Beranda / Romansa / Pengantin Pengganti Revano / Bab 6. Seranjang Dengan Musuh yang Sama

Share

Bab 6. Seranjang Dengan Musuh yang Sama

Penulis: Lia Lintang
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-16 02:21:57

Lampu kamar sengaja diredupkan. Rania berdiri kaku di sisi ranjang besar itu, jemarinya saling meremas tanpa sadar. Gaun tidurnya sederhana, lengan panjang, menutup rapat tubuhnya namun tetap saja jantungnya berdegup tak karuan di dekat suami yang masih terasa asing baginya.

Di sisi lain, Revano sudah berbaring setengah duduk, punggungnya bersandar pada sandaran ranjang. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya masih sengaja ia tutupi dengan topeng aneh menakutkan, tetapi Rania tahu jika pria itu masih memperhatikannya dari sudut matanya.

“Kenapa masih berdiri?” tanya Revano datar.

Rania menelan ludah.

“Aku… hanya memastikan jaraknya,” jawabnya pelan.

Sudut bibir Revano terangkat tipis. Senyum yang tidak pernah benar-benar hangat bagi siapapun. Ya, memang begitu caranya bersikap.

“Tenang saja,” katanya rendah. “Aku tidak tertarik menyentuhmu.”

Entah kenapa, kalimat itu justru membuat dada Rania terasa nyeri.

Ia akhirnya naik ke ranjang, mengambil sisi paling pinggir, menjaga jarak sejauh mungkin dari Revano. Tubuhnya kaku seperti patung, bahkan napasnya ia atur agar tidak terlalu terdengar.

Hening kembali turun.

Beberapa detik berlalu. Lalu—

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” suara Revano tiba-tiba memecah keheningan.

Rania terkejut. “Aku tidak—”

“Kau gugup,” potongnya. “Dan itu aneh. Kau dokter. Kau sudah menyentuh tubuh pria lain jauh lebih intim di ruang operasi.”

Rania menggigit bibirnya.

“Ini berbeda.”

“Oh?” Revano menoleh perlahan. Tatapan gelapnya kini lurus menatap wajah Rania. “Apa bedanya?”

Rania terdiam. Ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.

Karena ia sendiri tidak mengerti.

Yang ia tahu hanya satu yaitu berbaring di samping Revano membuatnya merasa… diawasi. Seolah pria ini selalu selangkah lebih tahu darinya.

“Apa kau menyesal menikah denganku?” tanya Revano tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Rania terhenyak.

“Tidak,” jawabnya cepat. Bahkan terasa terdengar jauh terlalu cepat.

Revano mengamati reaksinya dengan seksama. Lalu ia tertawa kecil sangat pelan, nyaris tak terdengar.

“Jawaban refleks,” gumamnya.

Rania memalingkan wajah. “Aku hanya tidak terbiasa.”

“Dengan apa?”

“Dengan pria sepertimu.”

Alis Revano terangkat. “Pria cacat?”

Rania spontan menoleh. “Jangan memelintir ucapanku.”

“Tapi itu yang semua orang pikirkan,” katanya tenang. “Termasuk pria di rumah sakit itu.”

Tubuh Rania menegang.

“Leonard?”

“Ya.” Mata Revano menyipit. “Dia terlalu berani berbicara padamu.”

Rania tercekat.

“Kau… tahu?”

Revano tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap langit-langit kamar, lalu berkata ringan,

“Aku tahu banyak hal tentangmu, Rania.”

Kalimat itu membuat jantung Rania berdetak keras.

“Termasuk caramu menggigit bibir saat gugup,” lanjutnya.

“Caramu menahan emosi ketika marah.”

“Dan caramu berpura-pura kuat padahal kau sendirian.”

Rania menggenggam selimut.

“Itu… bukan urusanmu.”

Revano menoleh. Kali ini jarak wajah mereka terasa lebih dekat, meski tubuh mereka tidak bergerak.

“Kau istriku,” katanya rendah. “Semua tentangmu adalah urusanku.”

Ada tekanan aneh dalam kalimat itu. Bukan romantis. Bukan juga kasar. Entah.

Lebih seperti klaim.

Rania memejamkan mata, mencoba menenangkan diri.

“Tidurlah,” kata Revano akhirnya. “Besok kau akan sibuk.”

Rania mengangguk pelan. Ia memunggungi Revano, menarik selimut hingga ke bahu.

Namun baru beberapa detik memejamkan mata, ia kembali terjaga.

Ada sesuatu yang salah.

Aroma itu kembali tercium.

Parfum maskulin yang sama.

Hangat. Bersih. Sedikit tajam.

Aroma yang identik dengan Jeff.

Rania membuka mata perlahan. Jantungnya berdetak cepat.

