로그인Pagi itu udara terasa lebih berat dari biasanya.
Aku tahu, bahkan sebelum mataku terbuka, hari ini bukan hari biasa. Ada sesuatu yang menekan dada, seperti firasat yang tak bisa dijelaskan.
Di luar, langkah sepatu para sipir terdengar lebih ramai. Suara pintu besi dibuka-tutup bergema lebih sering dari hari-hari sebelumnya, seolah seluruh bangunan penjara ikut bersiap menyambut sesuatu yang besar.
Hari ini... aku akan dibawa ke ruang sidang.
Aku duduk di bangku kayu sempit ruang tahanan, mengenakan kemeja putih lusuh yang dipinjamkan petugas.
Rambutku disisir seadanya. Wajahku pucat, tapi aku memaksakan diri berdiri tegak. Bukan karena berani, melainkan karena aku tak ingin terlihat hancur sepenuhnya.
Saat borgol melingkar di pergelangan tanganku, dinginnya menjalar hingga ke tulang. Aku menelan ludah, menahan gemetar yang merambat perlahan ke seluruh tubuh.
"Jalan," kata petugas.
Aku melangkah.
Setiap langkah terasa seperti menyeret seluruh hidupku menuju penghakiman.
Begitu pintu ruang sidang dibuka, sorot lampu dan bisik-bisik langsung menyambut. Wartawan. Kamera. Orang-orang asing yang memandangku seolah aku tontonan.
"Sidang perkara pidana atas nama terdakwa Selira Wulandari binti Anwar dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua dengan suara lantang sambil mengetukkan palu satu kali.
Ruang sidang seketika hening.
"Saudari terdakwa, silakan berdiri."
Aku berdiri dengan langkah gemetar. Hakim menatapku tenang tetapi tegas.
"Sidang hari ini akan memeriksa pokok perkara terkait dugaan tindak pidana narkotika sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Kami ingatkan seluruh pihak untuk menjaga ketertiban selama persidangan berlangsung."
Suasana mendadak terasa berat, seolah setiap napas menjadi saksi.
"Selira! Benarkah Anda terlibat jaringan narkoba?"
"Apakah Anda hanya dijadikan kambing hitam?"
"Benarkah Anda mantan istri dari pengacara terkenal?"
Pertanyaan-pertanyaan itu menghantam seperti hujan batu. Aku menunduk, berusaha berjalan tanpa jatuh. Tapi kakiku gemetar.
Di sudut ruangan, aku melihatnya.
Raka, berdiri rapi dengan setelan hitam, wajahnya tegas, rahangnya mengeras. Tatapan kami bertemu sesaat... dan seketika dadaku seperti diremas.
Ia di sini.
Bukan sebagai mantan suami. Bukan sebagai pelindung. Tapi sebagai... pengacara.Aku duduk di kursi terdakwa, napasku berat. Tanganku berkeringat. Dari sudut mata, aku bisa merasakan pandangan semua orang tertuju padaku.
Ada yang penasaran.
Ada yang sinis.
Ada yang sudah memvonis.
"Sidang dibuka," suara palu hakim menggema.
Jaksa berdiri lebih dulu. Suaranya lantang, tegas, tanpa ragu.
"Yang Mulia, terdakwa Selira Wulandari binti Anwar diduga kuat terlibat dalam peredaran narkotika jenis sabu seberat dua kilogram yang ditemukan di rumah kontrakan yang ditempatinya. Barang bukti ditemukan di laci dapur terdakwa, lengkap dengan timbangan digital dan plastik klip."
Kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam kepalaku.
Aku ingin berteriak. Mengatakan aku tidak tahu apa-apa. Bahwa itu bukan milikku, tapi suaraku tercekat.
Jaksa melanjutkan dengan nada dingin, "Berdasarkan penyelidikan, terdakwa hidup sendiri, tidak memiliki pekerjaan tetap, dan memiliki motif ekonomi yang kuat."
Aku menelan ludah. Dadaku terasa sesak.
"Selain itu," lanjutnya, "terdakwa memiliki akses penuh ke rumah kontrakan tersebut. Tidak ditemukan tanda-tanda pembobolan. Artinya, kemungkinan besar narkotika tersebut disimpan secara sadar."
Setiap kalimatnya seperti memahatkan dosa di atas namaku.
Aku menunduk. Air mataku jatuh satu per satu ke lantai.
Aku bukan penjahat.
Aku hanya perempuan yang salah percaya.Ketika giliranku bicara, suaraku bergetar.
