Share

Bab 3 Hancur lebur

Author: Haryadi
last update Last Updated: 2025-11-30 16:03:09

Setibanya diwilayah keluarga Sena. Bahureksa menekan tenaga dalamnya agar kehadirannya tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Dari kejauhan tampak asap masih membumbung tinggi menambah hatinya semakin was was. Bahureksa menambah kecepatan nya untuk sampai ke kediaman Braja Sena.

Setibanya disana Bahureksa kemudian mengamati keadaan. Rumah anaknya sudah hancur lebur bahkan rata dengan tanah. Sedangkan bangunan lainnya masih tampak mengeluarkan asap. Hati Bahureksa semakin geram melihat banyak mayat mayat yang bergelimpangan disana yang dia kenali sebagai pelayan dirumah keluarga Sena.

"Perbuatan keji siapa ini?"Batin Bahureksa sambil mengepalkan tangannya.

Pendengaran yang tajam samar samar mendengar suara erangan dari bangunan yang runtuh. Bahureksa pun berjalan mengarah kesana dengan hati hati. Semakin dekat semakin jelas suara itu.

"Tolong..tolong."Suara orang itu terdengar lemah karena tersiksa kakinya tertimpa tiang pancang rumah yang tidak terbakar.

"Karwo bertahanlah." Setelah Bahureksa mengenali orang itu sebagai salah satu orang pelayannya yang bekerja pada keluarga Sena. Bahureksa berusaha mengangkat tiang pancang itu dan membawa Karwo kearah pepohonan yang cukup rindang.

"Tuan..tuan Bahureksa. Syukurlah. Maafkan kami tuan. Kami tidak dapat melindungi Tuan Braja Sena." ucap Karwo berbicara tersendat.

"Sekarang kemana tuanmu?" tanya Bahureksa tetap berusaha untuk menyalurkan hawa murninya kepada Karwo.

"Tuan Braja dan Nyonya Nilam bertarung dengan orang orang bertopeng hingga hutan sebelah timur tuan. ' jawab Karwo.

Barureksa kemudian terdiam dan fokus kepada pengobatan Karwo. Karena luka nya terlalu parah dan memang Karwo bukan dari kalangan pendekar akhirnya dia menghembuskan napas terakhirnya. Bahureksa menarik napas panjang. Namun tiba tiba dari kejauhan berkelebat sekitar dua puluh orang menuju arahnya.

Bahureksa masih berada disamping jasad ketika dua puluh dengan mengenakan topeng mengepungnya.

"Menyerahlah Barureksa dan serahkan Tombak Naga Hitam itu kepada kami atau kalau tidak kau akan bernasib sama dengan orang yang berada di sampingmu..hahaha."ucap salah satu orang bertopeng itu.

Bahureksa mengeram menahan amarah.

"Jangan harap." ucap Bahureksa kemudian mencabut pedangnya dan menyerang kedua puluh orang itu dengan seluruh kemampuannya.

"Orang tua tidak tahu diuntung." balas orang itu.

"Serang, Jangan beri ampun."

Awalnya mereka sangat percaya diri menghadapi Bahureksa, namun keadaan berubah ketika Bahureksa dengan jurus jurus yang disertai tenaga dalam tinggi dan kecepatan luar biasa dapat menghadapi mereka. Bahkan dalam sekali serangan Bahureksa berhasil menewaskan lima orang lawannya.

"Tak kusangka orang tua itu masih seperti dulu. Jurus jurus pedangnya begitu mematikan."batin orang bertopeng. yang memimpin kesembilan belas anak buahnya.

Bahureksa kembali memainkan jurus pedangnya. setiap gerakan pedang mengincar titik titik vital. Rambut yang sudah memutih berkibar mengikuti gerakan pedangnya. Disatu kesempatan Bahureksa menggunakan jurus Pedang Mengeser Bumi mengincar urat besar kaki lawan.

Bugh! Bugh!Bugh!

Tiga lawan berjatuhan sekaligus urat besar kedua kaki nya putus hingga tidak dapat lagi menopang tubuhnya. Satu persatu lawan berjatuhan dengan urat tubuhnya yang terputus.

