Beranda / Romansa / Pengantin Pengganti Revano / Bab 5. Sebuah Pijatan

Share

Bab 5. Sebuah Pijatan

Penulis: Lia Lintang
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-07 18:34:48

Malam itu kamar terasa begitu senyap.

Hanya suara halus kipas angin yang berputar di langit-langit, mengisi ruang di antara mereka.

Rania berdiri di sisi ranjang, menatap sosok suaminya yang duduk di kursi roda dengan ekspresi dingin tak terbaca.

Sejenak ia ragu, tapi akhirnya ia memberanikan diri.

“Apakah ... kamu perlu ke kamar mandi?” tanyanya hati-hati.

Tatapan Revano tetap lurus, nyaris tidak bergeming.

“Tidak.”

Jawaban pendek itu membuat suasana kembali membeku.

Tapi Rania menolak menyerah. Ia tahu, apa pun alasannya menikah dengan pria ini, ia tetaplah seorang istri. Dan ada kewajiban yang harus dijalankan.

Rania menarik napas dalam, melangkah pelan mendekati Revano.

“Kalau begitu, izinkan aku membantumu berganti pakaian.”

Mata dingin Revano beralih menatapnya. Ada kilatan tajam yang membuat Rania refleks menelan ludah.

“Aku tidak selemah itu,” ucapnya dingin, seolah menyatakan harga dirinya.

Namun Rania tetap mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh kancing kemeja hitam yang dikenakan Revano.

“Aku hanya ingin membantumu ... apa salahnya?” suaranya bergetar tapi tetap lembut.

Beberapa detik mereka saling bertatapan, hingga akhirnya Revano mengembuskan napas berat, tak menolak, tapi juga tidak benar-benar mengizinkan.

Dengan jari gemetar, Rania mulai membuka kancing kemeja satu per satu.

Setiap gerakan terasa lambat, nyaris sakral, membuat detak jantungnya semakin kacau. Saat ia menarik kain itu dari tubuh Revano, sepasang mata mereka tiba-tiba beradu.

Mata cokelat tajam itu menelanjangi perasaannya. Rania tercekat, dadanya seperti diremas dari dalam.

Dan tepat ketika jarak mereka begitu dekat, aroma parfum maskulin yang samar menempel di kulit Revano menyergap inderanya. Membuat Rania menahan napas.

Aroma itu ... persis sama dengan yang dikenakan Jeff.

Tubuhnya membeku. Wajahnya memanas. Jantungnya seolah jatuh ke dasar perut.

'Bagaimana mungkin?'

Rania buru-buru menunduk, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. Tangannya kaku ketika hendak merapikan kemeja baru yang kini melekat di tubuh Revano.

Revano, dengan wajah datarnya, hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Namun di balik keheningan itu, Rania merasakan sesuatu yang aneh seolah pria di hadapannya menyembunyikan lebih banyak rahasia daripada yang terlihat.

***

Rania menarik napas panjang, berusaha menenangkan degup jantungnya.

Ia menatap Revano yang masih duduk di kursi roda, diam, dingin, seolah dinding baja memisahkan mereka.

Tanpa banyak kata, ia berlutut di hadapan pria itu.

“Apa yang kau lakukan?” suara Revano terdengar rendah, penuh kewaspadaan.

Rania tersenyum samar. “Aku ingin memijatmu.”

Tatapan Revano mengeras. “Aku bilang, jangan sentuh aku.”

“Tapi ini demi kebaikanmu,” sahut Rania pelan tapi tegas.

Jemarinya sudah menyentuh pergelangan kaki Revano, meski pria itu sempat menarik diri.

“Jika terapi dilakukan rutin, seharusnya masih ada harapan untuk kakimu. Kau bisa pulih ... kau bisa berjalan lagi.”

Rania mengusap pelan betisnya sebelum mulai menekan dengan gerakan hati-hati.

Ia bisa merasakan otot-otot yang kaku di bawah kulit. Mulanya Revano mendengus, wajahnya menegang, jelas menolak.

Namun Rania tidak berhenti. Tekanan pijatannya lembut tapi konsisten.

