로그인Gua yang kami temuin di tebing itu bau lumut sama tanah basah, tapi buat pertama kalinya malem ini, aku gak denger langkah berat atau geraman dari kegelapan. Cuma suara napas kami sendiri, sama suara angin yang masuk lewat celah batu.
Kami numpuk batu sama ranting di mulut gua, seadanya, gak bakal nahan apa-apa yang beneran niat masuk. Tapi cukup buat bikin kami ngerasa udah ngelakuin sesuatu, bukan cuma pasrah nungguin.
Gak ada yang ngomong pas kami nyalain api kecil. Mirna lagi mbenerin balutan di kakinya, tangannya gemeteran padahal dia coba nutupin itu. Ayu duduk nyender ke dinding, matanya bengkak, natap ke arah api tapi kayaknya gak beneran liat apa-apa. Dika megang pisau kecil yang dia temu di jalan, muter-muterin gagangnya di tangan, gak buat apa-apa, cuma biar tangannya sibuk.
Aku duduk paling deket pintu gua, kristal Gatra masih di genggeman. Masih nyala redup. Aku gak tau kenapa aku terus megangnya kayak takut ilang kalau aku taruh.
"Ardi," Mirna buka suara, pelan banget, "kita bisa gini terus?"
Aku pengen jawab sesuatu yang meyakinkan. Tapi apa yang bisa aku bilang? Aku sendiri gak yakin. Jadi aku diem dulu, biarin kepalaku muter nyari kata yang jujur, bukan yang enak didenger doang.
"Gak tau," akhirnya aku jawab. "Tapi diem di sini bukan pilihan juga. Setidaknya kalau kita jalan, kita mati sambil ngelakuin sesuatu."
Bukan jawaban yang bagus. Tapi setidaknya itu jujur.
Ayu, dari sudut, akhirnya buka suara—dan begitu dia mulai, air matanya langsung tumpah, kayak dia udah nahan sejak jembatan tadi. "Aku bahkan gak sempet bilang makasih," katanya, suaranya kecil banget tapi kedengeran jelas di gua yang sepi. "Ke Pak Rusdi. Ke Kak Gatra. Mereka nolongin aku, dan aku... aku bahkan gak sempet bilang apa-apa."
Gak ada yang langsung jawab. Mirna gerak duluan, meluk Ayu, ngelus rambutnya pelan. Tapi aku liat muka Mirna sendiri juga udah basah.
Aku natap api. Aku juga gak sempet bilang apa-apa ke Rusdi. Dia mati di tengah kalimat, dan aku cuma bisa teriak namanya ke arah kabut yang udah nutupin semuanya. Rasanya kayak ada lubang di dada yang gak bisa aku tutup, dan tiap kali aku coba mikirin sesuatu yang lain, lubang itu nyeret balik pikiranku ke jembatan.
"Aku juga gak sempet," kataku akhirnya, lebih ke diri sendiri daripada ke Ayu. "Dan aku kesel banget soal itu. Kesel ke diri sendiri, kesel ke Voidborn, kesel ke semua yang bikin ini terjadi. Tapi aku gak tau lagi mau ngelemparin kekesalan ini ke mana."
Dika, yang dari tadi diem, tiba-tiba mukul lantai gua pake tangannya sendiri, keras. "Kenapa bukan aku aja," gumamnya, suaranya getir. "Kenapa mereka yang harus... kenapa bukan aku yang—"
Aku gerak cepet, narik kerah bajunya sebelum aku sempet mikir. Bukan karena aku marah ke dia. Tapi karena kalimat itu—kenapa bukan aku—itu kalimat yang juga muter-muter di kepalaku sendiri sejak tadi malem, dan denger orang lain ngomongin itu keras-keras kayak nyulut sesuatu yang udah aku tahan mati-matian.
"Jangan," kataku, suaraku lebih keras dari yang aku niatin. "Jangan mikir gitu. Karena kalau kau mikir gitu, aku juga harus mikir gitu, dan aku gak sanggup." Aku lepas kerahnya, napasku berat. "Maaf," kataku, lebih pelan. "Aku bukan marah ke kau. Aku cuma... aku juga gak tau harus ngapain sama rasa ini."
Dika natap aku lama, terus ngangguk kecil. Gak ada yang minta maaf lebih jauh. Kita semua ngerti, malem ini bukan malem buat sopan-sopanan soal perasaan.
Kami diem lama setelah itu, cuma dengerin api yang berdesis pelan. Kadang, diem itu yang paling bener buat dilakuin.
Paginya kami jalan lagi, lebih pelan dari biasanya. Badan ini capek, tapi capek yang paling berat bukan di kaki—itu di kepala, yang masih penuh sama bayangan jembatan runtuh.
Kami nemu taman kecil siang itu, salah satu tempat langka yang kayaknya kelewatan sama kehancuran. Pohonnya masih ijo, ada beberapa buah nggantung di dahan yang keliatan masih bisa dimakan.
"Istirahat sebentar," kata Mirna, dan gak ada yang protes.
Dika manjat buat metik beberapa buah, dan buat pertama kalinya sejak jembatan, aku liat dia keliatan agak lebih santai—badannya masih di atas pohon, tapi mukanya udah gak sekaku semalam.
"Dulu aku sering manjat kayak gini," katanya, sambil ngelempar satu buah ke bawah buat aku tangkep. "Bukan buat metik buah. Aku dulu ikut klub panjat tebing di kampus. Konyol banget kalau dipikir sekarang—dulu aku latihan mati-matian buat naikin waktu manjat setengah detik, dan sekarang keahlian itu paling berguna buat metik mangga."
Aku ketawa kecil, dan itu ketawa pertamaku sejak semalam. "Enggak konyol," kataku. "Setidaknya kau punya sesuatu yang berguna. Aku dulu cuma bisa nyusun rak minimarket."
"Dan sekarang kau mimpin lima orang di tengah apokalips," Dika bales, turun dari pohon. "Jadi mungkin kita berdua sama-sama gak nyangka bakal kepake kayak gini."
Itu obrolan kecil, gak penting-penting amat. Tapi entah kenapa, itu yang bikin aku ngerasa kita masih manusia, bukan cuma sekumpulan orang yang lari dari kematian tiap malem.
Malemnya kami nemu mobil tua, karatan, setengah ketutup semak. Mirna langsung nyamperin kayak nemu harta karun.
"Aku kerja di bengkel tiga tahun sebelum semua ini," katanya, buka kap mesin. "Kasih aku waktu."
Beberapa jam kemudian, dengan kerja keras kami semua, mobil itu nyala. Suaranya kasar banget, tapi cukup buat bikin kami semua—buat pertama kalinya dalam dua hari—senyum bareng.
Kami langsung jalan malam itu juga, arah utara, keluar dari sisa-sisa kota. Tapi ketenangan itu gak lama.
"Ardi, ada yang ngikutin," kata Dika, natap ke spion.
Aku noleh. Cahaya putih, tiga—empat titik, ngejar dari belakang, gerakannya cepet banget buat sesuatu yang jalan kaki.
"Hunters," gumamku.
"Kenapa mereka ngejar kita?" Ayu suaranya udah gemeteran.
"Karena kita gak punya peran," jawabku. "Dan buat mereka, itu artinya kita boleh dimangsa."
Mirna nginjek gas, mobil ngebut di jalan penuh puing. Salah satu Hunters nembakin sesuatu, meledak deket ban belakang, bikin mobil oleng.
"Kita gak bisa terus kayak gini!" teriak Dika.
Aku natap busur Gatra yang masih ketaruh di jok belakang. Terus natap kristal di tanganku.
Dan detik itu aku sadar sesuatu—kristal ini bukan buat minjem kekuatan orang lain yang masih hidup. Gatra udah mati. Kekuatan yang ada di kristal ini, kalau emang bisa dipake, cuma sisa dari dia. Yang terakhir dia tinggalin.
"Dika," kataku, ngelempar busur itu ke dia, "kau yang pegang. Aku gak bisa mbidik kayak Gatra, tapi kau anak panjat tebing, tangan kau lebih stabil dari aku."
Dika nangkep busur itu, tangannya gemeter tapi matanya fokus. Dia narik tali busur, ngebidik ke salah satu Hunters di belakang.
Panahnya melesat, cahaya biru redup nyusul di belakangnya—dan kena. Satu Hunters meledak jadi debu.
"Dua lagi!" seruku, ngambil botol kaca isi bensin yang kami bawa. Aku lempar sekuat tenaga, kena salah satu—cukup buat bikin dia oleng dan ketinggalan.
Tinggal satu, paling deket, paling cepet.
Aku genggam kristal itu erat-erat. "Gatra," gumamku, lebih ke diri sendiri, "kalau ini emang sisa dari kau, aku pinjem sekali lagi. Terakhir kalinya."
Cahaya dari kristal itu ngalir ke tombak besi yang aku pegang, dan aku lempar sekuat yang aku bisa. Tombak itu melesat kayak ada yang narik dari depan, nembus tubuh Hunters terakhir sebelum akhirnya meledak jadi cahaya yang padam pelan-pelan di kegelapan.
Kristal di tanganku juga ikut padam. Gak nyala lagi setelah itu, sama sekali.
Mobil terus jalan dalam diam. Gak ada yang ngomong buat beberapa menit.
