MasukJauh di depan jalur yang dilewati Rangga dan yang lain, suara air terjun menggema keras memenuhi hutan.
Kabut tipis bercampur cipratan air menutupi area batu besar di sekitar sana.Dan di tempat itu—mayat bergelimpangan.Tubuh manusia berserakan di antara batu dan akar pohon. Ada yang tercabik, ada yang lehernya hampir putus, ada juga yang seperti dihantam sesuatu dengan kekuatan brutal.Bau darah memenuhi udara.Di tengah area itu berdirJauh di depan jalur yang dilewati Rangga dan yang lain, suara air terjun menggema keras memenuhi hutan.Kabut tipis bercampur cipratan air menutupi area batu besar di sekitar sana.Dan di tempat itu—mayat bergelimpangan.Tubuh manusia berserakan di antara batu dan akar pohon. Ada yang tercabik, ada yang lehernya hampir putus, ada juga yang seperti dihantam sesuatu dengan kekuatan brutal.Bau darah memenuhi udara.Di tengah area itu berdiri seekor harimau besar dengan bulu loreng hitam keemasan dan mata merah menyala.Tubuhnya jauh lebih besar dari harimau biasa.Prananya menekan area sekitar seperti binatang buas purba.Siluman itu menggeram rendah sambil berdiri tepat di depan sebuah gua kecil dekat air terjun.Seolah menjaga sesuatu.“Grrrrrrr…”Sisa orang-orang yang tadi mencoba mendekat langsung mundur dengan wajah pucat.Salah satu dari mereka bahkan gemetar.
Menjelang siang langkah mereka mulai melambat. Jalur makin gak jelas, akar pohon makin banyak melintang, dan carrier di punggung mulai terasa berat walaupun udara hutan masih cukup dingin.Lalu suara air mulai terdengar.“Eh.”Agung langsung nengok.“Denger gak?”Beberapa langkah kemudian mereka akhirnya menemukan aliran sungai kecil di sela pepohonan. Airnya jernih, mengalir deras turun melewati batu-batu besar dan akar pohon.Rangga langsung berhenti sambil ngelap keringat.“Nah.”“Kalau tujuannya air terjun…”Dia nunjuk arah aliran sungai.“…berarti tinggal ngikutin ini ke atas.”Rendi langsung semangat.“Lah gampang dong berarti.”Dia mau jalan mendekati sungai. Tapi belum sempat turun ke pinggir—“WOI JANGAN DEKET-DEKET.”Rangga langsung narik carrier Rendi dari belakang.“Apaan sih.”“Wilayah beginian banyak ular goblok.”
Jauh di kedalaman hutan, suasana yang jauh berbeda sedang terjadi.Tidak ada tenda.Tidak ada mie instan.Tidak ada debat soal carrier.Yang ada hanya suara langkah cepat menembus semak dan bau darah samar yang mulai menyebar di udara malam.Di dekat aliran sungai kecil, satu kelompok yang tadi terlihat santai di desa sekarang tergeletak di tanah. Dua orang sudah tidak bergerak, sementara satu lagi masih berusaha merangkak sambil batuk darah.“Ta-tolong—”CRAK.Sebuah sepatu langsung menginjak kepalanya ke tanah.Jalu mendecak pelan sambil jongkok mengambil tas milik korban.“Lemah amat.”Di belakangnya, Beko tertawa kecil sambil mengangkat sebuah cincin pusaka dari tangan mayat lain.“Lumayan.”“Ini bisa dijual.”Oji yang sedang memeriksa tubuh korban lain langsung melempar sebuah dompet kecil.“Duitnya dikit.”Karta cuma bersandar di batu
Begitu mereka sampai di depan rumah itu, suasana langsung terasa lebih tenang dibanding bagian desa lainnya. Beberapa kelompok duduk diam sambil memperhatikan sekitar, ada yang ngobrol pelan, ada juga yang cuma berdiri sambil melipat tangan.Tidak lama kemudian pintu rumah kayu itu terbuka. Seorang kakek keluar perlahan.Pakaiannya serba hitam, sederhana, dengan tongkat kayu di tangan. Rambutnya sudah putih semua, tapi matanya masih tajam memperhatikan orang-orang yang berkumpul di depannya.Semua langsung diam.Kakek itu menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya bicara dengan suara pelan namun jelas.“Benda itu… ada di dalam hutan.”Tangannya terangkat menunjuk ke arah gunung dan rimbunnya pepohonan di kejauhan.“Salah satu warga desa menemukannya.”Dia berhenti sebentar.“Tapi karena dijaga sesuatu…”“…dia lari.”Suasana langsung sedikit berubah.Beberapa orang mulai sal
Weekend akhirnya datang, dan pagi itu rumah Rangga udah ribut dari subuh. Carrier gede berjajar di teras, sleeping bag digulung rapi, tenda diikat di atas tas, bahkan Agung bawa nesting sama kompor portable walaupun belum tentu dipake.Rangga sendiri tampil paling niat.Carrier penuh.Sepatu gunung.Topi.Sarung tangan.Sementara Putra juga udah rapi dengan bawaan yang masuk akal. Cuma Agung yang tasnya keliatan aneh karena setengah isinya cemilan.“Nyet mie lu banyak banget.”“Biar aman.”“Itu bukan aman.”“Itu rakus.”Tidak lama suara mobil datang dari depan rumah. Rendi turun santai pakai hoodie tipis dan celana pendek.Kosong.Gak bawa apa-apa dan Rangga langsung nengok.“…tas lu mana?”Rendi bengong.“Hah?”“Ngapain?”Hening.Agung langsung mundur pelan. Putra otomatis ikut minggir. Mereka hafal muka Rangga ka
Siang itu teras rumah kembali ramai. Kardus dan bungkusan dari Rendi masih berserakan di dekat meja, sementara Agung sibuk membongkar satu per satu isinya dengan mata berbinar seperti anak kecil dapat hadiah.“ANJIR.”Dia ngangkat satu kotak makanan.“Ini mahal banget nyet.”Putra langsung nengok.“Jangan diabisin sendiri lu.”“Ya kagak lah.”Agung buru-buru naruh agak jauh dari Putra.“Ini gue amankan.”“WOI.”Rendi yang lihat langsung ketawa.Sementara itu Rangga duduk santai sambil ngopi seperti biasa.“Serius lu bawa beginian banyak banget.”Rendi nyender pelan.“Lah gue bilang kan, buat makasih.”“Bisnis keluarga gue lagi naik banget sekarang.”Dia geleng kecil sambil nyengir.“Bokap gue bahkan nanya itu mutiara dapet dari mana.”Rangga refleks nengok ke arah dalam rumah.“…gue juga gak ngerti itu barang apaan