"Saya tidak tau apa-apa tentang barang itu, Yang Mulia," kataku lirih. "Saya tidak pernah menyentuhnya. Saya bahkan tidak tau itu ada di rumah saya."
Ruangan hening sesaat.
Lalu terdengar suara kursi digeser.
Raka berdiri.
Jantungku hampir berhenti.
"Yang Mulia," katanya tegas, "klien saya tidak memiliki riwayat kriminal. Tidak ada bukti langsung bahwa ia mengetahui keberadaan narkotika tersebut. Tuduhan ini hanya berdasarkan asumsi dan keberadaan fisik barang di rumah yang juga diakses oleh pihak lain."
Aku menoleh padanya. Untuk sesaat, aku lupa bernapas.
Raka tidak menatapku. Fokusnya pada hakim. Profesional. Dingin. Tapi... membelaku.
Jaksa mencibir. "Pengacara terdakwa tampaknya lupa bahwa kliennya adalah satu-satunya penghuni rumah itu."
Raka tidak gentar. "Fakta bahwa seseorang tinggal di suatu tempat tidak otomatis menjadikannya pelaku. Kami akan membuktikan adanya rekayasa dan pihak lain yang berkepentingan."
Kata-katanya tegas. Meyakinkan.
Di balik itu, aku melihat sesuatu di matanya. Amarah yang tertahan, dan sesuatu yang lebih dalam... rasa bersalah.
Sidang ditunda. Hakim memerintahkan penahanan dilanjutkan sampai sidang berikutnya.
Saat aku berdiri untuk kembali dibawa ke tahanan, mataku bertemu dengan mata Raka sekali lagi.
Untuk sesaat, dunia seakan sunyi.
Aku ingin bertanya: Kenapa sekarang? Kenapa setelah semuanya hancur?
Tapi yang keluar hanya tatapan kosong.
Saat aku melewati bangku pengunjung, kudengar bisikan-bisikan itu lagi.
"Kasihan ya, mantan istri pengacaranya sendiri."
"Pasti dia nggak polos kayak kelihatannya."
Aku menggigit bibir hingga terasa perih.
Di luar gedung, kamera kembali menyambut. Kilatan cahaya menusuk mata. Aku menunduk, berusaha melindungi wajahku.
Dan di antara kerumunan itu, aku melihat Raka berdiri agak jauh, menatapku dengan ekspresi yang tak bisa kubaca.
Untuk sesaat, aku ingin berteriak.
Kalau kau memang ingin membelaku, kenapa dulu kau melepaskanku?
Tapi suaraku tenggelam dalam riuh dunia.
Saat pintu mobil tahanan menutup, aku memejamkan mata.
***
Langit sore menggantung kelabu ketika pintu besi ruang tahanan berderit pelan, terbuka perlahan.
Aku yang sejak tadi duduk memeluk lutut, menoleh refleks. Detak jantungku langsung berantakan saat sosok di ambang pintu itu terlihat jelas.
"Lira..."
Suara itu lembut, hati-hati, seperti takut melukaiku, membuat dada ini sesak seketika.
"Bu Rini..." lirihku, nyaris tak bersuara.
Ia melangkah masuk dengan langkah ragu, senyumnya bergetar. Dan di sampingnya... seorang anak kecil berdiri. Jari-jarinya menggenggam ujung baju dengan canggung.
Dunia seakan berhenti berputar.
Tubuhku kaku. Napasku tercekat. Lalu segalanya runtuh begitu saja.
"Arsa..." suaraku pecah sebelum sempat kutahan. "Ya Allah... Arsa..."
Anak itu menatapku dengan mata yang tak mungkin salah. Mata yang selama ini hanya hadir dalam doa-doaku, dalam mimpi yang selalu berakhir dengan tangis.
"Ma?" panggilnya pelan, ragu, seakan takut keliru.
Aku bangkit tergesa, lututku gemetar tak sanggup menopang tubuh. Aku berlutut di hadapannya, menangkup wajah mungil itu dengan kedua tanganku yang bergetar hebat.
"Iya, Nak. Mama di sini..." Suaraku patah. "Mama di sini..."
Sejenak ia menatapku. Lalu, tanpa peringatan, tubuh kecil itu menerjangku, memeluk leherku erat.
Tangisnya pecah.
"Mama lama... Arsa cari Mama..."
Kalimat sederhana itu menghantamku lebih keras dari apa pun. Aku memeluknya sekuat tenaga, menciumi rambutnya, keningnya, pipinya. Tak peduli air mata membasahi wajah kami berdua.
