หน้าหลัก / Romansa / Pengantin Pengganti Revano / Bab 35. Pria yang Mengincar Rania

แชร์

Bab 35. Pria yang Mengincar Rania

ผู้เขียน: Lia Lintang
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-21 21:00:19

Pagi itu terasa berbeda bagi Rania. Langit cerah, tetapi dadanya terasa sempit, seolah ada bayangan yang mengikuti tiap langkahnya.

Mobil Revano berhenti tepat di depan rumah sakit.

Revano turun lebih dulu, membukakan pintu.

“Hari ini aku ada rapat sampai sore,” katanya sambil merapikan rambut Rania yang tertiup angin.

“Tapi Bima dan orang-orangku tetap mengawasi.”

Rania tersenyum kecil.

“Kau seperti pengawal presiden.”

Revano mendekatkan keningnya ke kening Rania.

“Karena istriku lebih berharg
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 152. Berdamai Dengan Waktu

    Langit pagi di pinggiran kota tampak bersih setelah hujan semalam. Cahaya matahari jatuh lembut di jendela RAJIA Coffee & Flower House, membuat kelopak-kelopak bunga di rak depan tampak berkilau seperti baru disiram harapan.Rania berdiri di balik etalase, menata mawar dan baby breath. Gerakannya pelan, teratur, seolah hidupnya kini mengikuti ritme yang ia pilih sendiri.Bel pintu berbunyi.Ting.Rania mendongak.Revano berdiri di sana.Bukan Revano yang dulu penuh kuasa, bukan pula yang mabuk dan berantakan. Ia tampak lebih kurus, rahangnya menegang, matanya menyimpan kelelahan yang tak sempat disembuhkan.Beberapa pelanggan melirik, tapi Rania tetap tenang.“Duduklah,” ucapnya singkat. “Aku buatkan kopi.”Revano sedikit terkejut.Ia sempat mengira akan diusir.Namun Rania justru bergerak ke mesin espresso tanpa drama, tanpa amarah.Aroma kopi memenuhi ruang.Revano duduk di meja dekat jendela. Tangannya saling mengait, gelisah.Rania meletakkan secangkir kopi di depannya.“Minum. Ka

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 151. Kehancuran Revano

    Hujan mengguyur kota malam itu, tapi Revano tidak peduli.Mobil sportnya melaju kencang, menembus lampu merah, menabrak genangan air, seolah ia sedang berlomba dengan sesuatu yang tidak bisa ia kejar seperti ketenangan.Di dashboard, botol minuman keras tergeletak setengah kosong.Tangannya gemetar saat memutar setir.Bukan karena mabuk sepenuhnya.Tapi karena kosong.Sejak Rania pergi, rumah besar itu berubah seperti museum: sunyi, dingin, dan penuh bayangan kenangan. Tidak ada suara langkah kecil, tidak ada aroma teh pagi, tidak ada perempuan yang dulu menunggunya pulang meski sering disakiti.Yang tersisa hanya gema pintu dan egonya sendiri.Maka Revano memilih tempat lain untuk hidup: malam.Lampu kelab menyala liar.Musik menghantam dada.Asap rokok, parfum mahal, tawa perempuan, dan denting gelas bercampur jadi satu.Revano masuk dengan jaket hitam, wajah tampan yang dulu selalu rapi kini terlihat lelah dan keras.“Rev!” teriak seorang bartender. “Biasanya kamu gak pernah muncul

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 150. Jalan Berbeda

    Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat tirai tipis penginapan.Rania terbangun tanpa alarm.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa… ringan. Bukan karena masalah hilang, tapi karena ia berhenti melawannya dengan rasa takut.Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang masih basah oleh sisa hujan semalam.Hari ini bukan tentang Revano.Hari ini tentang dirinya sendiri.Rania meraih ponsel.Puluhan pesan dari Revano masih memenuhi layar. Ia tidak membuka satu pun. Ia hanya mematikan notifikasi nama itu.Bukan membenci.Tapi menjaga jarak agar ia tidak kembali runtuh.“Aku tidak bisa hidup sambil terus menoleh,” gumamnya.Ia mandi, mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang krem. Rambutnya ia ikat rendah. Tidak ada riasan berlebihan. Hanya wajah Rania yang asli.Setelah itu, ia membuka laptop.Berkas-berkas kerja masih tersimpan rapi.Logo rumah sakit di sudut file.Nama Dr. Rania yang selama ini ia banggakan.Ia menatap layar lama.Pekerjaan

