MasukMalam datang dengan cepat di rumah Wiradipa.
Nara duduk di tepi ranjang sambil memandangi dupa yang hampir habis. Aroma melati bercampur asap tipis membuat suasana kamar terasa aneh, seperti berada di antara dunia manusia dan dunia lain.
Ia mencoba memejamkan mata, tetapi suara ketukan pelan di dinding membuatnya tersentak.
Tok… tok… tok…
Ritmenya lambat, teratur, seperti seseorang sedang mencoba mengalihkan perhatian.
“Nara.”
Suara itu muncul begitu dekat, seolah dari dalam kamar sendiri.
Nara membuka mata lebar-lebar. “Raka?”
Tidak ada jawaban.
Tok… tok…
Nara berdiri perlahan. Ketukannya bukan dari pintu depan kamar, melainkan dari cermin besar yang tertutup kain merah. Kain itu bergoyang… seperti ada sesuatu yang bernafas di baliknya.
“Jangan mendekat ke cermin setelah jam dua belas malam.”
Itu nasihat pelayan tua.
Nara menelan ludah, tubuhnya gemetar.
Tiba-tiba–
Suara perempuan itu memanggil lagi, kali ini jelas, menggema dari balik kain merah.
Nara mundur, tapi matanya tak lepas dari cermin. Jantungnya berdebar tak karuan, seperti menghitung waktu kematian.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seseorang masuk.
“Nara?”
Raka berdiri di ambang pintu, wajah cemas. “Kau tidak apa-apa?”
Nara terloncat kecil. “Raka! Di balik cermin… dia ada di sana!”
Raka segera memeriksa cermin, tetapi kain merah itu diam. Tidak ada gerakan, tidak ada suara.
Raka mendekat. “Dia semakin sering mendekat kalau kau sendirian.”
Nara menunduk. “Raka… apa tujuan dia sebenarnya?”
Raka terdiam lama sebelum menjawab.
Nara menatap Raka perlahan. “Kalau begitu… apakah kau juga mencintainya?”
Raka terlihat terkejut. Pertanyaan itu menembus luka lamanya.
“Aku…” Raka menarik napas panjang. “Aku menyayangi Sari. Tapi itu dulu. Sebelum kutukan ini mengambil semuanya.”
Nara dapat merasakan kejujuran dalam suaranya.
“Dan sekarang?” bisik Nara.
Raka mengalihkan pandangan ke jendela gelap. “Sekarang… aku hanya ingin melindungimu.”
Nara mematung, hatinya berdesir.
“Aku tahu keluarga kami salah,” lanjut Raka lirih. “Dan aku tahu kau takut, tapi… aku tidak akan membiarkan roh itu mengambilmu.”
Nara menggenggam ujung bajunya, menatap Raka dengan mata yang sedikit basah. “Kau tidak bisa melawannya sendirian.”
Raka tersenyum tipis, penuh kepedihan. “Aku tidak sendirian, bukan?”
Untuk pertama kalinya, Nara merasa bahwa dirinya bukan sekadar pengantin pengganti—tetapi seseorang yang berarti bagi Raka. Perasaan itu menakutkan, namun indah dalam cara yang menyakitkan.
Keheningan menyelimuti kamar beberapa saat, hingga sebuah angin dingin menyapu ruangan. Dupa padam. Lampu berkedip.
Dan suara itu kembali muncul…
“Raka…”
Suaranya lirih, lembut… tapi penuh dendam.
Nara dan Raka sama-sama menatap cermin yang tertutup kain merah. Kain itu bergetar perlahan, lalu tiba-tiba berhenti… seperti roh itu mendengarkan percakapan mereka.
Raka menggenggam tangan Nara pelan. Kehangatan itu kontras dengan udara kamar yang membeku.
“Dia mendengar kita,” bisik Raka.
Nara menelan ludah. “Apa dia cemburu?”
Raka tidak menjawab—tapi tatapannya mengatakan ya.
Lampu tiba-tiba padam.
Gelap total.
Lalu sesuatu menyentuh pundak Nara.
