Masuk"Tidak...kenapa..."Nozela memegangi kepalanya yang tiba-tiba teras pusing, matanya terpejam saat kilas balik ingatan sore tadi di restoran mulai mendomonasi pikirannya. Drake...Orang yang berusaha mati-matian dia hindari tiba-tiba muncul di hadapannya, dengan tidak tahu malunya justru Drake tersenyum manis ke arahnya seolah tak pernah terjadi sesuatu di antara mereka. Ingatan itu, Nozela menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangannya, telinganya serasa berdengung menyuarakan apa yang sedang dia pikirkan.Brugh!!Tubuhnya terjatuh ke lantai kamar yang dingin, kedua tangannya bergetar, matanya yang terpejam perlahan terbuka.Tidak, dia tidak bisa seperti ini terus! Pikirnya.Matanya mulai berkaca-kaca, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari sesuatu yang bisa dijadikan tumpuan untuk dia berdiri. Kebetulan, Nozela terduduk di dekat ranjang. Tangannya yang bergetar mulai meraih pinggiran ranjang dan mencengkeramnya dengan erat.Dengan sisa kekuatan yang di milikinya, Nozela
Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan di ruang makan kediaman Lysander malam itu. Di meja makan kayu jati yang panjang, hanya ada tiga orang, Oma Rosa, Adrian, dan Meysa.Suasana terasa begitu sunyi, ketiga orang di sana pikirannya sedang mengembara ke tempat yang berbeda-beda. Namun, di balik wajah tenangnya, pikiran Meysa justru berkelana memikirkan kira-kira kejutan atau hadian apa yang sedang Adrian sipkan unutknya. Hatinya terasa senang dan menghangat namun disisi lain dia juga sangat penasaran.Sejak sore tadi, Meysa tidak bisa berhenti memikirkan tentang kejutan yang sempat disinggung Adrian. Adrian sengaja bertingkah misterius belakangan ini, dan itu sukses membuat Meysa mati penasaran."Apakah Adrian membelikanku hadiah? Cincin? Kalung? Atau jangan-jangan dia sengaja pura-pura diam dan cuek begini hanya untuk menjahiliku sebelum memberikan kejutan besar nanti malam?" batin Meysa sambil melirik kecil suam
Meysa berjalan pelan menuju dapur sambil mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap jengkal lantai menuntut fokus penuhnya agar tidak goyah. Sambil menuruni anak tangga satu demi satu, tangan kanannya refleks memegangi dada, merasakan ritme jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir ketegangan yang menyergap.Sesampainya di dapur, suasana hangat langsung menyambutnya. Beberapa asisten rumah tangga tampak sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, memotong sayur dan menyiapkan bumbu untuk hidangan makan malam nanti. Aroma masakan yang menguar sedikit mengalihkan kegelisahan Meysa.Melihat kehadiran sang nyonya muda, salah satu asisten rumah tangga segera menghentikan kegiatannya dan menghampiri Meysa dengan sopan."Ada yang bisa kami bantu, Nyonya Meysa?" tanyanya ramah.Meysa memaksakan sebuah senyuman tipis agar raut cemasnya tidak terlalu kentara. "Saya mau membuat kopi untu
Meysa melangkah pelan dari kamar mandi, tubuhnya dibungkus jubah mandi berbahan katun lembut yang nyaman. Di atas kepalanya, rambutnya yang basah tergulung rapi oleh sehelai handuk putih.Sambil bersenandung kecil untuk mengusir rasa kesalnya, Meysa berjalan mendekati meja rias lalu duduk di kursi. Dalam hati, Meysa masih merasa kesal pada sagsuami meski penyebabnya hanya sepele."Sudahlah, tidak perlu di pikirkan lagi," gumamnya.Menatap pantulan dirinya di cermin, Meysa menghela napas panjang. Wajahnya tampak sedikit lelah dan pucat.Dengan gerakan jemari yang telaten, Meysa mulai merias wajahnya tipis-tipis. Sedikit pelembap, bedak tabur untuk menyamarkan kilap, dan sentuhan blush on tipis di kedua pipi agar rona segarnya kembali. Terakhir, ia mengambil sebuah lipstik berwarna nude. Dipoleskannya warna natural itu dengan hati-hati ke bibirnya. Pas, tidak terlalu mencolok dan jauh dari kesan menor.Setelah meletakkan kembali lipstiknya, Meysa menatap lekat-lekat bayangan dirinya di
Satu minggu telah berlalu sejak Nora dan Bagas resmi meninggalkan gerbang Mansion Lysander. Sejak hari itu pula, atmosfer di dalam rumah megah ini berubah total. Keheningan yang membawa damai kini menyelimuti setiap sudut ruangan.Tak ada lagi pekikan suara Nora yang melengking, tidak ada lagi ketegangan yang dibawa oleh Bagas, dan yang paling penting, tak ada lagi keributan tanpa ujung yang melelahkan jiwa. Mansion Lysander akhirnya kembali ke fungsi sejatinya: sebuah rumah yang hangat, bukan medan perang.Sore itu, kedamaian begitu terasa di ruang keluarga yang luas. Sinar matahari senja menyelinap masuk melalui jendela kaca besar, memberikan nuansa keemasan yang menenangkan.Di atas sofa beludru yang nyaman, Meysa duduk berdampingan dengan Oma Rosa. Wajah Oma Rosa terlihat jauh lebih rileks, guratan lelah yang biasanya menghiasi wajah keriputnya kini memudar, digantikan oleh senyum tipis yang tulus. Di sisi lain sofa, Sus Defi juga ikut bergabung dengan posisi santai namun tetap so
Ceklek."Apa tanganmu tidak bisa digunakan lagi untuk..." Ucap Nora sambil mendongak. "...Celine?' Nora mengubah eksspresi wajahnya ketika melihat sahabatnya yang datang ke ruangannya, dia menutup berkas di depannya ketika sang sahabat duduk di kursi tepat di depannya. Nora memprhatikan wajah Celine yang ditekuek dengan kedua tangan dilipat ke depan dada.Nora menaikna sebelah alisnya. "Ada apa?" tanyanya.Terdengar hembusan napas dari mulut Celine, dia mentap sahabatnya dengan tajam.Brak!Nora berjengit terkejut ketika Celine menggebrak meja tanpa aba-aba, dia sampai mengelus dadanya, jantungnya berdegup kencang."Cel, kamu membuatku terkejut." omel Nora.Celine mendengus sebal. "Aku kesal dengan Adrian."Nora mengerutkan keningnya. "Adrian? Kamu bertemu dengannya?"Celine menganggukkan kepalanya. "Iya, Papa mendensakku untuk segera menikah dengan Adrian.""APA?!"Nora sepontan berdiri dari duduknya ketika mendengar apa yang baru saja sahabatnya ucapkan, wajahnya menunjukkan keterk







