Share

Sidang

Penulis: Queeny
last update Tanggal publikasi: 2026-02-26 20:50:59

Pagi itu udara terasa lebih berat dari biasanya.

Aku tahu, bahkan sebelum mataku terbuka, hari ini bukan hari biasa. Ada sesuatu yang menekan dada, seperti firasat yang tak bisa dijelaskan.

Di luar, langkah sepatu para sipir terdengar lebih ramai. Suara pintu besi dibuka-tutup bergema lebih sering dari hari-hari sebelumnya, seolah seluruh bangunan penjara ikut bersiap menyambut sesuatu yang besar.

Hari ini... aku akan dibawa ke ruang sidang.

Aku duduk di bangku kayu sempit ruang tahanan, mengenakan kemeja putih lusuh yang dipinjamkan petugas.

Rambutku disisir seadanya. Wajahku pucat, tapi aku memaksakan diri berdiri tegak. Bukan karena berani, melainkan karena aku tak ingin terlihat hancur sepenuhnya.

Saat borgol melingkar di pergelangan tanganku, dinginnya menjalar hingga ke tulang. Aku menelan ludah, menahan gemetar yang merambat perlahan ke seluruh tubuh.

"Jalan," kata petugas.

Aku melangkah.

Setiap langkah terasa seperti menyeret seluruh hidupku menuju penghakiman.

Begitu pintu ruang sidang dibuka, sorot lampu dan bisik-bisik langsung menyambut. Wartawan. Kamera. Orang-orang asing yang memandangku seolah aku tontonan.

"Sidang perkara pidana atas nama terdakwa Selira Wulandari binti Anwar dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua dengan suara lantang sambil mengetukkan palu satu kali.

Ruang sidang seketika hening.

"Saudari terdakwa, silakan berdiri."

Aku berdiri dengan langkah gemetar. Hakim menatapku tenang tetapi tegas.

"Sidang hari ini akan memeriksa pokok perkara terkait dugaan tindak pidana narkotika sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Kami ingatkan seluruh pihak untuk menjaga ketertiban selama persidangan berlangsung."

Suasana mendadak terasa berat, seolah setiap napas menjadi saksi.

"Selira! Benarkah Anda terlibat jaringan narkoba?"

"Apakah Anda hanya dijadikan kambing hitam?"

"Benarkah Anda mantan istri dari pengacara terkenal?"

Pertanyaan-pertanyaan itu menghantam seperti hujan batu. Aku menunduk, berusaha berjalan tanpa jatuh. Tapi kakiku gemetar.

Di sudut ruangan, aku melihatnya.

Raka, berdiri rapi dengan setelan hitam, wajahnya tegas, rahangnya mengeras. Tatapan kami bertemu sesaat... dan seketika dadaku seperti diremas.

Ia di sini.

Bukan sebagai mantan suami.

Bukan sebagai pelindung.

Tapi sebagai... pengacara.

Aku duduk di kursi terdakwa, napasku berat. Tanganku berkeringat. Dari sudut mata, aku bisa merasakan pandangan semua orang tertuju padaku.

Ada yang penasaran.

Ada yang sinis.

Ada yang sudah memvonis.

"Sidang dibuka," suara palu hakim menggema.

Jaksa berdiri lebih dulu. Suaranya lantang, tegas, tanpa ragu.

"Yang Mulia, terdakwa Selira Wulandari binti Anwar diduga kuat terlibat dalam peredaran narkotika jenis sabu seberat dua kilogram yang ditemukan di rumah kontrakan yang ditempatinya. Barang bukti ditemukan di laci dapur terdakwa, lengkap dengan timbangan digital dan plastik klip."

Kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam kepalaku.

Aku ingin berteriak. Mengatakan aku tidak tahu apa-apa. Bahwa itu bukan milikku, tapi suaraku tercekat.

Jaksa melanjutkan dengan nada dingin, "Berdasarkan penyelidikan, terdakwa hidup sendiri, tidak memiliki pekerjaan tetap, dan memiliki motif ekonomi yang kuat."

Aku menelan ludah. Dadaku terasa sesak.