"Ampun, Nak. Maafin Mama..." bisikku berulang kali. "Mama nggak pernah ninggalin kamu... Mama cuma terjebak..."
Di samping kami, Bu Rini berdiri dengan mata berkaca-kaca, menutup mulutnya agar isaknya tak terdengar. Ruangan itu seakan kehilangan suara selain napas kami yang bergetar.
Untuk beberapa saat, aku lupa di mana aku berada. Tak ada jeruji, tak ada tuduhan, tak ada masa lalu yang menyesakkan.
Hanya aku dan anakku. Namun kebahagiaan itu terlalu rapuh.
Langkah sepatu terdengar dari ujung lorong.
Aku menoleh.
Dan seluruh tubuhku menegang.
Raka berdiri di sana.
Wajahnya kaku, rahangnya mengeras. Tatapannya langsung tertuju pada Arsa yang masih berada dalam pelukanku.
Tatapan itu bukan sekadar terkejut.
Itu tatapan seseorang yang melihat bayangannya sendiri.
Matanya menyipit perlahan, menelusuri wajah Arsa... alisnya, hidungnya, bentuk rahangnya.
Dadaku berdegup tak terkendali.
"Selira..." suaranya rendah, berat, tertahan. "Anak siapa itu?"
Aku refleks memeluk Arsa lebih erat.
Raka melangkah mendekat, satu langkah yang terasa seperti ancaman sekaligus pengakuan.
"Apa... setelah kita bercerai," katanya pelan tetapi menghujam, "kamu menikah lagi?"
Raka berhenti tepat di hadapanku. Lalu, dengan suara yang bergetar oleh sesuatu yang tak ingin ia akui, ia berkata, "Kalau begitu... kenapa wajah anak ini--"
Napasnya tercekat.
"--mirip sekali denganku?"
Udara seakan berhenti bergerak.
Dan aku... tak sanggup menjawab apa pun.
Pov BagasPagi itu belum sepenuhnya ramai ketika pintu ruanganku diketuk. Aku baru saja menyalakan laptop dan membuka beberapa laporan lama yang belum sempat kusentuh semalam. Kepalaku masih terasa berat, tapi pikiranku sudah bekerja sejak tadi subuh. Aku mencoba menyusun potongan-potongan yang terasa semakin tidak masuk akal.“Masuk,” kataku tanpa menoleh.Pintu terbuka, dan langkah kaki yang terdengar mantap itu langsung membuatku tahu siapa yang datang, bahkan sebelum aku mengangkat kepala.“Lo datang lagi,” gumamku sambil tetap menatap layar.Raka tidak menjawab. Dia menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang tenang. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari caranya bergerak pagi itu. Aku baru mengangkat kepala ketika dia berhenti di depan meja. Dari sorot matanya aku langsung tahu, dia tidak datang hanya untuk bertanya. Ada sesuatu yang mendesak.“Gue butuh sesuatu,” katanya tanpa basa-basi.Aku bersandar di kursi, menatapnya lekat. “Langsung aja, bias
PoV Bagas“Jangan sampai gue telat lagi…”Kalimat itu masih menggantung di udara ketika kakiku sudah bergerak lebih dulu.Tanpa menunggu perintah, tanpa menunggu tim, aku berlari.Langkahku menggema di antara kontainer-kontainer baja yang menjulang tinggi seperti lorong tanpa akhir.Udara malam terasa dingin, tapi tubuhku panas. Jantungku berdetak terlalu cepat. Radio di tanganku masih mendesis.Tidak ada suara Reva lagi.Sial!“Bagas!” suara Arman terdengar dari belakang. “Tunggu tim!”Aku tidak berhenti. “Dia di dalam!”“Ini bisa jebakan!”“Aku tahu!” teriakku.Justru karena aku tahu, maka aku tidak bisa berhenti. Langkahku semakin cepat.Gudang itu semakin dekat. Pintu besinya terbuka setengah. Gelap di dalamnya seperti mulut yang siap menelan apa pun yang masuk.Aku melambat hanya satu detik.Satu de
PoV 1 Bagas“Aku nggak butuh orang yang kerja pakai insting doang.”Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku, dingin, dan tanpa basa-basi.Perempuan di depanku tidak langsung menjawab. Dia hanya berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, menatapku dengan sorot mata yang aneh.“Aku juga nggak butuh orang yang merasa paling benar cuma karena pangkat,” balasnya tenang.Aku menghela napas pelan. Ruangan briefing itu mendadak terasa sempit.Beberapa anggota tim lain memilih diam. Mereka pura-pura sibuk dengan berkas di tangan masing-masing, padahal jelas-jelas memperhatikan kami berdua.
