Share

9:

Author: Ana_miauw
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-07 11:12:43

Kembali ke kediaman Reza dan Almira...

“Kamu dari mana saja?” tanya Reza saat begitu ia tiba di rumah dan langsung menemukan Almira. “Aku pulang sore tadi, rumah kosong. Makanya aku susul kamu ke butik. Tapi malah nggak ada juga.”

“Aku pulang ke rumah Mama Sofia, Mas,” jawab Almira tenang.

“Oh, pantas. Mama lagi sehat kan?”

“Alhamdulillah sehat.” Almira meletakkan tasnya di sofa, lalu menatap suaminya ketika pria itu kembali memanggil...

“Al...”

Tidak ada emosi yang meledak-ledak seperti pagi t
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    91: Gak Pernah Kurang Akal Laki-laki Pengecut Ini

    Siang itu, suara mesin mobil asing yang berhenti di depan pagar membuat Almira mengernyit. Ia tidak sedang menunggu kiriman kain. Namun, saat ia melangkah ke teras dan melihat siapa yang turun dari mobil, sekujur tubuhnya mendadak kaku.Bisa dibilang sial. Sebab mereka datang di saat Pak Hendra dan Mama Sofia tidak berada di rumah. seolah keduanya memang sengaja datang menunggu waktu yang tepat. Bu Ratna turun dari mobilnya, tampak lebih kurus dan menua dari terakhir kali mereka bertemu. Dan tepat di belakangnya, berdiri Reza. Pria itu mengenakan kaus biasa, dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara rasa bersalah, dendam, dan ego yang terluka.Almira berdiri tegak di ambang pintu, tangannya mencengkeram kusen kayu hingga buku-buku jarinya memutih. Jika hanya ada Reza, ia pasti sudah mengunci pintu tanpa ragu. Namun, melihat Bu Ratna yang menatapnya dengan pandangan memohon, pertahanan Almira goyah.“Assalamu’alaikum, Almira...” sapa Bu Ratna. Suaranya serak oleh emos

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    90: Cukup!

    Setelah mengirim pesan terakhir yang cukup menusuk itu, Almira langsung memblokir nomor Reza. Ia tidak ingin melihat balasan apa pun. Ia tidak ingin racun itu masuk lebih dalam lagi ke pikirannya.Guncangan EmosiAlmira menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. Tangannya masih sedikit gemetar. Mengahadapi Reza selalu menguras energinya secara brutal. Ia menatap ke depan, ke arah taman bermain, tapi pandangannya kosong.Tiba-tiba, sebuah suara lembut membuyarkan lamunannya.“Umma?”Dina sudah berdiri di depannya, memegang sebuah ember plastik kecil berisi pasir. Bocah itu menatap ibunya dengan dahi berkerut, seolah merasakan kegelisahan yang memancar dari tubuh Almira.Almira segera berjongkok, mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar kembali tenang. “Eh, Dina sayang. Kenapa? Capek mainnya?”Dina tidak menjawab, dia justru mengulurkan tangan kecilnya yang penuh pasir dan mengusap pipi Almira. “Umma... jangan nangis.”Almira tertegun. Ia bahkan tidak sadar bahwa matanya sudah basah

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    89: Membalikkan Narasi

    Pagi mulai terasa menyengat meski jam baru menunjukkan pukul delapan lewat sedikit. Almira sudah duduk di salah satu kursi kayu di area tunggu sekolah early childhood tempat Arka dan Dina belajar. Sekolah itu tidak terlalu besar, namun memiliki halaman bermain yang asri, cukup untuk menampung energi anak-anak usia dua tahun yang sedang aktif-aktifnya.Di sudut taman, Suster Ami tampak telaten membantu Arka memanjat perosotan kecil, sementara Dina lebih memilih duduk di pasir sambil mengamati temannya. Almira sengaja meluangkan waktu pagi ini. Setelah kejadian emosional di butik kemarin sore, ia ingin melihat langsung bagaimana anak-anaknya berinteraksi. Ia ingin memastikan bahwa meskipun dunia mereka akan segera berubah dengan kehadiran Rayyan, mereka tetap memiliki pijakan yang kuat.Ketika ketenangan itu terusik saat ponsel di pangkuannya bergetar. Satu notifikasi muncul. Lagi-lagi dari nomor yang sama. Siapa lagi kalau bukan Reza? Reza: “Tega ya kamu, Al. Memang bener ya ka