"Selain itu," lanjutnya, "terdakwa memiliki akses penuh ke rumah kontrakan tersebut. Tidak ditemukan tanda-tanda pembobolan. Artinya, kemungkinan besar narkotika tersebut disimpan secara sadar."

Setiap kalimatnya seperti memahatkan dosa di atas namaku.

Aku menunduk. Air mataku jatuh satu per satu ke lantai.

Aku bukan penjahat.

Aku hanya perempuan yang salah percaya.

Ketika giliranku bicara, suaraku bergetar.

"Saya tidak tau apa-apa tentang barang itu, Yang Mulia," kataku lirih. "Saya tidak pernah menyentuhnya. Saya bahkan tidak tau itu ada di rumah saya."

Ruangan hening sesaat.

Lalu terdengar suara kursi digeser.

Raka berdiri.

Jantungku hampir berhenti.

"Yang Mulia," katanya tegas, "klien saya tidak memiliki riwayat kriminal. Tidak ada bukti langsung bahwa ia mengetahui keberadaan narkotika tersebut. Tuduhan ini hanya berdasarkan asumsi dan keberadaan fisik barang di rumah yang juga diakses oleh pihak lain."

Aku menoleh padanya. Untuk sesaat, aku lupa bernapas.

Raka tidak menatapku. Fokusnya pada hakim. Profesional. Dingin. Tapi... membelaku.

Jaksa mencibir. "Pengacara terdakwa tampaknya lupa bahwa kliennya adalah satu-satunya penghuni rumah itu."

Raka tidak gentar. "Fakta bahwa seseorang tinggal di suatu tempat tidak otomatis menjadikannya pelaku. Kami akan membuktikan adanya rekayasa dan pihak lain yang berkepentingan."

Kata-katanya tegas. Meyakinkan.

Di balik itu, aku melihat sesuatu di matanya. Amarah yang tertahan, dan sesuatu yang lebih dalam... rasa bersalah.

Sidang ditunda. Hakim memerintahkan penahanan dilanjutkan sampai sidang berikutnya.

Saat aku berdiri untuk kembali dibawa ke tahanan, mataku bertemu dengan mata Raka sekali lagi.

Untuk sesaat, dunia seakan sunyi.

Aku ingin bertanya: Kenapa sekarang? Kenapa setelah semuanya hancur?

Tapi yang keluar hanya tatapan kosong.

Saat aku melewati bangku pengunjung, kudengar bisikan-bisikan itu lagi.

"Kasihan ya, mantan istri pengacaranya sendiri."

"Pasti dia nggak polos kayak kelihatannya."

Aku menggigit bibir hingga terasa perih.

Di luar gedung, kamera kembali menyambut. Kilatan cahaya menusuk mata. Aku menunduk, berusaha melindungi wajahku.

Dan di antara kerumunan itu, aku melihat Raka berdiri agak jauh, menatapku dengan ekspresi yang tak bisa kubaca.

Untuk sesaat, aku ingin berteriak.

Kalau kau memang ingin membelaku, kenapa dulu kau melepaskanku?

Tapi suaraku tenggelam dalam riuh dunia.

Saat pintu mobil tahanan menutup, aku memejamkan mata.

***

Langit sore menggantung kelabu ketika pintu besi ruang tahanan berderit pelan, terbuka perlahan.

Aku yang sejak tadi duduk memeluk lutut, menoleh refleks. Detak jantungku langsung berantakan saat sosok di ambang pintu itu terlihat jelas.

"Lira..."

Suara itu lembut, hati-hati, seperti takut melukaiku, membuat dada ini sesak seketika.

"Bu Rini..." lirihku, nyaris tak bersuara.

Ia melangkah masuk dengan langkah ragu, senyumnya bergetar. Dan di sampingnya... seorang anak kecil berdiri. Jari-jarinya menggenggam ujung baju dengan canggung.

Dunia seakan berhenti berputar.

Tubuhku kaku. Napasku tercekat. Lalu segalanya runtuh begitu saja.

"Arsa..." suaraku pecah sebelum sempat kutahan. "Ya Allah... Arsa..."

Anak itu menatapku dengan mata yang tak mungkin salah. Mata yang selama ini hanya hadir dalam doa-doaku, dalam mimpi yang selalu berakhir dengan tangis.

"Ma?" panggilnya pelan, ragu, seakan takut keliru.

Aku bangkit tergesa, lututku gemetar tak sanggup menopang tubuh. Aku berlutut di hadapannya, menangkup wajah mungil itu dengan kedua tanganku yang bergetar hebat.

"Iya, Nak. Mama di sini..." Suaraku patah. "Mama di sini..."

Sejenak ia menatapku. Lalu, tanpa peringatan, tubuh kecil itu menerjangku, memeluk leherku erat.

Tangisnya pecah.

"Mama lama... Arsa cari Mama..."

Kalimat sederhana itu menghantamku lebih keras dari apa pun. Aku memeluknya sekuat tenaga, menciumi rambutnya, keningnya, pipinya. Tak peduli air mata membasahi wajah kami berdua.

"Ampun, Nak. Maafin Mama..." bisikku berulang kali. "Mama nggak pernah ninggalin kamu... Mama cuma terjebak..."

Di samping kami, Bu Rini berdiri dengan mata berkaca-kaca, menutup mulutnya agar isaknya tak terdengar. Ruangan itu seakan kehilangan suara selain napas kami yang bergetar.

Untuk beberapa saat, aku lupa di mana aku berada. Tak ada jeruji, tak ada tuduhan, tak ada masa lalu yang menyesakkan.

Hanya aku dan anakku. Namun kebahagiaan itu terlalu rapuh.

Langkah sepatu terdengar dari ujung lorong.

Aku menoleh.

Dan seluruh tubuhku menegang.

Raka berdiri di sana.

Wajahnya kaku, rahangnya mengeras. Tatapannya langsung tertuju pada Arsa yang masih berada dalam pelukanku.

Tatapan itu bukan sekadar terkejut.

Itu tatapan seseorang yang melihat bayangannya sendiri.

Matanya menyipit perlahan, menelusuri wajah Arsa... alisnya, hidungnya, bentuk rahangnya.

Dadaku berdegup tak terkendali.

"Selira..." suaranya rendah, berat, tertahan. "Anak siapa itu?"

Aku refleks memeluk Arsa lebih erat.

Raka melangkah mendekat, satu langkah yang terasa seperti ancaman sekaligus pengakuan.

"Apa... setelah kita bercerai," katanya pelan tetapi menghujam, "kamu menikah lagi?"

Raka berhenti tepat di hadapanku. Lalu, dengan suara yang bergetar oleh sesuatu yang tak ingin ia akui, ia berkata, "Kalau begitu... kenapa wajah anak ini--"

Napasnya tercekat.

"--mirip sekali denganku?"

Udara seakan berhenti bergerak.

Dan aku... tak sanggup menjawab apa pun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Farah Fa
ceritanya bagus....menyentuh
goodnovel comment avatar
Happy Adriana
ikutan nangis aku Thor...sumpah...sedih banget...jahat banget yg udah ngejebak... terimakasih Thor...karyanya luar biasa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Season 4: Selamat Tinggal yang Terlambat

    Pov RendraSore itu Jakarta sedang ramai-ramainya. Langit berwarna jingga kusam, jalanan penuh suara klakson, dan udara terasa berat oleh debu serta sisa panas matahari. Aku berdiri beberapa meter dari minimarket tempat Selira bekerja sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket.Sudah hampir dua puluh menit aku di sana.Dua puluh menit hanya untuk memastikan aku benar-benar siap masuk.Lucu. Aku pernah menghadapi orang bersenjata tanpa rasa takut, pernah duduk satu meja dengan bandar yang bisa membunuh seseorang hanya karena nada bicara yang salah. Namun, sekarang, untuk melangkah masuk menemui satu perempuan saja, lututku terasa lebih lemah dari seharusnya.Aku mengangkat kepala dan melihat pantulan diriku di kaca depan minimarket.Wajahku memang berubah.Lebih kurus. Lebih lelah.Beberapa minggu terakhir hidupku seperti lorong sempit yang perlahan menutup dari segala arah. Setelah sidang itu, semuanya bergerak terlalu cepat. Orang-orang mulai bicara. Nama-nama mulai disebut. Jal