PoV Bagas“Kamu mau tetap jadi polisi… atau mulai benar-benar melawan?”Kalimat itu datang tiba-tiba.Aku menatap pria di depanku tanpa berkedip. Ruangan itu kecil. Hanya ada meja kayu, dua kursi, dan lampu neon yang berpendar dingin di atas kepala.Dia duduk santai, tapi sorot matanya, tidak santai sama sekali.Aku tidak menjawab, belum karena aku tahu ini bukan pertanyaan biasa.nIni pilihan dan aku belum tahu konsekuensi dari jawabanku.“Apa maksudnya?” tanyaku akhirnya.Pria itu tersenyum tipis.“Kamu tau maksudku.”Aku bersandar sedikit di kursi.“Kalau ini soal operasi kemarin, saya sudah jalankan sesuai prosedur.”“Justru itu masalahnya,” jawabnya cepat.Aku mengerutkan kening.“Prosedur tidak selalu cukup.”Kalimat itu membuatku diam. Dia melanjutkan dengan tenang.“Kamu lihat sendiri kan, gimana semuanya bekerja.”Aku tidak menjawab, tapi ingatan itu kembali muncul
PoV BagasHari pertama aku mengenakan seragam itu, aku berdiri cukup lama di depan cermin. Bukan karena kagum, lebih karena mencoba percaya bahwa aku benar-benar sampai di titik ini.Kain cokelat muda itu masih terlihat baru. Lipatannya tegas. Sepatu hitam mengilap seperti belum pernah menyentuh debu jalanan. Di dada kiriku terpasang papan nama sederhana.BAGAS.Hanya satu kata. Namun, tapi di baliknya ada terlalu banyak hal. Janji kehilangan dan satu malam yang tidak pernah bisa kulupakan.Aku menarik napas panjang.“Ibu… aku berhasil,” gumamku pelan.
PoV BagasMalam itu seharusnya biasa saja.Langit gelap tanpa bintang, udara terasa lembap seperti kota ini sedang menahan napas.Aku masih ingat suara kipas angin tua yang berdecit pelan di sudut kamar. Bau minyak kayu putih bercampur dengan aroma obat-obatan yang menyengat.Dan suara napas itu, pelan, berat. Setiap tarikan napas adalah perjuangan terakhir.“Ibu…”Suaraku hampir tidak terdengar. Aku duduk di sisi ranjang, menggenggam tangannya yang terasa dingin.Dulu tangan itu hangat.Tangan yang sama yang selalu mengelus kepalaku ketika aku pulang sekolah.Tangan yang memasak nasi goreng tengah malam saat aku bilang lapar.Tangan yang menepuk pundakku setiap kali aku merasa gagal.Sekarang, tangan itu terasa rapuh dan ringan. Seperti bisa hilang kapan saja.Ibu membuka matanya perlahan. Sorot matanya samar. Namun, ketika menatap, aku tahu dia masih mengenaliku.“Bagas…” Suaranya serak.Aku langsung mendekat. “Aku di sini, Bu.”Ibu mencoba tersenyum, tapi tidak pernah sampai ke mat
PoV SeliraMalam turun perlahan di apartemen kami. Lampu-lampu kota mulai menyala di luar jendela, memantulkan cahaya lembut di kaca ruang tamu. Dari lantai setinggi ini, Jakarta terlihat seperti lautan cahaya kecil yang bergerak pelan.Apartemen sudah jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam lal
PoV RakaEnam bulan setelah semuanya berakhir, hidup akhirnya benar-benar terasa tenang. Bukan tenang seperti jeda sebelum badai. Bukan juga tenang yang dipenuhi rasa waspada, tapi tenang yang sederhana.Tenang yang terasa seperti rumah.Kasus jaringan narkotika yang dulu mengguncang kota ini akhir
PoV RakaBeberapa hari setelah penangkapan itu, kota terasa aneh. Bukan karena ada yang berubah secara fisik.Jalanan masih sama. Gedung-gedung masih berdiri di tempatnya. Orang-orang masih menjalani aktivitas seperti biasa.Nam
PoV SeliraAku sebenarnya tidak berniat keluar malam ini.Sejak semuanya mulai terasa berbahaya, aku jarang meninggalkan apartemen kecuali benar-benar perlu.Tim dari BNN selalu berjaga di sekitar gedung, bahkan terkadang ikut m







