تسجيل الدخولAngin malam berhembus semakin kencang, membawa aroma darah yang memenuhi tepian danau.
Catra berdiri tegak dengan Pedang Tengkorak di tangan. Bilah pedang berwarna kelabu itu memantulkan cahaya rembulan, sementara tatapannya tidak pernah bergeser dari Tetua Pasukan Bayang Darah.Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Jurang Tanpa Nama, Catra menghunus Pedang Tengkorak. Ia menyadari bahwa lawan yang berdiri di hadapannya kali ini berada pada tingkatan yang sama seDUAAARRR!!Ledakan demi ledakan terus mengguncang tepian danau.Langit malam dipenuhi kilatan cahaya merah dan putih yang saling berbenturan. Setiap benturan melahirkan gelombang kejut yang merobohkan pepohonan, mengangkat bebatuan, bahkan membuat permukaan danau bergolak seperti diterjang badai.Tetua Pasukan Bayang Darah dan Cempaka kini benar-benar bertarung tanpa lagi menyisakan kekuatan.SSSHHHHH!!Tubuh ular putih raksasa itu melesat bagai kilat. Taringnya menyambar dari sisi kiri, sementara ekornya menyapu dari arah berlawanan.Namun Tetua hanya mendengus dingin.“Lambat.”Wussh!Tubuhnya menghilang, lalu muncul tepat di atas kepala Cempaka.“Tapak Penghancur Bumi!”DUAAARRR!!Telapak tangan yang diselimuti aura merah menghantam kepala Cempaka. Tubuh raksasa itu jatuh menghantam tanah, membentuk kawah besar. Debu dan bebatuan beterbangan ke segala arah.Namun s
Angin malam kembali meraung di atas permukaan danau. Kabut yang sempat buyar akibat pertarungan perlahan berkumpul kembali, bercampur dengan aroma darah yang semakin pekat. Cahaya rembulan memantul di bilah Pedang Tengkorak yang masih digenggam erat oleh Catra.Di hadapannya, Wakil Tetua bersama dua anggota Pasukan Bayang Darah kembali mengambil posisi. Tatapan mereka kini jauh berbeda, tidak ada lagi penghinaan atau merendahkan karena ia masih muda, yang tersisa hanyalah kewaspadaan.Mereka baru saja mendengar legenda mengenai Pedang Tengkorak. Kini, mereka sama sekali tidak berani meremehkan pemuda yang menggenggamnya.Wakil Tetua berkata tanpa menoleh ke kedua anggotanya.“Jangan tertipu oleh usianya.”“Pedang itu...” Wakil Tetua menyipitkan mata ke arah Pedang Tengkorak di tangan Catra. “...jauh lebih berbahaya daripada pemiliknya.”Dua anggota Pasukan Bayang Darah lainnya mengangguk tanpa membantah. Mereka telah menyaksikan
Suasana di tepian danau mendadak berubah sunyi, tak seorang pun bergerak. Tatapan semua orang tertuju pada Pedang Tengkorak yang berada di tangan Catra yang membuat Tetua Pasukan Bayang Darah sampai terkejut melihatnya. Bahkan angin yang sejak tadi berhembus kencang seolah ikut melambat. Tidak ada lagi suara ranting patah ataupun desir dedaunan, yang terdengar hanyalah dengungan halus dari Pedang Tengkorak yang masih memancarkan cahaya hitam redup. Wakil Tetua memberanikan diri bertanya, “Tetua. Ada apa sebenarnya? Mungkinkah Anda mengenali pedang di tangan pemuda itu?” Tetua tidak menoleh, namun mulutnya bergumam kecil, “...Pedang Tengkorak.” Suara itu begitu pelan, namun cukup untuk membuat Wakil Tetua menatapnya dengan wajah bingung. “Pedang... Tengkorak?” Tetua itu sama sekali tidak menjawab. Tatapannya masih terpaku pada pedang di tangan Catra. Beberapa detik kemudian, ia me
Angin malam berhembus semakin kencang, membawa aroma darah yang memenuhi tepian danau.Catra berdiri tegak dengan Pedang Tengkorak di tangan. Bilah pedang berwarna kelabu itu memantulkan cahaya rembulan, sementara tatapannya tidak pernah bergeser dari Tetua Pasukan Bayang Darah.Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Jurang Tanpa Nama, Catra menghunus Pedang Tengkorak. Ia menyadari bahwa lawan yang berdiri di hadapannya kali ini berada pada tingkatan yang sama sekali berbeda dari musuh-musuh yang pernah ia hadapi sebelumnya. Sedikit saja lengah, nyawanya bisa melayang dalam sekejap.Sementara itu, suasana hening beberapa saat sebelum tawa Tetua Pasukan Bayang Darah menggema di seluruh kawasan danau.“Hahaha!”“Anak Muda, aku mengakui keberaniamu. Tapi…” Ia melangkah perlahan ke depan.“Keberanian saja tidak cukup untuk berdiri di puncak dunia ini.”“Kekuatan adalah segalanya.”
BOOOM!Malam kembali dipenuhi suara dentuman untuk yang kesekian kalinya.Ekor Cempaka menghantam tanah dengan kekuatan luar biasa. Retakan panjang menjalar ke segala arah, membuat bebatuan terangkat dari permukaan tanah. Dua anggota Pasukan Bayang Darah yang terlambat menghindar langsung terpental sambil memuntahkan darah.Namun serangan itu belum cukup untuk menghentikan mereka.“Jangan beri dia kesempatan bernapas!”“Kurung dari segala arah!”“Jangan biarkan dia kembali ke danau!” teriak Wakil Tetua.“Putuskan jalan mundurnya! Tetua menginginkan inti rohnya dalam keadaan utuh!”Wakil Tetua dan empat anggota Pasukan Bayang Darah kembali bergerak. Kali ini mereka menyerang secara bergantian, memaksa Cempaka terus bertahan tanpa sempat membalas.Kilatan golok mereka memenuhi udara.Trang! Trang! Trang!Percikan api berhamburan setiap kali senjata mereka membentur sisik putih Cempaka.
Belum sempat siapa pun bereaksi, suara desisan panjang mengguncang seluruh kawasan danau.SSSHHHRRRR!!Permukaan air bergejolak hebat. Gelombang demi gelombang menghantam tepian hingga membasahi rerumputan.Mata Catra langsung membesar saat aura spiritual yang luar biasa kuat perlahan memenuhi seluruh hutan. Jauh lebih besar daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.Dari tengah kabut yang menyelimuti danau, perlahan muncul sepasang mata hijau keemasan yang bersinar terang, menatap dingin ke arah para penyusup, yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.SSSHHHHHH!Desisan panjang kembali menggema, kali ini jauh lebih keras hingga mengguncang pepohonan di sekeliling danau.Kemudian sesosok tubuh putih raksasa perlahan muncul dari dalam air. Sisik-sisiknya berkilau diterpa cahaya bulan bagaikan giok terbaik. Panjang tubuhnya mencapai puluhan meter, sementara kepalanya menjulang lebih tinggi daripada pohon-pohon di sekitar







