LOGINCatra Ekawira, menjadi yatim piatusetelah tragedi yang menimpa keluarga kecilnya. Ayahnya dibunuh dengan kejam, Ibunya diperkosa sebelum kehilangan nyawa, sementara kakak kandung satu-satunya juga tidak diketahui keadaannya. Entah sudah mati atau masih hidup. Saat ia melarikan diri dan terjatuh ke dalam jurang tak bernama, seorang pria sepuh menyelamatkannya. Ternyata pria itu adalah pendekar hebat pada zamannya. Dibawah bimbingan pria sepuh bernama Wisnu Aji itu, Catra belajar ilmu silat dan menjadi seorang pendekar. Namun selain menjadi pendekar baik yang membasmi kejahatan. Satu tekadnya yang paling utama, mencari tahu alasan pembunuhan keluarganya dan membalaskan dendam mereka. "Suatu hari aku akan berdiri di puncak dunia, dan membalaskan dendam keluargaku tercinta. Saat itu, langit pun tidak mampu menghalangi." Catra Ekawira.
View MoreLangit mendung menggantung rendah, menggiring hujan deras membasahi bumi. Angin dingin menyusup di antara pepohonan yang bergoyang pelan, menebar aroma tanah basah dan dedaunan membusuk.
Di pinggiran hutan yang sunyi dan dingin, sebuah kereta mewah ditarik dua ekor kuda berlari kencang menerjang jalan berlumpur yang penuh genangan. Sesekali kedua kuda meringkik keras, melawan terpaan hujan dan beban perjalanan. Suara roda berderak bercampur dengan guyuran air menciptakan irama malam yang tak biasa. Sepuluh pria berbaju hitam mengikuti di belakang, langkah mereka mantap menyatu dengan irama derap kuda. Wajah mereka tertutup separuh, membawa aura waspada yang mencolok di tengah pekatnya senja. Setiap tangan menggenggam senjata. Mereka adalah pengawal terlatih, mata mereka terus bergerak, menelusuri setiap sudut hutan yang gelap. Di dalam kereta, duduk sebuah keluarga kecil—sepasang suami istri bersama dua anak lelaki mereka. Si sulung berusia sekitar sepuluh tahun, sedangkan adiknya baru tujuh tahun. Pakaian dan sikap mereka menunjukkan bahwa ini bukan keluarga biasa. Mungkin bangsawan, atau setidaknya pedagang kaya yang disegani. Anak-anak mereka mulai terlelap, tertidur di pangkuan ibunya yang sesekali mengusap rambut keduanya dengan lembut. Meskipun tampak tenang di luar, sang ibu menyimpan rasa khawatir sejak mereka memasuki hutan. "Ki, berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya sang kepala keluarga, seorang pria berbadan besar berusia empat puluhan. "Maaf, Juragan," sahut sang kusir tua dengan nada hati-hati. "Jika jalanan tak digenangi air, kita bisa tiba tengah malam. Tapi dengan hujan seperti ini... sepertinya baru akan sampai esok pagi." Pedagang itu mengangguk, wajahnya letih. "Baik. Pecut kudanya lebih cepat lagi." "Siap, Juragan." Perjalanan awal berjalan lancar meski hujan tak kunjung reda. Namun, saat rombongan tiba di tengah hutan yang lebat, kuda-kuda itu tiba-tiba meringkik liar dan berhenti mendadak. Kereta berguncang keras. Roda bagian belakang sempat terperosok ke dalam lumpur, menciptakan hentakan yang membangunkan anak-anak dari tidur gelisah mereka. "Ada apa, Ki?" tanya sang pedagang, tersadar dari kantuk yang hampir menguasainya. Wajahnya tampak kesal, namun berubah cemas saat melihat raut panik sang kusir. "Anu... juragan... saya rasa kita dalam bahaya," jawabnya lirih. Suaranya tercekat, matanya tak lepas dari bayangan samar yang bergerak cepat di antara pepohonan. Belum sempat sang pedagang bertanya lebih jauh, suara benturan dan teriakan keras terdengar dari luar. Jeritan pendek, denting logam yang saling beradu, dan ringkik kuda yang menggila menciptakan kekacauan mencekam. Malam yang awalnya sunyi kini berubah jadi medan pertarungan hidup dan mati. Dengan hati-hati ia menyingkap tirai kereta dan memandang ke luar. "Bandit..." gumamnya, wajahnya langsung pucat pasi. Istri dan anak-anaknya panik. "Suamiku! Bagaimana ini? Kami tak ingin mati di sini!" teriak sang istri sambil memeluk kedua anak mereka yang menangis ketakutan. Sang ibu menggigil, tidak hanya karena hawa dingin, tapi juga karena ketakutan yang menyesakkan