MasukEvan tersentak, seolah baru saja tersengat listrik. Ia segera melepaskan pagutan kasarnya dan mendorong tubuh Alice dengan kuat hingga gadis itu jatuh terduduk di atas sofa. Alice meringis, jemarinya menyentuh bibir bawahnya yang terasa berdenyut perih. Saat ia menarik tangannya, noda merah segar menempel di sana.
Evan berdiri mematung di tengah ruangan, napasnya naik turun tidak beraturan. Matanya masih berkilat penuh amarah, namun ada sedikit guncangan di dalamnya saat melihat wajah Alice yang basah kuyup oleh air mata.
"Hapus air matamu!" bentak Evan, suaranya parau. "Bukankah itu yang kau inginkan dariku dengan memakai pakaian sampah seperti itu? Kau ingin perhatianku, kan? Sekarang jangan berlagak jadi korban!"
Alice terisak, ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan, menyeka darah yang mulai mengering. "Jahat... kau benar-benar jahat, Evan!"
Evan justru terkekeh sinis. Ia mendekatkan wajahnya, menatap Alice dengan tatapan yang sangat tajam. "Jahat
Edwin tertegun, ia memiringkan kepalanya seolah salah mendengar. "Maksudmu? Elino hanyalah pengusaha kecil, Vin. Dia dan Zavian, itu tidak mungkin.""Itu benar, Pa," Vinnie mendekat, suaranya nyaris berbisik. "Zavian bukan hanya teman bisnis. Mereka bersahabat sejak muda. Dan aku pernah mendengar Kak Elino bicara lewat telepon sebelum dia meninggal... Zavian memegang sesuatu yang sangat berharga milik Alice."Edwin terbelalak. "Kalau mereka bersahabat, kenapa Zavian membiarkan Alice hidup menderita di rumah kita selama ini? Kenapa dia baru mengambil Alice sekarang?"Vinnie meneteskan air mata dan menggenggam tangan suaminya. "Karena, Selena kekasih Evan. Mungkin itu sebabnya."Edwin masih mematung di sofa, kepalanya terasa pening mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Vinnie. Ia menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya."Kau bilang Zavian dan Elino bersahabat? Kalau memang mereka sedekat itu, kenapa dia membiarkan Alice telantar d
Alice menahan napas di balik tirai kamarnya yang tebal. Matanya menyipit, fokus pada dua siluet pria berpakaian hitam yang bergerak lincah di kegelapan taman bawah. Mereka tidak membawa senjata api yang terlihat, melainkan peralatan teknis yang berkilat terkena cahaya lampu taman yang redup. Gerakan mereka terlalu teratur untuk disebut pencuri biasa. Alat pemotong besi itu entah untuk apa."Siapa mereka sebenarnya?" bisik Alice.Rasa penasaran yang bercampur ketakutan mendorongnya untuk bertindak. Alice tidak mempedulikan pesan Zavian yang melarangnya keluar kamar. Ia menyambar kardigan abu-abunya, membuka pintu kamar perlahan agar tidak menimbulkan suara, lalu menuruni tangga dengan langkah yang seringan mungkin.Lantai marmer yang dingin terasa menusuk telapak kakinya yang polos tanpa alas. Suasana rumah begitu sepi, hanya ada suara detak jam besar di ruang tengah. Alice berhasil mencapai pintu kaca yang menuju ke arah taman samping. Dengan tangan gemetar, ia
