Home / Fantasi / Pendekar Sinting dari Laut Selatan / 26. Mencari Tabib Tangan Dewa

Share

26. Mencari Tabib Tangan Dewa

last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-14 01:02:26

Di pantai Ketawang, sekitar empat puluh kilometer dari pantai yang terkena bencana badai raksasa beberapa waktu lalu. Tepatnya di gubuk kecil terbengkalai yang dimanfaatkan Ki Kusumo untuk merawat Nyai Cemarawangi.

"Tresnasari...," Panggil Nyai Cemarawangi.

Wanita itu masih terbaring lemah, tak berdaya dirongrong penyakitnya di atas balai bambu. Tresnasari yang sedang berdiri termenung di mulut jendela gubuk menghadap laut segera mendekat. Ditempatinya pinggiran balai. Duduk di

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   309. Part 10

    Setelah sempat berpikir, Pendekar Sinting merasa saran Pedang Jiwa ada benarnya juga. Bukankah waktunya sudah semakin sempit apalagi Malae Daeng Pasir Tujuh sudah mengatakan dia harus pergi ke Malingping. Pendekar Sinting yakin kekacauan besar bakal terjadi di istana itu. Dengan langkah lebar Pendekar Sinting berjalan menghampiri kuda hitam itu. Setelah disamping kuda dan lepaskan tali kekangnya yang tertambat pada pohon kecil, Pendekar Sinting segera menyadari kuda itu ternyata kuda betina.Disamping itu di atas pelana kuda dia juga melihat ada sebuah pesan tulis diatas selembar daun lontar. Pendekar Sinting segera meraih dan membaca tulisan yang ditulis dalam bahasa purwa tersebut."Jangan berdebat dengan hati. Jangan mempermasalahkan siapa dan mengapa harus berbuat, baik. Genderang perang sudah ditabuh oleh Pangeran Durjana. Iring-iringan pasukannya sedang menuju ke istana Malingping malam ini. Gunakan kuda ini. Namanya Angin Ribut. Kuharap kau sampai di istana sebe

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   308. Part 9

    Pendekar Sinting melangkah mundur, bersikap waspada dari setiap kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Namun segala sesuatu yang dikhawatirkannya ternyata tidak terjadi. Api yang muncul dari dalam peti bersama hembusan angin akhirnya padam dengan sendirinya.Setelah api padam, muncul pula perasaan cemas dihati Pendekar Sinting. Dia takut pakaian yang tersimpan di dalam peti ikut hangus terbakar."Paduka. Api dan angin aneh lenyap. Mengapa paduka tidak segera hampiri peti itu?" Kata jiwa pedang."Mungkin petinya masih panas. Aku jadi ragu apakah pakaian yang kubutuhkan masih utuh?" Gumam pemuda itu.Walau merasa ragu. Dia tetap menghampiri peti tersebut. Tak lama Pendekar Sinting telah duduk bersimpuh disamping peti. Setelah menatap peti beberapa kejab lamanya Pendekar Sinting segera ulurkan tangan ke mulut peti. Diam-diam dia merasa heran sekaligus takjub begitu sadar ternyata bagian dalam peti yang sempat dikobari api dalam keadaan sejuk dan dingin

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   307. Part 8

    "Menginginkan apalagi berhasrat ingin memiliki pakaian dalam peti hitam bukan perkara mudah. Pakaian itu adalah milik Tetua Ageng Datu Katu Lampa.""Bukankah orang yang kau maksudkan jenazahnya hanya tinggal seonggok belulang dalam keadaan duduk bersila tak jauh dari peti itu?" Tanya Pendekar Sinting sambil diam-diam melirik ke arah kerangka tengkorak menyender di dinding sebelah kanan gua."Benar. Pakaian sakti dalam peti hitam itu bernama Kabut Api Angin. Siapa saja yang memakai bisa menjadi kebal dari serangan, tahan bacokan dan pukulan sakti juga menjadi kebal terhadap racun terjahat sekalipun."Penjelasan Malae Daeng Pasir Tujuh Angin ini membuat wajah Pendekar Sinting jadi sumringah. Dia bahkan kegirangan."Itu yang kucari. Rasanya aku ingin memakainya!" Kata Pendekar Sinting berterus terang."Seperti yang kukatakan untuk memiliki pakaian itu ada satu syarat yang harus kau penuhi disuatu saat kelak. Syarat itu sangat berat.""Apapun sy