dada. "Tenang. Kita menyewa jasa Rumah Kuda Terbang. Mereka bukan penjaga biasa," ucap sang pedagang, mencoba menenangkan meski nadanya tak meyakinkan. Namun ketika ia kembali mengintip ke luar, harapannya pupus. Para pengawal dari Rumah Kuda Terbang sedang terdesak. Jumlah bandit jauh lebih banyak. Dari balik kabut tipis yang mulai naik dari tanah basah, siluet-siluet bersenjata tampak mengelilingi kereta mereka seperti sekawanan serigala lapar. Hujan tiba-tiba berhenti, lalu senyap. Pedagang kaya itu menegakkan tubuhnya, namun belum sempat ia bangkit, tirai kereta tersingkap kasar. Sebilah golok dingin langsung menempel di lehernya, tajamnya begitu dekat hingga jakunnya nyaris teriris. Napasnya tercekat, keringat dingin langsung membasahi pelipisnya. Istrinya menjerit ngeri. "Serahkan semua harta kalian!" bentak si bandit bertopeng. "A-aku... aku akan memberikannya," sahut sang pedagang tergagap. "Tapi... tolong, lepaskan keluargaku." Pemimpin bandit itu menatap tajam. Ia berpikir sejenak sebelum mengangguk pelan. "Turun. Ikuti aku." "Istriku, jaga anak-anak. Aku akan kembali," ucapnya lirih, meski ia tahu harapan itu amat tipis. Sebelum turun, ia sempat menatap wajah istri dan anak-anaknya dalam-dalam seperti tatapan terakhir yang menyimpan sejuta kata yang tak sempat terucap. “Apa pun yang terjadi, lindungi mereka," bisiknya nyaris tak terdengar. Dengan langkah berat, ia mengikuti sang perampok menjauh ke sisi hutan. Sang istri mengintip dari celah tirai. Ia melihat mereka berdiri di dekat pohon besar, tampak seperti tengah berdiskusi. Namun, tiba-tiba tangan sang bandit terangkat ke udara. Kilatan tajam melesat. Golok besar menebas leher suaminya dalam sekali ayunan. Kepalanya terjatuh, menggelinding pelan ke tanah becek. Darah hangat mengalir cepat membasahi tanah, bercampur dengan lumpur, menciptakan genangan kematian. Udara di sekeliling seperti membeku. Waktu seakan berhenti, hanya menyisakan suara tetes air dari pepohonan dan desiran angin yang berubah menjadi jeritan tak bersuara. "SUAMIKU!" teriak sang istri histeris. Ia berlari keluar, tak mempedulikan bandit lain yang berjaga. Kedua putranya menyusul. Mereka semua memeluk tubuh pria itu—ayah dan suami mereka—yang kini terbujur kaku, bersimbah darah. Anak sulungnya menjerit memanggil nama ayahnya, sedangkan si bungsu hanya bisa menangis dalam diam, tubuhnya menggigil hebat. Jerit tangis mengoyak senyap hutan. Namun pimpinan bandit hanya memandang mereka tanpa rasa. Ia sudah terlalu sering menyaksikan pemandangan semacam ini. Baginya, kematian hanyalah angka. Tangis hanyalah suara. Hati nurani? Sudah lama ia kubur bersama masa lalunya. Ia memberi aba-aba. Anak buahnya segera menarik ketiganya dengan kasar. "TIDAK! Jangan sakiti mereka!" jerit sang ibu, berusaha melindungi kedua anaknya. Tangannya merangkul anak-anaknya erat, meski tubuhnya sendiri gemetar tak berdaya. Ia bersujud di hadapan sang bandit. "Kumohon... ambil semua yang kami punya, tapi biarkan anak-anakku hidup!" Sang bandit hanya menatap diam. Namun matanya mulai memancarkan nafsu rendah saat melihat rupa sang wanita. Meski usianya tak lagi muda sekitar tiga puluhan tahun, paras dan tubuhnya masih terawat baik. Wanita itu menyadari tatapan itu. Ia mundur, memeluk tubuhnya sendiri dengan gemetar. Namun tidak ada tempat untuk lari. “Tidak, tuan. Jangan lakukan itu, aku mohon.” Wanita itu menjadi ketakutan. Bencana yang sebentar lagi akan dialaminya sepertinya jauh lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri. “Tutup mata kalian,” pekiknya pada kedua anaknya. Kedua bocah itu tidak terlalu mengerti, namun tetap mengikuti perintah ibunya untuk menutup mata. Ketika bandit itu mendekat, ia mencoba melawan. Tapi tenaga seorang wanita tak bisa menandingi brutalnya seorang perampok bersenjata. Dalam pekik ketakutan dan suara rintihan, kehormatan dan harapan yang tersisa ikut tercabik dalam kegelapan malam. Tangis dan jeritnya menembus langit yang baru saja berhenti