Share

Bab 4. Pesona Jeff

Penulis: Lia Lintang
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-07 18:33:40

Langkah Rania terdengar pelan ketika ia mengikuti Jeff menuju parkiran rumah sakit.

Perasaan campur aduk berputar di dadanya, antara heran, canggung, dan ... entah mengapa sedikit berdebar.

Semua mata tadi masih terasa mengikutinya. Bisikan-bisikan rekan sejawat yang menyebut Jeff mirip Revano terus bergaung di kepalanya.

Saat tiba di samping mobil hitam mewah yang di parkir rapi, Jeff bergerak duluan.

Dengan sigap ia membukakan pintu untuk Rania, lalu menundukkan tubuhnya sedikit.

“Silakan masuk, Nyonya.”

Nada suaranya tenang, tetapi ada kewibawaan yang sulit diabaikan. Rania sempat ragu, tapi akhirnya melangkah masuk.

Saat tubuhnya hampir duduk, Jeff menahan pintu agar tidak menutup terlalu cepat, memastikan ia nyaman.

Sepasang mata perempuan berparas cantik itu tak berani menoleh langsung. Hanya mengamati pergerakan Jeff lewat lirikan matanya saja.

Ketika Rania sudah duduk, ia mendapati Jeff tidak langsung menutup pintu. Pria itu justru menunduk ke arahnya, dan tanpa banyak bicara, tangannya terulur.

Klik.

Jeff menarik sabuk pengaman dan dengan hati-hati memasangkannya di tubuh Rania. Jarak mereka begitu dekat hingga Rania bisa merasakan wangi maskulin lembut yang menempel di jasnya.

Aroma parfum khas menguar, memenuhi seisi mobil.

“Ka-kau tidak perlu repot—” bisik Rania, pipinya merona.

Jeff menoleh sekilas, mata tajamnya menangkap sorot matanya.

“Aku hanya memastikanmu aman.”

Seketika jantung Rania kembali berdegup lebih cepat.

Ia buru-buru memejamkan mata, mencoba menenangkan dirinya dan berusaha menghindari tatapan Jeff.

'Kenapa aku gugup begini? Dia hanya ... orang suruhan Revano, bukan siapa-siapa.'

Setelah memastikan seat belt terpasang, Jeff perlahan menutup pintu, lalu berjalan mengitari mobil.

Begitu ia masuk ke kursi pengemudi, suasana hening mengisi kabin. Hanya suara mesin yang halus terdengar.

Rania melirik sekilas. Siluet wajah Jeff begitu tegas di bawah cahaya lampu parkir—rahang kokoh, alis tebal, dan tatapan fokus ke depan.

Ada sesuatu dari dirinya yang memancarkan aura dingin sekaligus menenangkan.

“Kenapa kau ... begitu mirip dengan Revano?” pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Rania, meski ia sendiri ragu untuk menanyakannya.

Jeff tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum samar, lalu mengarahkan mobil keluar dari area parkir.

“Mirip bukan berarti sama,” ucapnya akhirnya, datar tetapi terdengar seperti sarat makna.

Hening akhirnya kembali menyelimuti kebersamaan mereka. Rania menggigit bibirnya, berusaha menyingkirkan rasa penasaran yang terus mengusiknya.

Namun tiba-tiba, suara Jeff memecah ketenangan.

“Kau harus hati-hati, Rania.”

Rania menoleh, bingung. “Maksudmu?”

Jeff tidak menatapnya, pandangannya tetap lurus ke arah jalan.

Tapi nada suaranya terdengar lebih dalam, seolah menyimpan peringatan.

“Jangan jatuh cinta padaku. Itu akan berbahaya.”

Rania tertegun. Kata-kata itu menusuknya, membuat wajahnya memanas meski ia tidak mengerti kenapa Jeff harus mengatakannya.

“A-apa? Kenapa kau bicara begitu?” suaranya terdengar gugup.

Jeff menarik napas pelan, lalu menoleh sekilas, sorot matanya penuh keseriusan.

