Se connecterSungguh dia tak menyangka berhasil lolos dari terjangan tubuh orang tadi. Sebab di samping luncuran tubuh orang itu demikian cepat, juga begitu mendadak. Sedangkan jaraknya dengan pintu kedai saja tak lebih dari dua langkah.
Dalam jarak sedekat itu, tentu amat sulit melakukan elakan. Tapi kenyataannya, dia dapat melakukan dengan amat sempurna. Sementara orang yang terlempar mundur keluar jatuh bergulingan di jalan berpasir.
Angon Luwak malah terheran-heran pada dirinya sendiri.
Namun dia segera batalkan serangan dan berusaha selamatkan diri."Pedang milik si rambut merah itu. Sungguh sebuah senjata aneh dan benar-benar gila!" Teriak Purudana pula.Segala teriakan dan seruan kaget kemudian berubah menjadi jerit dan pekik kesakitan. Satu persatu manusia singa hanya mampu delikkan mata sambil dekap dada masing-masing yang berlubang menganga di tembus pedang. Mereka tidak pernah melihat kapan Pedang Laut Selatan melukai mereka. Yang mereka sadari adalah darah mengucur deras dari luka di tubuh mereka."Mengapa bisa begini.. ?" Desis Kuruseta seolah tak percaya nasibnya berubah seburuk itu.. Laki-laki itu lalu ambruk. Dua temannya juga menyusul bertumbangan. Pedang Laut Selatan berputar diketinggian lalu kembali masuk ke dalam rangkanya.Slep! Angon Luwak tersenyum."Terima kasih kau telah membantu. Terima kasih pula kau telah menunjukan baktimu.” Ujar Angon Luwak ditujukan pada pedang."Hamba juga berterima kasih
Pendekar Sinting tetap saja terdesak.Ketika pemuda ini memutar tubuh sambil hantamkan kedua tangan ke arah lawan-lawannya. Justru pukulan Kabut Kematian yang dilepaskannya malah dapat ditangkis oleh lawan dan berbalik menghantam diri sendiri.Buum! Wuarkh!Pendekar Sinting menjerit keras. Tubuhnya terpelanting bergulingan di atas tanah. Melihat lawan terjatuh Purudana menyeringai. Dia segera melesat ke arah pemuda itu sambil kibaskan tangan kiri ke dada Angon Luwak. Walau berusaha selamatkan diri tapi serangan Purudana yang kemudian disusul dengan serangan dua temannya yang lain tak dapat dihindari oleh Pendekar Sinting.Bret!Sambaran kuku Purudana mencabik robek pakaian disebelah dada pemuda itu. Dada Angon Luwak terluka dan meneteskan darah. Mengalirnya darah dari luka didada Pendekar Sinting membuat Kuruseta dan Jatukara semakin tambah bersemangat dan makin beringas."Bunuh!" Teriak keduanya bersamaan.Dua manusia singa menghanta
"Jika dia berani mencampuri urusan kita, aku pasti akan menghabisinya," Jawab Purudana berbisik pula."Siapa kau? Dari mana asal usulmu anak muda?" Tanya Kuruseta."Aku.” Sahut Angon Luwak sambil menunjuk dirinya sendiri."Aku bernama Angon Luwak. Tapi orang-orang sering memanggilku Pendekar Sinting. Padahal.... he he he... mereka kali yang sinting.” Lanjut pemuda itu sambil terkekeh."Oh ya asal usulku rasanya tidak penting kusebutkan. Yang jelas aku datang dari suatu tempat yang jauh sekali.”"Pemuda keparat. Jika kau tidak punya hubungan dengan Giri Soradana dan tidak bermaksud mencampuri urusan kami. Sebaiknya lekas angkat kaki dari sini!" Hardik Purudana hilang kesabarannya.Diperintah angkat kaki, dengan tingkah seperti orang tolol Angon Luwak pun mengangkat kakinya tinggi-tinggi."Kurang ajar! Mengapa kau tidak segera pergi?" Geram Jatukara sengit."Edan. Tadi temanmu menyuruh aku angkat kaki. Setelah k