menangis. Malam itu, di tengah hutan basah yang sunyi, tragedi menyelimuti keluarga kecil itu dengan tragis. Di balik semak-semak, seekor burung hantu memekik lalu terbang menjauh, seolah membawa kabar duka pada langit yang kembali menabur gerimis. Hutan menelan jeritan itu dalam-dalam, menyimpannya sebagai rahasia malam yang mungkin tak akan pernah terungkap.Setelah kejadian di Hutan Barat, seharusnya Catra bisa sedikit bersantai. Namun entah mengapa, perasaannya justru tidak bisa benar-benar tenang.Sosok misterius yang mengikuti mereka dari Hutan Barat masih terbayang di kepalanya.Kemudian ada pria berjubah hitam dari Pasukan Bayang Darah. Pria itu datang untuk membunuhnya. Namun semuanya berubah setelah melihat tanda tengkorak di punggungnya.Catra belum menemukan jawabannya, dan semakin ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan yang muncul.“Lingga.” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau melamun lagi.”“Aku sedang berpikir.”“Memikirkan pria berjubah hitam tadi?”Catra menoleh.Damar tersenyum tipis. “Benar, kan?”Catra tidak menjawab.Damar terkekeh. “Tenang saja. Aku juga memikirkannya.”Sebelum percakapan mereka berlanjut, terdengar langka
Cahaya Kotaraja semakin jelas terlihat. Matahari telah tenggelam sepenuhnya di balik pegunungan. Langit berubah menjadi biru gelap, sementara lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalan menuju kota.Catra masih berdiri diam. Tatapannya tertuju pada gerbang Kotaraja yang terlihat dari kejauhan. Namun pikirannya tidak berada di sana.Ada sesuatu yang sejak tadi mengikutinya. Bukan sekadar perasaan. Catra yakin, seseorang sedang mengawasinya.“Lingga?” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau tiba-tiba berhenti.”Catra tidak langsung menjawab. Ia kembali melihat ke arah jalan di depan. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Setidaknya, tidak terlihat.“Tidak ada apa-apa.”“Kau yakin?” Damar mengerutkan kening.“Ya.”Damar memperhatikan Catra beberapa detik, kemudian ia tersenyum tipis.“Baiklah.”Mereka kembali berj
Catra tiba-tiba merasa kepalanya sedikit berat. “Banyak sekali.” Damar tertawa. “Sekarang kau mulai memahami.” “Memahami apa?” “Bahwa dunia tidak hanya terdiri dari orang-orang yang kau kenal.” Catra diam. Damar melanjutkan, “Dan kekuatan seseorang juga tidak hanya bisa dilihat dari nama perguruannya.” “Lalu bagaimana?” “Kemampuan. Tenaga dalam. Pengalaman. Teknik. Senjata.” Damar menoleh. “Dan yang paling penting...” “Tekad.” Catra menatapnya. Damar tersenyum. “Namun kalau kau ingin memahami dunia persilatan, kau harus memahami tingkatan kekuatan terlebih dahulu.” Catra langsung tertarik. “Yang tadi?” “Ya.” Damar mengangguk. “Di dunia persilatan, kekuatan seseorang umumnya dibagi berdasarkan tingkat tenaga dalam yang mereka miliki.” “Tenaga dalam?” “Ya.” Damar mengangkat telunjuknya. “Tubuh manusia memiliki jalur-jalur energi. Seiring seseorang berlatih, tenaga dalam akan terkumpul dan membentuk lingkaran-lingkaran tenaga di dalam tubuh.” “Lingk
Catra dan Damar masih berjalan menyusuri jalan tanah yang mengarah menuju Kotaraja, namun perjalanan kali ini terasa berbeda.Bukan karena mereka sedang dikejar. Bukan pula karena ada musuh yang menunggu di depan. Melainkan karena untuk pertama kalinya, Catra mulai menyadari betapa luasnya dunia yang selama ini tidak pernah ia kenal.Selama bertahun-tahun, hidupnya hanya berputar di sekitar satu tujuan. Menjadi lebih kuat, mencari kebenaran tentang pembantaian keluarganya, menemukan orang-orang yang bertanggung jawab, dan suatu hari nanti membalas semuanya.Ia tidak pernah benar-benar peduli dengan dunia di luar tujuan tersebut. Namun sekarang, setelah bertemu begitu banyak orang dan mengetahui bahwa Pedang Tengkorak ternyata menjadi alasan berbagai pihak mengincarnya, Catra mulai memahami satu hal.Dunia ini jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.“Jadi...” Catra akhirnya membuka suara.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews