LOGINPagi datang dengan cahaya lembut yang menyusup melalui jendela besar rumah keluarga Wongso.Rania sudah terjaga sejak subuh. Ia berdiri di depan wastafel kamar mandi, membasuh wajahnya sambil menghela napas pelan. Semalam terasa panjang bahkan rasanya terlalu panjang untuk pernikahan yang masih asing.Ia baru saja mengenakan pakaian sederhana ketika ketukan halus terdengar di ambang pintu.“Rania?” suara lembut terdengar dari luar.Membuat Rania segera melangkahkan kakinya setengah berlari.Ia membuka pintu dan mendapati ibu mertuanya berdiri dengan senyum hangat. Di tangan wanita paruh baya itu, sebuah botol kecil berisi cairan keemasan. Lalu, ibu mertua Rania menariknya dan mengajaknya turun ke ruang tengah. Seolah ada pembicaraan penting yang ingin disampaikan. “Selamat pagi, Nak,” sapanya ramah. “Tidurmu nyenyak?”Rania tersenyum sopan. “Pagi, Bu. Cukup nyenyak.”Ibu mertua menatap wajahnya sejenak, seolah menilai sesuatu, lalu menyerahkan botol itu.“Ini minyak urut khusus. Ibu
Lampu kamar sengaja diredupkan. Rania berdiri kaku di sisi ranjang besar itu, jemarinya saling meremas tanpa sadar. Gaun tidurnya sederhana, lengan panjang, menutup rapat tubuhnya namun tetap saja jantungnya berdegup tak karuan di dekat suami yang masih terasa asing baginya.Di sisi lain, Revano sudah berbaring setengah duduk, punggungnya bersandar pada sandaran ranjang. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya masih sengaja ia tutupi dengan topeng aneh menakutkan, tetapi Rania tahu jika pria itu masih memperhatikannya dari sudut matanya. “Kenapa masih berdiri?” tanya Revano datar.Rania menelan ludah.“Aku… hanya memastikan jaraknya,” jawabnya pelan.Sudut bibir Revano terangkat tipis. Senyum yang tidak pernah benar-benar hangat bagi siapapun. Ya, memang begitu caranya bersikap.“Tenang saja,” katanya rendah. “Aku tidak tertarik menyentuhmu.”Entah kenapa, kalimat itu justru membuat dada Rania terasa nyeri.Ia akhirnya naik ke ranjang, mengambil sisi paling pinggir, menjaga jarak sejauh
Malam itu kamar terasa begitu senyap.Hanya suara halus kipas angin yang berputar di langit-langit, mengisi ruang di antara mereka.Rania berdiri di sisi ranjang, menatap sosok suaminya yang duduk di kursi roda dengan ekspresi dingin tak terbaca.Sejenak ia ragu, tapi akhirnya ia memberanikan diri.“Apakah ... kamu perlu ke kamar mandi?” tanyanya hati-hati.Tatapan Revano tetap lurus, nyaris tidak bergeming.“Tidak.”Jawaban pendek itu membuat suasana kembali membeku.Tapi Rania menolak menyerah. Ia tahu, apa pun alasannya menikah dengan pria ini, ia tetaplah seorang istri. Dan ada kewajiban yang harus dijalankan.Rania menarik napas dalam, melangkah pelan mendekati Revano.“Kalau begitu, izinkan aku membantumu berganti pakaian.”Mata dingin Revano beralih menatapnya. Ada kilatan tajam yang membuat Rania refleks menelan ludah.“Aku tidak selemah itu,” ucapnya dingin, seolah menyatakan harga dirinya.Namun Rania tetap mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh kancing kemeja hitam yang di
Langkah Rania terdengar pelan ketika ia mengikuti Jeff menuju parkiran rumah sakit.Perasaan campur aduk berputar di dadanya, antara heran, canggung, dan ... entah mengapa sedikit berdebar.Semua mata tadi masih terasa mengikutinya. Bisikan-bisikan rekan sejawat yang menyebut Jeff mirip Revano terus bergaung di kepalanya.Saat tiba di samping mobil hitam mewah yang di parkir rapi, Jeff bergerak duluan.Dengan sigap ia membukakan pintu untuk Rania, lalu menundukkan tubuhnya sedikit.“Silakan masuk, Nyonya.”Nada suaranya tenang, tetapi ada kewibawaan yang sulit diabaikan. Rania sempat ragu, tapi akhirnya melangkah masuk.Saat tubuhnya hampir duduk, Jeff menahan pintu agar tidak menutup terlalu cepat, memastikan ia nyaman.Sepasang mata perempuan berparas cantik itu tak berani menoleh langsung. Hanya mengamati pergerakan Jeff lewat lirikan matanya saja.Ketika Rania sudah duduk, ia mendapati Jeff tidak langsung menutup pintu. Pria itu justru menunduk ke arahnya, dan tanpa banyak bicara,
Hari pertama sebagai istri Revano terasa aneh bagi Rania.Ia bangun pagi dengan suasana rumah yang asing, penuh aturan tak tertulis.Tidak ada sapaan hangat, tidak ada ucapan selamat pagi. Hanya keheningan dan suara pelayan yang sibuk menyiapkan sarapan.Revano sudah lebih dulu duduk di meja makan, dengan setelan rapi meski masih di kursi roda.Ia sibuk menatap layar laptop, jarinya mengetik cepat, tanpa sedikit pun menoleh pada Rania.“Pagi,” ucap Rania pelan.“Pagi,” balas Revano singkat, nyaris tanpa ekspresi.Tak ada percakapan lain.Rania menarik napas dalam.Ia tidak bisa berharap terlalu banyak dari pria itu. Baginya, kehidupan ini mungkin hanya kontrak.Tapi bagi Rania, dunia luar masih menunggunya.Ada pasien, ada ruang operasi, ada panggilan jiwa yang membuatnya tetap bisa berdiri tegak.Hari itu, Rania kembali mengenakan jas putih dan masuk ke rumah sakit tempat ia bekerja.Begitu melangkah ke koridor, beberapa rekan sejawat langsung berbisik-bisik.“Itu Rania, 'kan? Katany
Namun kenyataannya buku jemari Rania terus menari, tinta hitam meninggalkan jejak pernikahan.Dan keduanya pun akhirnya sah menjadi sepasang suami istri.Beberapa orang keluarga tampak bersalaman sebagai bentuk mengucapkan selamat pada sepasang pengantin. Dan beberapa yang lain hanya bergeming, lengkap dengan tatapan tak suka mereka.Kemudian, akhirnya Revano membawa Rania pergi bersamanya.***Suasana kantor catatan sipil tadi pagi masih membekas di benak Rania.Ia masih bisa mendengar suara Felia yang mengintervensi, tatapan sinis dari para tamu, hingga ekspresi dingin Revano yang sama sekali tak bergeming.Namun pada akhirnya, ia menandatangani berkas itu. Kini, ia resmi menjadi Nyonya Revano Wongso.Hari itu berlanjut dengan pesta pernikahan mewah di sebuah hotel bintang lima. Lampu kristal berkilauan, musik lembut mengalun, dan para tamu berbisik-bisik membicarakan betapa cantiknya pengantin baru itu.Namun di balik semua kemewahan, dada Rania terasa sesak. Senyumnya dipaksakan,







