Mag-log in"Hendak ke mana kau?!" Bentak Ki Kusumo, baru saja empat langkah Angon Luwak menjejakkan kaki di atas pasir pantai.
Mendadak saja, tubuh Angon Luwak sulit digerakkan. Bukan cuma sepasang kakinya yang memberat seperti dipaku langsung ke dalam bumi, tubuhnya pun sulit digerakkan. Anak itu mematung dalam posisi orang melangkah, membelakangi Ki Kusumo.
"Kalau kau ingin terus berdiam diri di situ sampai beberapa hari, kau boleh menolak ajakanku sekarang," Ancam Ki Kusumo. Main-main t
Menggunakan kesempatan yang sangat singkat itu, Pendekar Sinting segera alirkan hawa sakti ke bagian luka-luka dibagian kakinya. Begitu hawa hangat mengalir deras kebagian tubuh sebelah bawah dan lengan sebelah kanannya. Dari bagian luka-luka itu terlihat mengepul asap tipis berwarna hitam kemerahan menebar bau busuk luar biasa. Lalu seiring dengan mengepulnya asap terlihat ada cairan hitam mengalir keluar dari setiap bagian luka. Ketika tebaran asap lenyap dari pandangan. Bagian tubuh yang terluka itu secara menakjubkan kembali bertaut hilang lenyap dengan sendirinya.Orang lain yang melihat keanehan itu pasti akan tercengang kagum menyaksikan kehebatan Pendekar Sinting. Tapi bagi Pendekar Sinting sendiri, tindakan menyembuhkan luka dalam waktu yang singkat itu tentunya bersumber dari ilmu yang didapatnya dari sang guru Dedengkot Sinting. Dan ilmu itu dikenal dengan "Menutup Luka Memusnahkan Racun.”Tidak lama setelah luka-luka lenyap. Sekali lagi dia m
Dentuman menggelegar serasa merobek langit, menimbulkan guncangan hebat luar biasa. Lima bocah iblis jatuh bergedebukan. Berguling guling di tanah namun mereka segera bangkit tanpa cidera sedikitpun. Sementara itu Pendekar Sinting yang berada diketinggian tanpa berpijak pada apapun nampak terguncang keras.Walau dia mampu memusnahkan lima cahaya panas namun pecahan cahaya panas yang dibuatnya porak poranda sebagian masih bertebaran di udara. Sisa cahaya itu seakan memberangus tubuhnya membuat matanya menjadi perih sedangkan sekujur tubuh serasa digoreng diatas kobaran api.Sambil keluarkan suara menggereng tak ubahnya harimau terluka, pemuda ini alirkan tenaga dalam kebagian kaki. Pengerahan tenaga yang dilakukannya itu membuat tubuhnya lebih berat disebelah bawah.Tanpa ampun Pendekar Sinting meluncur ketanah berbatu sejarak dua tombak diluar jangkawan bocah-bocah yang mengepungnya.Namun baru saja kakinya menjejak tanah. Dibagian bawah belasan tangan da
Ketika Pendekar Sinting mengerahkan ilmu Badai Es di tangan kirinya, seketika itu pula dari tangan tersebut memancarkan cahaya putih redup menebar hawa dingin luar biasa. Sedangkan dari tangan kanan terlihat pancaran cahaya hitam kemerahan berbentuk sebuah cakar berukuran sepuluh lebih besar dari tangan Pendekar Sinting. Dari tangan yang memancarkan cahaya berbentuk cakar itu pula menyebar hawa panas menghanguskan."Majulah! Aku yakin kalian yang telah membuat Penujum Aneh celaka. Tangan dan gigi kalian itu membuat seorang juru obat seperti Penujum Aneh tak dapat menyelamatkan nyawa sendiri. Tunggu apa lagi! Jika kalian ingin tubuhku yang pahit dan penuh racun itu lekas serang. Kalau tidak, aku akan membuat kalian jadi patung beku dan puntung neraka!" Dengus Pendekar Sinting dengan sikap garang.Tak jauh di depannya tiga puluh bocah iblis sama keluarkan suara menggeram. Walau mereka tak bisa bicara sebagaimana seharusnya anak manusia. Namun mereka mengerti segala apa y
