LOGIN"Setelah hamil dan melahirkan, aku akan melepasmu. Kamu boleh pergi, tapi, tanpa membawa darah dagingku!" Aku wanita yang dipilih Mbak Aura, untuk memberikannya anak. Singkat saja, aku tak ubahnya sebagai mesin pembuat anak!
View MoreSatu
** "Buka!" Aku meneguk ludah. Menatap lelaki tampan, yang baru saja sah menjadi suamiku. "Ta-tapi, Mas. A-aku belum siap," jawabku, menunduk dalam. "Aku nggak butuh jawaban nggak siapmu itu! Buka!" Aku memegang erat ujung lingerie, jantungku berdebar tak karuan. Suara bariton suamiku, betul-betul mendominasi. "Se-semua?" tanyaku, terdengar konyol. "Hm." Pria itu memejam, ini kesempatanku untuk membuka semua sesuai perintahnya. Aku tak punya pilihan, pernikahan terkutuk ini harus segera berakhir! Kali ini aku yang memejam. Lingerieku sudah terlepas, tubuhku seketika terasa dingin. Nafasku tak lagi beraturan, ini kali pertama bagiku dan itu sangat memalukan! "Bersiaplah, maaf kalau nanti sedikit membuatmu sakit. Aku ingin, pernikahan ini segera berakhir setelah kamu melahirkan anakku." Tubuh mungilku ia peluk dengan erat, berbisik yang membuatku bertambah luka. Tanpa ia ingatkan pun, aku akan selalu ingat dan cukup tahu diri! Aku mengangguk lemah. Kubiarkan ia menjelajahi setiap inci kulitku, air mataku menetes. Bukan pernikahan seperti ini yang kuinginkan, aku bukan mesin pembuat anak! "Aaaah." Desahan itu lolos dari bibirku, dia lelaki berpengalaman. Sedang aku, belum terjamah sebelumnya. Dia menuntunku dengan lembut, walau suara besar dan terdengar kasar diawal begitu membuatku takut. "Kamu tegang?" tanyanya, di atas tubuhku. Aku mengangguk, rasanya panas. Rasa yang tak bisa kujelaskan. Ia mengelus satu gundukan punyaku, begitu lembut hingga membuatku melayang. Aku kembali mendesah, dan kali ini aku menginginkan lebih. "Aaaah, Ma-Mas." Satu tangannya sibuk memilin gundukan kenyal itu, dan bibirnya mengulum gundukan yang lain. Aku begitu menikmati apa yang tengah di lakukan suamiku itu, sesekali aku mengelus pipinya yang terdapat beberapa bulu halus. Kami saling berbagi peluh. Kini ia mengecup bibirku sekilas, lembut. Dan membuat jantungku berdebar tak karuan, "Rasa bibirmu manis." Aku menggigit bibir. Benarkah? Tapi, aku nggak ingin terlihat senang. Bagaimana pun, aku hanyalah istri kedua yang akan segera bercerai begitu anak yang diinginkan lahir. "Pas di tanganku yang besar," ucapnya, kembali mengelus gundukanku. Entah sudah berapa kali aku melayang dibuatnya, sentuhannya seakan menjadi candu. "Aku akan memulai, tahan sedikit ini akan perih karena pertama bagimu." Lagi, aku mengangguk. Seakan menyerahkan semua tubuh yang sudah diklaim menjadi miliknya. Kulingkarkan kedua tanganku di balik punggungnya yang terus bergerak. Ia bilang, ia akan memulai? Aku justru sudah gila dibuatnya! "Aaaaah." "Ka-kamu, begitu nikmat, aku suka. Sangat sempit, aaaaaaaaah." Aku tersenyum sembari menitikan air mata. Entah mengapa, aku begitu bangga karena menyerahkan mahkotaku pada yang menjadi suamiku. Kuelus pipinya yang banjir keringat, satu tanganku yang lain mengelus punggungnya. Gerakan repleks, meskipun di bawah sana aku mulai merasakan nyeri bercampur nikmat tiada tara. Inikah surga dunia yang sering kudengar itu? Kami sama-sama saling tergeletak. Nafas tak beraturan, tanpa sehelai benang di tubuh masing-masing. "Sakit?" tanyanya, menatapku khawatir. "Sedikit, Mas." "Maaf, ya. Pemanasannya hanya sebentar, aku hanya tidak ingin menunggu lama. Aku ingin rumah tanggaku dan Aura kembali normal, kami punya anak. Dan hidup bahagia, tentunya tanpa wanita lain." Aku meneguk ludah. Dia kembali mengingatkanku lagi, seolah tak ingin memberiku ruang. Hanya sembilan bulan, dan aku akan berbakti padamu, Mas. Sedingin dan sekeras apapun sikapmu padaku nantinya, aku akan menerima itu. Aku menatapnya lebih berani. Tubuhku menyamping menghadapnya, lelaki itu tampak kaget. Aku mengecup bibirnya. Netra kami saling bertemu lama, kuelus pipinya dengan lembut. "Lakukan apapun, Mas. Aku akan bersikap tahu diri di hadapan Mbak Aura, tapi, di Apartemen ini izinkan aku melayanimu sebaik mungkin." Kudekatkan kedua gundukan kenyal milikku, pada dadanya yang besar. Mengelus pipinya, hidungnya, di sini dia milikku. Aku akan hamil memberinya anak, dia sudah membuatku tergila-gila di permainan pertama. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya, dengan dahi mengernyit. "Sudah kubilang, di sini aku akan melayanimu dengan baik, Mas." "Ta-tapi ...." "Kenapa?" "Pergilah, kedua gundukanmu membuatku tak tahan!" Aku menyeringai puas. Justru itu yang aku inginkan, dia milikku di sini! "Sebentar, Mas. Aku lelah." Aku bersandar di balik dadanya yang besar, lagi kukecup bibirnya dengan berani. "A-aku ...." Suaranya begitu serak. "Iya, kenapa, Mas?" "Apa boleh aku mengulumnya, lagi?" "Tentu, aku milikmu, Mas. Lakukanlah," ucapku, kembali merebahkan diri dengan nafas tak menentu. "Shit! Aku nggak tahan lagi!" Aku tertawa puas. Lagi kami melakukannya, entah yang ke berapa kali. Yang jelas hingga matahari menampakan diri, kami baru tersadar. "Mas, kamu masih di Apartemen Naya? Pulang, aku juga kangen." Suara manja yang menjijikan itu, membuat pagiku tak begitu cerah. "Iya, Sayang. Aku pulang, tapi, aku harus ngantor dulu. Apa kamu mau kita main di kantor? Kan bisa di rumah." Aku menghela nafas. Bangun dari tempat tidur, kusingkap selimut yang sempat menutup tubuhku. Suamiku tampak kaget. Aku melanggang menuju kamar mandi tanpa memperdulikannya, kunyalakan shower. Dengan perasaan tak menentu. "Kenapa?" Dua tangan besar, memelukku dengan erat di bawah pancuran shower. Di saat begini, ia masih saja memainkan dua gundukan milikku. Desahan demi desahan kembali lolos, tangannya yang nakal kini justru bermain di bawah perutku. "Mas, jangan begini. Katanya mau ngantor," cegahku, karena takut saling terlena. "Iya, tapi, kita masih ada waktu. Jadwal meetingku masih beberapa jam lagi," ucapnya, tepat di telingaku. Ia mengecupnya di area sana, aku jelas mengerang. "Kita mandi di sana, aku belum puas mengecupmu di area yang lain." Aku mengangguk patuh, maaf Mbak Aura ini jelas langkah awal agar aku segera hamil. Kami menghabiskan waktu satu jam di dalam kamar mandi. Meski begitu, aku melihat tampang yang tak rela meninggalkanku begitu saja. "Nanti malam aku nggak pulang, Aura katanya mau aku menemaninya. Kamu nggak papa?" "Aku hanya yang kedua, Mas. Sudah, lakukan saja." Aku tersenyum getir. Meraih tangannya untuk aku kecup, baktiku sekarang untukmu, Mas. "Aku pergi, kalau mau keluar. Keluarlah, tapi, jaga diri." "Mas!" Aku berteriak, saat lagi ia mengelus satu gundukan punyaku dengan nakal. Ia menarik pinggangku dan kembali berbisik, "Kamu candu banget, Nay." Kami saling memeluk. Kejadian semalam membuat suamiku begitu lunak, aku merasa berhasil memberikannya pelayanan. "Kamu wangi," bisiknya, sembari mengecup leherku bertubi-tubi. "Aku pergi, tapi, nanti aku telpon." Sebelum pergi ia mengecup bibirku, lama. Dan ia menghilang dari pandangan, kututup pintu. Merasakan jantung yang berdebar tak karuan, perasaan apa ini? Padahal jelas sebelum ini, kami sama-sama tidak senang. Terpaksa, tapi, setelah terjadi justru aku nggak mau babay. Apa sikapnya seperti itu juga pada Mbak Aura? Nakal, tapi, bikin candu. Sentuhannya selalu bisa membuatku melayang, padahal kami baru semalam bersama. Tak ada pendekatan, karena Mbak Aura sendiri yang memilihku. Aku menatap diri pada pantulan cermin, aku cantik, tinggi, putih, dadaku cukup menggoda. Tapi, aku harus tetap ingat dengan tujuanku semula. Hamil, melahirkan, lalu, melepaskan anak dan suamiku itu. Apa aku sanggup?Pernikahan Terkutuk (7)**"Di mana suamiku?" Aku menelan ludah. Tak kusangka dia akan datang, dengan berpakaian seksi.Rasanya aku ingin marah! Bukannya ini