Share

36. Tantangan Pertama

last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-19 01:02:51

Sungguh dia tak menyangka berhasil lolos dari terjangan tubuh orang tadi. Sebab di samping luncuran tubuh orang itu demikian cepat, juga begitu mendadak. Sedangkan jaraknya dengan pintu kedai saja tak lebih dari dua langkah.

Dalam jarak sedekat itu, tentu amat sulit melakukan elakan. Tapi kenyataannya, dia dapat melakukan dengan amat sempurna. Sementara orang yang terlempar mundur keluar jatuh bergulingan di jalan berpasir.

Angon Luwak malah terheran-heran pada dirinya sendiri.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   200. Part 14

    "Apakah mungkin pembunuhan yang terjadi terhadap para tumenggung pejabat bawahan senopati Seta Kurana ada hubungannya dengan malapetaka yang dialami oleh murid-muridnya"Si kakek gelengkan kepala.Belasan tahun Seta Kurana menjadi adipati. Walau antara sang adipati dengan dirinya masih ada hubungan sahabat, namun si kakek jarang sekali bertemu dengan adipati itu. Dia tak tahu pasti bagaimana sepak terjang adipati dalam menjalankan pemerintahannya.Satu-satunya yang dia tahu. Dulu sebelum Seta Kurana menjadi seorang adipati jalan hidupnya cenderung menyimpang dan menghalalkan segala cara. Dengan latar belakang yang seperti itu mungkin saja Seta Kurana mempunyai banyak musuh."Tapi mengapa Giri Soradana harus ikut terkena getahnya?"Dia menghela nafas. Tapi tarikan nafasnya jadi tertahan begitu sekonyong-konyong dia mendengar suara pekik burung gagak di atas atap padepokannya. Si kakek tercekat. Mendadak tengkuknya terasa dingin. Dengan suara terbata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   199. Part 13

    Kembali dari perjalanan di Kuto Gede, Giri Soradana kakek berusia hampir tujuh puluh tahun ini merasa gelisah. Entah mengapa dia ingin cepat-cepat sampai di padepokannya yang berada di Parang Tritis.Sejak mendengar kabar terjadinya pembunuhan-pembunuhan aneh yang menimpa beberapa tumenggung dan keluarganya di wilayah kadipaten Blora. Kakek berpakaian serba biru berambut putih panjang digelung ini memutuskan mempersingkat kunjungannya.Tidak heran baru sepekan berada di rumah kerabatnya, Giri Soradana memutuskan kembali ke Padepokan Alas Langit.Bulan empat hari bersinar indah di ketinggian sana. Saat itu Giri Soradana telah memasuki sebuah desa bernama Muncang. Dari desa yang sunyi itu Parang Tritis sudah tidak begitu jauh lagi. Tanpa menoleh si kakek terus memacu kudanya. Sesekali dia berpapasan dengan penduduk setempat. Para penduduk desa yang ramah yang mengenal kakek ini ada yang memintanya untuk singgah. Tapi Giri Soradana tidak menghiraukan.Tidak

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   198. Part 12

    Melihat serangan berbahaya yang datang dari arah depan dan belakangnya. Si Mata Bara keluarkan suara berdengus. Sekali menghentakkan kakinya tubuh laki-laki ini melambung ke atas.Pada saat tubuh melesat, dia memutar tubuh lalu kepalkan kedua tangan menyongsong serangan senjata kepala pengawal dan pasukannya.Wuss!Dari kedua tangan Mata Bara menderu hawa panas luar biasa, menjalari setiap orang yang berada di sekelilingnya. Hingga membuat lima orang pengawal tersapu roboh. Dua diantaranya terpelanting dengan perut tertancap senjatanya sendiri.Sementara itu Pati Jaladara yang lebih berpengalaman bertindak cepat. Begitu hawa panas menderu melabrak tubuhnya, pedang pendek yang dipergunakan untuk menyerang segera diputar membentuk perisai pertahanan yang kokoh.Benturan keras antara pedang dengan pukulan tak dapat dihindari lagi. Ledakan berdentum mengguncang tempat itu. Debu pasir dan bunga api bermuncratan di udara.Pati Jaladara terlempar.

