Mag-log inSudah hampir enam bulan aku tinggal di Istanbul.Aku mulai hafal suara trem yang melintas setiap pagi, aroma roti simit yang dijual di sudut jalan, dan azan yang menggema dari berbagai arah ketika matahari mulai tenggelam.Kota ini perlaan menjadi tempatku bersembunyi, meski tidak pernah benar-bena terasa seperti rumah.Rumah tanpa rasa takut.Sedangkan aku masih terbangun dengan mimpi buruk hampir setiap malam.Aku mengusap wajah kasar yang kini dipenuhi janggut.nKalau bercermin, aku sendiri nyaris tidak mengenali pria yang menatap balik dari balik kaca.Rambutku lebih panjang, kulitku lebih gelap karena sering ke gudang, bahkan mataku terlihat jauh lebih
“Sayın yolcularımız, İstanbul Havalimanı’na iniş yapıyoruz. Lütfen kemerlerinizi bağlayınız.”“Para penumpang yang terhormat, kita akan mendarat di Bandara Istanbul. Mohon kenakan sabuk pengaman Anda.”Suara pilot menggema dari pengeras suara pesawat tepat saat roda mulai turun perlahan.Bahasa Turki itu terdengar asing di telingaku, berat dan cepat, tetapi aku masih menangkap beberapa katanya dari brosur penerbangan yang kubaca sejak tadi.Kami akan mendarat di Istanbul.Aku menatap keluar jendela kecil di samping kursi. Lampu kota terlihat seperti lautan kuning keemasan di tengah gelap malam.Istanbul membentang luas di bawah sana, dipenuhi bangunan rapat, jalan panjang, dan cahaya yang terasa hidup bahkan menjelang dini hari.Orang-orang mulai bersiap. Suara sabuk pengaman dibuka terdengar di sana-sini. Seorang ibu Turki di sampingku membantu anak kecilnya mengenakan jaket tebal sambil berbicara cepat dalam bahasa mereka.Aku tetap diam.Tanganku dingin bukan karena suhu kabin. Rap
Pov RendraSore itu Jakarta sedang ramai-ramainya. Langit berwarna jingga kusam, jalanan penuh suara klakson, dan udara terasa berat oleh debu serta sisa panas matahari. Aku berdiri beberapa meter dari minimarket tempat Selira bekerja sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket.Sudah hampir dua puluh menit aku di sana.Dua puluh menit hanya untuk memastikan aku benar-benar siap masuk.Lucu. Aku pernah menghadapi orang bersenjata tanpa rasa takut, pernah duduk satu meja dengan bandar yang bisa membunuh seseorang hanya karena nada bicara yang salah. Namun, sekarang, untuk melangkah masuk menemui satu perempuan saja, lututku terasa lebih lemah dari seharusnya.Aku mengangkat kepala dan melihat pantulan diriku di kaca depan minimarket.Wajahku memang berubah.Lebih kurus. Lebih lelah.Beberapa minggu terakhir hidupku seperti lorong sempit yang perlahan menutup dari segala arah. Setelah sidang itu, semuanya bergerak terlalu cepat. Orang-orang mulai bicara. Nama-nama mulai disebut. Jal
Mobil melaju pelan di bawah langit yang mulai berubah warna. Senja turun perlahan, menyisakan cahaya keemasan yang memantul di kaca depan. Jalanan di perbatasan itu sepi.Kami sudah menyelesaikan semuanya.Keluarga saksi sudah aman. Identitas baru, tempat tinggal baru, dan pekerjaan baru.Dunia lama mereka perlahan ditinggalkan, meski luka itu jelas tidak akan pernah benar-benar hilang.Aku bersandar di kursi, menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadaku terasa tidak sesak.Reva duduk di sampingku. Diam seperti biasanya kalau pikirannya sedang penuh. Namun kali ini, diamnya berbeda.Aku meliriknya. “Capek?”Dia menggeleng pelan. “Bukan capek, cuma lagi mikir.”“Mikir apa?”Reva menoleh. Tatapannya tidak lagi setajam biasanya, lebih lembut dan lebih terbuka.“Kita udah sejauh ini ya.”Aku tersenyum tipis. “Iya. Dari yang awalnya hampir saling bunuh tiap briefing.”Dia mendengus kecil. “Itu karena lo nyebelin.”“Sekarang?”Reva tidak langsung jawab. Dia just