“Karena Revano adalah pria yang kejam. Dia tidak pernah memberi ampun untuk pengkhianatan. Jika ia tahu ada sesuatu ... bahkan sekecil perasaan yang salah, dia tidak akan ragu untuk menghancurkanmu. Atau aku.”

Ucapan itu membuat bulu kuduk Rania meremang.

Di satu sisi, ia ingin bertanya lebih jauh—tentang siapa sebenarnya Jeff, apa hubungannya dengan Revano, dan kenapa ia merasa harus diperingatkan.

Namun di sisi lain, tatapan Jeff begitu tegas seolah memberi tanda bahwa percakapan harus berhenti di sana.

Rania memejamkan matanya, mencoba menenangkan diri, tetapi denyut jantungnya masih berlari tak karuan.

Ada daya tarik yang sulit dijelaskan dalam diri Jeff. Pesona yang hangat sekaligus berbahaya.

Dan untuk pertama kalinya, Rania benar-benar takut bukan hanya pada Revano ... tapi juga pada dirinya sendiri.

"Kau jangan salah paham, aku tadi hanya terkejut melihatmu memiliki banyak kemiripan dengan suamiku." Kalimat itu akhirnya mencelos begitu saja setelah mobil nyaris mendekati rumah.

Jeff kembali menatapnya sekilas.

"Apa kamu tidak bisa melihat jika kita memiliki banyak perbedaan?"

"Apa maksudmu?" tanya Rania tanpa menatap.

"Dia cacat dan aku sempurna," sahut Jeff.

Kali ini ia berbicara seolah menyombongkan diri jika ia lebih unggul dari segi fisik dibandingkan Revano.

"Cukup!" desis Rania.

Jeff tersenyum samar. Membuat Rania semakin kesal adalah tujuannya.

"Itu fakta," katanya setengah mengejek.

"Dia Tuanmu, sekaligus suamiku. Apa kamu paham itu? Ingatlah di mana posisimu, Jeff," terang Rania sambil memasang ekspresi kesal.

***

Mobil akhirnya berhenti dengan mulus di depan gerbang utama rumah besar keluarga Wongso.

Rania mengerjap, menyadari perjalanan yang terasa begitu singkat padahal sepanjang jalan pikirannya dipenuhi tanya tentang Jeff.

Jeff keluar lebih dulu, bergegas membuka pintu untuknya. Dengan sopan ia mengulurkan tangan, membuat Rania kembali canggung.

“Terima kasih,” gumamnya pelan saat ia turun.

Jeff hanya tersenyum tipis. Kali ini tak ada basa-basi panjang.

Ia hanya menatapnya dalam sekejap sebelum berkata, “Sampai di sini tugasku. Revano sudah menunggumu.”

Jantung Rania mencelos. “Maksudmu ... dia—”

Namun sebelum sempat ia melanjutkan, Jeff menunduk sopan, lalu kembali ke balik kemudi.

Mobil itu melaju menjauh, meninggalkan Rania berdiri termangu di depan pintu megah rumah itu.

Dengan langkah ragu, ia masuk ke dalam.

Suasana rumah begitu hening hingga suara ketukan sepatunya terdengar jelas di lantai marmer. Setiap langkah membuat dadanya kian berdebar.

Ketika ia membuka pintu kamar besar itu, pemandangan di hadapannya membuat napasnya tercekat.

Revano sudah ada di sana. Duduk tegak di kursi rodanya, tubuhnya menghadap ke jendela besar dengan posisi membelakangi Rania.

Seolah sejak tadi ia memang menunggu.

Rania menahan diri, berdiri beberapa langkah dari ambang pintu.

“Ka-kau sudah di sini,” ucapnya pelan, suaranya penuh kebingungan.

Revano tidak langsung menoleh. Suaranya terdengar berat namun terdengar tenang.

“Kau terlihat kaget. Ada apa, Rania?”

Rania meremas jemarinya sendiri. Hatinya masih diliputi kebingungan atas kemunculan Jeff. Akhirnya, pertanyaan itu pun lolos dari bibirnya.

“Siapa Jeff? Kenapa dia yang menjemputku?” Suara Rania terkesan mencecar.

Sekejap ruangan terasa hening, hanya terdengar detak jam dinding.

Perlahan, Revano memutar kursi rodanya hingga berhadapan dengan Rania. Tatapannya menusuk, dingin sekaligus penuh kendali.

“Apakah dia melakukan kesalahan?” tanyanya datar, seakan lebih tertarik pada jawabannya ketimbang memberi penjelasan.

Rania terdiam. Tenggorokannya tercekat.

Bagaimana ia harus menjawab? Jeff sama sekali tidak berbuat salah ... bahkan terlalu baik. Tapi entah kenapa, pertanyaan Revano terasa seperti perangkap.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 152. Berdamai Dengan Waktu

    Langit pagi di pinggiran kota tampak bersih setelah hujan semalam. Cahaya matahari jatuh lembut di jendela RAJIA Coffee & Flower House, membuat kelopak-kelopak bunga di rak depan tampak berkilau seperti baru disiram harapan.Rania berdiri di balik etalase, menata mawar dan baby breath. Gerakannya pelan, teratur, seolah hidupnya kini mengikuti ritme yang ia pilih sendiri.Bel pintu berbunyi.Ting.Rania mendongak.Revano berdiri di sana.Bukan Revano yang dulu penuh kuasa, bukan pula yang mabuk dan berantakan. Ia tampak lebih kurus, rahangnya menegang, matanya menyimpan kelelahan yang tak sempat disembuhkan.Beberapa pelanggan melirik, tapi Rania tetap tenang.“Duduklah,” ucapnya singkat. “Aku buatkan kopi.”Revano sedikit terkejut.Ia sempat mengira akan diusir.Namun Rania justru bergerak ke mesin espresso tanpa drama, tanpa amarah.Aroma kopi memenuhi ruang.Revano duduk di meja dekat jendela. Tangannya saling mengait, gelisah.Rania meletakkan secangkir kopi di depannya.“Minum. Ka

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 151. Kehancuran Revano

    Hujan mengguyur kota malam itu, tapi Revano tidak peduli.Mobil sportnya melaju kencang, menembus lampu merah, menabrak genangan air, seolah ia sedang berlomba dengan sesuatu yang tidak bisa ia kejar seperti ketenangan.Di dashboard, botol minuman keras tergeletak setengah kosong.Tangannya gemetar saat memutar setir.Bukan karena mabuk sepenuhnya.Tapi karena kosong.Sejak Rania pergi, rumah besar itu berubah seperti museum: sunyi, dingin, dan penuh bayangan kenangan. Tidak ada suara langkah kecil, tidak ada aroma teh pagi, tidak ada perempuan yang dulu menunggunya pulang meski sering disakiti.Yang tersisa hanya gema pintu dan egonya sendiri.Maka Revano memilih tempat lain untuk hidup: malam.Lampu kelab menyala liar.Musik menghantam dada.Asap rokok, parfum mahal, tawa perempuan, dan denting gelas bercampur jadi satu.Revano masuk dengan jaket hitam, wajah tampan yang dulu selalu rapi kini terlihat lelah dan keras.“Rev!” teriak seorang bartender. “Biasanya kamu gak pernah muncul

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 150. Jalan Berbeda

    Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat tirai tipis penginapan.Rania terbangun tanpa alarm.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa… ringan. Bukan karena masalah hilang, tapi karena ia berhenti melawannya dengan rasa takut.Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang masih basah oleh sisa hujan semalam.Hari ini bukan tentang Revano.Hari ini tentang dirinya sendiri.Rania meraih ponsel.Puluhan pesan dari Revano masih memenuhi layar. Ia tidak membuka satu pun. Ia hanya mematikan notifikasi nama itu.Bukan membenci.Tapi menjaga jarak agar ia tidak kembali runtuh.“Aku tidak bisa hidup sambil terus menoleh,” gumamnya.Ia mandi, mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang krem. Rambutnya ia ikat rendah. Tidak ada riasan berlebihan. Hanya wajah Rania yang asli.Setelah itu, ia membuka laptop.Berkas-berkas kerja masih tersimpan rapi.Logo rumah sakit di sudut file.Nama Dr. Rania yang selama ini ia banggakan.Ia menatap layar lama.Pekerjaan