“Revano…,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Kau… selalu memakai parfum ini?” tanya Rania keceplosan.

Hening sesaat.

Lalu suara Revano terdengar santai, nyaris acuh.

“Kenapa? Tidak suka?”

“Bukan,” Rania ragu. “Hanya… aku pernah mencium aroma yang sama.”

“Di mana?” tanya Revano cepat.

Rania terdiam.

“Di mobil,” jawabnya jujur. “Saat Jeff menjemputku.”

Ruangan kembali senyap.

Beberapa detik akhirnya berlalu mungkin terlalu lama.

Lalu Revano terkekeh pelan.

“Kau cukup peka,” katanya. “Parfum ini jarang dipakai orang.”

Rania berbalik perlahan, menatap wajah suaminya dalam cahaya temaram.

“Jeff juga memakainya,” ucapnya pelan.

Tatapan Revano tajam seketika.

“Kau memperhatikan pria lain dengan detail seperti itu?”

Nada suaranya dingin. Jelas menggambarkan perasaan tak suka. Aneh memang.

Rania tersentak. “Tidak! Aku hanya—”

“Cukup.” Revano memotong. “Aku tidak suka istriku menyebut nama pria lain di ranjang.”

Kata ranjang membuat pipi Rania memanas.

“Aku minta maaf,” ucapnya lirih.

Revano menghela napas, lalu memalingkan wajah.

“Tidurlah. Jangan pikirkan hal yang tidak perlu.”

Rania kembali memunggunginya.

Namun kali ini, ia tidak bisa memejamkan mata.

Karena di kepalanya hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar tanpa henti.

Kenapa Revano tahu terlalu banyak?

Kenapa Jeff begitu berani?

Dan kenapa… aroma mereka sama?

Di balik punggungnya, Revano menatap sosok Rania dengan mata gelap penuh rahasia.

Sudut bibirnya seketika terangkat samar.

'Tidurlah, istriku. Permainan ini baru saja dimulai.' Batin Revano kemudian.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 152. Berdamai Dengan Waktu

    Langit pagi di pinggiran kota tampak bersih setelah hujan semalam. Cahaya matahari jatuh lembut di jendela RAJIA Coffee & Flower House, membuat kelopak-kelopak bunga di rak depan tampak berkilau seperti baru disiram harapan.Rania berdiri di balik etalase, menata mawar dan baby breath. Gerakannya pelan, teratur, seolah hidupnya kini mengikuti ritme yang ia pilih sendiri.Bel pintu berbunyi.Ting.Rania mendongak.Revano berdiri di sana.Bukan Revano yang dulu penuh kuasa, bukan pula yang mabuk dan berantakan. Ia tampak lebih kurus, rahangnya menegang, matanya menyimpan kelelahan yang tak sempat disembuhkan.Beberapa pelanggan melirik, tapi Rania tetap tenang.“Duduklah,” ucapnya singkat. “Aku buatkan kopi.”Revano sedikit terkejut.Ia sempat mengira akan diusir.Namun Rania justru bergerak ke mesin espresso tanpa drama, tanpa amarah.Aroma kopi memenuhi ruang.Revano duduk di meja dekat jendela. Tangannya saling mengait, gelisah.Rania meletakkan secangkir kopi di depannya.“Minum. Ka

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 151. Kehancuran Revano

    Hujan mengguyur kota malam itu, tapi Revano tidak peduli.Mobil sportnya melaju kencang, menembus lampu merah, menabrak genangan air, seolah ia sedang berlomba dengan sesuatu yang tidak bisa ia kejar seperti ketenangan.Di dashboard, botol minuman keras tergeletak setengah kosong.Tangannya gemetar saat memutar setir.Bukan karena mabuk sepenuhnya.Tapi karena kosong.Sejak Rania pergi, rumah besar itu berubah seperti museum: sunyi, dingin, dan penuh bayangan kenangan. Tidak ada suara langkah kecil, tidak ada aroma teh pagi, tidak ada perempuan yang dulu menunggunya pulang meski sering disakiti.Yang tersisa hanya gema pintu dan egonya sendiri.Maka Revano memilih tempat lain untuk hidup: malam.Lampu kelab menyala liar.Musik menghantam dada.Asap rokok, parfum mahal, tawa perempuan, dan denting gelas bercampur jadi satu.Revano masuk dengan jaket hitam, wajah tampan yang dulu selalu rapi kini terlihat lelah dan keras.“Rev!” teriak seorang bartender. “Biasanya kamu gak pernah muncul

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 150. Jalan Berbeda

    Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat tirai tipis penginapan.Rania terbangun tanpa alarm.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa… ringan. Bukan karena masalah hilang, tapi karena ia berhenti melawannya dengan rasa takut.Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang masih basah oleh sisa hujan semalam.Hari ini bukan tentang Revano.Hari ini tentang dirinya sendiri.Rania meraih ponsel.Puluhan pesan dari Revano masih memenuhi layar. Ia tidak membuka satu pun. Ia hanya mematikan notifikasi nama itu.Bukan membenci.Tapi menjaga jarak agar ia tidak kembali runtuh.“Aku tidak bisa hidup sambil terus menoleh,” gumamnya.Ia mandi, mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang krem. Rambutnya ia ikat rendah. Tidak ada riasan berlebihan. Hanya wajah Rania yang asli.Setelah itu, ia membuka laptop.Berkas-berkas kerja masih tersimpan rapi.Logo rumah sakit di sudut file.Nama Dr. Rania yang selama ini ia banggakan.Ia menatap layar lama.Pekerjaan

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 149. Kebebasan Untuk Rania

    Sore turun perlahan di rumah sakit. Langit di balik jendela berubah jingga pucat, tapi dada Rania justru terasa semakin gelap. Seharian ia bekerja sambil menahan getaran ponsel yang tak pernah benar-benar berhenti.Dua puluh tiga pesan.Tujuh panggilan tak terjawab.Semua dari Revano.Rania duduk di ruang ganti dokter, membuka ponselnya untuk pertama kali sejak siang.Isinya membuat napasnya tercekat.Revano:Kamu sengaja mempermalukanku di depan orang.Revano:Kamu pikir aku diam saja?Revano:Pulang sekarang. Kita bicara.Revano:Kalau tidak, aku yang datang lagi.Revano:Jangan paksa aku bersikap keras, Rania.Jari Rania bergetar.Ada ancaman di balik setiap kalimat.Ia menatap pantulan wajahnya di loker.Mata yang lelah.Tapi ada sesuatu yang baru: keberanian yang mulai tumbuh.Rania mengunci ponsel.“Aku tidak mau hidup seperti ini lagi,” bisiknya.Di parkiran rumah sakit, Rania baru saja membuka pintu mobil ketika sebuah bayangan menghadangnya.Revano.Ia berdiri tepat di depan

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 148. Berseteru Dengan Leonard

    Pagi di rumah dinas terasa lebih dingin dari biasanya. Rania duduk di meja makan tanpa benar-benar menyentuh sarapannya. Semalaman ia hampir tak tidur. Bayangan Revano yang berdiri terlalu dekat, tatapannya yang seolah ingin mengunci, masih mengendap di kepalanya.Ponselnya bergetar.Nama yang muncul kembali membuat dadanya mengeras.Revano.Rania menatap layar lama.Lalu… ia membiarkannya berdering.Satu panggilan tak dijawab.Dua.Tiga.Akhirnya berhenti.Namun pesan masuk menyusul.Revano:Kenapa tidak angkat?Revano:Kamu sudah bangun?Revano:Hari ini aku antar ke RS.Revano:Jangan ke mana-mana tanpa bilang aku.Rania menarik napas panjang.Alih-alih membalas, ia mematikan layar dan berdiri.“Hari ini aku mau tenang,” gumamnya.Ia mengambil tas, kunci mobil, dan pergi tanpa memberi kabar.Di rumah sakit, suasana seperti biasa: sibuk, ramai, penuh denyut kehidupan.Rania berjalan cepat menuju ruang dokter.Namun baru beberapa langkah, sebuah suara memanggilnya.“Dokter Rania.”Ia

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 147. Obsesi Dalam Ikatan

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa segar.Rania terbangun sebelum alarm berbunyi. Dadanya terasa berat, seperti ada sisa mimpi yang menempel dan enggan pergi. Cahaya matahari menyelinap lewat tirai, membentuk garis tipis di lantai kamar.Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah.Malam tadi, suara Revano masih terngiang di kepalanya.Aku takut kehilanganmu lagi.Kalimat itu seharusnya terdengar manis.Namun entah kenapa, di dada Rania, ia berubah menjadi tekanan.Rania meraih ponsel.Belum sempat membuka apa pun, layar sudah dipenuhi notifikasi.Satu.Dua.Lima.Delapan pesan masuk.Semua dari nama yang sama.Revano.Rania mengernyit.Ia membuka pesan pertama.Revano:Selamat pagi. Kamu sudah bangun?Belum sempat mencerna, ia membaca lanjutannya.Revano:Jangan lupa sarapan. Kamu sering pingsan kalau telat makan.Revano:Hari ini jadwalmu apa? Operasi atau poli?Revano:Kirim lokasi kalau sudah sampai rumah sakit.Revano:Aku cuma mau pastikan kamu aman.Rania menelan ludah.Ada mas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status