MasukAlice berusaha mengatur napasnya yang sesak. Ia menatap Evan dengan mata yang memerah, berharap setitik memori di kepala pria itu akan terbuka.
"Evan, aku tidak berbohong! Aku adalah gadis kecil itu. Kau sendiri yang melilitkan gelang ini di tanganku karena aku kedinginan!" teriak Alice, suaranya parah karena tangisan.
Evan justru melepaskan tawa hambar yang terdengar mengerikan di telinga Alice. Ia melangkah maju, memojokkan Alice hingga pinggang gadis itu menabrak meja rias.
"Nek, tunggu! Nenek salah paham!" Evan berseru sambil melepaskan tangannya dari mulut Alice. Ia segera mengangkat kedua tangannya ke udara, mencoba menunjukkan bahwa ia tidak berniat jahat.Namun, Lavina tidak peduli dengan penjelasan itu. Wajahnya yang biasanya anggun kini tampak seperti singa yang siap menerkam. Ia meletakkan nampan berisi bubur dan susu di atas meja nakas dengan dentuman keras, lalu tanpa peringatan, ia menyambar nampan plastik kosong yang ada di dekatnya."Apa yang kau lakukan pada istrimu yang sedang hamil, hah?!" teriak Lavina sambil memukulkan nampan itu ke bahu dan lengan Evan."Aduh! Nek, ampun! Aku tidak menyakitinya!" Evan mengaduh, ia mencoba menghindar namun Lavina terus mengejarnya di sekitar ranjang."Beraninya kau masuk ke kamarku dan membekapnya! Kau pikir kau siapa? Preman?!" Lavina kembali mengayunkan nampan, kali ini mengenai punggung Evan."Nek, sakit! Aku hanya ingin minta maaf dan pamit kerja!" seru Evan samb
Evan terdiam kaku. Tangan yang tadinya begitu aktif di bawah sana mendadak ditarik kembali. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya dengan kasar hingga bahunya naik-turun tak beraturan. Ucapan Alice tentang keselamatan janin mereka seolah menjadi tamparan keras yang menyadarkannya dari kabut gairah.Ia bergerak menjauh, lalu duduk di pinggir ranjang dengan membelakangi Alice. Punggungnya yang lebar tampak tegang, memperlihatkan otot-otot yang menonjol akibat hasrat yang tertahan di puncak.Alice perlahan duduk. Ia merapatkan kembali baju tidur satinya yang sempat tersingkap. Melihat punggung Evan yang diam membisu, hatinya merasa tidak enak. Ia tahu suaminya sedang berjuang melawan insting alaminya sendiri."Evan?" panggil Alice lembut. Ia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh bahu suaminya. "Kau marah padaku?"Begitu ujung jari Alice menyentuh kulit punggungnya, Evan berjengit. Ia segera menepis tangan Alice dengan gerakan refleks yang cukup kasar.
Zavian menatap Rico dengan sorot mata yang dingin namun mantap. Ucapan Rico tentang ancaman Edwin seolah lewat begitu saja di telinganya. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, Zavian memutuskan untuk mematikan mesin perang di dalam kepalanya."Lupakan soal Edwin, Rico. Lupakan soal ahli waris, pengacara, atau apa pun itu," ujar Zavian pelan namun penuh penekanan."Tapi Tuan Besar, ini bisa menjadi celah hukum yang ....""Aku bilang lupakan," potong Zavian. Ia menoleh ke arah pintu kamar rawat tempat tawa kecil Alice mulai terdengar. "Hari ini, di detik ini, tidak ada musuh. Hanya ada cucuku. Urus semua administrasi kepulangan Alice. Aku ingin dia tidur di ranjangnya sendiri malam ini."Rico terdiam, lalu membungkuk hormat. "Baik, Tuan Besar. Saya mengerti."Kepulangan Alice ke rumah disambut dengan suasana yang jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan dada. Para pelayan berbaris rapi di lobi, namun kali ini bukan un
Zavian memutar tubuhnya, membelakangi Selena yang masih meraung di aspal. Ia tidak menoleh sedikit pun ketika polisi mulai mensterilkan area gudang tua itu. Baginya, Selena hanyalah kerikil kecil yang sudah tertiup angin. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada satu nama: Alice."Rico, tinggalkan tim di sini untuk mengurus sisa administrasi dengan Komisaris," ujar Zavian sambil melangkah masuk ke dalam mobil. "Kita ke Rumah Sakit Pusat sekarang. Jangan lewatkan satu lampu merah pun.""Baik, Tuan Besar," sahut Rico. Mobil SUV itu melesat, meninggalkan debu yang berterbangan di belakang mereka.Di saat yang sama, mobil yang membawa Evan dan Alice tiba di lobi utama Rumah Sakit Pusat. Area tersebut sudah dikosongkan oleh tim keamanan Nathaniel untuk memastikan privasi. Leo membukakan pintu mobil dengan cepat."Ayo, Alice. Kita sudah sampai," ujar Evan lembut sambil mencoba membantu Alice turun.Alice mengangguk lemah. Wajahnya yang semula pucat kini ta
Cahaya lampu ruang tengah Nathaniel masih menyala terang meski jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Evan masih terduduk di samping sofa, menggenggam tangan Alice yang mulai terasa hangat. Napas wanita itu sudah lebih teratur, meski sesekali ia masih mengernyit dalam tidurnya."Pa, apa kita benar-benar harus menunggu sampai pagi?" tanya Evan pelan. Tangannya meraih ponsel, hendak menghubungi dokter pribadi keluarga.Zavian yang sedang menatap layar pantauan keamanan menggeleng tegas. "Batalkan dokter ke rumah, Evan. Aku tidak ingin ada orang luar masuk ke rumah ini di tengah situasi yang belum stabil. Grace baru saja ditangkap, kita tidak tahu siapa lagi mata-mata yang masih bersembunyi di balik seragam medis.""Tapi Alice...""Kita bawa dia ke rumah sakit pusat besok pagi. Di sana fasilitasnya lengkap dan tim keamanan kita bisa mengontrol seluruh lantai. Untuk malam ini, biarkan dia istirahat. Lily sudah memastikan makanannya bersih," potong Zav
Suasana di dalam kamar Evan dan Alice membeku setelah pesan suara Grace berhenti berputar. Alice menatap ponsel di tangan Evan seolah benda itu adalah bom yang baru saja meledak. Namun, sebelum kecurigaan itu tumbuh menjadi perdebatan baru, suara deru mobil SUV yang memasuki halaman depan memecah keheningan.Cahaya lampu rotator polisi yang berwarna biru kemerahan memantul di jendela kamar, menyelinap di sela-sela gorden."Itu polisi," ujar Evan. Ia segera mematikan ponselnya dan menggenggam tangan Alice. "Ayo turun. Leo dan Markus sudah kembali."Di lantai bawah, Zavian sudah berdiri di pintu utama. Leo dan Markus melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu. Pakaian mereka tampak sedikit berantakan, tanda bahwa mereka baru saja menyelesaikan tugas berat."Lapor, Tuan Muda. Danu sudah kami serahkan ke sel isolasi pusat. Berita acara sudah ditandatangani," ujar Leo dengan sikap tegap."Bagus. Lalu bagaimana dengan pihak kepolisian?" tany