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 149. Kebebasan Untuk Rania

    Sore turun perlahan di rumah sakit. Langit di balik jendela berubah jingga pucat, tapi dada Rania justru terasa semakin gelap. Seharian ia bekerja sambil menahan getaran ponsel yang tak pernah benar-benar berhenti.Dua puluh tiga pesan.Tujuh panggilan tak terjawab.Semua dari Revano.Rania duduk di ruang ganti dokter, membuka ponselnya untuk pertama kali sejak siang.Isinya membuat napasnya tercekat.Revano:Kamu sengaja mempermalukanku di depan orang.Revano:Kamu pikir aku diam saja?Revano:Pulang sekarang. Kita bicara.Revano:Kalau tidak, aku yang datang lagi.Revano:Jangan paksa aku bersikap keras, Rania.Jari Rania bergetar.Ada ancaman di balik setiap kalimat.Ia menatap pantulan wajahnya di loker.Mata yang lelah.Tapi ada sesuatu yang baru: keberanian yang mulai tumbuh.Rania mengunci ponsel.“Aku tidak mau hidup seperti ini lagi,” bisiknya.Di parkiran rumah sakit, Rania baru saja membuka pintu mobil ketika sebuah bayangan menghadangnya.Revano.Ia berdiri tepat di depan

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 148. Berseteru Dengan Leonard

    Pagi di rumah dinas terasa lebih dingin dari biasanya. Rania duduk di meja makan tanpa benar-benar menyentuh sarapannya. Semalaman ia hampir tak tidur. Bayangan Revano yang berdiri terlalu dekat, tatapannya yang seolah ingin mengunci, masih mengendap di kepalanya.Ponselnya bergetar.Nama yang muncul kembali membuat dadanya mengeras.Revano.Rania menatap layar lama.Lalu… ia membiarkannya berdering.Satu panggilan tak dijawab.Dua.Tiga.Akhirnya berhenti.Namun pesan masuk menyusul.Revano:Kenapa tidak angkat?Revano:Kamu sudah bangun?Revano:Hari ini aku antar ke RS.Revano:Jangan ke mana-mana tanpa bilang aku.Rania menarik napas panjang.Alih-alih membalas, ia mematikan layar dan berdiri.“Hari ini aku mau tenang,” gumamnya.Ia mengambil tas, kunci mobil, dan pergi tanpa memberi kabar.Di rumah sakit, suasana seperti biasa: sibuk, ramai, penuh denyut kehidupan.Rania berjalan cepat menuju ruang dokter.Namun baru beberapa langkah, sebuah suara memanggilnya.“Dokter Rania.”Ia

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 147. Obsesi Dalam Ikatan

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa segar.Rania terbangun sebelum alarm berbunyi. Dadanya terasa berat, seperti ada sisa mimpi yang menempel dan enggan pergi. Cahaya matahari menyelinap lewat tirai, membentuk garis tipis di lantai kamar.Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah.Malam tadi, suara Revano masih terngiang di kepalanya.Aku takut kehilanganmu lagi.Kalimat itu seharusnya terdengar manis.Namun entah kenapa, di dada Rania, ia berubah menjadi tekanan.Rania meraih ponsel.Belum sempat membuka apa pun, layar sudah dipenuhi notifikasi.Satu.Dua.Lima.Delapan pesan masuk.Semua dari nama yang sama.Revano.Rania mengernyit.Ia membuka pesan pertama.Revano:Selamat pagi. Kamu sudah bangun?Belum sempat mencerna, ia membaca lanjutannya.Revano:Jangan lupa sarapan. Kamu sering pingsan kalau telat makan.Revano:Hari ini jadwalmu apa? Operasi atau poli?Revano:Kirim lokasi kalau sudah sampai rumah sakit.Revano:Aku cuma mau pastikan kamu aman.Rania menelan ludah.Ada mas

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 129. Identitas yang Disembunyikan

    Langit mulai gelap ketika mobil Revano memasuki kawasan gudang tua milik keluarga Dirgantara. Bangunan-bangunan beton berdiri seperti bangkai raksasa, catnya mengelupas, jendelanya retak, dan bau laut bercampur karat menguar di udara. Lampu-lampu jalan hanya menyala separuh, menciptakan bayangan pa

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 128. Bayi yang Dibuang

    Pagi itu kota pesisir belum sepenuhnya bangun ketika Revano turun dari mobil bersama Bima. Udara asin laut masih bercampur kabut tipis, sementara matahari naik perlahan dari balik dermaga, memantulkan cahaya ke perairan yang berkilau pucat. Mereka baru saja kembali dari lokasi lama pabrik Dirgantar

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 127. Jeff Sadar Hampir Dibunuh

    Malam belum benar-benar usai ketika Jeff berdiri di balkon vila, menatap laut yang hitam seperti tinta. Angin dingin menyapu rambutnya, tapi pikirannya jauh lebih dingin dari udara pegunungan mana pun.Ponsel di tangannya bergetar.Sekali.Dua kali.Nama yang muncul di layar membuat rahangnya menge

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 126. Jebakan Untuk Jeff

    Malam turun tanpa suara, menutup pegunungan dengan kabut tipis yang menggantung seperti napas kematian. Jalan berliku di tepi jurang itu sepi, hanya diterangi lampu-lampu kecil penanda tikungan yang berkelip seperti mata waspada.Di sebuah pos tua yang sudah lama tak terpakai, Bima berdiri sambil m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status