Se connecter“Dasar anak kurang ajar! Kau sudah membunuhku dengan kebodohanmu!” Sosok Aji Panday alias Ki Petot tiba-tiba melesat ke arah Lingga.Lingga segera bersiaga, menahan serangan sosok serupa Aji Panday dengan mata hitam itu. “Kau bukan Aki.”“Kalau saja kau menuruti perintahku, aku tentu masih hidup hingga sekarang. Orang-orang tidak bersalah di luar sana pun tidak akan mati dan menderita! Lihatlah apa yang sudah kau lakukan padaku dan semua orang!”Sosok tiruan Aji Panday itu memekik kencang, melenggak-lenggokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Matanya menunjukkan kegelapan yang amat dalam.“Dasar pembunuh!”“Kau adalah pembunuh!”“Kau adalah racun di dunia ini, dan racun bagi semua orang!”“Kau seharusnya tidak pernah terlahir di dunia ini!”“Lenyaplah bersama dosa-dosamu!”Sosok tiruan itu terus mengutuk Lingga dengan kata-katanya.Lingga masih menahan cengkeraman sosok tiruan itu. Kedua kakinya menancap kuat, tidak bergeser sedikit pun. Sementara itu, sosok tiruan Aji Panday menjerit
Batu-batu besar dan runcing melesat cepat seperti anak panah yang menerobos udara. Hawa panas terasa membakar udara hingga pasukan pendekar siluman harimau putih terkejut.Lingga menghimpun kekuatan di seluruh tubuhnya, memutar tubuh sembari berbalik arah. Ketika ia mengepakkan kedua tangannya, cahaya yang menyelimuti tubuhnya berubah menjadi ribuan panah yang meluncur dengan cepat.Langit tiba-tiba berubah menjadi sangat gelap karena tertutup oleh batu-batu besar itu. Pasukan pendekar siluman harimau putih segera berkumpul di tengah lapang, sama-sama menghimpun kekuatan. Sebuah pelindung putih seketika tercipta untuk menahan serangan.Batu-batu besar dan runcing itu mendarat di pelindung, disusul oleh ribuan panah yang turun seperti rintik hujan hebat. Gelombang kuat seketika tercipta, menciptakan angin yang menyebar ke sekeliling Tegal Maung.Pasukan pendekar siluman harimau putih itu berusaha menahan gempuran. Kaki mereka mulai terdorong mundur hingga menembus tanah. Beberapa retak
Bulan purnama menggantung gagah di langit dengan hamparan bintang yang tampak berkilauan. Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan ke kiri dan kanan. Awan-awan bergerak pelan mengikuti angin.Malam terasa lebih sunyi dibandingkan malam-malam sebelumnya. Beberapa burung bertengger di sarang, mengawasi keadaan sekitar saksama. Beberapa hewan kecil berlarian di dahan-dahan pohon. Sebagian memilih beristirahat, tetapi sisanya justru baru memulai kehidupan setelah beristirahat selama seharian.Kunang-kunang berkumpul di atas pantulan bulan di atas sebuah kolam kecil. Suara serangga terdengar bersahutan dengan suara burung di pohon.Di sisi sebuah kolam kecil, seorang pendekar tengah duduk bersila dengan kedua tangan menyatu di depan dada. Matanya tertutup rapat, sedangkan telinganya beberapa kali bergerak. Tubuhnya tidak menyentuh tanah, tetapi melayang setengah tombak dari tanah.Pendekar berbaju putih itu sudah berada di dekat kolam sejak siang. Tak bergerak, tak berpindah, nyaris se
Lingga mengamati atap, dinding, dan lantai gua. Ia mendengar suara auman harimau dan suara-suara aneh entah dari mana.“Gua ini berukuran sangat luas. Aku akan sangat mudah tersesat jika tidak berhati-hati.” Lingga mulai berjalan.Bibit cahaya itu mengikuti Lingga dari atas. Cahayanya mampu menyinari sekeliling dalam jarak yang cukup luas.“Aku tidak boleh membuang-buang waktu di tempat ini terlalu lama. Aku harus segera keluar dari tempat ini secepatnya untuk pergi ke tempat selanjutnya. Jika aku terlambat, aku akan gagal dalam ujian ini.”Lingga berdiri di depan enam pintu berukuran besar. Ia mengeluarkan sebuah bibit kuning kecokelatan dari dalam tas kecil, mengamati bibit itu saksama.“Sekar Sari mengatakan kalau bibit ini mampu tumbuh dengan sangat cepat. Bibit ini cenderung akan bergerak ke tempat yang memiliki cahaya sinar matahari yang kuat. Kekurangan cahaya matahari akan membuat sulur tanaman berukuran kecil dan lemah, sedangkan sulur tanaman akan berukuran besar jika dekat
Lapangan luas dengan sisi batu runcing, tebing, dan pepohonan yang menjulang tinggi dipenuhi oleh para pendekar golongan hitam dan bangsa siluman dari berbagai wilayah sejak pagi. Sorak dan teriakan terdengar bersahutan.Nyi Genit tersenyum lebar saat melihat kumpulan besar bangsa siluman dan manusia di sekelilingnya. Tugasnya untuk mengumpulkan pasukan besar sudah terpenuhi, hanya tersisa tugas untuk membangkitkan siluman Tangkurak Hideung di Lemah Kayas nanti malam.Akan tetapi, tugas itu bukanlah sebuah tugas mudah. Berdasarkan kabar dari para bawahannya, pasukan pendekar golongan putih sudah menghimpun kekuatan sangat besar untuk menghalangi tugas itu.Tarusbawa, Limbur Kancana, Ganawirya, para petinggi golongan putih, terutama Lingga adalah penghalang besar dalam tugas dari Totok Surya itu. Kemenangan mereka di pertarungan sebelumnya berhasil menyulut api semangat dan persatuan.Nyi Genit mendatangi satu per satu siluman yang sebelumnya bersembunyi. Dengan ancaman kebinasaan, ia
Tanah lapang sudah disesaki oleh para pendekar golongan putih dan para tabib sejak pagi. Mereka berdatangan dengan bantuan tiruan Limbur Kancana. Perkampungan dan padepokan dijaga ketat oleh para penjaga. Orang tua dan anak-anak sudah diungsikan ke tempat aman tak lama setelah ayam berkokok. Riuh terdengar dari jarak agak jauh. Matahari masih belum terlalu menanjak naik, tetapi keadaan di tempat perkumpulan terasa ramai dan panas oleh bisikan dan pembicaraan.Masih sangat lekat di ingatan mereka mengenai pertempuran di Jaya Tonggoh tempo hari. Setelah mengalami banyak peristiwa buruk hingga kekalahan hampir terjadi, bantuan datang hingga kemenangan pun mampu diraih.Kemenangan itu nyatanya tak hanya karena Lingga dan pusaka kujang emas, tetapi karena semua orang bersatu pada untuk mengalahkan musuh.Dari peristiwa itu pula, persatuan di antara pasukan pendekar golongan putih mulai hidup, terus berkembang menjadi ikatan yang kuat.Dan hari ini, pasukan pendekar golongan putih akan men







