arah perjalanannya ke timur, ia lakukan hal itu karena mendengar suara seseorang berbicara secara samar-samar. Suara itu dikenal Baraka sebagai suara Kunta Aji.Rasa ingin tahu membuat Baraka mengendap-endap mendekati semak-semak ilalang, karena semak itu tampak gaduh dan berguncang gemerisik. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh
Baraka segera mendekati Pinang Sari dan segera mengerahkan hawa ‘Kristal Bening’-nya. Ujung jari itu keluarkan sinar putih bening bagaikan kaca.Sllaaap...! Juurrssss...!Sinar sebening kaca itu menghantam ulu hati, menembus beberapa kejap, lalu padam seketika.Beberapa saat kemudian, Pinang Sari mulai sadar dengan keadaan dirinya yang terkapar di rerumputan, ia segera bangkit pelan-pelan, sedangkan Baraka duduk di atas sebuah batu tak jauh dari si gadis berkulit sawo matang."Mengapa kau menyerangku sehingga akhirnya kau sendiri yang terluka," kata Baraka setelah gadis itu mencoba bangkit berdiri dan ternyata mampu berdiri tegak. Kekuatannya berangsur-angsur pulih seperti sediakala.Mata bundar bening itu memandang Baraka dengan cemberut. Mungkin ia masih menyangka bahwa Baraka ada di pihak Ayunda."Kalau kau tak menyerangku, kau tak akan menderita luka seperti itu," ujar Baraka lagi memancing perkataan Pinang Sari."Kau
Pikir punya pikir, pendapat itu betul juga. Baraka pun segera membatalkan niatnya untuk membawa Cumbu Bayangan ke Buyut Gerang. Pikirnya, di situ sudah ada Kunta Aji yang akan membawa Cumbu Bayangan ke perguruannya. Maka, Baraka pun segera berkelebat pergi ke arah pertarungannya Ayunda dengan seseorang yang belum jelas siapa orangnya.Kepergian Baraka melegakan hati Kunta Aji. Ia segera mengangkat Kismi, memanggulnya di pundak, lalu membawanya pergi. Sedangkan Baraka segera tiba di pertarungan itu. Rupanya Ayunda bertarung melawan seorang gadis berusia sekitar dua puluh lima tahun. Gadis itu memakai baju hitam dan celana abu-abu. Rambutnya lurus sebatas tengkuk lewat sedikit, bagian depan diponi. Kecantikan gadis itu membuat hidung mancungnya tampak jelas dan bibirnya tampak menggemaskan. Baraka terpesona sesaat memandang kecantikan yang alami dan berkesan lugu itu."Kau tak akan unggul melawanku, Pinang Sari!" gertak Ayunda sambil kembali lepaskan pukulan jarak jauhny
Nada bicaranya semakin memanja. "Mengapa kau hiraukan, Baraka? Nanti kita kemalaman di perjalanan lho.""Aku kenal gadis berjubah kuning itu.""Terus kalau kenal mau apa?" nadanya sedikit ketus."Aku harus menolongnya. Kita ke lembah itu, Ayunda!""Tidak mau!" Ayunda cemberut. "Kalau kau mau ke sana, pergilah ke sana. Aku menunggu di sini saja.""Mengapa kau tidak mau ke sana!""Karena tujuanku pergi menemui Nini Pucanggeni, bukan mencampuri urusan orang lain!"Baraka agak tak enak hati, sehingga timbul kebimbangan yang menggelisahkan.-o0o-PERTARUNGAN itu sebenarnya merupakan pertarungan yang tak bisa dicampuri orang lain, karena yang bertarung adalah murid-murid satu perguruan. Cumbu Bayangan menolak paksaan Kunta Aji untuk pulang ke perguruan. Akibat penolakan itu, Kunta Aji menjadi jengkel dan mencoba dengan cara kasar. Tapi Cumbu Bayangan ternyata berani melayani serangan kakak perguruannya itu.
"Belum," jawab Pendekar Kera Sakti pelan dengan satu kaki diangkat dan ditaruh di atas sebuah batu setinggi lututnya. Baraka sedikit membungkuk karena lengan kirinya bertumpu di atas kaki yang ada di batu. Tangan kanannya masih bertolak pinggang, dahinya masih berkerut memikirkan sesuatu yang mem
"Itulah aku yang sekarang, Dadung Amuk!""Tapi aku buk... buk... bukan Dadung Amuk!""Omong Kosong! Ha ha ha...! Aku tak bisa kau tipu dengan kepura-puraanmu. Kau adalah Dadung Amuk! Kau tidak banyak berubah dan tetap berwatak pura-pura bodoh seperti dulu saja! Walaupun kau tanpa tamb
SUNGGUH sederhana pengobatan itu. Setelah beristirahat satu malam, esok paginya semua luka memar telah hilang, luka berdarah di betisnya menjadi kering dan nyaris hilang. Badan terasa segar, bahkan Badai Kelabu merasa seperti mendapat kekuatan baru. Lebih lincah dalam bergerak, lebih lega dalam b
"O, jadi kaulah murid tersisa dari Iblis Pulau Bangkai?!""Ya. Dan bagaimana jika murid bertemu murid untuk membereskan hutang gurunya, hah?! Setelah kubereskan muridnya, segera akan kubereskan gurunya! Biar sama-sama meratap di dasar neraka!" Geram Nagadipa dengan matanya yang menampakkan