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Tenang Setelah Badai (Ending)

    Mobil melaju pelan di bawah langit yang mulai berubah warna. Senja turun perlahan, menyisakan cahaya keemasan yang memantul di kaca depan. Jalanan di perbatasan itu sepi.Kami sudah menyelesaikan semuanya.Keluarga saksi sudah aman. Identitas baru, tempat tinggal baru, dan pekerjaan baru.Dunia lama mereka perlahan ditinggalkan, meski luka itu jelas tidak akan pernah benar-benar hilang.Aku bersandar di kursi, menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadaku terasa tidak sesak.Reva duduk di sampingku. Diam seperti biasanya kalau pikirannya sedang penuh. Namun kali ini, diamnya berbeda.Aku meliriknya. “Capek?”Dia menggeleng pelan. “Bukan capek, cuma lagi mikir.”“Mikir apa?”Reva menoleh. Tatapannya tidak lagi setajam biasanya, lebih lembut dan lebih terbuka.“Kita udah sejauh ini ya.”Aku tersenyum tipis. “Iya. Dari yang awalnya hampir saling bunuh tiap briefing.”Dia mendengus kecil. “Itu karena lo nyebelin.”“Sekarang?”Reva tidak langsung jawab. Dia just

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Menuju Pulau Seberang

    Putusan itu akhirnya jatuh, bersih, tegas, dan tidak menyisakan celah.Selira bebas.Ruang sidang riuh, tetapi bagiku semuanya terdengar seperti gema jauh yang tidak benar-benar penting lagi.Fokusku sudah berpindah sejak beberapa menit sebelumnya, bukan lagi ke hasil, tetapi ke konsekuensi. Karena setiap kemenangan seperti ini selalu ada harga yang harus segera dibayar.Aku keluar dari ruang sidang lebih dulu. Tidak ikut dalam momen haru. Bukan karena tidak peduli, justru karena terlalu paham bahwa pekerjaan kami belum selesai.Masih ada satu janji yang harus kutepati.Janji pada seseorang yang sudah tidak bisa menagihnya lagi.Di lorong belakang Arman sudah menunggu. Tangannya bersedekap, wajahnya datar tapi matanya langsung menangkap maksud kedatanganku.“Sudah diputus,” kataku singkat.“Saya tau,” jawabnya. “Tim kita di luar langsung kirim update.”Aku mengangguk. “Kita jalan sekarang.”Arman tidak banyak tanya. Hanya mengangguk sekali. “Reva di parkiran. Semua sudah siap.”Aku be

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Rahasia yang Dibawa Mati

    Beberapa hari setelah sidang itu, suasana belum benar-benar tenang. Setidaknya tidak di kepalaku.Kemenangan kecil yang kami dapatkan di ruang sidang terasa seperti ilusi tipis yang bisa runtuh kapan saja.Nama Rendra sudah terucap di depan semua orang, bukti sudah dipaparkan, dan saksi sudah bicara. Namun, aku tahu bahwa permainan seperti ini tidak akan berhenti hanya karena satu hari sidang.Dan aku benar.Pagi itu aku sedang berada di kantor, merapikan ulang berkas dan mencoba menyusun langkah berikutnya, ketika ponselku bergetar.Nomor dari rumah sakit. Dadaku langsung berdebar kencang.Aku menjawab cepat. “Ya.”“Pak Bagas…” Suara di seberang terdengar pelan, hati-hati, “kondisi saksi menurun. Kami butuh Anda ke sini.”Aku menutup mata sebentar. Nada itu… aku kenal.“Dia?” tanyaku singkat. Hening sepersekian detik.“Cepat.”Aku tidak menunggu dan langsung bergegas.Perjalanan ke rumah sakit terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan yang meledak-ledak seperti ma

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Kebenaran Menemukan Jalannya

