Pendekar Salah Zaman
Rangga cuma ingin satu hal: healing.
Menjauh dari hidup yang ruwet, naik ke gunung, dan menenangkan pikirannya.
Tapi rencananya langsung berantakan ketika dia menemukan seorang pria telanjang habis tersambar petir, yang dengan santainya mengaku sebagai pendekar.
Namanya Wira.
Dan menurut Rangga—sebagai mahasiswa Psikologi, dia jelas halu, delusi dan skizo.
Sampai Wira menghentikan hujan.
Mengalahkan preman tanpa kesulitan.
Bahkan menyembuhkan orang.
Logika Rangga mulai goyah.
Belum selesai di situ, Agung ikut-ikutan latihan dengan penuh semangat tapi minim pemahaman, sementara Putra tiba-tiba “naik level” jadi dukun dadakan yang justru bikin semuanya makin absurd.
Di tengah kekacauan antara logika dan hal-hal yang tak masuk akal, Rangga terjebak dalam satu pertanyaan besar:
Apakah semua ini nyata?
Atau ada penjelasan yang belum dia pahami?
Akankah Rangga mempercayai ilmu kanuragan atau justru membongkar rahasia di baliknya dengan logika?
Read
Chapter: 140. Padepokan Kanuragan - Fakultas Dharmasraya Beberapa bulan kemudian. Apa yang awalnya hanya obrolan iseng di bale rumah Rangga akhirnya benar-benar berdiri.Bukan padepokan biasa. Bukan juga sekolah biasa. Melainkan sesuatu yang aneh berada di tengah-tengah keduanya.Bangunannya luas. Beberapa rumah di sekitar sudah berubah fungsi menjadi ruang belajar, asrama, area latihan, dan kebun. Di salah satu papan besar dekat gerbang bahkan terpampang jadwal.Meditasi Dasar, Biologi Dasar, Pemahaman Alam, Latihan Fisik, Teknik DasarYang membuat banyak orang dunia bawah mengernyit setiap kali membacanya.Pagi itu, di rumah utama. Rangga berdiri di depan cermin ruang tamu memakai kemeja rapi. Rambutnya sudah disisir meski ekspresinya tetap terlihat tidak rela.Di belakangnya, Wira duduk santai sambil minum teh mint dan Rangga menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama lalu menghela napas.“Anjir... Gue jadi kepala sekolah sekarang.” Dia memiringkan kepalanya. “Ini pake izi
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: 139. Menerjemahkan KanuraganRangga turun dari bale dengan senyum yang membuat Wira langsung menggeleng pelan. Di teras, Kael, Sena, Lendra, Tora, Agung, dan Putra masih sibuk main monopoli. Agung lagi debat sama Putra soal uang sewa.“Itu tanah gue.”“Lah lu lewat situ ya bayar.”“Korupsi lu.”“Ngawur.”Rangga berdiri di belakang mereka beberapa detik lalu bertanya santai.“Lu pada darimana main monopoli?”Agung nengok.“Ya dari tadi nyet. Kenapa?”Rangga mengangguk.“Mending bantuin gue.”Hening dan Agung langsung geleng.“Gamau.”Putra lebih cepat lagi.“Ogah.”Rangga langsung menunjuk Agung.“Oke... Mulai sekarang tugas kuliah lu kerjain sendiri.”Agung membeku lalu Rangga melanjutkan.“Sampai skripsi, isi SPSS sendiri... Trua analisis sendiri. Interpretasi sendiri... Gue ga bantu lu lagi.”“YAH, KAMPRET LAH.”Agung langsung berdiri.“Jangan gitu lah nyet... Lu tau
