แชร์

Pertemuan Tak Terduga

ผู้เขียน: Rana Semitha
last update วันที่เผยแพร่: 2022-05-06 17:10:07

Di tengah kegelapan malam yang hanya disinari rembulan, Surya Yudha terus melangkah untuk mencari hewan buruan. Matanya terus mengedar, pendengarannya terus ditajamkan, kewaspadaannya tak turun sedikit pun. Selain itu, tangan kanannya selalu memegang gagang pedang dengan tangan kiri mencengkeram erat selongsongnya.

Tak jauh dari tempat Surya Yudha berdiri, terdengar suara gemerisik yang berasal dari balik semak-semak. Senyum licik tersimpul di bibir Surya Yudha sebelum pemuda itu melangkah memburu hewan buruannya.

Dengan perlahan Surya Yudha menyibak semak-semak di hadapannya.

Bruk!

Sebuah hewan sebesar anak gajah menerjang Surya Yudha hingga pemuda itu tersungkur. Tanpa memberi kesempatan untuk lawannya bangkit, hewan tersebut kembali menerjang dan menendang tubuh Surya Yudha hingga tersungkur beberapa langkah dari tempat sebelumnya.

Surya Yudha menarik pedang dari selongsong dan menghunuskan ke tubuh hewan yang menyerangnya. Seekor babi hutan dewasa yang menyerangnya dengan membabi buta.

Sebuah tebasan berhasil mendarat di perut babi hutan tetapi tak merobohkannya, bahkan membuatnya menjadi lebih brutal dalam menyerang.

Surya Yudha kembali menebas tubuh si babi, kali ini dengan kekuatan penuhnya yang sebatas manusia biasa, tanpa disertai tenaga dalam sedikitpun.

Darah segar mengalir dari bekas tebasan tersebut, di mana luka tersebut lebih dalam dari sebelumnya. Terdengar babi tersebut menguik dengan suara yang melengking.

Surya Yudha melebarkan matanya karena babi tersebut seperti marah padanya karena telah melukainya. Sepanjang hidupnya, Surya Yudha tak pernah setakut ini ketika menghadapi hewan liar terutama jenis babi. Di banyak kesempatan sebelumnya dia bisa menghadapi babi dengan satu tebasan yang membuat nyawa hewan tersebut melayang. Namun, kali ini dirinya berada di pihak yang tak menguntungkan.

"Berhasil selamat dari kematian, apa aku harus mati di tangan babi busuk ini?" gumam Surya Yudha saat menyaksikan babi itu perlahan maju dan mengeluarkan aura intimidasi yang menakutkan.

Keringat dingin membasahi kening dan punggung Surya Yudha, menandakan pemuda itu sedang berada dalam puncak kecemasannya. Menghadapi seratus pasukan di beberapa waktu sebelumnya lebih mudah dibanding menghadapi babi saat ini.

Saat babi tersebut menerjang dengan kekuatan penuhnya, Surya Yudha memejamkan mata seperti pasrah dengan hasil akhirnya.

Namun, tak seperti yang ada dalam pikiran Surya Yudha. Saat dirinya menutup mata, terdengar suara jeritan yang keluar dari mulut babi, jeritan yang terdengar menyayat hati seperti seseorang yang sedang menghadapi ajal dengan perlahan. Cairan hangat berbau anyir menyiprat tepat ke wajah Surya Yudha dan membuat pemuda itu terkejut.

Belum sempat Surya Yudha membuka mata, telinganya menangkap suara yang lembut tetapi menusuk di telinganya, terdengar merdu sekaligus mematikan. "Pria bodoh! Kau sungguh menunggu kematian, huh? Pengecut!"

Tergagap, Surya Yudha membuka matanya dan melihat seorang gadis yang menggunakan pakaian berwarna coklat muda, cocok dengan kulit putihnya yang tampak mulus tengah mengacungkan pedang ke arahnya.

"A-aku ...." Belum sempat Surya Yudha menyelesaikan kalimatnya, gadis itu sudah berpaling dan berjalan meninggalkan Surya Yudha.

Surya Yudha menyarungkan pedangnya dan mengejar penyelamatnya dengan berlari. Namun, gadis itu seperti menggunakan ilmu meringankan tubuh dan menghilang saat di balik semak-semak.

Menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Surya Yudha berdecak kesal karena kehilangan jejak. Surya Yudha kecewa dengan dirinya sekarang yang tak mampu mengeluarkan tenaga dalam. "Sungguh payah. Mengejar wanita saja tak mampu."

Beberapa saat meratapi nasibnya yang malang, Surya Yudha tersadar jika eyangnya sedang menunggu, saat ini pasti dia sedang mengkhawatirkan dia karena belum juga kembali.

Dengan langkah panjang tanpa keraguan, Surya Yudha kembali ke arah babi hutan itu tergeletak dan menggendongnya di punggung.

Ingatan kuat yang dimiliki Surya Yudha membantunya sampai di tempat Arya Saloka berada dalam waktu yang cukup singkat. Dengan senyum kebahagiaan di wajahnya, Surya Yudha melemparkan babi itu dengan penuh semangat.

"Aku mendapat buruan besar!" Surya Yudha berteriak kesenangan.

Ki Arya Saloka melirik babi tersebut kemudian memperhatikan napas cucunya yang memburu. "Apa terjadi sesuatu? Kau diserang?"

Surya Yudha dengan cepat menggeleng dan menenangkan Ki Arya Saloka dengan menjelaskan jika dia baik-baik saja.

Terdengar dengusan pelan dari mulut ki Arya Saloka, "Kau bisa membohongi ayahmu, tetapi tidak padaku dan ibumu. Mengerti?"

"Eyang, aku sungguh baik-baik saja. Babi ini memang menyerang tapi aku bisa mengatasinya." Surya Yudha terus menenangkan Ki Arya Saloka dan memastikan jika kondisinya baik-baik saja.

Tak ingin menghabiskan waktu dengan berdebat, Ki Arysa Saloka mengalah dan mulai mengolah babi itu menjadi babi bakar.

Aroma harum yang menggoda membuat perut Surya Yudha berbunyi semakin keras dari waktu ke waktu. Ki Arya Saloka tersenyum kecil sementara Surya Yudha wajahnya memerah menahan malu.

Sembari menunggu daging itu matang, Ki Arya Saloka mengeluarkan sebuah pakaian bersih milik Surya Yudha dari cincin penyimpanan dan meminta pemuda itu mengganti pakaiannya yang basah oleh darah.

"Eyang, di dekat sini ada sungai kecil, aku ingin membersihkan diri sebentar," ucap Surya Yudha.

Ki Arya Saloka mengangguk pelan, "hati-hati."

"Iya, Eyang." Surya Yudha bangkit dan berpaling meninggalkan Ki Arya Saloka menuju sebuah sungai kecil yang tak sengaja ia lihat saat tadi sedang mencari buruan.

Beberapa waktu Surya Yudha habiskan untuk sampai di sungai tersebut. Tanpa memperhatikan sekitar, Surya Yudha mencari tempat yang tepat untuk membersihkan diri.

Dengan bersenandung lirih, Surya Yudha melepaskan pakaian dan membasuh tubuhnya yang lengket karena darah babi. Saat dia sedang asyik membersihkan diri, terdengar gemericik air serta senandung lirih tak jauh dari belakngnya. Ketika Surya Yudha menoleh untuk memeriksa keadaan, pupil matanya melebar dan mulutnya tak bisa menutup, sebuah keindahan yang tak pernah Surya Yudha lihat sebelumnya kini terpampang jelas di depan mata.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 177 - End

    Bab 177Setelah jamuan makan malam berakhir, Gendon menghadap ki Arya Saloka di ruangan nya.“Guru.”“Duduk Ndon.”Gendon mengangguk dan duduk di hadapan Ki Arya Saloka.“Bagaimana? Kau siap dengan pernikahan ini?”“Hihihi … siap Guru. Dadakan nggak papa, Gendon tetep bahagia kok,” ucap Gendon dengan senyum lebar.Ki Arya Saloka mengangguk pelan, wajahnya tampak berat saat menatap muridnya itu. Perasaan bersalah muncul di hatinya.“Gendon, kau tidak ingin menanyakan apa-apa?”“Tanya apa Guru?” tanya Gendon dengan kening berkerut.“Tentang kedua orang tuamu, kau tidak ingin menanyakan apa-apa?”“Hmm … Gendon sebenarnya pengin tanya, tapi Gendon takut kalo ucapan Gendon nantinya bakal nyakitin Guru.”“Katakan saja, aku tidak akan marah padamu.”“Guru kok jahat banget sih nggak ngasih tau Gendon kalo yang minta habisin keluarga Gendon itu Raja? Karena Gendon nggak tau, jadi kemarin Gendon marah tau ke Den Bagus. Gendon pikir dalang utamanya itu mantunya Guru lho.”Ki Arya Saloka menarik

