LOGINAku pernah menyelamatkan nyawa Theo, sang Ketua Keluarga Luca. Saat peluru hampir menembus tubuhnya, akulah yang berdiri di depannya dan menahan tembakan itu. Sebagai balas budi, aku menggantikan kakakku menjalani pernikahan politik. Namun pada malam pengantin kami, Theo lebih memilih pergi mabuk-mabukan dan tak menyentuhku sedikit pun. Dengan polosnya aku percaya suatu hari nanti aku bisa meluluhkan hatinya. Tetapi belum genap lima tahun, Theo datang menemuiku sambil menggandeng seorang anak kecil yang sangat mirip dengannya bersama kakakku. “Anna membesarkan anak di luar negeri sendirian, dia sudah terlalu banyak menderita. Aku harus menebusnya,” katanya sambil menyerahkan surat cerai kepadaku. “Kau sudah menduduki posisi nyonya Keluarga Luca selama bertahun-tahun. Sudah waktunya kau mengembalikannya padanya.” Saat itu aku baru tahu, ketika Theo meninggalkanku sendirian di malam pengantin kami, ternyata ia pergi menemui kakakku dan menghabiskan malam bersamanya. Aku mengeluarkan hasil tes kehamilan yang awalnya ingin kujadikan kejutan. Namun ia langsung merobeknya. “Aku tidak membutuhkannya.” Kata-kata sedingin es itu menjadi awal dari akhir hidupku. Aku dipaksa naik ke meja operasi. Pendarahan hebat terjadi dan dua nyawa pun hilang sekaligus. Ketika aku membuka mata kembali, peluru itu kembali mengarah ke tubuh Theo. Tetapi kali ini aku berbalik, dan mendorong kakakku ke arahnya.
View More"The greatest battles aren't fought in the ring.
There, only the body takes the hits. But the real wars are the ones we fight for love, for survival, for truth — in places where there's no protective gear, and every touch can mean life or death. And in the end, the only way to win... is to stop fighting for yourself." The silence in the house was too loud. The kind of silence that was never a good sign. A thick, suffocating stillness that made your stomach twist even before the door opened. Lennox Graves was ten years old when he learned that touch could hurt. But that night, it wasn't only his body that bore the mark. That night, silence taught him something else too: that affection disguised as love was the most dangerous thing of all. He crouched in the kitchen, his bare feet pressed against the cold tile. The light from the hallway barely reached him—just enough to see his mother's shoes. She had left him again and gone to work the night shift. He already knew the choreography: the door closes, then comes the waiting. The click. The key. The footsteps. And then he arrived. The sound of the key turning in the lock always seemed to last a second longer than it should have. Lennox didn't move. His breathing slowed. He pressed his back against the wall, like an animal that knows hiding doesn't mean safety—just time. "LENNOX!" The voice boomed—deep, muffled, hoarse. His father was home. Lennox closed his eyes. He didn't respond. Maybe this time it wouldn't be so bad. Maybe he'd just sit. Maybe he'd just drink. Maybe Lennox wouldn't be the target tonight. The footsteps began. Not hurried. Deliberate. As if even the house itself was afraid of where the man was going. He headed for the kitchen. "Come out, you little rat," his father hissed, kicking a chair out of the way. The boy's heart pounded so hard, he couldn't even hear his thoughts—only instinct. The instinct that screamed: don't move, don't look up, don't say a word. But the man had already seen him. He grabbed his arm. "What the hell are you doing on the floor, you little failure?" Lennox didn't answer. He just looked up. His large, ice-blue eyes didn't beg. Didn't plead. They just stared. Silently. Like always. The first hit didn't crack. It was dull. Like something