"Itu tadi..." Dika akhirnya buka suara, "kristalnya abis?"
Aku natap kristal yang sekarang cuma batu kecil gak bercahaya di tanganku. "Iya," jawabku pelan. "Kayaknya itu terakhir kalinya."
Aku genggam batu itu erat-erat, walau udah gak nyala. Ini terakhir kalinya aku minjem sesuatu dari Gatra. Habis ini, apa pun yang kami hadepin ke depan, kami harus hadepin sendiri.
Tapi aku gak buang batu itu. Aku masukin ke saku, deket dada.
"Terima kasih," bisikku, ke arah kabut yang udah nelen jalan di belakang kami. "Buat semuanya."
Mobil terus melaju ke utara, dan buat pertama kalinya sejak jembatan runtuh, aku ngerasa kami bukan cuma lari dari sesuatu. Kami lagi jalan ke arah sesuatu—walau aku belum tau itu apa.
Dunia kembali bergerak.Seakan tersedot dari pusaran kehampaan, aku terhempas ke realitas. Nafasku terputus-putus, dadaku naik turun tak terkendali. Keringat dingin mengalir di pelipisku, dan jari-jariku mati rasa saat aku mencoba menggenggam trisulaku lebih erat. Tubuhku seakan dipaksa menerima beban yang bukan milikku—resonansi antara aku dan Chronarkis masih terasa, mengalir seperti arus tak kasat mata yang menghubungkan kami.Brak!Lututku menghantam tanah. Tanah yang dingin dan kasar merambat di sela jari, seakan menegaskan bahwa aku masih ada di sini, masih hidup. Suara napasku bercampur dengan desir angin yang membawa serpihan debu dan abu di udara. Cahaya redup dari langit yang koyak oleh kekuatan yang tak kasat mata perlahan memudar, seolah takut mengungkap rahasia yang baru saja terkuak."Apa kau baik-baik saja?"Suara Revan membelah keheningan. Aku mendongak, melihatnya bergegas ke arahku, ekspresinya dipenuhi kekhawatiran. Ia tak perlu bertanya dua kali. Dengan susah payah
Kegelapan berdenyut di sekeliling Ariel, nyala api hitam berputar liar seperti ular ganas yang hendak memangsa segalanya. Napasnya berat, langkahnya menyeret, tetapi matanya—mata merah menyala yang menjadi simbol kekuasaan Barong—tetap terkunci padaku. Aku bersiap menghindar, otakku bekerja cepat mencari celah dalam serangannya.Tapi tiba-tiba—WUSHH!Sebuah cahaya emas meledak dari tubuh Ariel. Sejenak, seolah-olah waktu tersendat, lalu berhenti total. Angin yang tadinya menggila kini membeku di udara, debu yang beterbangan pun mengapung tanpa arah. Bahkan api yang menari di sekeliling Ariel berhenti, nyaris seperti lukisan yang dipaksa diam dalam satu momen abadi.Aku menegang. Eternal Flow Manipulation-ku? Tidak. Ini bukan aku yang mengaktifkannya.Sebuah tekanan luar biasa membanjiri ruang di sekelilingku, membuat bulu kudukku berdiri. Dari bayanganku sendiri, sesuatu merayap keluar. Aku bisa merasakan keberadaannya bahkan sebelum melihat sosoknya.Kemudian, ia muncul.Sosok itu m
Udara di sekitar kami bergetar, panas yang menyengat merayap di kulit, membuat napas terasa berat. Debu-debu hangus melayang, terbawa oleh angin panas yang entah berasal dari serangan Ariel sebelumnya atau dari dirinya sendiri.Mata Revan menyipit, keringat mengalir di pelipisnya. "Sepertinya dia kehilangan kontrol atas tubuhnya," gumamnya, suaranya nyaris tenggelam dalam deru api yang mengamuk. Dengan cepat, dia mengangkat tangannya. "Zephyr Suppression."Raungan angin terdengar nyaring saat pusaran udara terbentuk di sekitar Ariel, membelit tubuhnya seperti rantai tak kasat mata. Namun sebelum cengkeraman angin bisa menahan gerakannya, Ariel mengangkat pedang reliknya tinggi-tinggi. Mata keemasannya berkilat sesaat sebelum berubah menjadi merah."Divine Reflection."Kilatan cahaya meledak dari tubuhnya, memantulkan energi angin yang seharusnya membelenggunya. Seakan tak tersentuh, ia melangkah maju tanpa kesulitan sedikit pun.Revan terhuyung ke belakang, tangannya masih terangkat de
