تسجيل الدخولMobil melaju pelan di bawah langit yang mulai berubah warna. Senja turun perlahan, menyisakan cahaya keemasan yang memantul di kaca depan. Jalanan di perbatasan itu sepi.Kami sudah menyelesaikan semuanya.Keluarga saksi sudah aman. Identitas baru, tempat tinggal baru, dan pekerjaan baru.Dunia lama mereka perlahan ditinggalkan, meski luka itu jelas tidak akan pernah benar-benar hilang.Aku bersandar di kursi, menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadaku terasa tidak sesak.Reva duduk di sampingku. Diam seperti biasanya kalau pikirannya sedang penuh. Namun kali ini, diamnya berbeda.Aku meliriknya. “Capek?”Dia menggeleng pelan. “Bukan capek, cuma lagi mikir.”“Mikir apa?”Reva menoleh. Tatapannya tidak lagi setajam biasanya, lebih lembut dan lebih terbuka.“Kita udah sejauh ini ya.”Aku tersenyum tipis. “Iya. Dari yang awalnya hampir saling bunuh tiap briefing.”Dia mendengus kecil. “Itu karena lo nyebelin.”“Sekarang?”Reva tidak langsung jawab. Dia just
Putusan itu akhirnya jatuh, bersih, tegas, dan tidak menyisakan celah.Selira bebas.Ruang sidang riuh, tetapi bagiku semuanya terdengar seperti gema jauh yang tidak benar-benar penting lagi.Fokusku sudah berpindah sejak beberapa menit sebelumnya, bukan lagi ke hasil, tetapi ke konsekuensi. Karena setiap kemenangan seperti ini selalu ada harga yang harus segera dibayar.Aku keluar dari ruang sidang lebih dulu. Tidak ikut dalam momen haru. Bukan karena tidak peduli, justru karena terlalu paham bahwa pekerjaan kami belum selesai.Masih ada satu janji yang harus kutepati.Janji pada seseorang yang sudah tidak bisa menagihnya lagi.Di lorong belakang Arman sudah menunggu. Tangannya bersedekap, wajahnya datar tapi matanya langsung menangkap maksud kedatanganku.“Sudah diputus,” kataku singkat.“Saya tau,” jawabnya. “Tim kita di luar langsung kirim update.”Aku mengangguk. “Kita jalan sekarang.”Arman tidak banyak tanya. Hanya mengangguk sekali. “Reva di parkiran. Semua sudah siap.”Aku be
Beberapa hari setelah sidang itu, suasana belum benar-benar tenang. Setidaknya tidak di kepalaku.Kemenangan kecil yang kami dapatkan di ruang sidang terasa seperti ilusi tipis yang bisa runtuh kapan saja.Nama Rendra sudah terucap di depan semua orang, bukti sudah dipaparkan, dan saksi sudah bicara. Namun, aku tahu bahwa permainan seperti ini tidak akan berhenti hanya karena satu hari sidang.Dan aku benar.Pagi itu aku sedang berada di kantor, merapikan ulang berkas dan mencoba menyusun langkah berikutnya, ketika ponselku bergetar.Nomor dari rumah sakit. Dadaku langsung berdebar kencang.Aku menjawab cepat. “Ya.”“Pak Bagas…” Suara di seberang terdengar pelan, hati-hati, “kondisi saksi menurun. Kami butuh Anda ke sini.”Aku menutup mata sebentar. Nada itu… aku kenal.“Dia?” tanyaku singkat. Hening sepersekian detik.“Cepat.”Aku tidak menunggu dan langsung bergegas.Perjalanan ke rumah sakit terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan yang meledak-ledak seperti ma
PoV BagasUdara ruang sidang terasa berat sejak pertama kali aku melangkah masuk pagi itu. Bukan hanya karena panas yang menggantung tanpa ampun, tetapi karena suasana yang sudah lebih dulu dipenuhi bisik-bisik dan tatapan penuh rasa ingin tahu.Semua orang di ruangan itu tahu kalau hari ini bukan sidang biasa. Hari ini adalah titik balik.Aku berdiri di sisi ruang, sedikit di belakang meja pembelaan, dengan map tebal di tanganku. Isinya bukan sekadar berkas. Itu adalah kumpulan bukti yang kami kumpulkan dengan risiko yang tidak kecil, bahkan hampir merenggut nyawa seseorang.Seseorang yang pagi ini… harus tetap hidup.Hakim sudah duduk di kursinya. Wajahnya kaku, serius, tanpa banyak ekspresi.Palu sidang belum diketuk, tetapi seluruh ruangan sudah seperti ditahan napasnya.Jaksa berdiri lebih dulu, membacakan tuntutan dengan suara lantang, penuh keyakinan. Dan justru itu yang membuatnya terasa salah.Aku tidak fokus sepenuhnya pada kata-kata jaksa. Pikiranku sesekali melayang ke bel