"Aku tidak bisa tinggal diam." batin pemimpin orang bertopeng itu. Kemudian dia melesat menyerang Bahureksa.

Bahureksa yang merasakan angin serangan dari samping sedikit berkelit menghindari serangan itu. Lawannya geram ketika serangan dapat dihindari.Disaat yang sama Behureksa menyerang balik dengan membabatkan pedangnya kearah perut lawan.

Tang!

Percikan api terjadi ketika dua pedang itu beradu. Namun lawan sangat terkejut ketika pedang Bahureksa berhasil mendorongnya hingga lima langkah.

"Tenaga dalam orang tua ini cukup tinggi." batin orang bertopeng itu.

"Jangan bengong, lihat pedang." Ucap Bahureksa. Kemudian dia mengayunkan pedangnya. Anehnya pedang Bahureksa sekarang seperti mempunyai banyak bilah. Ada empat bilah pedang menyerang lawannya. Membuat orang bertopeng itu cukup kaget. Dia harus segera memutuskan akan menangkis bilah pedang yang mana karena semua tampak sama.

Ketika dia menangkis bilah pedang yang menyerang dari samping kanannya ternyata itu hanya tipuan.

Bret! Bret!

Sisi kiri tubuhnya terkena Sambaran ujung pedang Bahureksa.

"Kali ini aku masih berbelas kasihan, hanya bajumu yang terkoyak. Cepat katakan siapa yang memerintahkan kalian untuk menyerang dan membunuh keluarga anakku Braja Sena?" tanya Bahureksa dengan nada tegas dan tatapan mata yang tajam.

"Cuih..kau pikir jurus pedang mainanmu bisa menggertak kami pak tua.. hahaha. Kami diperintahkan tidak hanya membunuh keluargamu saja tapi semua keluarga Sena." Ucap orang tua itu.

"Baiklah kalau begitu. Tidak gunanya untuk berbasa basi." Ucap Bahureksa. Sesaat setelah Itu. Tubuh Bahureksa mengeluarkan asap tipis putih. Pedangnya bergetar, kemudian Bahureksa memegang pedang dengan ujung pedang mengarah ketanah. Melepaskan nya dan pedang itu seperti masuk kedalam tanah.

Tanah disekitar Bahureksan mulai bergetar. Lawannya yang masih tersisa terlihat pucat dan mulai mundur beberapa langkah termasuk pemimpin orang bertopeng itu..

"Jurus Seribu Pedang." Ucap Bahureksa lirih.

Tiba tiba pedang yang serupa dengan pedang Bahureksa bermunculan dari tanah dan melayang diudara.

"Mundur". Teriak salah satu orang bertopeng itu.

Namun terlambat Bahureksa hanya menggerakkan tangannya untuk mengatur pedang yang melayang itu.

Belasan bahkan puluhan pedang mengincar masing lawannya. Dengan panik lawannya mencoba menangkis pedang pedang itu. Betapapun mereka berusaha namun tetap saja pedang Bahureksa bersarang ditubuh mereka.

Tinggal pemimpin yang terakhir berdiri dikepung oleh pedang Bahureksa.

"Inikah jurus yang melegenda dari Bahureksa Sena." batin orang itu.

"Ini yang terkahir, katakan siapa yang memerintahkan kalian membunuh keluarga anakku.?" Ucap Bahureksa berjalan kearah orang itu dengan perlahan seakan memainkan emosi dari lawan.

Lima langkah Bahureksa berhenti didepan orang itu.

"Asal kau tau walaupun aku mati. aku tidak akan mengatakan siapa yang menyuruh kami. Kami sudah bersumpah."ucap orang itu dengan tegas.

Tanpa berkata kata lagi Bahureksa menjentikan jari dan seluruh pedang itu menyerang pemimpin orang bertopeng itu.

Akhh!.

Jentikan jari yang kedua membuat pedang pedang yang menancap ditubuh lawannya yang sudah tidak bernyawa menguap ke udara yang tersisa hanya satu pedang Bahureksa yang masih menancap.