    PoV BagasUdara ruang sidang terasa berat sejak pertama kali aku melangkah masuk pagi itu. Bukan hanya karena panas yang menggantung tanpa ampun, tetapi karena suasana yang sudah lebih dulu dipenuhi bisik-bisik dan tatapan penuh rasa ingin tahu.Semua orang di ruangan itu tahu kalau hari ini bukan sidang biasa. Hari ini adalah titik balik.Aku berdiri di sisi ruang, sedikit di belakang meja pembelaan, dengan map tebal di tanganku. Isinya bukan sekadar berkas. Itu adalah kumpulan bukti yang kami kumpulkan dengan risiko yang tidak kecil, bahkan hampir merenggut nyawa seseorang.Seseorang yang pagi ini… harus tetap hidup.Hakim sudah duduk di kursinya. Wajahnya kaku, serius, tanpa banyak ekspresi.Palu sidang belum diketuk, tetapi seluruh ruangan sudah seperti ditahan napasnya.Jaksa berdiri lebih dulu, membacakan tuntutan dengan suara lantang, penuh keyakinan. Dan justru itu yang membuatnya terasa salah.Aku tidak fokus sepenuhnya pada kata-kata jaksa. Pikiranku sesekali melayang ke bel

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Hidup dan Mati

    PoV BagasHari berganti tanpa terasa, dan waktu seperti berlari lebih cepat dari yang seharusnya.Penyelidikan kasus Selira semakin dalam, semakin gelap, dan semakin berbahaya.Aku dan Raka mengumpulkan potongan demi potongan bukti. Kami seperti menyusun puzzle yang tidak boleh ada bagian yang hilang.Di tengah itu, tugas terberat justru bukan soal data, melainkan membangun kepercayaan Selira.Dia masih mempercayai Rendra, pria yang dulu menyelamatkannya dari keterpurukan, meski kini justru menjatuhkannya.Raka sempat frustrasi menghadapi sikap itu, tetapi aku tahu itu wajar.Kepercayaan tidak bisa dipaksa.Selira butuh waktu untuk melihat kebenaran sendiri, dan dari celah kecil keraguan itulah semuanya perlahan mulai berubah.Sementara itu, aku tetap bergerak di bawah radar. Di depan, aku terlihat seperti bagian dari sistem yang lambat. Seolah BNN tidak benar-benar menekan kasus ini.Padahal di balik itu, aku, Reva, dan Arman memainkan peran yang sama. Berpura-pura lemah agar lawan m

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Kehilangan yang Paling Jujur

    Pov RakaAku berdiri beberapa langkah di belakang Selira.Cukup dekat untuk melihat bahunya yang menegang, cukup jauh untuk tidak ikut masuk ke momen yang jelas bukan milikku.Tanganku terlipat di depan dada, kebiasaan lama setiap kali aku harus menahan diri... menahan reaksi, menahan emosi, atau m

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Sidang Putusan

    "Tidak ada sidik jarimu di barang bukti. Itu yang paling utama."Kalimat itu berdengung di kepalaku sejak pagi. Bahkan sebelum aku melangkah ke ruang sidang dan kembali duduk di kursi itu.Aku sudah tahu hidupku tak akan pernah sama.Tidak ada sidik jarimu.Aku mengulangnya dalam hati, seperti mant

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Kebenaran Menemukan Jalannya

    PoV RakaUdara panas. Bisik-bisik memenuhi bangku pengunjung.Hakim sudah duduk di kursi. Wajahnya tegas, palu belum diketuk tapi semua orang tahu... sidang hari ini bukan sidang biasa.Aku berdiri.Di belakangku, Bagas duduk dengan map tebal di pangkuannya. Tatapannya tajam, fokus. Tidak ada lagi

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Kebenaran yang Mengguncang

    PoV Raka"Selira!"Pintu besi itu menutup tepat di depanku.Bunyinya berat, panjang, memantul di lorong. Seperti sengaja dibiarkan agar aku mendengarnya sampai tuntas. Sampai tak ada lagi ruang untuk pura-pura kuat."Ya Tuhan. "Aku berdiri beberapa detik terlalu lama di sana. Menatap pintu abu-abu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status