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: 138. Gue Punya Karyawan BanyakSeminggu kemudian, Rangga duduk di bale kayu depan rumahnya sambil memandangi jalan kampung. Atau lebih tepatnya bekas jalan kampung.Karena dalam beberapa hari terakhir, suasana di sekitar rumahnya berubah drastis. Mobil pickup keluar masuk hampir setiap hari.Warga yang rumahnya berada di sekitar area Rangga satu per satu pindah setelah menerima penawaran harga yang bahkan menurut mereka sendiri terlalu tinggi untuk ditolak.Ada yang pindah ke kompleks baru, ada yang beli rumah lebih besar, qda yang langsung pensiun dini dan sekarang beberapa dari mereka masih melambai ramah setiap kali lewat.“Mas Rangga! Terima kasih ya!”Rangga membalas lambaian itu dengan senyum yang terlihat terpaksa.“Iya pak…”Mobil pickup itu pergi dan Rangga kembali menatap kosong ke depan. Di kejauhan terdengar suara.BRRRRRM.Sebuah alat berat sedang merobohkan rumah yang baru dibeli beberapa hari lalu.Debu beterbangan, tru
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: 137. Gue Bukan Guru SilatRuangan kembali tenang setelah Gayatri selesai membaca perkamen itu, semua orang terdiam beberapa saat. Masing-masing mencerna informasi yang baru saja mereka kumpulkan.Akhirnya Aditya menghela napas pelan.“Setidaknya sekarang kita tahu satu hal.”Gayatri mengangguk.“Jalur yang ditempuh berbeda.”Asturi menambahkan pelan.“Dan perbedaannya bukan sekadar nama tingkatan... Fondasinya memang berbeda sejak awal.”Rangga mengangguk.“Nah itu. Kalau sekarang sih paling kita baru tahu bedanya dimana. Tapi kenapa bisa begitu? Dan kenapa berubah?”Dia mengangkat bahu.“Belum tahu.”Aditya tersenyum kecil.“Itu sudah lebih banyak daripada yang kami ketahui selama puluhan tahun.”Gayatri pun mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya sejak lama Mandala Gupta mendapatkan petunjuk yang benar-benar masuk akal.Rangga lalu berkata santai.“Yaudah... Nanti kalau saya tahu lagi, saya kabarin pakde.”
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: 136. Kok Turun Satu Tingkat?Ruangan langsung menjadi jauh lebih serius setelah hasil Gayatri keluar. Karena kalau alat ini benar, maka Grandmaster modern ternyata hanya setara tingkat kelima.Sadhaka.Dan itu membuat seluruh asumsi mereka selama ini mulai goyah.Asturi yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya bersandar sedikit.“Kalau begitu… saya juga ingin mencobanya.”Rangga langsung mengangguk.“Boleh bu. Tapi sama ya, sakit kalau udah lewat batas.”Asturi tersenyum kecil.“Saya rasa saya bisa menahannya.”Dia mengulurkan telapak tangannya ke atas meja dan Rangga mulai lagi.Satu lidi.CTAS.Tidak ada reaksi.Dua. CTAS. Tiga. CTAS. Empat. CTAS dan Asturi masih terlihat santai.Lima.CTASSS.Tubuh Asturi sedikit tersentak. Mata indahnya langsung menyipit.“…!”Tangannya refleks bergerak sedikit ke belakang. Rasa sakit yang tajam itu muncul sesaat lalu menghilang.
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: 135. Bukan Psikotest Rangga mengangkat ikatan sapu lidi itu sedikit lebih tinggi.“Ini buat ngetes.”Hening.Gayatri, Asturi, dan Aditya tetap memperhatikan benda itu dengan ekspresi yang kurang lebih sama, mereka bingung.Karena setelah semua pembicaraan tentang Dharmasraya dan kanuragan kuno, alat tes yang keluar justru sapu lidi. Rangga sendiri santai.“Katanya tiap lidi mewakili satu tingkatan.”Lalu dia menunjuk Gayatri.“Tante tingkat berapa?”Gayatri mengernyit.“Kalau klasifikasi modern... Grandmaster.”Rangga mengangguk lalu menoleh ke Asturi.“Kalau bu Asturi?”Asturi tersenyum kecil.“Sama. Saya Grandmaster.”Rangga lalu menoleh ke Aditya.“Kalau pakde?”Aditya menjawab tenang.“Anuttara.”Agung yang duduk di belakang langsung refleks bicara.“Lho? Bukannya kata Pak Hendro Anuttara itu udah paling tinggi?”Aditya tersenyum tipis.“Untuk sistem modern.