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   306. Part 7

    Sadar dirinya telah melakukan kesalahan memasuki gua tanpa seizin penjaganya. Pendekar Sinting cepat rangkapkan dua tangan di depan dada. Dia lalu jatuhkan diri berlutut menghadap ke arah mulut gua.Dengan kepala menunduk sebagai tanda penghormatan Pendekar Sinting membuka mulut dan berucap."Orang tua siapa pun dirimu. Mohon maafkan aku karena telah memasuki tempat peristirahatan Tetua Ageng Datu Katu Lampa tanpa seizinmu.""Ha ha ha. Ternyata walau dirimu seorang penerus tahta kerajaan kau pemuda berhati polos dan cukup tahu diri. Dibalik sikapmu yang ugal ugalan dan kerap berlaku sekehendak hati ada kejujuran dan kemuliaan dalam tujuan hidupmu. Aku telah memberimu maaf. Bukankah kau telah mendengarnya.""Ya, aku sudah mendengarnya orang tua." Jawab Pendekar Sinting tanpa berani mengangkat wajahnya.Lagi-lagi terdengar suara tawa mengiang di telinga pemuda itu. "Saat ini kau tidak melihatku, aku bahkan berada sangat jauh dari tempat dirimu berada

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   305. Part 6

    Cahaya yang menerangi ruang gua berasal dari bebatuan putih seperti intan yang banyak bermunculan di bagian dinding dan langit-langit gua itu."Jiwa... kau lihat sendiri. Ruangan ini nampak bersih seperti ada orang yang merawatnya setiap hari. Aku menaruh curiga tidak tertutup kemungkinan tempat ini ada penghuninya.""Mungkin yang menghuni gua ini adalah anjing yang ada diluar tadi paduka. Tak usaha banyak pertimbangan. Lihatlah begitu banyak pakaian digantung di sudut sebelah kiri gua itu. Lekas pilih dan ambil yang ukurannya pas buat paduka."Tanpa bicara Pendekar Sinting menatap ke arah yang dimaksudkan sang jiwa. Dia melihat ada beberapa pasang pakaian bergelantungan di dinding gua. Pakaian itu terdiri dari beberapa macam warna. Tapi setelah didekati ukurannya ada yang kecil, besar dan besar sekali."Pakaian ini bukan cuma ukurannya saja yang tidak sesuai dengan tubuhku, warnanya juga terlalu menyolok. Siapa yang meletakkan pakaian itu di sini?" Kata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   304. Part 5

    Mendengar ucapan sang jiwa, Pendekar Sinting jadi berpikir apakah mungkin segala yang dikatakan mahluk penghuni hulu pedang itu benar adanya? Apakah benar sang anjing bisa bicara atau setidaknya mengerti setiap kata yang diucapkannya.Terdorong oleh rasa ingin tahu sambil menekan bagian bawah perut tangan kiri. Pendekar Sinting palingkan kepala dan menatap ke arah anjing besar. Dengan hati diliputi keraguan akhirnya dia berucap."Wahai mahluk hitam. Aku tidak tahu apakah kau mahluk sungguhan ataukah cuma anjing jejadian. Apa pun yang membuatmu hadir di tempat ini. Kuharap kau tidak membawa maksud tertentu yang membuatku jadi repot. Aku membutuhkan seperangkat pakaian yang pantas saat ini. Dan menurut sahabatku yang tidak pernah menunjukkan diri di dalam gua ada pakaian yang kubutuhkan. Aku ingin mengambilnya. Tapi jika kau ternyata penjaga sekaligus pelindung pakaian itu aku berharap kemurahan hatimu untuk memberikan pakaian itu padaku!"Setelah berkata begitu,

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   10. Prahara pun berlangsung!

    Setelah membereskan ketiga prajurit penjaga, pasukan Dirgasura bergerak kembali mendekati tepi rawa. Gerakan mereka kali ini tak lagi lambat. Seperti sekawanan anjing lapar yang melihat tumpukan tulang di depan mata, mereka memburu ke tepi. Meski begitu, tak ada keributan berarti mereka ciptakan.D

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   9. Laskar Lawa Merah

    Banyak buaya liar berkeliaran. Selain itu, pasukan yang mencoba menerobos ke sana harus menempuh perjalanan tanpa kendaraan menembus rawa setinggi pusar selama satu malam. Lebatnya hutan bakau tak memungkinkan untuk menggunakan perahu. Besar kemungkinan selama merambah bentangan rawa, mereka akan d

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   8. Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu

    Ketika hari berganti, kalangan persilatan tanah Jawa malah lebih mengenalnya dengan julukan Tabib Tangan Dewa. Ketika Majapahit dilanda perang saudara sepeninggalan Prabu Rajasanegara, Ki Kusumo mengasingkan diri di sebuah pulau karang yang terpencil di sekitar Laut Selatan.Dia benci pada setiap p

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   7. Siapa sebenarnya Ki Kusumo?

    Bunyi gemeritik bara api yang dimainkan Tresnasari terdengar, ditingkahi derik ramai jangkrik di kejauhan. Nyai Cemarasari merebahkan tubuhnya yang demikian penat dan lunglai di atas rumput. Dengan caping, diganjalnya kepalanya. Tampaknya dia mulai mengantuk. Keadaan tubuhnya memang tak memungkinka

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status