Beranda / Fantasi / Pendekar Sinting dari Laut Selatan / 62. Part 18 (Cemeti Laut Selatan)

Share

62. Part 18 (Cemeti Laut Selatan)

last update Tanggal publikasi: 2025-11-01 01:02:57

"Aku tidak menyuruhmu memanjat seperti kunyuk kurang makan, Cah sinting!!" Teriak Dongdongka sengit.

"Tapi tadi Kakek menyuruhku memetik kelapa, bukan?"

"Iya, tapi tidak dengan cara seperti itu!"

Angon Luwak menggaruk-garuk kepala.

Bingung juga dia. Disuruh memetik buah kelapa, tapi dilarang memanjat. Jadi harus bagaimana. Memelototinya sampai buah kelapa berjatuhan sendiri? Ah, itu sih bukan 'sinting' pura-pura lagi. itu sinting benaran!

"Jangan cuma garuk-

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   283. Part 6

    Matahari senja belum lagi beranjak ke bilik peraduannya ketika hujan gerimis turun rintik-rintik. Dalam bangunan bundar suasananya hingar bingar jauh berbeda dengan keadaan diluar yang sunyi mencekam.Ratusan Lebah Kepala Hati Berbunga nampak sibuk membangun bilik-bilik kamar baru dalam ukuran yang sangat besar. Kegunaan bilik yang dibangun oleh kawanan lebah itu adalah untuk membesarkan setiap bayi yang baru saja dilahirkan oleh para gadis yang pernah bercinta dengan sang pangeran.Walau Pangeran Durjana tinggal menetap di dalam bangunan yang sama. Namun kamar yang ditempatinya jauh agak terpisah dari tempat pembesaran anak-anaknya. Melihat perkembangan dan kelahiran bayi-bayi baru yang terlahir dari para gadis yang diculiknya. Pangeran Durjana merasa lega. Tapi segala apa yang dia capai belum memuaskan hatinya. Tidaklah mengherankan. Ketika hari beranjak malam, Pangeran Durjana menemui dua orang kepercayaannya yang tak lain adalah sepasang suami istri yang dikenal de

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   282. Part 5

    "Bagus. Apakah kau juga pernah mendengar sebuah senjata sakti. Senjata itu adalah Raja dari segala pedang yang pernah ada di dunia persilatan ini.” Tanya Danyang Sepuh. Kabut Hitam anggukkan kepala."Ya. Kudengar dulu prabu Sangga Langit punya senjata sakti luar biasa berupa pedang aneh bernama Pedang Laut Selatan.”"Yang kau dengar tidak berlebihan. Senjata itu sekarang ada pada Pendekar Sinting.” terang Danyang Sepuh."Danyang Sepuh. Aku kagum padamu. Saya tahu kau tak penah pergi kemana-mana. Tapi diluar dugaan kau banyak menyirap kabar diluar sana""Kau tak usah memuji Kabut Hitam. Lebih baik cari pemuda itu. Temui dia.”"Bila telah bertemu apa yang harus aku lakukan?""Bila bertemu, kau dan dia harus saling bantu dalam melenyapkan Pangeran Durjana dan para pengikutnya.”"Tapi... aku tidak yakin dia bisa menerima kehadiranku. Mahluk dalam ujud sepertiku tak pantas bertemu dengannya.” kata Kabut

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   281. Part 4

    "Tidak! Kau harus mengatakan sembilan syarat yang harus saya lakukan Danyang Sepuh. Aku tidak ragu lagi. Dan aku tetap ingin bebas dari segala kutuk yang menimpa diriku.”Danyang Sepuh menghela nafas pendek. Bibir mengulum senyum namun dengan bersungguh-sungguh dia berujar.”Sembilan syarat yang harus kau kerjakan tidak semuanya kusebutkan saat ini. Nanti bila satu tugas berhasil kau selesaikan dengan baik, aku yang akan datang menemuimu dan mengatakan syarat berikutnya yang harus kau penuhi. Untuk sekarang ini, cukup dua syarat yang harus kau kerjakan.”Walau dalam hati Kabut Hitam merasa kurang setuju dengan penjelasan Danyang Sepuh, dia tak berani membantah."Katakan dua syarat yang harus kupenuhi itu?" desak Kabut Hitam tidak sabar."Syarat ini sebenarnya berupa dua tugas penting. Bila kau dapat melakukannya dengan baik maka kau punya hak untuk menerima syarat yang ketiga dan seterusnya.”"Katakan saja mudah-mudahan aku b