Kilatan cahaya menyambar cakrawala. Petir menggelegar, suaranya menggema seperti raungan raksasa yang marah. Langit yang tadinya cerah kini berubah kelam, seakan ditelan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar awan mendung. Udara menjadi berat, seperti ribuan ton besi menekan dada.Aku berdiri di tengah padang yang luas, trisula sudah dalam genggamanku. Angin bertiup liar, merontokkan dedaunan dan menerbangkan debu hingga membentuk pusaran kecil di sekeliling kami. Di sampingku, Revan berdiri dengan tenang, tatapannya tajam seperti pisau yang baru diasah. Di sisi lain, Ariel tampak gelisah, matanya menari-nari di antara kami dan langit yang mulai retak."Sebentar lagi dia akan muncul," ucapku, suaraku tenggelam dalam riuhnya gemuruh yang terus beresonansi.Revan mengangguk pelan. Dia tahu. Sepertinya dia sudah melihat ini sebelumnya. Namun Ariel… Ariel tidak. Tangannya mencengkeram relik pedang yang kuberikan, jemarinya gemetar meski ia berusaha menyembunyikannya."Apa yang akan mu
Udara dingin menerpa kulitku seperti pisau tipis yang menggores perlahan. Di hadapanku, Ariel terkunci dalam pusaran angin yang menderu seperti raungan serigala lapar, seakan mencoba menelan tubuhnya bulat-bulat. Keringat dingin mengalir di pelipisku saat melihat tubuhnya bergetar hebat di dalam lingkaran udara yang melingkupinya."Sial..." gumamku, mengepalkan tangan dengan gelisah. Suara angin yang berputar kencang membuat sekeliling terasa seperti badai yang mengamuk. Aku melirik pria itu, sosok misterius yang baru saja muncul dari reruntuhan. Tangannya terulur, mengendalikan barrier angin yang menekan Ariel.Aku meneguk ludah, lalu melangkah mendekatinya. "Apa dia akan baik-baik saja?" tanyaku, suaraku nyaris tenggelam dalam deru angin.Pria itu tak langsung menjawab. Tatapannya tetap terkunci pada Ariel, dingin dan tajam, seperti burung pemangsa yang mengamati mangsanya. "Entahlah," jawabnya akhirnya, suaranya tenang tapi penuh ketegangan. "Yang bisa aku lakukan hanya menahan kek
Suasana berat mencekam saat kami melangkah meninggalkan reruntuhan yang kini hanya menyisakan puing-puing dan bayangan kematian. Bau anyir darah bercampur dengan aroma karat besi, menguar tajam di udara malam yang dingin. Setiap tarikan napas serasa mencengkram paru-paru, berat, pengap, seakan dunia sendiri mencoba menahan kami untuk tidak pergi.Srek.Butiran pasir bergeser di bawah sepatu kami. Angin menderu, melolong di antara bebatuan, berbisik lirih seperti suara mereka yang telah gugur.Aku melirik ke samping. Ariel berjalan di sebelahku, langkahnya tetap tegas, namun ada sesuatu yang berbeda. Bahunya tegang, napasnya pendek dan tersendat. Biasanya, mata emasnya selalu berkilat penuh keyakinan. Tapi kini, sorot itu meredup—seperti api yang kehilangan bahan bakarnya.Srek.Kami terus berjalan. Tapi lalu—Ariel berhenti.Satu tangannya menekan pelipis, napasnya tertahan. Aku melihatnya menarik napas dalam-dalam, tapi ada getaran halus di jemarinya, begitu samar, nyaris tak terliha
Setelah kejadian di jembatan, kami menemukan sebuah gua di tebing berbatu sebagai tempat perlindungan sementara. Gua itu gelap dan lembap, tapi cukup luas untuk menampung kami berlima. Dengan sisa tenaga, kami menyusun barikade seadanya di mulut gua, menggunakan batu-batu besar dan ranting pohon un
Kami melangkah hati-hati di atas jembatan yang rapuh, angin dingin terus menerpa wajah, membuat kakiku gemetar. Di bawah jembatan, jurang gelap itu terasa seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang terjatuh. Gatra memimpin di depan, langkahnya mantap meskipun jembatan berde
Ruangan itu kembali sunyi setelah kepergian Raka dan dua orang misterius lainnya. Namun, kesunyian itu terasa lebih berat daripada ketegangan sebelumnya. Aku, Mirna, dan yang lain hanya berdiri diam, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. "Apa kita cuma nunggu mati sekarang?" tanya Mirna, na
Pintu di belakang kami berderit pelan, tapi anehnya tidak ada yang masuk. Kami semua terdiam, tubuh tegang seperti senar gitar yang siap putus. Aku mencoba mengatur napas, tapi udara terasa berat di paru-paruku. “Kenapa gak langsung masuk?” bisik Mirna, matanya terpaku pada pintu yang setengah ter