tempatku dan Mas Arfan? Seharusnya Mbak Aura, tak perlu datang seakan ingin merayu."Ada di dalam, Mbak. Sedang tidur, lelah katanya." Aku hempas. Mempersilakannya untuk masuk, bagaimana pun aku tak bisa melawan.Kututup pintu. Berharap mereka pergi, tak perlu menunjukan hal apapun di sini. Hatiku tak akan sanggup!"Sayang. Baby, maaf." Netraku membulat. Mbak Aura mencium bibir Mas Arfan, aku memalingkan wajah. Tanganku mengepal kuat, haruskah begitu di depanku? Buat apa?!"Sayang? Kamu di sini." Mas Arfan terbangun, ia tampak kaget dengan kehadiran Mbak Aura. Sebelumnya dia curhat, Mbak Aura tak mau melayaninya. "Hm, aku di sini." Keduanya duduk berdampingan, seolah tak ada aku di sini. "Kangen." Kata itu terdengar jelas, lembut, penuh tuntutan dari bibir Mas Arfan. Ia juga mengelus pipi Mbak Aura, hal itu justru semakin memb
Pernikahan Terkutuk (6)**Aku makin gelisah. Sudah dua hari Mas Arfan tak pulang, tak memberi kabar pula. Aku bahkan tak berani menanyakan hal ini pada Mbak Aura, takut dia marah dan menghardik bilang bahwa aku tak berhak!Aku juga belum bisa memberi kabar terkait loker yang ditanyakan Zia, tempo lalu. Aku harus bertanya pada Mas Arfan, setiap langkah yang aku lakukan dia perlu tahu agar tak jadi masalah ke depannya.Aku berbaring dengan lemas. Semangat hidupku terasa 0 persen! Harusnya sekarang aku pergi hang out, shoping atau melakukan apa saja untuk menyenangkan diri. Namun, nyatanya. Aku malah di sini, di Apartemen seorang diri. Berselimutkan sepi, aku rindu Mas Arfan. Tapi, aku harus tahu diri! Aku tak boleh mencarinya, dia yang harus mencariku! Karena aku yang dibutuhkan, bukan aku yang membutuhkan!Aku menghela nafas panjang. Memaksa tubuh untuk bangun, tak mungkin Mas Arfan pulang aku dalam keadaan begini. Aku harus fresh. Agar dia datang, kami selalu melakukannya. Perut i
Lima **Aku disambut dengan hangat, semua menyerbu ingin memeluk. Tak terasa air mataku menetes, aku datang seakan membawa beban yang tidak sedikit.Bagaimana jika Ibu Panti tahu, anak-anak tahu, bahwa uang yang kugunakan tidak lain hanyalah pemberian Om-om?Aku tersenyum getir. Melihat mereka tertawa bahagia, seakan sedikit mengangkat rasa sesak di dada."Apa kabar kamu, Nay?" Aku mencium punggung tangan Ibu Panti, dengan takzim. Beliaulah yang paling berjasa dalam hidupku, kalau tidak ada beliau entahlah."Kabar Nay, baik, Bu. Ibu sama anak-anak gimana? Sehat?" Aku dituntun dengan lembut oleh Ibu Panti, kami biasanya akan mengobrol di ruangan beliau.Tidak banyak yang berubah. Suasananya masih sama, hangat dengan udara yang begitu segar. "Alhamdulillah kami juga baik. Kamu sekarang kerja di mana, Nay? Ibu seneng, kamu sudah bisa berbagi dengan mereka." Eh kerja? Aku menggigit bibir. Untuk pertama kalinya, aku harus berbohong. Memang Ibu belum tahu, saat aku keluar dari Panti aku b
Empat**"Jadi, kamu ini gundiknya Arfan?" Aku meneguk ludah. Dokter yang kemarin datang memeriksa, ternyata teman dekatnya Mas Arfan. Dan dia pikir, aku ini gundiknya. Dasar Dokter sok tahu!"Dibayar berapa buat melayani dia setiap malamnya? Pasti semalam kejadian."Ia menatapku dengan tajam. Sedang aku menautkan kedua tangan dengan rasa tegang, takut salah bicara."Jawab! Atau aku laporkan kamu ke Tante Arini, kalau ternyata Arfan punya gundik di Apartemennya!" Bagaimana ini?"Aaah, aku juga bisa menelpon Aura. istri dari Arfan, lelaki yang semalaman suntuk kamu sentuh tanpa tahu diri!" Aku menatapnya dengan malas. "Telpon saja Mbak Aura, bilang Mas Arfan menyimpan seorang gundik di Apartemennya."Kita lihat, apa jawaban dari Mbak Aura. Dia akan jujur, atau cari aman dengan pura-pura tidak tahu."Nantangin kamu, ya. Bukannya kerja cari duit yang bener, masih muda padahal." Aku mengendikan bahu, ia tampak berdiri menekan ponsel dengan wajah yang memerah.Sepertinya Mas Arfan keliru






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.