thrown against a wall. The second was louder. It hit his stomach. The air rushed out of him. "This crap is what you brought home? A C? A goddamn C?!" The man's voice rose, and another blow came—this time to his ribs. Lennox doubled over, but he didn't cry. He didn't beg. Not anymore. "Don't you get it?! If you don't learn how to hit, you'll always be the one getting hit! Understand?!" Another strike. This time to his thigh. Lennox collapsed to his knees. The cold floor hit his skin, but that was the least of the pain. Now his father wasn't just hitting. He was kicking. He grabbed the boy's arm and lifted him. His feet didn't touch the floor. His ribs creaked. "You have to be stronger, you little shit," he hissed, his face close to the boy's. "Your body is yours. Start using it!" The boy didn't understand what that meant. He only knew that the world he was born into wasn't one where people hugged you when you were hurt. It was a world where every touch promised pain. When his father finally left him, Lennox stayed on the floor. He didn't move. His body ached. Every breath stabbed at his chest. And under his ribs, something deeper had broken—not just bone, but something quiet and unseen. The night dragged on. Later, he stood. Washed the blood off as best he could. Threw the shirt in the trash. Then sat on the edge of the bed, hands resting in his lap. And something happened. Something small. He looked at his hands. Thin, trembling fingers. And he began to squeeze them. One hand into the other. Like someone trying to convince themselves they still had control over something. Anything. That night, Lennox Graves made a decision. He would never again let anyone touch him. Not out of love. Not out of anger. Not out of sympathy. Because touch wasn't safety. Touch was weakness. A crack in the armor. And he would never allow a crack again. That's why he loved the ring. There, everyone knew when the hit was coming. There were rules. There was no trust needed. Only one thing mattered: who stayed standing. And if anyone ever tried to touch him, only one thought crossed his mind: Don't touch me.Aku bangkit dan pergi. Dia akhirnya tidak lagi menghalangiku.Beberapa saat kemudian, Theo berdiri di tempat semula sambil bergumam lirih, “Jelas-jelas dulu tidak seperti ini. Kenapa semuanya berubah?”Keesokan harinya, aku berinisiatif menceritakan soal kalung itu pada Dominic.Aku mengira dia akan marah, atau setidaknya mengajakku membuat kalung baru. Tak kusangka, dia justru mengeluarkan sebuah cincin dengan lambang api. “Annie,” katanya lembut. “Sepertinya sudah waktunya hubungan kita berubah.”“Maukah kamu menikah denganku, Annie?”Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Air mataku langsung jatuh, dan mengangguk sambil menangis....Di hari pernikahanku dengan Dominic.Theo datang sambil membawa setangkai bunga matahari. Ia mengenakan setelan jas rapi dan berdiri di hadapanku. “Annie, aku ingat waktu kecil kamu pernah bilang ingin tema bunga matahari di pernikahanmu denganku nanti.”Aku memandangi bunga matahari yang sedang mekar sempurna itu, perlahan memetik satu kelopaknya dan
Setelah itu, aku mulai belajar mengelola urusan keluarga.Mengetahui rumor yang beredar di luar, aku pun mempublikasikan video itu ke hadapan umum. Kurang dari satu hari, reputasiku dan Anna berbalik seratus delapan puluh derajat.Anna menjadi sasaran caci maki semua orang.Ayah dengan tegas menyatakan memutuskan hubungan dengannya. Pada akhirnya, Anna hanya bisa memohon pada Theo agar bersedia menampungnya, demi mengenang budi penyelamatan nyawanya dulu.Sedangkan aku, saat melihat seorang anonim mengirimkan “rumor” tentang Dominic, aku hanya mencibir dan membakarnya ke dalam perapian.Sebagai seorang ketua mafia, reputasi kejam justru merupakan sebuah pujian.Lagipula, aku pernah difitnah. Karena itu, aku lebih percaya pada apa yang kulihat dengan mataku sendiri.Selama kami menjalani hidup dengan baik, itu sudah lebih dari cukup.Adapun Theo, aku kembali bertemu dengannya pada suatu malam.Dia mabuk, entah apa yang dipikirkannya dengan membawa sekelompok orang ke rumah kami dan bers