Kemudian suara ucapan mencibir dan menyindir ketiga manusia singa lenyap. Selanjutnya terdengar pekikan kaget."Walah... kok bisa begini. Pedang tolol! Kalau mau turun ke bawah ya turun saja. Jangan menukik begini. Aku bisa jatuh menyungsap. Nanti wajahku bisa rusak dan hidungku yang bagus jadi jelek. Hei.... turunnya pelan saja. Kira-kira seperti daun yang jatuh dari pohon, bukan seperti burung alap-alap yang menyambar mangsa, jangan pula mendarat seperti burung buta yang sedang jatuh cinta. Ha ha ha....!"Tiga manusia singa yang ujudnya belum berubah sama ternganga. Seketika mereka dongakkan kepala menatap ke arah terdengarnya suara. Dari atas ketinggian terlihat sesosok tubuh melayang jungkir balik sambil mendekap sebuah pedang yang diapit diselangkangan.Ketiganya menjadi tercengang."Siapa yang jatuh dari langit itu?" Desis Kuruseta kaget."Bukan jatuh. Orang itu menunggangi sebuah pedang!" Jatukara menimpali."Terbang diketinggian deng
Diserang dari dua arah sekaligus. Giri Soradana terpaksa menggunakan ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak untuk menyelamatkan diri. Ketika pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh dua lawannya meleset.Kini giliran si kakek merangsak maju. Satu jotosan keras diarahkan ke wajah Purudana. Sementara tangan kiri berkelebat menyambar siap menjebol dada Kuruseta. Melihat serangan ini Purudana melompat ke belakang sambil menangkis jotosan lawan.Benturan keras terjadi.Keduanya sama bergetar.Namun celaka bagi Kuruseta. Walau lawan terguncang keras akibat benturan dengan Purudana tetapi jemari tangan lawan membeset rusuknya.Kraak! Terdengar suara pakaian robek.Kuruseta menjerit sakit namun juga menjadi sangat marah begitu melihat pakaiannya robek di sebelah rusuk kiri, sementara dipermukaan kulit terdapat luka sambaran jari. Luka itu mengucurkan darah.Kaget mendengar teriakan Kuruseta, Purudana dan Jatukara yang baru saja menyera
Selagi Giri Soradana terombang-ambing dalam kebimbangan. Salah seorang diantara mereka yang berada di sebelah kiri melangkah maju. Dua tindak di depan tiga kepala yang tergeletak di tanah dia hentikan langkah. Mewakili dua temannya orang ini membuka mulut perkenalkan diri."Giri Soradana aku bernama Purudana. Yang berdiri di belakangku bernama Kuruseta. Kemudian yang berada disampingnya tak lain adalah Jatukara. Ketahuilah, kami telah beberapa kali datang kemari. Kami tidak menemuimu, hanya muridmu yang kami temukan. Lalu kami menjemput nyawa mereka!" Ucap manusia berwajah singa mengaku bernama Purudana itu dingin.Giri Soradana membisu, tapi matanya terus memperhatikan. Dia merasa heran bagaimana tiga manusia setengah mahluk itu bisa mengenal siapa dirinya padahal diantara mereka baru sekali ini berjumpa."Mengapa kalian membunuh murid-muridku? Apa salah dan dosa mereka?" Tanya Giri Soradana sambil bersikap sabar menahan diri.Kuruseta yang berdiri di be
"Bodohnya aku. Angin Pesut bukan sejenis kutu busuk, kutu keledai atau sebangsa kecoak kecil yang bisa menyembunyikan diri di setiap celah. Dia manusia yang memiliki tubuh luar biasa besar. Bobotnya saja delapan ratus kati. Mustahil dia bisa menyembunyikan tubuh sebesar itu dengan menyelinap di s
Cess!!Gembok besar yang tak mudah leleh walau terbakar terus menerus selama bertahun-tahun Itu kini mencair seperti gumpalan es terkena panas ketiika tersengat cahaya putih berkilau yang membersit dari ujung jari sang dara.Sesaat setelah lelehan gembok luruh ditanah batu. Dengan m
Walau sempat ciut melihat penampilan Hyang Kelam yang menakutkan namun Puteri Pemalu yang tak tahu nenek yang dia dampingi mati atau sekarat segera berkata."Mahluk busuk pengecut. Aku tidak takut padamu. Sekarang kau terimalah manisan api dariku!"Berkata begitu Puteri Pemalu membu
Manusia yang selalu menampakkan ujud aslinya dengan menggunakan perantaraan pasir."Celaka. Malam ini kita betul-betul apes. Tak kusangka yang kita hantam dengan pukulan sakti tadi ternyata adalah murid.Hyang Kelam." Desis Momok Laknat kecut."Apa? Jadi mahluk yang kulihat itu berna