Nara menjerit panik. “RAKA!”
Raka meraih bahunya, menariknya mendekat.
“Nara! Itu bukan aku!”
Tepat saat itu, kain merah yang menutupi cermin tersingkap sedikit—memperlihatkan mata hitam pekat… menatap Nara dengan penuh kebencian dan kepemilikan.
Dan suara itu berbisik tepat di belakang telinganya:
“Kau tidak boleh mencintainya…”
Nara menahan napas.
Bulan menggantung rendah di langit Belantara, cahayanya pucat dan tidak lengkap. Ada bagian yang seharusnya terang, namun tampak seperti terhapus—bukan tertutup awan, melainkan hilang. Warga desa menyadarinya hampir bersamaan, dan kegelisahan menyebar seperti riak air.Nara berdiri di halaman rumah, menatap ke atas. Di dadanya, perasaan yang sama muncul kembali—bukan panik, melainkan kewaspadaan yang terlatih.“Bulan tidak lagi mengikuti fasenya,” katanya pelan.Raka mengangguk, wajahnya tegang. “Seharusnya hampir purnama. Tapi… seperti ada potongan yang tertahan.”Laksmi datang membawa mangkuk tanah dan air, simbol lama yang jarang ia gunakan. “Karena yang ditahan bukan cahaya,” katanya. “Melainkan waktu yang mengisi cahaya itu.”Angin malam berhembus tipis. Bayangan rumah memanjang, lalu memendek tanpa alasan. Jam pasir tua di rumah Laksmi—yang sejak lama tak dipakai—jatuh sendiri dan pecah, pasirnya berhenti mengalir.“Jika bulan terbelah,” lanjut Laksmi, “ritme yang lebih besar ak
Pagi yang akhirnya tiba tidak membawa kelegaan penuh. Cahaya matahari menyentuh atap rumah dan jalanan desa Belantara dengan ragu, seolah masih menimbang apakah ia benar-benar diizinkan untuk tinggal. Jam-jam berjalan, namun terasa seperti bergerak di atas pasir—maju, lalu sedikit mundur.Nara duduk di beranda, memperhatikan bayangan pohon yang tidak lagi setia pada arah. Pada jam tertentu, bayangan itu condong ke timur, lalu tiba-tiba bergeser ke barat tanpa alasan. Di dadanya, ada kegelisahan yang tidak mau diam.“Ini bukan sisa kemarin,” katanya pelan.Raka yang sedang memperbaiki engsel pintu berhenti. “Apa yang kau rasakan?”“Bukan tarikan,” jawab Nara. “Pembagian.”Laksmi muncul dari jalan setapak, membawa gulungan kain tua berisi simbol-simbol yang pernah ia simpan jauh sebelum gerbang terbuka. “Kau benar,” katanya tanpa basa-basi. “Minggu mulai terbelah.”Raka berdiri. “Terbelah bagaimana?”“Bukan dicuri sekaligus,” jelas Laksmi. “Dipisah. Hari-hari di minggu ini tidak lagi te
Pagi datang tanpa matahari.Bukan karena awan menutup langit, melainkan karena fajar seolah lupa bagaimana caranya muncul. Udara tetap dingin seperti sisa malam, dan cahaya hanya seterang senja yang ragu untuk berubah. Desa Belantara terbangun dalam kebingungan yang sama—ayam berkokok terlambat, lonceng pagi tidak berdentang, dan bayangan rumah memanjang dengan arah yang keliru.Nara berdiri di ambang pintu rumah, memandang langit yang pucat. Di dadanya, ada rasa berat yang tidak ia kenali sebelumnya.“Ini bukan sekadar detik atau jam,” katanya pelan. “Ada sesuatu yang menahan… satu hari.”Raka muncul di sampingnya, menyampirkan jaket ke bahu Nara. “Aku juga merasakannya. Seperti kita melangkah, tapi tidak maju.”Laksmi berjalan cepat dari ujung jalan, tongkatnya memantulkan cahaya redup. “Karena hari ini sedang diperebutkan.”Raka menoleh tajam. “Diperebutkan oleh siapa?”“Oleh retakan,” jawab Laksmi. “Dan oleh sesuatu yang lebih cerdas dari bayangan pencuri detik.”Seolah menguatkan