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 149. Kebebasan Untuk Rania

    Sore turun perlahan di rumah sakit. Langit di balik jendela berubah jingga pucat, tapi dada Rania justru terasa semakin gelap. Seharian ia bekerja sambil menahan getaran ponsel yang tak pernah benar-benar berhenti.Dua puluh tiga pesan.Tujuh panggilan tak terjawab.Semua dari Revano.Rania duduk di ruang ganti dokter, membuka ponselnya untuk pertama kali sejak siang.Isinya membuat napasnya tercekat.Revano:Kamu sengaja mempermalukanku di depan orang.Revano:Kamu pikir aku diam saja?Revano:Pulang sekarang. Kita bicara.Revano:Kalau tidak, aku yang datang lagi.Revano:Jangan paksa aku bersikap keras, Rania.Jari Rania bergetar.Ada ancaman di balik setiap kalimat.Ia menatap pantulan wajahnya di loker.Mata yang lelah.Tapi ada sesuatu yang baru: keberanian yang mulai tumbuh.Rania mengunci ponsel.“Aku tidak mau hidup seperti ini lagi,” bisiknya.Di parkiran rumah sakit, Rania baru saja membuka pintu mobil ketika sebuah bayangan menghadangnya.Revano.Ia berdiri tepat di depan

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 148. Berseteru Dengan Leonard

    Pagi di rumah dinas terasa lebih dingin dari biasanya. Rania duduk di meja makan tanpa benar-benar menyentuh sarapannya. Semalaman ia hampir tak tidur. Bayangan Revano yang berdiri terlalu dekat, tatapannya yang seolah ingin mengunci, masih mengendap di kepalanya.Ponselnya bergetar.Nama yang muncul kembali membuat dadanya mengeras.Revano.Rania menatap layar lama.Lalu… ia membiarkannya berdering.Satu panggilan tak dijawab.Dua.Tiga.Akhirnya berhenti.Namun pesan masuk menyusul.Revano:Kenapa tidak angkat?Revano:Kamu sudah bangun?Revano:Hari ini aku antar ke RS.Revano:Jangan ke mana-mana tanpa bilang aku.Rania menarik napas panjang.Alih-alih membalas, ia mematikan layar dan berdiri.“Hari ini aku mau tenang,” gumamnya.Ia mengambil tas, kunci mobil, dan pergi tanpa memberi kabar.Di rumah sakit, suasana seperti biasa: sibuk, ramai, penuh denyut kehidupan.Rania berjalan cepat menuju ruang dokter.Namun baru beberapa langkah, sebuah suara memanggilnya.“Dokter Rania.”Ia

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 147. Obsesi Dalam Ikatan

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa segar.Rania terbangun sebelum alarm berbunyi. Dadanya terasa berat, seperti ada sisa mimpi yang menempel dan enggan pergi. Cahaya matahari menyelinap lewat tirai, membentuk garis tipis di lantai kamar.Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah.Malam tadi, suara Revano masih terngiang di kepalanya.Aku takut kehilanganmu lagi.Kalimat itu seharusnya terdengar manis.Namun entah kenapa, di dada Rania, ia berubah menjadi tekanan.Rania meraih ponsel.Belum sempat membuka apa pun, layar sudah dipenuhi notifikasi.Satu.Dua.Lima.Delapan pesan masuk.Semua dari nama yang sama.Revano.Rania mengernyit.Ia membuka pesan pertama.Revano:Selamat pagi. Kamu sudah bangun?Belum sempat mencerna, ia membaca lanjutannya.Revano:Jangan lupa sarapan. Kamu sering pingsan kalau telat makan.Revano:Hari ini jadwalmu apa? Operasi atau poli?Revano:Kirim lokasi kalau sudah sampai rumah sakit.Revano:Aku cuma mau pastikan kamu aman.Rania menelan ludah.Ada mas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status