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   280. Part 3

    Kabut Hitam tundukan kepala."Saya masih ingat Danyang Sepuh.” Jawab Kabut Hitam. Sang anjing diam sejenak seakan merenung namun kemudian cepat merenungkan ucapannya."Awalnya saya merasa sebagai orang yang paling sakti dan menjadi orang yang selalu ingin tahu segala rahasia. Kemudian dengan kesaktian yang saya miliki saya pergi ke langit, berkeinginan ingin mengetahui rahasia pembicaraan para dewa terhadap kehidupan di bumi. Para dewa mengetahui kehadiran saya. Lalu bukan keinginan yang saya dapatkan, sebaliknya saya malah menuai celaka. Bukan hanya itu. Beberapa kesaktian saya termasuk kekuatan saya terbang menembus tiga lapis langit dimusnahkan para dewa Kembali ke bumi dalam keadaan dikutuk.”"Bagi saya hanya melahirkan penyesalan yang panjang.” Kata kabut hitam dengan mata berkaca-kaca."Sekarang agaknya kau telah sadarkan diri diatas langit masih ada langit. Diatas ilmu diatas kesaktian masih ada kesaktian yang jauh lebih tinggi la

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   279. Part 2

    Wuus! wuust!Delapan mahluk lenyap seketika berubah menjadi kepulan asap tipis berwarna hitam. Kepulan asap bergulung-gulung memenuhi udara lalu menguap bagaikan embun dipagi hari.Kesunyian mencekam kembali menyelimuti telaga. Tapi suasana mencekam tidak berlangsung lama. Suara raung dan lolongan merobek sunyi. Angin bertiup kencang. Dari arah selatan telaga mendadak terdengar pula suara bergemuruh selayaknya suara mahkluk besar dan berat berlari kencang. Semakin dekat suara langkah bergemuruh memasuki kawasan telaga ,disekeliling telaga berguncang keras. Karena guncangan pada permukaan tanah semakin menghebat, sayup-sayup terdengar suara seruan dari kuncup bunga teratai yang berada di tengah telaga itu."Kabut hitam. Jangan membuat kekacauan di daerah kekuasaanku. Suara langkah kakimu menimbulkan rasa tidak suka dihati para danyang yang lain.”"Hauuung! Maafkan saya danyang sepuh yang berdiam menetap di kuncup bunga teratai kesayangan dewa. Saya i

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   278. UTUSAN PANGERAN DURJANA

    DI KAWASAN hutan rimba Ciandur yang dikenal angker ada sebuah telaga luas bernama telaga Warna. Sesuai namanya bila siang hari warna air telaga hitam pekat seperti jelaga. Sebaliknya bila hari beranjak malam warna hitam air telaga berubah menjadi bening berkilau seperti Mutiara.Telaga Warna yang terletak di tengah hutan itu airnya tak pernah surut dimusim kemarau dan tidak pernah meluap dimusim penghujan. Banyak penduduk yang berdiam diluar kawasan hutan yang tahu air telaga Warna bila diambil pada malam hari dapat dipergunakan untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit.Sayangnya walau air telaga Warna mempunyai khasiat luar biasa untuk menyembuhkan. Sejauh itu tak seorang penduduk setempat yang berani datang ke telaga itu. Jangankan mendatangi telaga di tengah hutan, memasuki bagian tepi hutan untuk sekedar mencari kayu bakar sekalipun penduduk tak punya nyali. Dulu ketika wabah melanda salah satu desa terdekat memang ada beberapa orang yang berlaku nekat mendatangi

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   4. Muda Mudi Perkasa

    "Biar tahu rasa kau!"Terdengar bentakan dari si penyerang gelap. Siapa lagi kalau bukan Angon Luwak? Menyaksikan cara menyerang si bocah yang begitu konyol, mendadak saja terurailah tawa kecil Tresnasari."Hi-hi-hi!"Ditertawakan begitu, Angon Luwak jadi tersinggung. Sudah ditolong kok malah mener

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   3. Keberanian

    Dia sebenarnya tidak ngeri pada pelototan mata bocah ayu itu. Sebaliknya, Angon Luwak malah jadi senang bukan alang kepalang. Hanya saja dia tak tahu, kenapa merasa berdebar-debar.Biasalah, cinta monyet! Saking gugupnya, tak sengaja dia menginjak jempol kaki Pale Tua pemilik warung.Untung lelaki

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   6. Bertemu Kembali

    Hari makin tua.Sinar merah tembaganya meredup dan terengah-engah. Matahari terkapar disudut barat bumi. Di batas Kadipaten Ketawang, dua perempuan berjalan perlahan menuju arah matahari tenggelam. Mereka adalah Nyai Cemarawangi dan anaknya, Tresnasari."Kita membutuhkan kuda untuk sampai di Jogobo

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   5. Ki Kusumo

    TEMPAT keributan kembali tenang. Beberapa orang yang menjadi penonton kejadian memulai kembali kegiatan masing-masing. Sementara si perempuan berpakaian silat warna ungu mendekati anak gadisnya."Kapan kau mempelajari gerakan secepat itu, Anakku?" Tanyanya, ingin tahu bagaimana anaknya bisa bergera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status