Beberapa menit berlalu, perlawanannya perlahan surut.

Rahangnya yang semula mengeras akhirnya melunak, dan hembusan napas berat lolos dari bibirnya.

“Lihat?” Rania berkata lirih. “Tidak seburuk itu, 'kan?”

Revano menunduk sedikit, menatap wanita di depannya. Rambut Rania yang terurai menyentuh tangannya, dan sekejap matanya menatapnya lekat tanpa kedip.

Sunyi sesaat, lalu suara beratnya memecah keheningan.

“Kenapa ... kau tidak takut?” tanya Revano penasaran.

Rania mendongak, tercengang oleh pertanyaan itu.

“Takut?”

“Ya.” Mata Revano menajam, ada luka samar yang bersembunyi di balik dinginnya.

“Aku cacat. Aku dingin. Aku bisa saja mengusirmu kapan saja. Bukankah kau jijik sekamar dengan pria sepertiku? Bukankah kau merasa dipenjara?”

Rania menggenggam kuat kakinya, menatap balik penuh keberanian.

“Aku tidak merasa terpenjara. Aku tahu ... keadaanmu tidak mudah. Tapi aku tidak jijik, apalagi takut.” Suaranya bergetar tapi jujur.

“Aku istrimu sekarang, Revano. Dan aku ingin merawatmu ... apapun caranya.”

Mata Revano bergetar samar, meski segera ia alihkan pandangan.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, ada celah kecil di dinding dingin yang dibangunnya.

Dan Rania merasakannya.

***

Pijatan itu terhenti ketika terdengar ketukan lembut di pintu.

Belum sempat Rania berdiri, pintu sudah terbuka dan sosok wanita paruh baya dengan senyum teduh masuk sambil membawa nampan berisi dua gelas susu hangat.

“Ibu?” Revano mengangkat wajah, nada suaranya berubah lebih lembut.

Wanita itu meletakkan nampan di meja kecil dekat ranjang.

“Kalian pasti lelah. Minumlah susu dulu sebelum tidur. Susu baik untuk kesehatan tulang,” ucapnya sambil melirik Rania dengan sorot penuh kehangatan.

“Apalagi sekarang kalian harus saling menjaga.”

Rania tersenyum kaku. “Terima kasih, Bu.”

“Ya sudah, ibu tidak mau mengganggu. Tidurlah yang nyenyak, jangan terlalu larut berbicara.” Ia menyapu pandangan ke arah mereka berdua, lalu keluar sambil menutup pintu dengan hati-hati.

Kesunyian kembali turun.

Revano mengambil gelas susunya tanpa ekspresi, menyeruput sedikit, lalu menaruhnya kembali.

Pandangan matanya masih mengunci ke arah Rania yang masih duduk di kursi samping ranjang.

“Tidur di sini,” katanya tiba-tiba.

Rania sontak menoleh. “Apa?”

“Di ranjang ini. Seranjang denganku.”

Rania terperanjat, tubuhnya menegang.

“Tidak, Revano. Kita sudah sepakat di awal pernikahan. Aku akan menjaga batasan.”

Sudut bibir Revano terangkat tipis, tetapi matanya tetap dingin.

“Apa kau ingin membuat ibu curiga? Atau keluarga lainnya?” suaranya datar, tetapi penuh penekanan.

“Kau istriku sekarang. Mereka akan heran jika tahu kau tidak tidur di sampingku.”

Rania menggigit bibirnya, dadanya berdebar.

Ia tahu ucapan Revano ada benarnya. Tapi bayangan harus berbaring di ranjang yang sama dengannya membuat perasaannya campur aduk.

“Aku...,” ia berusaha menegaskan, “aku tidak ingin ada kesalahpahaman. Kita hanya menjalani pernikahan ini karena keadaan.”

Revano mencondongkan tubuh sedikit, menatapnya lurus dengan tatapan yang sulit diterka.

“Justru itu. Kalau kau menolak tidur di sini, mereka akan semakin bertanya-tanya. Aku tidak mau dicurigai. Tidak mau dianggap lemah, tidak bisa menjalankan rumah tangga.”

Rania tercekat. Kata-katanya jelas merupakan perintah terselubung, sekaligus jebakan yang membuatnya tak bisa berkutik.

Ia menghela napas panjang, lalu berdiri dengan kaku.

“Baiklah,” bisiknya hampir tak terdengar.

'Pria plin-plan. Sebelumnya berkata agar aku menjaga jarak. Lihat, siapa yang pada akhirnya tidak tahan?'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 7. Minyak, Pagi, dan Jarak

    Pagi datang dengan cahaya lembut yang menyusup melalui jendela besar rumah keluarga Wongso.Rania sudah terjaga sejak subuh. Ia berdiri di depan wastafel kamar mandi, membasuh wajahnya sambil menghela napas pelan. Semalam terasa panjang bahkan rasanya terlalu panjang untuk pernikahan yang masih asing.Ia baru saja mengenakan pakaian sederhana ketika ketukan halus terdengar di ambang pintu.“Rania?” suara lembut terdengar dari luar.Membuat Rania segera melangkahkan kakinya setengah berlari.Ia membuka pintu dan mendapati ibu mertuanya berdiri dengan senyum hangat. Di tangan wanita paruh baya itu, sebuah botol kecil berisi cairan keemasan. Lalu, ibu mertua Rania menariknya dan mengajaknya turun ke ruang tengah. Seolah ada pembicaraan penting yang ingin disampaikan. “Selamat pagi, Nak,” sapanya ramah. “Tidurmu nyenyak?”Rania tersenyum sopan. “Pagi, Bu. Cukup nyenyak.”Ibu mertua menatap wajahnya sejenak, seolah menilai sesuatu, lalu menyerahkan botol itu.“Ini minyak urut khusus. Ibu

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 6. Seranjang Dengan Musuh yang Sama

    Lampu kamar sengaja diredupkan. Rania berdiri kaku di sisi ranjang besar itu, jemarinya saling meremas tanpa sadar. Gaun tidurnya sederhana, lengan panjang, menutup rapat tubuhnya namun tetap saja jantungnya berdegup tak karuan di dekat suami yang masih terasa asing baginya.Di sisi lain, Revano sudah berbaring setengah duduk, punggungnya bersandar pada sandaran ranjang. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya masih sengaja ia tutupi dengan topeng aneh menakutkan, tetapi Rania tahu jika pria itu masih memperhatikannya dari sudut matanya. “Kenapa masih berdiri?” tanya Revano datar.Rania menelan ludah.“Aku… hanya memastikan jaraknya,” jawabnya pelan.Sudut bibir Revano terangkat tipis. Senyum yang tidak pernah benar-benar hangat bagi siapapun. Ya, memang begitu caranya bersikap.“Tenang saja,” katanya rendah. “Aku tidak tertarik menyentuhmu.”Entah kenapa, kalimat itu justru membuat dada Rania terasa nyeri.Ia akhirnya naik ke ranjang, mengambil sisi paling pinggir, menjaga jarak sejauh

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 5. Sebuah Pijatan

    Malam itu kamar terasa begitu senyap.Hanya suara halus kipas angin yang berputar di langit-langit, mengisi ruang di antara mereka.Rania berdiri di sisi ranjang, menatap sosok suaminya yang duduk di kursi roda dengan ekspresi dingin tak terbaca.Sejenak ia ragu, tapi akhirnya ia memberanikan diri.“Apakah ... kamu perlu ke kamar mandi?” tanyanya hati-hati.Tatapan Revano tetap lurus, nyaris tidak bergeming.“Tidak.”Jawaban pendek itu membuat suasana kembali membeku.Tapi Rania menolak menyerah. Ia tahu, apa pun alasannya menikah dengan pria ini, ia tetaplah seorang istri. Dan ada kewajiban yang harus dijalankan.Rania menarik napas dalam, melangkah pelan mendekati Revano.“Kalau begitu, izinkan aku membantumu berganti pakaian.”Mata dingin Revano beralih menatapnya. Ada kilatan tajam yang membuat Rania refleks menelan ludah.“Aku tidak selemah itu,” ucapnya dingin, seolah menyatakan harga dirinya.Namun Rania tetap mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh kancing kemeja hitam yang di

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 4. Pesona Jeff

    Langkah Rania terdengar pelan ketika ia mengikuti Jeff menuju parkiran rumah sakit.Perasaan campur aduk berputar di dadanya, antara heran, canggung, dan ... entah mengapa sedikit berdebar.Semua mata tadi masih terasa mengikutinya. Bisikan-bisikan rekan sejawat yang menyebut Jeff mirip Revano terus bergaung di kepalanya.Saat tiba di samping mobil hitam mewah yang di parkir rapi, Jeff bergerak duluan.Dengan sigap ia membukakan pintu untuk Rania, lalu menundukkan tubuhnya sedikit.“Silakan masuk, Nyonya.”Nada suaranya tenang, tetapi ada kewibawaan yang sulit diabaikan. Rania sempat ragu, tapi akhirnya melangkah masuk.Saat tubuhnya hampir duduk, Jeff menahan pintu agar tidak menutup terlalu cepat, memastikan ia nyaman.Sepasang mata perempuan berparas cantik itu tak berani menoleh langsung. Hanya mengamati pergerakan Jeff lewat lirikan matanya saja.Ketika Rania sudah duduk, ia mendapati Jeff tidak langsung menutup pintu. Pria itu justru menunduk ke arahnya, dan tanpa banyak bicara,

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 3. Leonard sang Penggoda

    Hari pertama sebagai istri Revano terasa aneh bagi Rania.Ia bangun pagi dengan suasana rumah yang asing, penuh aturan tak tertulis.Tidak ada sapaan hangat, tidak ada ucapan selamat pagi. Hanya keheningan dan suara pelayan yang sibuk menyiapkan sarapan.Revano sudah lebih dulu duduk di meja makan, dengan setelan rapi meski masih di kursi roda.Ia sibuk menatap layar laptop, jarinya mengetik cepat, tanpa sedikit pun menoleh pada Rania.“Pagi,” ucap Rania pelan.“Pagi,” balas Revano singkat, nyaris tanpa ekspresi.Tak ada percakapan lain.Rania menarik napas dalam.Ia tidak bisa berharap terlalu banyak dari pria itu. Baginya, kehidupan ini mungkin hanya kontrak.Tapi bagi Rania, dunia luar masih menunggunya.Ada pasien, ada ruang operasi, ada panggilan jiwa yang membuatnya tetap bisa berdiri tegak.Hari itu, Rania kembali mengenakan jas putih dan masuk ke rumah sakit tempat ia bekerja.Begitu melangkah ke koridor, beberapa rekan sejawat langsung berbisik-bisik.“Itu Rania, 'kan? Katany

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 2. Malam Pertama yang Mengejutkan

    Namun kenyataannya buku jemari Rania terus menari, tinta hitam meninggalkan jejak pernikahan.Dan keduanya pun akhirnya sah menjadi sepasang suami istri.Beberapa orang keluarga tampak bersalaman sebagai bentuk mengucapkan selamat pada sepasang pengantin. Dan beberapa yang lain hanya bergeming, lengkap dengan tatapan tak suka mereka.Kemudian, akhirnya Revano membawa Rania pergi bersamanya.***Suasana kantor catatan sipil tadi pagi masih membekas di benak Rania.Ia masih bisa mendengar suara Felia yang mengintervensi, tatapan sinis dari para tamu, hingga ekspresi dingin Revano yang sama sekali tak bergeming.Namun pada akhirnya, ia menandatangani berkas itu. Kini, ia resmi menjadi Nyonya Revano Wongso.Hari itu berlanjut dengan pesta pernikahan mewah di sebuah hotel bintang lima. Lampu kristal berkilauan, musik lembut mengalun, dan para tamu berbisik-bisik membicarakan betapa cantiknya pengantin baru itu.Namun di balik semua kemewahan, dada Rania terasa sesak. Senyumnya dipaksakan,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status