Bahureksa mengangkat tangan kanannya dan pedang nya melesat kegenggaman tangan kanannya.

Bahureksa selanjutnya melesat ke arah hutan timur seperti yang dikatakan Karwo.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pendekar Tombak Naga Hitam   Bab 12 Menyelidiki Keluarga Sena 4

    "Kau..kau..orang yang menahan serangan kami sebelumnya." Ucap Daksa mencoba berdiri."Kalau kau kemari untuk meminta penawar racun untuk kedua temanmu kamu sia sia. Racun itu hanya guru kami yang tahu penawarnya." Lanjut Daksa menahan sakit yang berdenyut di dadanya namun disertai senyum sinis yang penuh arti."Bahkan mungkin kedua temanmu sudah mati membusuk." Timpal Sujana."Hehehe..dan kau pun sudah terkena racun kami saat kau bentrok dengan jurus kami. Sebentar lagi tubuhmu akan membusuk."Ucap Nyi Sunting."Kalian pikir racun kalian adalah racun yang terkuat? atau guru kalian tidak memberitahu kalian?" Satu sura muncul dibalik asap dan debu yang terbentuk dari bentrokan tenaga dalam tadi.Mata Tiga Racun Selatan membesar ketika melihat Arga masih tegak berdiri di depan mereka yang berjarak beberapa tombak."Bagaimana bisa? Racun itu sangat kuat bahkan hampir tidak ada orang yang selamat dari serangan kami." Gumam Daksa."Hahaha..kau hebat juga anak muda bisa bertahan dari serang

  • Pendekar Tombak Naga Hitam   Bab 11 Menyelidiki Keluarga Sena 3

    Arga tiba di depan rumahnya yang gelap gulita tanpa penerangan. Kemudian dia masuk kedalam rumah. Matanya yang terlatih dengan kegelapan dapat melihat dengan jelas setiap sudut rumahnya.Ingatan masa kecilnya mulai muncul dalam kepalanya. Bagaimana ayahnya Braja Sena yang berwibawa dan ibunya Nilam yang berhati lembut bermain dan memanjakannya.Namun lamunannya buyar ketika dia merasakan tiga pancaran energi dari kejauhan menuju tempatnya. Kemudian Arga Sena bergerak kesudut rumahnya yang gelap dan menekan pancaran tenaga dalamnya hingga tidak ada orang yang merasakannya.Tiga bayangan tiba di halaman rumah Arga Sena yang tidak lain adalah Tiga Racun Selatan."Huh..kenapa Ketua menyuruh kita kembali kerumah ini dan mencari benda yang belum kita ketahui bentuknya?" Ucap salah satu Tiga Racun Selatan yang paling muda yang bernama Sujana."Tenanglah Sujana Ketua pasti mengetahui yang kita tidak ketahui." Ucap perempuan dari Tiga Racun Selatan yang bernama Nyi Sunting."Kakang Daksa bagai

  • Pendekar Tombak Naga Hitam   Bab 10 Menyelidiki Keluarga Sena 2

    Dihalaman rumah Arga Sena.Tiga Racun Selatan dengan menggunakan sarung tangan yang mengandung racun jahat berkelebat menyerang kedua kakak beradik itu dengan gencar.wutt!Wutt! Wutt!Tiga sinar kemerahan yang berasal dari sarung tangan Tiga Racun Selatan saling berkelebat mengincar titik titik rawan dari Serigala Putih dan Walet Merah. Ruang gerak meraka semakin sempit. Serigala Putih dan Walet merah melompat sedikit menjauh kebelakang.Namun lawannya tidak memberikan kesempatan. Tiga larik sinar merak menyerang ke arah kedua nya.Bumm!Dua benturan tenaga dalam yang dibungkus dalam jurus andalan masing masing. Serigala Putih dan Walet Merah terjajar kebelakang beberapa langkah. Tampak darah meleleh dari sudut bibir meraka berdua menandakan luka dalam akibat benturan itu."Hahaha..hanya segitu kemampuan kalian. Tenaga dalam kalian berdua masih jauh dari kami bertiga. Sebutkan permintaan terakhir kalian karena sebentar lagi racun dari Jurus Sinar Racun Kematian akan memecahkan jantun