PoV BagasHari berganti tanpa terasa, dan waktu seperti berlari lebih cepat dari yang seharusnya.Penyelidikan kasus Selira semakin dalam, semakin gelap, dan semakin berbahaya.Aku dan Raka mengumpulkan potongan demi potongan bukti. Kami seperti menyusun puzzle yang tidak boleh ada bagian yang hilang.Di tengah itu, tugas terberat justru bukan soal data, melainkan membangun kepercayaan Selira.Dia masih mempercayai Rendra, pria yang dulu menyelamatkannya dari keterpurukan, meski kini justru menjatuhkannya.Raka sempat frustrasi menghadapi sikap itu, tetapi aku tahu itu wajar.Kepercayaan tidak bisa dipaksa.Selira butuh waktu untuk melihat kebenaran sendiri, dan dari celah kecil keraguan itulah semuanya perlahan mulai berubah.Sementara itu, aku tetap bergerak di bawah radar. Di depan, aku terlihat seperti bagian dari sistem yang lambat. Seolah BNN tidak benar-benar menekan kasus ini.Padahal di balik itu, aku, Reva, dan Arman memainkan peran yang sama. Berpura-pura lemah agar lawan m
PoV BagasPagi datang lebih cepat dari yang kuharapkan.Aku sudah berada di kantor ketika matahari bahkan belum benar-benar tinggi. Udara masih terasa dingin, dan lorong gedung belum seramai biasanya.Beberapa staf lalu-lalang dengan langkah cepat, membawa berkas atau sekadar menyapa singkat. Namun, pikiranku masih tertinggal di malam sebelumnya.Tentang saksi itu.Tentang pengakuannya.Dan tentang satu nama yang kembali muncul, Rendra.Aku mendorong pintu ruang briefing dan langsung melihat Reva sudah ada di dalam. Dia berdiri di depan papan tulis, rambutnya diikat seadanya.Satu tangan memegang spidol, sementara tangannya yang lain memegang tablet. Beberapa titik dan garis sudah tergambar, menghubungkan satu kejadian ke kejadian lain.Reva menoleh begitu menyadari kehadir
Aku tidak pernah menyangka hidupku bisa menyempit sampai sebatas ruangan berdinding abu-abu.Di tempat ini, waktu terasa berjalan lebih lambat. Setiap jam seperti ditarik panjang, dan setiap hari harus kulewati dengan hati-hati.Aku belajar satu hal di sini:percaya pada orang lain bukan perkara mu
Malam itu bukan malam pertengkaran.Bukan juga malam penuh teriakan atau kata-kata kasar.Justru karena itulah ia membekas terlalu dalam.Aku berdiri di ruang tamu rumah mama mertua, tempat dimana kami tinggal slama 4 tahun ini. Semua terasa tenang dan dingin. Seperti keputusan yang sudah dipikirka
Dia datang di jam besuk yang tidak biasa. Bahkan sebelum namanya dipanggil, aku sudah merasa ada sesuatu yang berbeda hari itu.Udara di ruang besuk terasa lebih berat dan senyap. Seolah semua suara sengaja diturunkan volumenya agar aku bisa mendengar detak jantungku sendiri."Selira."Suara sipir
PoV RakaAku tidak pernah menyangka, hari ketika aku mulai benar-benar mencari kebenaran justru menjadi hari ketika seluruh duniaku runtuh... pelan-pelan, tanpa suara, tanpa peringatan.Malam itu aku masih duduk sendiri di kantor. Lampu neon di langit-langit menyala dingin. Menciptakan bayangan taj