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   197. Part 11

    Sementara kepala pengawal ini terlempar sejauh tiga tombak dengan tubuh dikobari api. Sambil menahan rasa sakit luar biasa akibat Jilatan api yang membakar pakaiannya. Pati Jaladara berguling-guling selamatkan diri. Dia selamat begitu api padam. Namun keadaannya sangat menyedihkan. Selain sekujur tubuh dipenuhi luka. Seluruh badannya menghitam seperti kayu bakar.Bersusah payah dengan dibantu para pengawal yang lain Pati Jaladara bangkit berdiri. Setelah berdiri tegak dia berteriak."Sebagian pengawal lindungi tumenggung dan keluarganya!" Seru laki-laki itu. Para pengawal segera berpencar, berbagi tugas. Sebagian berlarian ke arah datangnya serangan. Sebagian lagi bergerak melindungi majikannya."Aku tak butuh perlindungan. Cari jahanam yang telah membunuh istri dan mencederai putriku!" Teriak Dadung Kusuma dalam sedih dan kemarahannya.Dia sendiri segera bangkit, lalu meninggalkan jenazah istrinya. Kemudian dia melangkah lebar menuju pintu gerbang yang m

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   196. Part 10

    Senopati sendiri hanya baru berhasil menyerap kabar bahwa para pembunuh itu berasal dari lembah bangkai. Hal ini diperkuat dengan pengakuan si Mata Bara yang telah membunuh para kerabat juga istri dan dua putri sang adipati.Seperti sama telah diketahui. Senopati sempat melakukan pengejaran terhadap sang pembunuh. Namun dia gagal meringkus si Mata Bara, bahkan senopati kena dihajar hingga wajahnya biru lebam sedangkan tulang hidungnya patah.Apa yang menimpa para sahabat sesama tumenggung tentu saja didengar oleh tumenggung Dadung Kusuma. Dia sendiri belum mengetahui mengapa pembunuh haus darah tiba-tiba muncul di wilayah yang masih berada dalam kekuasaan adipati Seta Kurana.Namun demi mengingat masa lalunya yang kelabu. Dan demi cintanya pada keluarga, tumenggung Dadung Kusuma pun memilih menyelamatkan anak istrinya.Malam menjelang hari ke tujuh setelah peristiwa pembunuhan demi pembunuhan terjadi. Dia memutuskan untuk mengungsikan anak istrinya ke kal

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   195. Part 9

    "Hhm, aku tak mau banyak bicara. Kau menyuruh aku begini kuikuti begini. Kau memintaku begitu aku ikut begitu. Sekarang aku sudah siap.” Jawab Angon Luwak.Dia lalu menahan nafas.Begitu nafas ditahan. Tiba-tiba Angon Luwak merasakan tanah tempat kedua kakinya berpijak bergetar hebat. Lalu Seiring dengan terdengarnya suara gemuruh aneh mengerikan dari simbol bintang bersudut lima mencuat cahaya putih menyilaukan.Cahaya itu menyebar mengikuti arus yang membentuk simbol. Tak lama cahaya mencuat ke atas membubung tinggi hingga membuat Angon Luwak lenyap dari pandangan mata. Anehnya walau Pendekar Sinting berada di tengah-tengah cahaya. Sedikitpun dia tak merasakan sengatan hawa panas yang luar biasa. Malah Angon Luwak merasa sekujur tubuhnya menjadi sejuk.Walau demikian pemuda ini tetap saja dilanda gelisah."Jiwa dalam hulu pedang apa yang terjadi?" Tanya Angon Luwak dengan suara bergetar tersendat."Jangan banyak bicara paduka. Semua

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 25

    Malam itu, diantara debur ombak ganasnya Pantai Selatan. Di keremangan sinar bulan yang bersinar, tampak sesosok tubuh yang tengah duduk menghadap ke arah laut pantai selatan. Melihat posisinya, sosok yang ternyata adalah seorang pemuda berambut kemerahan itu tengah melakukan semadi. Melihat soso

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 24

    Pendekar Sinting mengulang semadi singkatnya. Sewaktu dua cakar Perempuan Pengumpul Bangkai hendak merobek tenggorokannya, Pendekar Sinting telah siap kembali. Bahkan pandangannya dapat lebih jernih dan tajam dari sebelum terkena pengaruh tenung lawan. Dia bergerak sigap satu tindak ke samping.

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 23

    "Menurut Eyang Guru, hanya murid kita yang bisa menghadapinya. Biarkan dia sendiri. Aku percaya pada kesanggupan Cah Sinting kita itu! He he he!"Sementara Dongdongka tertawa, Ki Kusumo cuma bisa mengernyitkan kening. Bagaimana orang tua ini masih sempat tertawa pada saat-saat demikian gen

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 22

    Itu sebabnya, pukulan Perempuan Pengumpul Bangkai di Wadaslintang tak berakibat parah terhadap diri Tresnasari. Kebetulan, pukulan itu adalah salah satu ilmu tenaga dalam yang dicurinya."Tresna, bawalah Mayangseruni menyingkir dari tempat ini!" seru Pendekar Sinting, mengimbangi ancaman s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status