Mag-log inSungguh dia tak menyangka berhasil lolos dari terjangan tubuh orang tadi. Sebab di samping luncuran tubuh orang itu demikian cepat, juga begitu mendadak. Sedangkan jaraknya dengan pintu kedai saja tak lebih dari dua langkah.
Dalam jarak sedekat itu, tentu amat sulit melakukan elakan. Tapi kenyataannya, dia dapat melakukan dengan amat sempurna. Sementara orang yang terlempar mundur keluar jatuh bergulingan di jalan berpasir.
Angon Luwak malah terheran-heran pada dirinya sendiri.
Sementara kepala pengawal ini terlempar sejauh tiga tombak dengan tubuh dikobari api. Sambil menahan rasa sakit luar biasa akibat Jilatan api yang membakar pakaiannya. Pati Jaladara berguling-guling selamatkan diri. Dia selamat begitu api padam. Namun keadaannya sangat menyedihkan. Selain sekujur tubuh dipenuhi luka. Seluruh badannya menghitam seperti kayu bakar.Bersusah payah dengan dibantu para pengawal yang lain Pati Jaladara bangkit berdiri. Setelah berdiri tegak dia berteriak."Sebagian pengawal lindungi tumenggung dan keluarganya!" Seru laki-laki itu. Para pengawal segera berpencar, berbagi tugas. Sebagian berlarian ke arah datangnya serangan. Sebagian lagi bergerak melindungi majikannya."Aku tak butuh perlindungan. Cari jahanam yang telah membunuh istri dan mencederai putriku!" Teriak Dadung Kusuma dalam sedih dan kemarahannya.Dia sendiri segera bangkit, lalu meninggalkan jenazah istrinya. Kemudian dia melangkah lebar menuju pintu gerbang yang m
Senopati sendiri hanya baru berhasil menyerap kabar bahwa para pembunuh itu berasal dari lembah bangkai. Hal ini diperkuat dengan pengakuan si Mata Bara yang telah membunuh para kerabat juga istri dan dua putri sang adipati.Seperti sama telah diketahui. Senopati sempat melakukan pengejaran terhadap sang pembunuh. Namun dia gagal meringkus si Mata Bara, bahkan senopati kena dihajar hingga wajahnya biru lebam sedangkan tulang hidungnya patah.Apa yang menimpa para sahabat sesama tumenggung tentu saja didengar oleh tumenggung Dadung Kusuma. Dia sendiri belum mengetahui mengapa pembunuh haus darah tiba-tiba muncul di wilayah yang masih berada dalam kekuasaan adipati Seta Kurana.Namun demi mengingat masa lalunya yang kelabu. Dan demi cintanya pada keluarga, tumenggung Dadung Kusuma pun memilih menyelamatkan anak istrinya.Malam menjelang hari ke tujuh setelah peristiwa pembunuhan demi pembunuhan terjadi. Dia memutuskan untuk mengungsikan anak istrinya ke kal
"Hhm, aku tak mau banyak bicara. Kau menyuruh aku begini kuikuti begini. Kau memintaku begitu aku ikut begitu. Sekarang aku sudah siap.” Jawab Angon Luwak.Dia lalu menahan nafas.Begitu nafas ditahan. Tiba-tiba Angon Luwak merasakan tanah tempat kedua kakinya berpijak bergetar hebat. Lalu Seiring dengan terdengarnya suara gemuruh aneh mengerikan dari simbol bintang bersudut lima mencuat cahaya putih menyilaukan.Cahaya itu menyebar mengikuti arus yang membentuk simbol. Tak lama cahaya mencuat ke atas membubung tinggi hingga membuat Angon Luwak lenyap dari pandangan mata. Anehnya walau Pendekar Sinting berada di tengah-tengah cahaya. Sedikitpun dia tak merasakan sengatan hawa panas yang luar biasa. Malah Angon Luwak merasa sekujur tubuhnya menjadi sejuk.Walau demikian pemuda ini tetap saja dilanda gelisah."Jiwa dalam hulu pedang apa yang terjadi?" Tanya Angon Luwak dengan suara bergetar tersendat."Jangan banyak bicara paduka. Semua