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: 102. Kesimpulan SindyMalam itu suasana ruang makan utama cukup ramai.Di salah satu meja besar, Joni sedang makan bersama orang-orang inti kelompoknya. Pak Bram, Putri, Sindy, Deri, Mila, Pak Anton, dan Pak Kusno duduk mengelilingi meja yang penuh dengan berbagai hidangan.Tidak jauh dari sana, tim elit yang baru dibentuk juga sedang makan bersama. Suasana mereka jauh berbeda dibanding beberapa hari lalu. Obrolan terdengar lebih cair, tawa mulai muncul sesekali, dan tidak ada lagi kecanggungan seperti saat pertama direkrut.Pak Bram sempat melirik ke arah mereka lalu tersenyum kecil."Jauh beda dibanding hari pertama."Putri mengangguk."Dulu masih saling jaga jarak.""Kalau sekarang?" tanya Deri sambil menyendok makanannya.Pak Bram tertawa kecil."Sekarang mulai kayak tim."Joni ikut melirik ke arah meja para awakener dan anggota elit itu.Beberapa sedang bercanda dan beberapa lainnya membahas latihan hari ini. Bahkan ada yang sudah saling mengejek dengan santai.Joni mengangguk puas."Nah, gitu lebih e
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: 101. Pengungsi Di PasarMobil yang membawa Charles dan Nada perlahan mendekati kawasan pasar. Namun semakin dekat mereka ke tujuan, laju kendaraan justru semakin melambat hingga akhirnya hampir berhenti total.Di depan, jalan dipenuhi lapak dan orang-orang yang masih beraktivitas meski hari sudah malam. Beberapa gerobak bahkan memakan sebagian badan jalan.Charles mengerutkan kening."Ada apa?""Jalannya penuh, Jenderal."Charles menatap ke depan lalu berkata singkat,"Klakson."Pengemudi langsung membunyikan klakson beberapa kali.TIN! TIN!Beberapa orang menoleh lalu kembali ke urusan masing-masing namun tidak ada yang menyingkir dan Charles mulai tidak senang."Klakson lagi."TIN! TIN!Kali ini seorang pedagang yang sedang duduk santai di depan lapaknya berdiri lalu berteriak ke arah mereka."MAU LEWAT KE MANA LU WOI!!!"Charles membuka jendela."Kasih jalan."Pedagang itu justru terlihat heran."Lah, parkir sana."Charles mengerutkan kening."Kami mau masuk."Pedagang itu menunjuk ke belakang."Ya parkir
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: 100. Pengungsi BerseragamMenjelang sore, iring-iringan kendaraan militer akhirnya tiba di kawasan kompleks industri. Begitu memasuki area tersebut, Charles langsung menyadari satu masalah baru.Tempat itu jauh lebih ramai daripada yang ia perkirakan.Jalanan yang dulu sepi kini dipenuhi berbagai kendaraan. Truk, mobil pickup, hingga kendaraan rakitan terlihat terparkir di banyak tempat. Beberapa bangunan pabrik yang masih layak pakai bahkan sudah ditempati kelompok-kelompok survivor lain.Charles memperhatikan keadaan itu dari dalam mobil komando sambil mengerutkan kening."Apa seramai ini sebelumnya?"Nada yang duduk di sampingnya menggeleng."Enggak."Charles kembali melihat ke luar jendela.Di kejauhan terlihat beberapa pos jaga sederhana, lapak perdagangan kecil, bahkan orang-orang yang lalu lalang membawa barang.Tidak sulit menebak penyebabnya yaitu pasar milik Joni.Sejak pasar itu berkembang, kelompok-kelompok kecil mulai berkumpul di sekitarnya untuk mencari keamanan dan akses perdagangan. Akibatnya,