  • Pendekar Tombak Naga Hitam   Bab 9 Menyelidiki Keluarga Sena 1

    Setelah Arga menyelesaikan latihannya selama enam bulan di Gunung Suci dia kembali kediaman Wicaksana dan kedua kakeknya dengan ilmu Angin Es. Dengan tenaga dalam dan kekuatan yang dia miliki sekarang tentunya sangat berbeda dengan ilmu Angin Es sebelumnya.Ilmu Angin Es sekarang terasa lebih sempurna bahkan aura dingin yang keluar setiap menggunakan ilmu ini bisa ditekan sedemikian rupa sehingga orang lain tidak dapat merasakan kehadiran Arga.Hal itu tentu saja membuat Wicaksana,Bahureksa dan Candraka merasa lebih yakin pada kemampuan cucunya itu.Namun walaupun mereka yakin dengan kemampuan Arga tetap saja ketiga orang tua sakti itu tetap berat hati melepas Arga Sena untuk mengembara dan menyelediki pembantaian keluarga Sena. Pagi itu setelah Arga meninggalkan kediaman Wicakasana. Dengan saran dari Bahureksa agar Arga kembali kekediaman keluarga Sena untuk melihat keadaan rumahnya sekarang.Walaupun sudah belasan tahun terjadi namun samar samar Arga masih mengingat kejadian waktu i

  • Pendekar Tombak Naga Hitam   Bab 8 Menyatukan Kekuatan

    Arga berjalan perlahan kearah orang itu. Orang itu pun berdiri dan melihat ke arah Arga dengan tangan kanan membawa senjata berupa tombak sepanjang lengan orang dewasa."Selamat datang di alam awan merah Arga."Ucap orang itu penuh hormat."Suatu kehormatan aku dapat berada disini Tuan." Balas Arga."Tentunya Huraga sudah menceritakan mengenai keadaan alam ini bukan?"Ucap Orang itu."Ya tentu saja. Menceritakan keadaan alam ini dalam penerbangan yang cukup menyenangkan." Ucap Arga dengan tersenyum."Dan siapakah tuan ini?" Tanya Arga."Aku? Aku adalah esensi kekuatan Haruga. Naga Hitam yang tadi bersamamu adalah bentuk fisik sedangkan aku adalah esensi atau inti sari dari kekutan naga hitam. Kami saling ketergantungan dan hanya bisa disatukan oleh pewaris senjata ini." Ucap orang itu sambil menjunjukan tombak di tangan kanannya."Alam awan merah ini mengurung kami berdua agar tidak sembarang orang menggunakan kekuatan kami. Perlu kamu ketahui gumpalan awan ini bukanlah kumpulan awan bi

  • Pendekar Tombak Naga Hitam    Bab 7 Naga Hitam

    Wicaksana dan Arga memasuki goa itu dengan langkah perlahan. Aura kekuatan yang cukup besar sangat terasa mengintimasi seolah olah sedang mengenali orang asing yang memasuki goa itu.Dinding goa yang awalnya gelap mulai terlihat serabut sinar kekuningan mengikuti kedua orang itu.Setelah berjalan cukup lama tibalah mereka di tengah goa yang cukup luas. Sinar kekuningan seolah merayap pada setiap celah dinding goa. Dihadapan mereka ada dua pintu yang berbetuk setengah lingkaran namun cukup untuk dimasuki dua orang sekaligus.Satu pintu di kiri mengeluarkan cahaya biru kehitaman sedangkan pintu di kanan mengeluarkan cahaya merah kehitaman."Aku hanya sampai disini Arga, selanjutnya jalan takdirmu yang akan membimbingmu. Aku akan kembali ketempat kakekmu Bahureksa dan Candraka." Ucap Wicaksana kemudian masuk kedalam lingkaran cahaya yang dingin karena reaksi Ilmu Angin Es.Arga Sena berdiri diantara dua lubang pintu itu. Berpikir pintu mana yang akan dia masuki terlebih dahulu. Dia menari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status