"Hasyih-hasyih.... Sial. Aku mencium bau aneh. Bau ini jelas bukan bau kentut. Bau kentut aku sudah hapal karena aku sering buang angin. Bau yang tercium olehku ini busuk sekali! Seperti bau bangkai!" Rutuk Angon Luwak."Hmm, ke tempat itulah gusti akan pergi. Ada kematian di seberang laut sana. Ada kemarahan ada dendam. Tapi upaya gusti untuk memulihkan diri belum berhasil. Cobalah tarik nafas sekali lagi, hirup udara dalam-dalam.”Merasa kapok takut kejadian pertama terulang lagi tentu saja Angon Luwak enggan memenuhi permintaan jiwa dalam hulu pedang."Aku tak mau melakukannya!" Tegas Angon Luwak terus terang."Kalau begitu gusti Saka Buana tak akan pernah kemana-mana dan tetap berada disini selamanya.”"Gila. Kau menakuti atau mengancam aku?!""Tak ada yang menakuti tak ada yang mengancam. Semua yang hamba katakan memang benar adanya.” Jawab jiwa di hulu pedang.Pendekar Sinting terdiam.Setelah berpikir d
"Menurut ketentuan takdir para dewa. Sudah waktunya bagi gusti untuk meninggalkan pulau Es ini.”"Meninggalkan pulau? Hmm, aku pernah berpikir untuk kembali ke tanah Dwipa. Tapi harapan itu rasanya hanya tinggal menjadi angan-angan. Karena sekarang aku rasakan semua kekuatanku lenyap entah kemana. Semua ini pasti gara-gara ulahmu Pedang Laut Selatan," Kata Angon Luwak penasaran."Tak usah bersedih hati, paduka. Semua ilmu kesaktian yang Paduka miliki sama sekali tidak musnah. Semua kesaktian paduka tertahan pedang akibat terjadinya tali sambung rasa antara pedang dengan paduka.”"Hah apa? Jadi antara aku dan Pedang Laut Selatan telah terjadi kontak batin?" Tanya Angon Luwak kaget dengan mulut ternganga."Begitulah yang terjadi.”"Gila betul. Cuma gara-gara kontak batin semua kekuatanku jadi tidak berfungsi dan aku berubah menjadi seperti karung basah yang tak berguna? Sekarang aku ingin tahu kapan semua kekuatanku pulih. Dan keman
Trek!Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Pedang Laut Selatan kembali ke dalam rangkanya. Semilir angin sepoi-sepoi akhirnya menyadarkan Angon Luwak dari pingsannya.Seperti telah dituturkan begitu sadar dan mampu dudukan diri di tengah lingkaran. Angon Luwak merasa telah kehilangan segenap kekuatan yang dia miliki."Kejadian aneh, kejadian gila. Semua kurasakan seperti mimpi paling buruk yang pernah kualami. Tapi apa betul aku bermimpi? Mengapa mataku berat, telinga seakan tuli, kaki dan tangan serasa lumpuh. Cuma mulut saja yang bisa bicara.” Kata pemuda itu tergontai-gontai.Selagi Angon Luwak merasa tak berdaya kehilangan seluruh tenaga luar dalam dan cuma mampu mengerutu dan mengomel saja. Dari bagian hulu Pedang Laut Selatan yang tegak berdiri di dalam rangkanya terdengar suara berkeletekan sebanyak tiga kali. Suara itu lalu disusul dengan suara langkah kaki dan berderitnya pintu yang terbuka.Angon Luwak yang tak kuasa membuka kelopak
KEMBALI pada nenek renta tak berhidung, tak bermata bernama Momok Laknat. Tak lama setelah menyelinap keluar dari pondok tulang bersama gadis tak berkulit berkepala botak tak berambut bernama Puteri Pemalu. Dia dan gadis berpakaian merah itu bersembunyi di sudut sebelah kiri pondok yang gelap.
Mendapat serangan sedemikian hebat Sang Maha Sesat terkesiap dan sempat merasa ciut. Namun dia tidak kehabisan akal. Segera laki-laki itu melepas pakaian hitamnya yang tebal. Sambil keluarkan suara menggerung dia memutar jubah hitam yang telah dialiri tenaga dalam. Suara menderu disertai kilatan
Laki-laki tinggi itu terkejut sekali, namun dia langsung lambungkan tubuhnya ke atas. Selagi tubuhnya mengapung diudara dia lepaskan pukulan maut yang dikenal dengan nama Sang Iblis Murka Bumi Menjerit.Serangkum hawa dingin luar biasa mendera disertai berkiblatnya cahaya hitam menggidikka
"Sobatku Linuk Kantili, Ketahuilah, menurutku kau sudah terlalu tua dan tak membutuhkan pedang itu lagi. Selain tua kau juga digerogoti penyakit. Jadi kuanggap kau tak membutuhkan senjata mustika" Kata Sang Maha Sesat dengan suara perlahan namun jelas. Mata si nenek berkedap-kedip."Apa ma