"Kalau mengenal nama kedua puteri itu? Siapa kau?" bertanya sang Penujum dengan suara lirih"Saya bernama Pendekar Sinting, kek. Saya sebelumnya pernah bertemu dengan kedua gadis itu.” Menerangkan Pendekar Sinting. Tak lupa dia juga menceritakan apa yang dialami oleh kedua gadis tersebut sampai akhirnya mereka berpisah, Nila Agung dan Arum Senggini kembali ke istana. Sedangkan Pendekar Sinting sesuai dengan pesan Ki Lara Saru Saru sebelum menghembuskan nafas terakhir segera pergi menemui Dewa Mabok. Setelah mendengar semua penjelasan Pendekar Sinting. Walau terlihat begitu menderita akibat didera rasa sakit disekujur tubuhnya, Penujum Aneh terlihat lega."Aku... aku bersyukur bisa bertemu denganmu, Aku rasa kau adalah orang yang tepat untuk membantu kerajaan keluar dari segala kesulitan yang terjadi.” Kata Penujum Aneh dengan suara makin tersendat."Jangan pikirkan soal itu. Katakan saja apa yang kau alami. Siapa yang telah menyerangmu?" Desak Pendek
Mata si kakek yang kerap berkedip namun kini kehilangan cahaya kehidupan itu menerawang."Apakah mungkin dalam waktu hanya dalam hitungan hari setelah jejakan kaki di tanah Pasundan Pangeran Durjana telah membangun sebuah istana?" Batin Penujum dalam hati.Orang tua ini terdiam, otaknya yang semakin lemah mencoba berpikir, tapi belum lagi dia dapat mengambil kesimpulan dari semua yang dipikirkannya tiba-tiba dia kaget mendengar suara pekik datang dari sebelah atas pucuk pepohonan tinggi."Oalah... begini repotnya kalau tidak punya sayap. Bisa melayang diudara sayang tangan tidak dapat dikepakkan. Waduuh... celaka, rasanya aku mau jatuh...”Belum lagi suara pekik di atas pohon lenyap. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh berkerosakan seperti ada benda berat jatuh dari langit.Krosak! Bluk!Dua tombak dari tempat dimana sang Penujum tergeletak mendekam, satu sosok tubuh terjatuh. Begitu terhempas di tanah sosok yang ternyata Pendekar Sintin
"Maumu apa?" Tanya Aki Kolot dengan wajah cemberut.Si nenek terdiam, berpikir sejenak namun sepasang matanya jelalatan menatap kesegenap penjuru sudut.”Aku sependapat denganmu, Ki. Baiknya kita pergi secara diam-diam. Tapi lihatlah di pepohonan itu.” Ujar Nini Burangrang berbisik dengan pelan.Tanpa bicara Aki kolot ikut menatap ke arah dia melirik ke arah pepohonan yang dimaksud. Diam-diam orang tua ini dibuat terkejut begitu mengetahui diatas cabang pepohonan dan daun-daun menghijau mendekam mahluk-mahluk bersayap berwarna hitam berkepala merah gelap,"Lebah Kepala Hati Berbunga? Astaga! Jadi Pangeran Durjana diam-diam mengirimkan Lebah Kepala Hati Berbunga untuk mengawasi kita.” Desis Aki Kolot Raga seakan tidak percaya."Dasar tua bangka pikun. Yang kau lihat saat itu bukan Lebah Kepala Hati Berbunga. Lebah-lebah yang diutus Pangeran Durjana untuk mengikuti kita adalah lebah pembunuh. Lebah itu sepuluh kali lebih mematikan dibanding
Dia sebenarnya tidak ngeri pada pelototan mata bocah ayu itu. Sebaliknya, Angon Luwak malah jadi senang bukan alang kepalang. Hanya saja dia tak tahu, kenapa merasa berdebar-debar.Biasalah, cinta monyet! Saking gugupnya, tak sengaja dia menginjak jempol kaki Pale Tua pemilik warung.Untung lelaki
Sepekan berlalu.Siang di pusat Kadipaten Ketawang. Saat itu matahari terhalang mendung. Sinarnya tak terlalu menyiksa. Angin sejuk sepoi-sepoi berdenyut, mempermainkan dedaunan pepohonan.Seorang anak lelaki dekil berjalan gontai dijalan pusat pemerintahan Kadipaten Ketawang. Wajahnya demikian lus
HARI itu alam murka. Badai besar mendatangi wilayah tersebut. Ombak raksasa bergulung-gulung di kejauhan bagai tembok hidup menggapai angkasa. Sulit memastikan berapa ketinggian ombak saat itu. Lima enam meter bisa jadi lebih. Dan untuk ombak setinggi itu, tak diragukan lagi akan sanggup memporak-p
Setelah membereskan ketiga prajurit penjaga, pasukan Dirgasura bergerak kembali mendekati tepi rawa. Gerakan mereka kali ini tak lagi lambat. Seperti sekawanan anjing lapar yang melihat tumpukan tulang di depan mata, mereka memburu ke tepi. Meski begitu, tak ada keributan berarti mereka ciptakan.D