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 176

    Bab 176Esok harinya, tak lama setelah matahari terbit, Tumenggung Adhyaksa melepas rombongan Surya Yudha dan lainnya dari kota Batu Ceper. Rombongan tersebut tidak begitu besar, hanya berisi beberapa orang yang berasal dari kediaman Ki Arya Saloka.Surya Yudha dan Ningrum menunggang kuda yang sama yaitu Bintang, sementara yang lainnya menunggang kuda masing masing. Hanya Ki Arya Saloka, Dewi Mayangsari dan Sekar yang menuaiki kereta kuda.Setelah hari hari panjang yang melelahkan, akhirnya mereka sampai di kediaman Ki Arya Saloka. Surya Yudha menatap tempat ini dengan tatapan takjub, terakhir kali dia datang ke tempat ini, rumah ini sedikit lebih kecil dibanding sekarang.“Eyang, sejak kapan rumah ini menjadi sebesar ini, Ayah?” Tanya Dewi Mayangsari yang terkejut melihat rumah Ki Arya Saloka.“Sejak kapan? Kau mengatakan itu seolah sudah sewindu tidak mengunjungi tempat ini,” balas Ki Arya saloka.Dewi Mayangsari terkekeh.“Memang berapa lama aku pergi? Setahun? Dua tahun?”Ki Arya

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 175

    Bab 175Setelah jamuan malam itu berakhir, Ki Arya Saloka mengajak Ki Antasena bekerja sama. Dengan menggunakan merpati pos, mereka menghubungi semua relasi yang bisa membantu menyelesaikan masalah ini. Dan sebelum matahari terbit, apa yang mereka lakukan sudah membuahkan hasil. Ada puluhan orang yang sudah mengantri di gerbang kota Batu Ceper. Mereka adalah utusan-utusan orang yang dihubungi oleh Ki Antasena dan Ki Arya Saloka.Di pusat kota Batu Ceper, Panggung yang begitu megah sudah rampung hanya dalam waktu satu hari. Tak hanya itu, pakaian pengantin yang biasanya selesai lama pun rampung dalam waktu tiga hari saja.Ki Arya Saloka mengawasi semuanya karena tidak ingin terjadi kesalahan sedikit pun. Dan pada matahari tenggelam di hari keempat, semua persiapan sudah selesai. Tamu-tamu dari jauh sudah mulai berdatangan sejak hari kelima, membuat seluruh penginapan di kota Batu Ceper penuh.Hingga akhirnya, hari yang dinanti pun tiba. Surya Yudha dan Ningrum berdiri di altar pernikah

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 174

    Bab 174Mendengar jawaban sang ayah, Ningrum mengangguk. berita sebesar itu pasti sudah tersebar ke segala penjuru negeri. Apalagi dengan statusnya sebagai penguasa kota, Tumenggung Adhyaksa pasti sudah mendengar kabar ini lebih cepat dibanding yang lain.Tumenggung Adhyaksa menyapa Dewi Mayangsari begitu melihat wanita tersebut keluar dari kereta kuda.“Nyonya, saya turut berduka cita atas gugurnya Panglima Besar Indra Yudha.”“Terima kasih, Tuan Adhyaksa. Kedatanganku kali ini tidak untuk basa basi, aku ingin membicarakan tentang pernikahan Surya dan Ningrum,” ucap Dewi Mayangsari lugas. Puluhan tahun hidup sebagai istri seorang prajurit, Dewi Mayangsari juga ikut menjadi sosok yang lugas.Tumenggung Adhyaksa mengangguk, hal ini sudah sesuai dengan prediksi Ki Arya Saloka dan Ki Antasena yang sudah datang sejak kemarin.“Kami sudah menyiapkan paviliun untuk Anda istirahat, pembahasan tentang pernikahan Surya dan Ningrum bisa kita lakukan ketika jamuan malam, Nyonya.”Dewi Mayangsari

