Mag-log inPedang Tengkorak bergetar semakin hebat.
WUUUUUNG!Aura hitam pekat menyelimuti seluruh bilahnya. Kabut di sekitar Catra berputar, sementara salju yang jatuh dari langit seolah tertahan di udara.Catra menatap pedang di tangannya, ia tidak merasa bahwa senjata itu sedang memberinya kekuatan. Sebaliknya, ia merasa seperti sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih tua daripada dirinya, sesuatu yang sedang terbangun.“Teknik Keenam…” Catra mengulang namSemua orang menoleh.Puspaningrum berjalan turun dari lereng bersama Sekar dan dua pengawal.Sekar langsung melihat Catra.“Raka!”Catra menoleh. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, ekspresi tegang di wajahnya sedikit melunak.“Sekar…”Sekar hampir berlari menghampirinya. Namun Puspaningrum menahan lengannya.“Jangan.”“Kenapa?”“Lihat tubuhnya.”Sekar memperhatikan Catra, garis hitam masih terlihat di leher dan lengannya. Darah hitam mengalir perlahan dari sudut bibir. Namun anehnya, Catra masih berdiri.“Dia…”“Sedang mengendalikan racun.”Sekar menatap Catra dengan cemas.“Raka, hentikan.”“Belum.” Catra menggeleng.“Kau bisa mati!”“Aku tahu.”“Kalau tahu, kenapa masih melakukannya?”Catra menatap Sekar. “Karena kalau aku tidak mengendalikannya sekarang, suatu hari racun ini akan mengendalikanku.”
Di lereng Pegunungan Salju Utara, Sekar tiba-tiba berhenti, tangannya menekan dada.“Kenapa…” Jantungnya berdetak sangat cepat. Ia merasakan sesuatu, sebuah tekanan jauh di dalam tubuhnya.Puspaningrum memperhatikan.“Kau merasakannya?”Sekar mengangguk.“Pedang itu…”“Bukan.” Puspaningrum menatap kantong penyimpanan Sekar.“Pecahan segel.”WUUUNG!Kantong tersebut bergetar, Sekar segera memegangnya.“Apa yang terjadi?”“Segelnya sedang bereaksi.” Puspaningrum mengerutkan kening.“Karena Pedang Tengkorak?”“Ya.”“Kalau begitu Raka, dia…” Sekar menatap ke arah lembah.Puspaningrum memotong, “Dia sedang berada di ambang sesuatu.”“Apa?”“Antara menjadi pewaris…” Puspaningrum berhenti.“…atau menjadi korban Pedang Tengkorak.”Sekar membeku. “Aku harus kembali.”“Belum.” Puspaningrum menggeleng.“Kena
Pedang Tengkorak bergetar semakin hebat.WUUUUUNG!Aura hitam pekat menyelimuti seluruh bilahnya. Kabut di sekitar Catra berputar, sementara salju yang jatuh dari langit seolah tertahan di udara.Catra menatap pedang di tangannya, ia tidak merasa bahwa senjata itu sedang memberinya kekuatan. Sebaliknya, ia merasa seperti sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih tua daripada dirinya, sesuatu yang sedang terbangun.“Teknik Keenam…” Catra mengulang nama yang muncul di dalam pikirannya.“Mahkota Racun Tengkorak.”Dadanya terasa semakin sesak.“Cempaka.”“Hm?”“Apa kau juga melihatnya?”“Tidak.” Suara Cempaka berbeda, terdengar ragu.“Aku hanya bisa merasakan tekanan dari teknik tersebut.”“Seberapa buruk?”Cempaka terdiam.“Jawab aku.”“Kalau kau menggunakannya…” Suaranya perlahan menjadi serius.“Tubuhmu mungkin tidak akan bertahan.”
Catra berdiri di tengah salju. Napasnya berat, darah masih menetes dari sudut bibirnya dan membasahi salju di bawah kaki.Namun Pedang Tengkorak tetap berada di tangannya.WUUUNG...Bilah hitam itu bergetar perlahan, seolah-olah sedang menjawab tekad pemiliknya.Di hadapannya, beberapa pendekar Pasukan Bayang Darah kembali mengambil posisi.Mereka tidak lagi meremehkan Catra.Setelah melihat tiga orang diserang dalam waktu singkat, mereka memahami bahwa pemuda itu masih memiliki kekuatan yang cukup untuk membunuh mereka.Pria abu-abu berdiri beberapa meter di belakang, tatapannya semakin serius.“Jangan maju sembarangan.”Salah seorang pendekar menoleh.“Wakil Tetua?”“Pemuda itu sedang ditopang oleh Pedang Tengkorak.”“Kalau begitu?”“Jangan beri dia kesempatan untuk menyerang lebih dulu.”Para pendekar mengangguk, mereka mulai menyebar.Catra mempe
Auuuuuuuu!Lolongan puluhan Serigala Salju mengguncang lembah.Dalam sekejap, kawanan itu bergerak.WUSSH!Puluhan tubuh putih melesat menembus kabut, langsung menerjang barisan Pasukan Bayang Darah.“Serang!”“Jangan biarkan mereka mendekati Nona!” ucap salah satu Serigala yang badannya paling besar dengan bahasa yang mereka pahami sendiri.BRAK!Seekor Serigala Salju menghantam seorang pendekar hingga tubuhnya terlempar dan berguling di atas salju.Pendekar lain mencoba menebas.SREET!Namun serigala tersebut menghindar dengan cepat, kemudian menggigit lengannya.“AAARGH!”Sekar berdiri beberapa langkah di belakang kedua pengawal. Tangannya masih menggenggam Bunga Darah Salju. Namun tatapannya tertuju kepada pria tanpa topeng yang berdiri di tengah kekacauan.Pria itu tidak bergerak, ia hanya mengamati.“Jadi kau pemimpinnya?” Sekar bertanya.
SREET!Pedang Tengkorak menebas dari samping.Pria abu-abu segera memiringkan tubuhnya. Bilah hitam itu hanya melewati beberapa sentimeter dari wajahnya.Namun pria tersebut tidak mundur. Sebaliknya, ia memutar tubuh dan melancarkan tendangan.BUUM!Catra mengangkat lengannya untuk menahan. Tubuhnya langsung terdorong beberapa meter. Kakinya menggores tanah bersalju sebelum akhirnya berhenti.“Uhuk!” Darah kembali keluar dari mulutnya.Pria abu-abu menyeringai. “Tubuhmu sudah seperti itu, tetapi masih berani melawanku?”Catra menghapus darah di bibirnya. “Kalau hanya untuk menghentikanmu…” Tatapannya menjadi dingin. “Masih cukup.”WUSSH!Catra kembali maju. Pedang Tengkorak menebas bertubi-tubi.SREET!SREET!SREET!Pria abu-abu menghindari setiap serangan dengan gerakan cepat. Sesekali ia membalas menggunakan telapak tangannya.DUUM!Catra