Last Updated: 2026-06-19
Chapter: 99. Evakuasi TotalCharles menatap medan perang di luar tembok menatap Rey, menatap para awakener yang baru saja berubah, menatap Zombie King yang masih berdiri diam di belakang semuanya.Untuk sesaat, ia tidak bergerak. Tidak berbicara dan hanya memperhatikan lalu ia mengambil keputusan. Keputusan yang paling tidak ingin ia ambil.BOOM!Charles melompat dan tubuh gorilanya mendarat di atas menara penjagaan tertinggi di dekat tembok. Struktur baja itu bergetar keras di bawah berat tubuhnya.Semua orang langsung menoleh. Prajurit, warga sipil, PPetugas logistik bahkan Nada yang masih berada di atas tembok.Charles menarik napas lalu mengaum sekeras mungkin."SEMUA ORANG DENGERIN GUE!"Suaranya menggema ke seluruh markas sehingga menenggelamkan suara tembakan, menenggelamkan suara zombie dan menenggelamkan semuanya."LARI!"Semua orang membeku."TINGGALKAN MARKAS INI!"Beberapa prajurit membelalakkan mata."SEKARANG!"Charles menunjuk ke arah timur."EVAKUASI TOTAL!""BAWA SEMUA YANG BISA DIBAWA!""TINGG
Last Updated: 2026-06-18
Chapter: 98. Pemburu Jadi BuruanBOOOM!Rey menghantam seorang Tanker tepat di bagian dada.Tubuh mutan raksasa itu terangkat dari tanah sebelum terlempar menghantam gerombolan zombie di belakangnya.Puluhan zombie langsung hancur tertimpa tubuh Tanker tersebut."Hahaha!" Rey tertawa keras. Tubuhnya yang telah bermutasi bergerak tanpa sedikit pun tanda kelelahan.Setiap pukulannya menghancurkan apa pun yang berada di jalurnya.Di sisi lain, salah satu awakener mutan menerjang ke tengah kerumunan, lengannya yang berubah menjadi bilah tulang berputar liar.Dalam hitungan detik, belasan zombie terpotong menjadi beberapa bagian, darah dan potongan tubuh berhamburan ke segala arah.Mutan lain yang tubuhnya membesar seperti Tanker justru menggunakan tubuhnya sebagai pendobrak.BRAK!Ia menerjang langsung ke barisan zombie dan puluhan makhluk itu terlempar seperti boneka. Gerombolan yang tadinya tampak tidak berujung mulai menunjukkan celah.Namun jumlah mereka tetap mengerikan. Ribuan zombie masih memenuhi medan di depan t
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: 97. Sebelas MutanDengan kemunculan Rey, situasi di dalam markas perlahan mulai berubah. Bukan menjadi aman tapi setidaknya tidak lagi berada di ambang kehancuran.Brak!Rey menghantam seorang Screamer hingga tubuhnya terpelanting menembus dinding gudang lalu ia berbalik dan menangkap Speedster yang mencoba menerjang dari samping.Krak!Leher mutan itu dipatahkan begitu saja.Di sekitar area itu, para prajurit mulai bisa bernapas sedikit lebih lega.Charles yang sebelumnya harus berlari dari satu titik ke titik lain kini akhirnya mampu memusatkan pasukannya kembali.Formasi mulai dibentuk, garis pertahanan darurat mulai berdiri dan jumlah zombie yang berhasil masuk mulai berkurang."Hahaha!"Rey masih tertawa sambil menghancurkan zombie berikutnya."Lihat?! Aku bilang aku benar!"Charles mendengus kesal kalau bukan karena situasi saat ini, ia sudah menyuruh orang menembak Rey dari tadi lalu Rey tiba-tiba menoleh ke arah salah satu kelompok awakener miliknya yang sedang membantu membersihkan zombie.Mat
Last Updated: 2026-06-16