Theo berdiri lama di luar kamar Annie. Pada akhirnya, dia “dipersilakan” keluar oleh para pelayan.Kalau mengikuti sifat Theo yang dulu, dia pasti sudah pergi sejak awal. Tak ada yang menyangka dia akan sekeras kepala ini.Bahkan dia tetap berdiri di tempat semula dan tidak beranjak hingga larut malam.“Putri, tidak turun?” Seorang pelayan bertanya. “Ketua Theo masih menunggu Anda.”Aku menggeleng. “Kalau dia suka berdiri, biarkan saja. Dia akan pergi sendiri kalau sudah lelah.”Benar saja, tak lama setelahnya, pelayan datang melapor bahwa Theo sudah pergi.Setelah rekaman CCTV dipublikasikan, Ayah merasa sangat kasihan padaku. Dia bahkan memutus semua hubungan dengan Keluarga Luca dan tidak menjalin kerja sama apa pun.Padahal kedua keluarga kami adalah sahabat lama. Perubahan mendadak ini membuat seluruh dunia mafia terus berspekulasi.Pembatalan pernikahan saja sudah cukup mengejutkan, kini hubungannya benar-benar diputus.Beberapa orang yang “tahu” mulai menyebarkan kabar bahwa sem
Tak lama setelah pernikahannya dibatalkan, Anna sangat tidak senang. Awalnya Theo masih menuruti kemauannya dan berusaha menenangkannya.Dia berjanji bahwa pernikahan berikutnya akan digelar lebih megah dan gaun pengantinnya akan dirancang ulang oleh desainer ternama.Dia juga membelikan banyak perhiasan mahal untuk Anna. Namun Anna tetap tidak puas, dia menginginkan lebih.Kesabaran Theo pun habis. “Anna, kenapa kamu menjadi begitu serakah?”Ekspresi Anna langsung membeku. Dia buru-buru memasang wajah menyedihkan.“Aku hanya merasa kasihan padamu. Pernikahan yang sudah kamu siapkan dengan susah payah justru dihancurkan oleh Annie.”Begitu mendengarnya, hati Theo kembali melunak.“Jangan bahas masalah ini lagi. Aku juga sudah menghukum Annie. Anggap saja semua sudah selesai.”Begitu mendengar kata selesai, wajah Anna berubah menjadi menyeramkan.Hanya hukuman sekecil itu?Tidak cukup! Sama sekali tidak cukup!Annie seharusnya dibenci oleh semua orang!Mengapa sejak lahir Annie sudah me
Tidak mungkin, jelas-jelas aku datang. Kami bahkan mengobrol dengan sangat akrab, saling bertukar kontak dan sudah berjanji untuk bertemu lagi.Mendengar ucapanku, Theo yang berdiri di samping hanya mencibir dingin, “Sepertinya Putri Annie menemuinya di dalam mimpi.”Dia tidak mempercayaiku, apalagi
Aku berkata dengan nada datar, “Jangan terlalu percaya diri. Ini bukan demi dirimu”Aku sudah lama ingin mewarnai rambutku menjadi ungu, bukan keputusan yang muncul tiba-tiba.Theo kembali menatap rok pendekku. “Ini juga bagian dari trik barumu?”Aku tidak menggubrisnya dan berbalik pergi.Aku punya
Saat tersadar kembali, aku berada di sebuah kamar yang hangat, dan lukaku sudah dibersihkan serta dibalut dengan rapi.Aku bertanya pada para bawahan, namun mereka hanya mengatakan bahwa ketua sudah mengambil keputusan akhir mengenai masalah ini.Setelah Anna benar-benar pulih dan keluar dari rumah
Theo berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit. Ketika mendengar langkah kaki mendekat, ia membentak dingin, “Pergi.”Detik berikutnya, ia mendengar suara tangis lirih perempuan di depannya. Dia membeku.“Anna?”Kemudian dia melihatku berdiri di mulut gang dengan tatapan dingin.Di kehidupan sebelu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews