LOGINSejak kejadian di kamar, seluruh rumah Wiradipa seperti berubah.
Menjelang malam, Surya mengetuk pintu kamar Nara.
“Malam ini kita melakukan ritual,” ucapnya tanpa basa-basi.
Nara menelan ludah. “Ritual… untuk roh Sari?”
“Untuk menenangkan,” jawab Surya. “Agar dia tidak mengambil nyawamu.”
Ucapan itu membuat kaki Nara melemas, tetapi ia tetap mengikuti Surya ke ruang dalam rumah—ruangan yang bahkan Raka jarang masuki.
Di sana, beberapa orang berkumpul mengenakan pakaian serba putih.
Raka berdiri di sisi ruangan, wajahnya tegang.
“Kau tidak harus ikut jika tidak mau,” bisik Raka.
“Tapi kalau aku tidak ikut… apa dia akan makin marah?” balas Nara pelan.
Raka tidak menjawab. Diamnya saja sudah cukup menjadi jawaban.
Pelayan tua membimbing Nara duduk di tikar.
Pemimpin ritual—seorang dukun tua—menggumamkan mantra. Suara gumamannya bergetar pelan, seolah berasal dari dua dunia sekaligus.
Nara merasakan udara menurun drastis.
Ia memejamkan mata, berusaha mengatur napas.
Namun suara-suara berbisik mulai muncul dari sudut ruangan.
“Dia bukan penggantiku… dia hanya pengganggu…”
“Raka milikku… milikku…”
Bisikan itu bukan dari manusia.
Roh Sari.
Wajahnya menatap Nara tajam, jejak air mata darah mengalir dari matanya.
Nara terdiam, tubuhnya menggigil.
Dukun tua berseru keras dalam mantra, mencoba menahan kehadiran roh itu.
Tetapi sesuatu yang lain membuat Nara merinding.
Bukan roh Sari.
Nara menajamkan pendengaran.
“…kalau dia mati, kutukan selesai…”
“…perempuan desa saja… pengorbanan kecil…”
“…lebih baik satu pengantin baru daripada keluarga kita semua…”
Nara menahan napas.
Mereka tidak berniat menyelamatkannya.
Mereka berniat mengorbankannya.
Ia menoleh ke Raka, berharap ia mendengarnya.
Ritual semakin intens.
Roh Sari melangkah maju.
Setiap langkahnya membuat lantai berderit seperti kayu sudah mati sejak lama.
“Tinggalkan dia…,” suara Raka bergetar.
Roh Sari berhenti dan menatap Raka dengan tatapan menyedihkan, seperti cinta lama yang patah.
“Raka…” suaranya lembut, sekaligus menyeramkan. “Kau pernah berjanji akan menikahiku.”
Raka mengepal tangan. “Kau sudah mati, Sari!”
Sari tersenyum kecil—senyum miring yang membuat bulu kuduk merinding.
Nara tertarik mundur, tetapi pelayan di belakangnya tiba-tiba menahan bahunya.
“Aku tidak bisa membiarkanmu lari, Neng,” bisiknya.
Nara terperanjat. “Lepaskan aku!”
Tapi pelayan itu menahan erat.
Sari mengangkat tangannya ke arah Nara.
Lampu padam.
Raka berlari ke arah Nara, tetapi Surya menghadangnya.
“Dia bukan milik Sari!” teriak Raka.
Surya mendorongnya. “Justru dia yang dipilih roh! Kita harus menyerahkannya!”
Nara terhenti.
Di tengah kekacauan, roh Sari berbisik tepat di telinga Nara:
“Malam ini… seseorang harus ikut denganku.”
Wajah Sari berubah mengerikan—mata hitam membesar, mulutnya terbuka lebar hingga ke pipi.
Nara menjerit.
Dukun menghantam lantai dengan tongkat, mencoba mengusir roh itu.
Sari menatap Nara dengan tatapan mengunci.
Dan Nara merasakan dirinya ditarik… keluar dari dunia nyata.
Bulan menggantung rendah di langit Belantara, cahayanya pucat dan tidak lengkap. Ada bagian yang seharusnya terang, namun tampak seperti terhapus—bukan tertutup awan, melainkan hilang. Warga desa menyadarinya hampir bersamaan, dan kegelisahan menyebar seperti riak air.Nara berdiri di halaman rumah, menatap ke atas. Di dadanya, perasaan yang sama muncul kembali—bukan panik, melainkan kewaspadaan yang terlatih.“Bulan tidak lagi mengikuti fasenya,” katanya pelan.Raka mengangguk, wajahnya tegang. “Seharusnya hampir purnama. Tapi… seperti ada potongan yang tertahan.”Laksmi datang membawa mangkuk tanah dan air, simbol lama yang jarang ia gunakan. “Karena yang ditahan bukan cahaya,” katanya. “Melainkan waktu yang mengisi cahaya itu.”Angin malam berhembus tipis. Bayangan rumah memanjang, lalu memendek tanpa alasan. Jam pasir tua di rumah Laksmi—yang sejak lama tak dipakai—jatuh sendiri dan pecah, pasirnya berhenti mengalir.“Jika bulan terbelah,” lanjut Laksmi, “ritme yang lebih besar ak
Pagi yang akhirnya tiba tidak membawa kelegaan penuh. Cahaya matahari menyentuh atap rumah dan jalanan desa Belantara dengan ragu, seolah masih menimbang apakah ia benar-benar diizinkan untuk tinggal. Jam-jam berjalan, namun terasa seperti bergerak di atas pasir—maju, lalu sedikit mundur.Nara duduk di beranda, memperhatikan bayangan pohon yang tidak lagi setia pada arah. Pada jam tertentu, bayangan itu condong ke timur, lalu tiba-tiba bergeser ke barat tanpa alasan. Di dadanya, ada kegelisahan yang tidak mau diam.“Ini bukan sisa kemarin,” katanya pelan.Raka yang sedang memperbaiki engsel pintu berhenti. “Apa yang kau rasakan?”“Bukan tarikan,” jawab Nara. “Pembagian.”Laksmi muncul dari jalan setapak, membawa gulungan kain tua berisi simbol-simbol yang pernah ia simpan jauh sebelum gerbang terbuka. “Kau benar,” katanya tanpa basa-basi. “Minggu mulai terbelah.”Raka berdiri. “Terbelah bagaimana?”“Bukan dicuri sekaligus,” jelas Laksmi. “Dipisah. Hari-hari di minggu ini tidak lagi te
Pagi datang tanpa matahari.Bukan karena awan menutup langit, melainkan karena fajar seolah lupa bagaimana caranya muncul. Udara tetap dingin seperti sisa malam, dan cahaya hanya seterang senja yang ragu untuk berubah. Desa Belantara terbangun dalam kebingungan yang sama—ayam berkokok terlambat, lonceng pagi tidak berdentang, dan bayangan rumah memanjang dengan arah yang keliru.Nara berdiri di ambang pintu rumah, memandang langit yang pucat. Di dadanya, ada rasa berat yang tidak ia kenali sebelumnya.“Ini bukan sekadar detik atau jam,” katanya pelan. “Ada sesuatu yang menahan… satu hari.”Raka muncul di sampingnya, menyampirkan jaket ke bahu Nara. “Aku juga merasakannya. Seperti kita melangkah, tapi tidak maju.”Laksmi berjalan cepat dari ujung jalan, tongkatnya memantulkan cahaya redup. “Karena hari ini sedang diperebutkan.”Raka menoleh tajam. “Diperebutkan oleh siapa?”“Oleh retakan,” jawab Laksmi. “Dan oleh sesuatu yang lebih cerdas dari bayangan pencuri detik.”Seolah menguatkan
Langkah mereka meninggalkan hutan terlarang terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Bukan karena ancaman telah lenyap, melainkan karena dunia di sekitar mereka seolah sedang belajar kembali bagaimana cara bergerak. Waktu berjalan—ya—tetapi tidak lagi mengalir lurus.Nara merasakan hal itu pertama kali ketika ia berkedip.Satu detik.Hanya satu.Namun saat matanya terbuka, posisi bulan di langit telah sedikit bergeser, seolah waktu melompat tanpa permisi.“Kalian… merasakannya?” tanya Nara pelan.Raka berhenti. “Merasakan apa?”“Detik yang hilang,” jawab Nara. “Seperti seseorang… mencurinya.”Laksmi menegang. Ia mengangkat tongkatnya, ujungnya berpendar samar. “Kita tidak sendirian.”Udara di sekitar mereka bergetar halus. Tidak ada angin, namun dedaunan berdesir seperti disentuh oleh sesuatu yang bergerak terlalu cepat untuk dilihat.“Kita harus cepat,” kata Laksmi. “Bayangan waktu telah bangun.”Raka mengerutkan kening. “Bayangan waktu?”“Makhluk sisa,” jelas Laksmi singkat. “Terbentuk d
Kesunyian setelah segel terbentuk bukanlah kesunyian damai. Ia terasa seperti napas yang ditahan terlalu lama—tenang di permukaan, namun bergetar di dalam. Hutan terlarang berhenti berdesir, akar-akar pohon tertua kembali mengeras, dan udara yang tadinya berat kini menjadi dingin dan datar.Nara masih berada dalam pelukan Raka. Tubuhnya terasa ringan, seolah sebagian dari dirinya tertinggal di tempat lain. Saat ia membuka mata, cahaya malam tampak lebih pucat dari yang ia ingat.“Raka…” bisiknya. “Kenapa semuanya terlihat… berbeda?”Raka menahan napas. Ia menatap wajah Nara—kulitnya tampak lebih kusam, garis di sudut mata lebih tegas. Bukan tua, tapi berubah. Seperti waktu melangkah satu langkah terlalu cepat.“Karena kau membayar dengan waktu,” kata Laksmi pelan. “Segel mengambilnya… sedikit demi sedikit.”Nara mengangguk, menerima. “Berarti… waktuku tidak hilang sekaligus.”“Tidak,” jawab Laksmi. “Segel hanya meminjam. Ia akan menariknya perlahan, selama retakan masih ada.”“Retakan
Hutan terlarang tidak lagi sekadar sunyi—ia berteriak tanpa suara. Akar-akar pohon tertua bergetar, tanah mengerang pelan, dan udara berlapis-lapis seperti kaca tipis yang siap pecah kapan saja. Di atas kanopi, awan berputar membentuk pusaran lambat, seolah langit sendiri sedang ditarik oleh tangan yang tak terlihat.Nara berdiri terpaku, kedua tangannya melindungi perutnya. Detak di dalam rahimnya terasa berbeda kini—lebih teratur, lebih tegas. Seperti ketukan jam yang menandai waktu yang semakin sempit.“Gerbang itu…” Raka menatap ke sekeliling dengan rahang mengeras. “Aku bisa merasakannya. Seperti napas besar di balik pepohonan.”Laksmi mengangguk, tongkatnya bergetar halus. “Karena penahannya telah dilepas. Gerbang tidak lagi menunggu satu jiwa. Ia menunggu dunia.”Kata itu jatuh berat di antara mereka.“Dunia…?” Nara berbisik. “Apa maksudmu?”“Perjanjian lama menyalurkan tekanan ke satu garis darah,” jelas Laksmi. “Sekarang ikatan itu putus. Tekanan mencari permukaan yang lebih







