登入Rangga cuma ingin satu hal: healing. Menjauh dari hidup yang ruwet, naik ke gunung, dan menenangkan pikirannya. Tapi rencananya langsung berantakan ketika dia menemukan seorang pria telanjang habis tersambar petir, yang dengan santainya mengaku sebagai pendekar. Namanya Wira. Dan menurut Rangga—sebagai mahasiswa Psikologi, dia jelas halu, delusi dan skizo. Sampai Wira menghentikan hujan. Mengalahkan preman tanpa kesulitan. Bahkan menyembuhkan orang. Logika Rangga mulai goyah. Belum selesai di situ, Agung ikut-ikutan latihan dengan penuh semangat tapi minim pemahaman, sementara Putra tiba-tiba “naik level” jadi dukun dadakan yang justru bikin semuanya makin absurd. Di tengah kekacauan antara logika dan hal-hal yang tak masuk akal, Rangga terjebak dalam satu pertanyaan besar: Apakah semua ini nyata? Atau ada penjelasan yang belum dia pahami? Akankah Rangga mempercayai ilmu kanuragan atau justru membongkar rahasia di baliknya dengan logika?
查看更多Setelah makan mulai habis dan suasana meja jauh lebih santai, Asturi kembali menyandarkan tubuhnya perlahan sambil memutar gelas tehnya pelan di atas meja.“Ngomong-ngomong soal rumor tadi…”Nada suaranya tetap lembut, tapi kali ini semua otomatis mendengarkan.“Informasi tentang anda sekarang sudah mulai dicari.”Rangga yang lagi minum langsung berhenti.“Hah?”“Dicari?”Asturi mengangguk kecil.“Sudah ada yang ingin membeli informasi awal.”Rangga langsung bingung.“Buat apa orang beli informasi gue?”Kael yang jawab duluan sambil nyender santai.“Ya buat data awal lah.”“Kalau mau nantangin lu masa dateng buta.”Rangga langsung nengok.“Nantangin lagi?”Kael malah ketawa kecil.“Lah iya.”Asturi ikut mengangguk.“Informasi adalah mata uang di dunia saya.”Dia melanjutkan dengan tenang.“Semakin
Asturi tersenyum kecil melihat reaksi Putra tadi.“Kurang lebih begitu.”Nada bicaranya lembut dan santai, tapi entah kenapa tetap membuat Agung otomatis duduk sedikit lebih rapi. Kael yang melihat itu malah tertawa kecil sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Dia emang serem.”Asturi melirik sekilas ke arahnya.“Dan anda masih datang makan gratis di sini.”“Kan akrab.”“Tidak.”Jawab Asturi cepat.Agung langsung menutup mulut menahan tawa.Sementara itu beberapa staf masuk diam-diam membawa makanan dan mulai menyusunnya satu per satu di meja dengan gerakan cepat dan rapi. Asturi sendiri tidak langsung pergi. Dia berdiri beberapa saat sambil memperhatikan mereka semua, tatapannya bergantian ke Agung, Putra, lalu berhenti sedikit lebih lama di Rangga seperti seseorang yang sedang mencocokkan potongan puzzle di kepalanya.Akhirnya dia kembali bicara.“Jujur saja… saya cukup pen
Malam itu rumah sudah jauh lebih sepi. Agung, Putra, bahkan Rangga sudah tidur setelah latihan dan makan malam panjang tadi. Hanya beberapa lampu yang masih menyala redup di halaman.Di bawah pohon Kael duduk santai sambil melempar batu kecil ke atas lalu nangkep lagi.Sena berdiri tidak jauh, tangannya terlipat sementara Wira masih seperti biasa.Tenang.Kael akhirnya buka suara.“Bayaran gue mana?”Dia nengok ke Wira sambil nyengir.“Gue udah bantu beresin masalah lu tuh.”Wira hanya menatap sebentar lalu berdiri.“Ikut saya.”Tidak banyak bicara dan Kael langsung bangkit semangat.“Nah gitu dong.”Sena menghela napas kecil.“…kenapa jadi gue ikut juga.”Beberapa detik kemudian tiga sosok itu sudah melesat menembus malam dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Atap rumah, kabel listrik, gang sempit—semuanya hanya lewat sekilas di bawah mereka.Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah gudang tua yang sudah lama kosong.Cat dindingnya mengelupas, besi-besi berkarat, dan suasana di da
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu, tapi dampaknya tidak benar-benar hilang—justru menyebar pelan, masuk ke percakapan-percakapan yang tidak pernah tercatat, berpindah dari satu lingkaran ke lingkaran lain tanpa pernah disebut terang-terangan.Di sebuah ruangan tertutup, jauh dari jangkauan orang biasa, beberapa orang duduk mengelilingi meja panjang dengan wajah yang tidak semuanya terlihat jelas. Tidak ada yang menyebut nama secara langsung, tidak ada yang mengangkat suara, tapi arah pembicaraan mereka sama.“…Krisnapati mundur.”Salah satu dari mereka berbicara pelan.“Dan Wening Jagad juga berhenti.”Hening sejenak.“Orang yang sama?”Tidak ada jawaban pasti.Hanya tatapan dan satu kesimpulan yang tidak perlu diucapkan ada sesuatu yang baru.Di tempat lain, sebuah hotel mewah dengan jendela tinggi menghadap kota yang gemerlap, seorang wanita duduk santai dengan segelas minuman di tangannya. Seorang staf membisikkan sesuatu di sampingnya, cukup pelan agar tidak terdengar orang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.