Putusan itu akhirnya jatuh, bersih, tegas, dan tidak menyisakan celah.Selira bebas.Ruang sidang riuh, tetapi bagiku semuanya terdengar seperti gema jauh yang tidak benar-benar penting lagi.Fokusku sudah berpindah sejak beberapa menit sebelumnya, bukan lagi ke hasil, tetapi ke konsekuensi. Karena setiap kemenangan seperti ini selalu ada harga yang harus segera dibayar.Aku keluar dari ruang sidang lebih dulu. Tidak ikut dalam momen haru. Bukan karena tidak peduli, justru karena terlalu paham bahwa pekerjaan kami belum selesai.Masih ada satu janji yang harus kutepati.Janji pada seseorang yang sudah tidak bisa menagihnya lagi.Di lorong belakang Arman sudah menunggu. Tangannya bersedekap, wajahnya datar tapi matanya langsung menangkap maksud kedatanganku.“Sudah diputus,” kataku singkat.“Saya tau,” jawabnya. “Tim kita di luar langsung kirim update.”Aku mengangguk. “Kita jalan sekarang.”Arman tidak banyak tanya. Hanya mengangguk sekali. “Reva di parkiran. Semua sudah siap.”Aku be
Beberapa hari setelah sidang itu, suasana belum benar-benar tenang. Setidaknya tidak di kepalaku.Kemenangan kecil yang kami dapatkan di ruang sidang terasa seperti ilusi tipis yang bisa runtuh kapan saja.Nama Rendra sudah terucap di depan semua orang, bukti sudah dipaparkan, dan saksi sudah bicara. Namun, aku tahu bahwa permainan seperti ini tidak akan berhenti hanya karena satu hari sidang.Dan aku benar.Pagi itu aku sedang berada di kantor, merapikan ulang berkas dan mencoba menyusun langkah berikutnya, ketika ponselku bergetar.Nomor dari rumah sakit. Dadaku langsung berdebar kencang.Aku menjawab cepat. “Ya.”“Pak Bagas…” Suara di seberang terdengar pelan, hati-hati, “kondisi saksi menurun. Kami butuh Anda ke sini.”Aku menutup mata sebentar. Nada itu… aku kenal.“Dia?” tanyaku singkat. Hening sepersekian detik.“Cepat.”Aku tidak menunggu dan langsung bergegas.Perjalanan ke rumah sakit terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan yang meledak-ledak seperti ma
Aku sudah tak tahu lagi ini hari ke berapa sejak aku berada di tempat ini.Waktu di penjara tidak berjalan seperti di luar sana.Ia tidak berdetak.Ia menggenang.Diam, berat, dan menyesakkan.Pagi selalu datang tanpa matahari. Yang membangunkanku bukan cahaya, melainkan suara besi beradu. Pintu se
Aku tidak tahu kapan tepatnya ingatan itu mulai menyerang lagi. Mungkin saat malam terlalu sunyi. Atau ketika tubuhku terlalu lelah untuk terus berpura-pura kuat.Yang jelas, di balik jeruji besi ini, masa lalu datang tanpa permisi.Aku terbangun dengan dada sesak. Nafasku pendek, seperti baru saja
Pagi itu datang tanpa membawa kelegaan apa pun.Cahaya matahari menembus jeruji kecil di dinding sel, jatuh tepat di wajahku yang belum sepenuhnya terjaga. Mataku perih, kepalaku berat. Tubuh ini terasa lengket oleh keringat dan lelah yang tak pernah benar-benar pergi. Malam tadi aku hampir tak t
Malam di dalam sel tidak pernah benar-benar gelap, tapi juga tidak pernah terang.Lampu neon di langit-langit berkedip pelan, seolah kelelahan menjaga cahaya yang tak pernah benar-benar berguna. Bau pengap bercampur keringat, sabun murahan, dan sesuatu yang apek.Bau putus asa, mungkin.Aku duduk d