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 173

    Bab 173Malam itu, Surya Yudha meminum arak hingga perut mereka kembung. Dengan kekuatan mereka sekarang, minum belasan guci arak pun tidak akan membuat mereka mabuk. Hingga pagi menjelang, keduanya masih minum-minum.Sekar yang bangun pertama kali, segera mengeluh karena aroma arak yang begitu menyengat padahal mereka sedang berada di alam terbuka.“Pagi-pagi kenapa bau arak sekali?” keluh Sekar mendekati Surya Yudha dan Gendon.“Semalem dingin, Dek Sekar, jadi kita minum-minum biar anget,” jawab Gendon mencari alasan.“Dingin? Apa kalian becanda? Aku yang manusia biasa bahkan tidak meraa kedinginan, bagaimana kalian para pendekar bisa selemah itu?”Gendon menggaruk kepalanya yang tak gatal ketika menyadari jika alasannya tidak masuk akal sama sekali.“Iya iya, Gendon sama Den Bagus tadi Cuma seneng-seneng.”“Ndon, bukannya aku sudah bilang, berhenti memanggilku Den Bagus?”“Lah, susah banget tau Den eh Kakang,” balas Gendon dengan bibir mengerucut.Surya Yudha tersenyum nakal. Meman

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 172

    Bab 172Malam itu, wanita dalam rombongan istirahat lebih awal karena besok perjalanan masih panjang. Surya Yudha dan Gendon berjaga karena khawatir ada hewan buas yang mendekat. Dengan kemampuan yang mereka miliki sekarang, terus berjaga selama seminggu penuh pun tidak akan mengurangi kemampuan mereka.Surya Yudha menatap bara api unggun di depannya. Ada banyak hal yang terngiang di kepalanya, terlalu banyak hingga dia sendiri pun bingung bagaimana mengolahnya.“Den Bagus, jangan ngelamun, ntar kesambet,” celetuk Gendon memecahkan keheningan.Surya Yudha menunduk lantas menoleh kepada sahabatnya itu.“Maaf, Ndon,” ucap Surya Yudha dengan suara parau.“Maaf kenapa, Den bagus?”“Maaf karena ayahku yang menghancurkan keluargamu, maaf karena dulu aku tidak memperlakukanmu dengan baik, maaf karena dulu aku selalu mengusirmu,” ucap Surya Yudha dengan suara bergetar. Rasanya dia tidak mampu menatap wajah sahabatnya itu.Gendon menepuk pundak Surya Yudha.“Kan Gendon udah bilang, kita itu Cu

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 144

    Bab 144Surya Yuda terkekeh mendengar ucapan Tumenggung Wanayasa. “Untung saja kau bertemu denganku sekarang, jika kau bertemu denganku yang dulu, kepalamu sudah pasti terlepas dari leher.”“Keluargamu pasti berkuasa, tetapi ini adalah Jalu Pangguruh. Kau tidak bisa sembarangan membunuh di empat i

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-03
  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 142

    Bab 142Surya Yudha membawa mangkuk berisi sup ikan dan membawanya kepada Surya Yudha. “Bukannya aku tidak bisa bermesraan, tapi aku tidak terbiasa.”“Kau pikir aku akan percaya?”Gendon ikut menyahut, “Pas sama Dek Rengganis di saung itu apa hayo?”Surya Yudha melirik Gendon dengan tatapan tajam.

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-03
  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 146

    Bab 146“Kau benar-benar tega?”“Lagian Den Bagus ngeselin, ngeledekin Gendon terus.”“Kalian sedang bertarung dengan Tedung Sukma, beraninya kalian mengalihkan perhatian!”Surya Yudha menoleh dan tertawa sinis. “Hahaha … kalian sudah meracuniku, tapi bahkan belum bisa menyentuh ujung jubahku. Untu

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-03
  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 135

    Bab 135Gendon mengusap wajahnya frustrasi. Baik jawaban Ningrum maupun Candrika, keduanya membuat kepalanya sakit. Surya Yudha juga hanya bisa menghela napas pelan, dia tidak tahu harus tertawa atau menangis saat mendengar jawaban kedua gadis itu. Akhirnya dia hanya bisa menepuk pundak Gendon dan

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-02
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status