LOGIN"Kenapa lama sekali?"Pandangan Andito lurus, tertuju pada pintu besar yang memisahkan ruang VIP restoran mewah itu dengan lorong luar. Sudah hampir sepuluh menit berlalu, dan Nozela belum juga kembali.Rasa khawatir mulai mengayap di benak Andito. Restoran ini memang berkelas, tetapi labirin koridor menuju toiletnya cukup membingungkan. Apalagi tadi Nozela dengan keras kepala menolak ditemani oleh Ana.Ana, yang duduk tak jauh dari sana, diam-diam memperhatikan gerak-gerik atasannya. Kaki Andito yang mengetuk lantai tanpa ritme dan tatapannya yang tak lepas dari pintu membuat Ana yakin bahwa pria itu sedang gelisah.Mengumpulkan keberanian, Ana sedikit condong ke depan dan bertanya dengan suara lirih, hampir berbisik."Pak Andito... maaf, Anda kelihatan gelisah. Ada yang bisa saya bantu?"Andito menghela napas pendek, urung menyesap minumannya. Dia menoleh sedikit ke arah Ana, wajahnya menunjukkan guratan cemas yang coba disembunyikan."Nozela... dia lama sekali di kamar mandi. Sudah
Jarum jam tepat menunjukkan pukul 3 sore. Suasana tenang dan elegan menyelimuti restoran mewah yang terletak di lantai atas sebuah gedung pencakar langit itu. Alunan musik jazz lembut berputar di latar belakang, mengiringi obrolan serius yang baru saja mereda.Di salah satu meja bundar terbaik dekat jendela besar, Nozela duduk bersama sang papa dan Ana, asisten setia mereka. Di hadapan mereka, duduk seorang pengusaha sukses yang menjadi target kerja sama strategis perusahaan papa Nozela."Senang bisa bekerja sama dengan anda, Tuan," ucap Andito."Saya juga berterima kasih karena Anda mau bekerja sama dengan perusahaan kecil seperti kamu, Tuan Andito.""Ah Anda terlalu merenadah Tuan," ucap Andito diakhiri kekehan kecil.Setelah diskusi yang cukup panjang dan mendetail, sebuah kesepakatan besar akhirnya tercapai. Lembar kontrak kerja sama telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Dengan berakhirnya urusan formal tersebut, ketegangan di meja makan pun mencair, digantikan oleh suasana
Langkah kaki Adrian dan Evan terdengar seirama di lobi perusahan Lysander. Mereka akan pergi keluar disaat masih jam kerja untuk urusan pribadi sekalian makan siang. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka pun menyapa sang atasan. Namun hanya Evan yang membalas sapaan mereka, Adrian hanya menampilkan wajah datar sepanjang jalan. Tepat di tengah lobi, berdiri seorang wanita berpenampilan modis yang sangat familiar. Celine. Begitu melihat Adrian, mata wanita itu langsung berbinar. Ia segera melangkah lebar, memotong jalur berjalan Adrian."Adrian! Akhirnya kamu keluar juga," ucap Celine, langsung menodong tanpa basa-basi."Aku sengaja ke sini. Ada yang perlu kita bicarain. Penting."Adrian menghela napas panjang, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan yang ia kenakan. Ia menatap Celine dengan tatapan dingin, lalu melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya."Jam sebelas siang, di hari kerja," cibir Adrian dengan nada sarkas yang kental."Hebat ya, Celine. S
Jari tangan William bergerak lincah di atas keyboard laptopnya yang menyala, kacamata bening bertengger di hidungnya yang mancung, tatapannya datar. Aroma kopi hitam panas mengepul dari cangkir yang tak jauh dari posisinya, aroma kuat itu mebuatnya lebih tenang.Tok... tok... tok...Ketukan di pintu memecah keheningan. William membetulkan posisi duduknya, lalu bersuara dengan nada baritonnya yang tegas."Masuk."Pintu ruangan William terbuka, memunculkan seorang pria muda dengan setelan jas rapi. Di tangan kanannya, ia mendekap sebuah map kulit berwarna cokelat pekat. Dengan langkah tegap namun penuh sopan santun, pria muda itu berjalan mendekati meja kerja William."Permisi, Tuan William," sapanya sembari membungkuk hormat.William mengangguk pelit, mengisyaratkan pria itu untuk duduk. Pria muda itu pun mengambil tempat di kursi tepat di depan William, lalu dengan segera menyodorkan map yang dibawanya ke atas meja."Ini berkas yang Anda minta tadi malam, Tuan. Semuanya sudah lengkap
Kriet.Suara koper yang ditutup terdengar nyaring di keheningan kamar Nora dan Bagas, tiga buah koper besar sudah terjejer rapi di ruang walk-in closet. Bagas meraih dua koper dan keluar leih dulu dari kamar mereka."Kamu udah siap?"Nora menoleh, tatapannya masih setia dengan datar. Kepalanya mengangguk, tanda dia sudah siap menghadapi apa yang akan terjadi di depan sana."Aku terpaksa," jawabnya dengan nada sinis.Tangan Celien menarik satu koper yang tersisa lalu berjalan meninggalkan kamar yang sangat berantakan. Di depannya, Nora berjalan dengan angkuh dengan dagu terangkat. Suara dua pasang heels yang saling bersahutan menggema di anak tangga, Nora dan Celine menuruni anak tangga dengan langkah tenang dan pasti. Namun langkah mereka terhenti ketika melihat keluarga mereka berkumpul di depan sana dengan tatapan tertuju pada mereka."Ada aku dan Bagas di sini, kamu tidak perlu khawatir," bisik Celine.Nora mendnegus sinis. "Aku tidak takut pada apapun."Langkah kakinya membawa No
Pranggg!Suara pecahan kaca nyaring menggema, memecah keheningan malam di dalam kamar mewah itu. Sebuah botol parfum berbahan kristal hancur berkeping-keping setelah dihantamkan Nora ke lantai marmer. Cairan wangi yang mahal kini mengalir di antara serpihan kaca, menguapkan aroma semerbak yang terasa mencekik di tengah atmosfer yang begitu panas.Nora benar-benar telah kehilangan akal sehatnya."Kurang ajar! Berani-beraninya Adrian mengusirku dari mansion ini!" teriak Nora histeris. Napasnya memburu, dadanya kembang kempis menahan amarah yang membakar seluruh dadanya.Kedua tangannya menyapu bersih permukaan meja rias. Botol-botol kosmetik, tempat perhiasan, dan cermin kecil, semuanya terbang dan hancur berantakan di lantai. Kamar yang semula rapi kini tak ubahnya seperti medan perang. Harus pergi malam ini juga? Perintah Adrian bagaikan tamparan keras yang menghancurkan harga dirinya berkeping-keping."Ini semua karena Meysa! Jalang sialan itu!" jerit Nora lagi, suaranya melengking f