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    88: Kebelet Banget Jadi Ustazah

    Momen emosional dengan Arka dan Dina mereda. Almira diam-diam bergegas menyeka sudut mata, memungut kembali sisa-sisa profesionalismenya yang sempat tercecer.“Ukurannya sudah selesai semua, Ustaz,” ucap Almira dengan suara yang diusahakan stabil. Ia menutup buku catatan. “Untuk jas dan kokonya, saya usahakan selesai dalam seminggu supaya Ustaz bisa fitting terakhir sebelum hari-H.”Rayyan mengangguk, sorot matanya melunak. “Terima kasih banyak, Mbak Almira. Maaf kalau kedatangan saya tadi membuat anak-anak terbangun.”“Tidak apa-apa, Ustaz. Lagipula memang sudah waktunya mereka bangun. Selain hari sudah sore, saya takut mereka begadang tengah malam kalau dibiarkan.”“Justru...” lanjut Almira, “saya berterima kasih karena Ustaz sudah sabar menjawab semua pertanyaan-pertanyaan random mereka. Ya, mereka memang begitu, sangat cerewet.”“Bukan cerewet, tapi kritis,” Rayyan meralat. “Ya sudah kalau begitu, saya pamit dulu.”“Iya, Ustaz. Hati-hati di jalan,” balas Almira. Sebelum me

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    87: BENANG-BENANG HARAPAN 2

    “Apa yang Ustaz lihat dalam diri saya sehingga Ustaz bisa berkata demikian?” tanya Almira akhirnya setelah beberapa saat terdiam untuk mencerna perkataan pria di hadapannya barusan. Namun, tepat saat suasana terasa kian menyesakkan oleh rasa malu yang manis, pintu penghubung ke ruang di bagian dalam terbuka dengan bantingan kecil. Langkah kaki kecil yang berlari kencang memecah keheningan yang kaku itu.“Umma...”Arka muncul dengan kaos oblong yang sedikit miring dan rambut acak-acakan khas baru bangun tidur. Di belakangnya, Dina menyusul dengan langkah lebih lambat, mengucek matanya yang masih mengantuk.Langkah Arka mendadak berhenti saat melihat sosok tinggi yang berdiri di dekat ibunya. Matanya yang bulat berkedip, memastikan siapa pria tersebut. “Wahh, ada Abah!” seru Arka tiba-tiba dengan suara yang sangat jernih dan penuh antusias.Pena di tangan Almira terjatuh ke lantai. Ia terpaku, menatap Arka dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Ia belum pernah secara re

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    86: BENANG-BENANG HARAPAN

    Persiapan administrasi di KUA sudah rampung sepenuhnya. Kini, fokus beralih pada satu hal teknis yang juga termasuk paling krusial: busana. Selain urusan katering yang sudah ia serahkan sepenuhnya pada ahlinya, yakni orang tua. Dan meskipun Almira menjahit sendiri gamis akadnya, Rayyan tetap membutuhkan pakaian yang selaras. Almira, dengan segala profesionalisme dan keharusannya, mau tidak mau harus turun tangan sendiri untuk memastikan ukuran baju dan jas serta merta yang akan dikenakan Rayyan nanti, pas di badannya. Suasana butik sudah sepi; Almira memang sengaja menutup gerainya lebih awal untuk pelanggan umum. Ia ingin memberikan ruang privasi sepenuhnya bagi calon suaminya, Ustaz Rayyan, untuk melakukan pengukuran busana akad. Namun, saat deru mesin mobil hitam yang sangat ia kenali itu berhenti tepat di depan pintu, privasi yang ia rencanakan justru berubah menjadi penjara kecil yang penuh dengan debar jantung yang tak beraturan. Almira merapikan kerudungnya di depan cerm

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status