Langkah mereka meninggalkan hutan terlarang terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Bukan karena ancaman telah lenyap, melainkan karena dunia di sekitar mereka seolah sedang belajar kembali bagaimana cara bergerak. Waktu berjalan—ya—tetapi tidak lagi mengalir lurus.Nara merasakan hal itu pertama kali ketika ia berkedip.Satu detik.Hanya satu.Namun saat matanya terbuka, posisi bulan di langit telah sedikit bergeser, seolah waktu melompat tanpa permisi.“Kalian… merasakannya?” tanya Nara pelan.Raka berhenti. “Merasakan apa?”“Detik yang hilang,” jawab Nara. “Seperti seseorang… mencurinya.”Laksmi menegang. Ia mengangkat tongkatnya, ujungnya berpendar samar. “Kita tidak sendirian.”Udara di sekitar mereka bergetar halus. Tidak ada angin, namun dedaunan berdesir seperti disentuh oleh sesuatu yang bergerak terlalu cepat untuk dilihat.“Kita harus cepat,” kata Laksmi. “Bayangan waktu telah bangun.”Raka mengerutkan kening. “Bayangan waktu?”“Makhluk sisa,” jelas Laksmi singkat. “Terbentuk d
Kesunyian setelah segel terbentuk bukanlah kesunyian damai. Ia terasa seperti napas yang ditahan terlalu lama—tenang di permukaan, namun bergetar di dalam. Hutan terlarang berhenti berdesir, akar-akar pohon tertua kembali mengeras, dan udara yang tadinya berat kini menjadi dingin dan datar.Nara masih berada dalam pelukan Raka. Tubuhnya terasa ringan, seolah sebagian dari dirinya tertinggal di tempat lain. Saat ia membuka mata, cahaya malam tampak lebih pucat dari yang ia ingat.“Raka…” bisiknya. “Kenapa semuanya terlihat… berbeda?”Raka menahan napas. Ia menatap wajah Nara—kulitnya tampak lebih kusam, garis di sudut mata lebih tegas. Bukan tua, tapi berubah. Seperti waktu melangkah satu langkah terlalu cepat.“Karena kau membayar dengan waktu,” kata Laksmi pelan. “Segel mengambilnya… sedikit demi sedikit.”Nara mengangguk, menerima. “Berarti… waktuku tidak hilang sekaligus.”“Tidak,” jawab Laksmi. “Segel hanya meminjam. Ia akan menariknya perlahan, selama retakan masih ada.”“Retakan
Hutan terlarang tidak lagi sekadar sunyi—ia berteriak tanpa suara. Akar-akar pohon tertua bergetar, tanah mengerang pelan, dan udara berlapis-lapis seperti kaca tipis yang siap pecah kapan saja. Di atas kanopi, awan berputar membentuk pusaran lambat, seolah langit sendiri sedang ditarik oleh tangan yang tak terlihat.Nara berdiri terpaku, kedua tangannya melindungi perutnya. Detak di dalam rahimnya terasa berbeda kini—lebih teratur, lebih tegas. Seperti ketukan jam yang menandai waktu yang semakin sempit.“Gerbang itu…” Raka menatap ke sekeliling dengan rahang mengeras. “Aku bisa merasakannya. Seperti napas besar di balik pepohonan.”Laksmi mengangguk, tongkatnya bergetar halus. “Karena penahannya telah dilepas. Gerbang tidak lagi menunggu satu jiwa. Ia menunggu dunia.”Kata itu jatuh berat di antara mereka.“Dunia…?” Nara berbisik. “Apa maksudmu?”“Perjanjian lama menyalurkan tekanan ke satu garis darah,” jelas Laksmi. “Sekarang ikatan itu putus. Tekanan mencari permukaan yang lebih