Alice masih duduk bersimpuh di lantai toilet yang dingin. Isak tangisnya mulai mereda, menyisakan sesak yang menghimpit dada. Ia menatap pantulan dirinya di wastafel marmer dengan mata yang merah dan bengkak. Pikirannya terus berputar pada satu kenyataan pahit. Mau Evan ingat atau tidak, ia tetaplah orang asing di mata pria itu."Harapan ini hanya akan membunuhku pelan-pelan," bisik Alice pada dirinya sendiri.Di luar pintu kayu toilet, dua penjaga berbadan tegap mulai merasa gelisah. Mereka saling lirik, sesekali melihat jam tangan. Sudah hampir lima belas menit Alice tidak kunjung keluar.Tok! Tok! Tok!"Nyonya Alice? Anda baik-baik saja di dalam?" tanya salah satu penjaga dengan suara berat yang tertahan.Tidak ada jawaban. Penjaga itu mengetuk lagi, lebih keras. "Nyonya? Mohon jawab kami, atau kami terpaksa mendobrak pintu ini atas perintah Tuan Zavian."Mendengar ancaman itu, Alice segera berdiri. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin
Suara bentakan Evan menggelegar di dalam ruangan VVIP yang semula sunyi, memecah ketenangan malam. Lavina tersentak bangun dari sofa, napasnya memburu karena kaget. Ia segera bangkit dan melihat Alice berdiri mematung dengan bahu yang bergetar hebat di samping ranjang."Nek, usir dia sekarang juga!" teriak Evan sambil menunjuk Alice dengan jari gemetar. Wajahnya merah padam karena amarah yang tidak berdasar. "Mengapa perempuan asing ini masih ada di sini? Aku sudah bilang aku tidak mengenalnya! Dia terus membicarakan omong kosong tentang masa lalu yang tidak pernah ada!"Lavina mendekat dengan cepat, mencoba menengahi. "Evan, tenanglah. Kau baru saja sadar, jangan berteriak seperti itu.""Tenang bagaimana, Nek? Dia masuk ke kamarku, menyentuh tanganku, dan mengklaim sebagai istriku! Dia gila!" Evan mendesis, matanya menatap Alice dengan tatapan jijik. "Keluar! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi di ruangan ini. Pergi!"Alice tidak sanggup lagi mengeluarka
Selena tidak melepaskan pandangannya dari pintu besi di ujung tangga beton. Suara langkah kaki yang berat dan berirama itu membuatnya menahan napas. Ia berharap, setidaknya salah satu dari penjaga itu merasa kasihan dan melepaskan ikatan yang sudah menyayat kulit pergelangan tangannya.Dua pria berbadan besar dengan setelan hitam khas pengawal keluarga Nathaniel muncul dari kegelapan. Mereka berjalan perlahan mendekati Selena yang tampak menyedihkan di tengah ruangan."Apa ... apa kalian datang untuk membebaskanku?" tanya Selena dengan suara serak, ada setitik harapan dalam matanya yang sembab.Kedua pria itu saling lirik sebelum akhirnya tawa keras mereka menggema, memantul di dinding-dinding beton yang lembap. Tawa itu terdengar seperti ejekan yang menusuk telinga Selena."Membebaskanmu?" salah satu pria itu berhenti tertawa, wajahnya berubah dingin dalam sekejap. "Kami diperintahkan untuk membawamu ke tempat yang jauh lebih mengerikan dari lubang tikus
Alice dan Lily masih terduduk di bangku panjang koridor rumah sakit yang dingin. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, menambah suasana mencekam di lantai VVIP itu.Sementara itu, Lavina yang sempat menangkap bisikan Rico kepada Zavian segera berdiri. Wajahnya yang semula penuh kesedihan berubah menjadi tegang. Ia menarik lengan jas Zavian, membawanya sedikit menjauh dari jangkauan pendengaran Alice."Zavian, kau dengar sendiri apa yang Rico katakan. Kau yakin akan pergi ke sana sekarang?" tanya Lavina dengan suara rendah namun menekan. "Evan masih terbaring lemah di dalam sana. Dia butuh ayahnya."Zavian menatap ibunya dengan tatapan keras. "Tidak ada pilihan lain, Ma. Victor sudah ditemukan. Jika aku menunda satu jam saja, dia akan segera menyelesaikan pengunggahan data proyek yang dia curi dari kita. Jika data itu masuk ke bursa saham atas nama perusahaannya, keluarga Nathaniel akan tamat malam ini.""Tapi kekerasan bukan satu-satunya jalan,







