LOGINKemuning Dwi Kusumadewi tak pernah menyangka bahwa pernikahan yang ia pertahankan dengan penuh kesetiaan justru berakhir pada pengkhianatan. Suaminya memilih kembali kepada cinta lamanya, bahkan membawa Kemuning tinggal di rumah yang menyimpan kenangan mereka. Namun luka terbesar datang saat Kemuning dijadikan taruhan dalam sebuah permainan kejam, dipertukarkan demi melunasi hutang dan menyelamatkan pria yang ia sebut suami. Dimenangkan oleh Rafardan Kaynan Kendrick, pria misterius dan berkuasa, hidup Kemuning berubah dalam sekejap. Akankah ia terus tenggelam dalam penderitaan, atau justru menemukan kekuatan untuk bangkit dan membalas semua yang telah menghancurkannya?
View More"Mas, aku mohon… jangan lakukan ini padaku.”
Kemuning berlutut, memeluk erat kaki Liam. Suaranya lirih, bergetar, hampir tak terdengar. “Ingat, aku ini istrimu, Mas.” “Diam!” sentak Liam kasar. Tangannya menarik tubuh Kemuning hingga terguncang. “Aku tidak peduli, meski kau menangis darah sekalipun. Kau hanya wanita pembawa petaka dalam hidupku. Mengerti?” Air mata Kemuning jatuh tanpa henti. Tubuh kecilnya tak sanggup melawan cengkeraman tangan kekar suaminya. Pria yang setahun lalu mengucap janji suci itu kini menatapnya tanpa sisa rasa. “M–Mas… aku dibawa ke mana?” tanyanya di sela isak. “Berisik,” dengus Liam. “Kau ingin tahu aku membawamu ke mana?” Tubuh Kemuning kembali diguncang kasar. “I–iya… aku ingin tahu.” “Oke.” Senyum tipis terukir di bibir Liam. “Aku akan menjadikanmu sebagai jaminan.” “Jaminan?” Kemuning tertegun. “Maksud Mas apa? Bagaimana bisa aku dijadikan jaminan?” “Mudah.” Tatapan Liam dingin. “Aku serahkan kau pada mereka. Setelah itu, semuanya aman.” “Nggak… aku nggak mau, Mas.” Kepalanya menggeleng cepat. “Jangan libatkan aku dalam masalahmu. Aku mohon.” “Berhenti merengek.” Nada Liam meninggi. “Suaramu memekakkan telinga. Cepat masuk. Jangan uji kesabaranku.” Kemuning terisak, namun masih mencoba bertahan. “Mas… sebelum kamu lakukan ini, jawab satu pertanyaanku.” “Apa lagi?” bentak Liam. “Apa sedikit pun… Mas pernah mencintaiku?” Liam tertawa keras. “Hahaha! Kau benar-benar wanita aneh.” Ia menatap Kemuning penuh ejekan. “Kau pikir aku menikahimu karena cinta? Jangan naif. Aku tidak tertarik pada perempuan sepertimu.” Matanya menyapu Kemuning dari ujung kepala hingga kaki. “Lihat penampilanmu. Cih. Aku punya tunangan. Dia wanita berkelas, cantik. Tidak seperti kamu.” Dorongan keras membuat tubuh Kemuning terjerembab ke lantai. Perlakuan kasar itu sudah menjadi hal biasa selama pernikahan mereka. “Tuan Liam, Anda sudah datang?” Seorang pria berbadan besar mendekat. “Siapa wanita yang Anda bawa?” “Dia yang akan Anda jadikan taruhan?” sambung pria lain. “Hutang Anda sangat besar pada tuan kami. Bagaimana Anda akan melunasinya?” “Ta–taruhan?” napas Kemuning tersengal. “Mas… jangan. Aku mohon…” Takut merayap cepat. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi kulit. Jadi inikah maksud Liam menjadikannya jaminan? “Katakan pada tuanmu,” ujar Liam tenang, “dia tidak akan kecewa dengan taruhan ini.” “Hahaha!” Pria berkulit gelap itu tertawa meremehkan. “Wanita bercadar kau jadikan taruhan? Kau pikir tuan kami buta?” “Bawa pergi wanita tidak berguna itu. Bawa wanita yang semalam bersamamu.” “Tidak!” Liam segera menghalangi. “Dia tunanganku. Jangan sentuh dia.” Kemuning memejamkan mata. Bahkan di saat genting ini, Liam masih melindungi wanita lain. “Wanita ini punya tubuh dan wajah bagus,” ujar Liam sambil mendorong Kemuning ke depan. “Kalian bisa lihat sendiri.” Kepala Kemuning membentur lantai. Cairan merah mengalir dari pelipisnya. Kali ini, tak ada lagi tangisan. Hanya pasrah. Dua pria berbaju hitam mendekat. Salah satu menarik lengannya hingga berdiri. “Kalian bisa lakukan apa pun padanya,” kata Liam dingin. “Bahkan jika kalian ingin melukainya, aku tidak peduli.” “Aku boleh pergi sekarang, kan? Aku sudah membawa taruhannya. Sebagai gantinya, aku bawa kekasihku.” “Tidak bisa,” sahut pria berkacamata hitam. “Kami harus memeriksanya terlebih dahulu sebelum diserahkan pada tuan kami.” Tangannya terulur ke arah cadar Kemuning. “Tenang saja,” Liam berkata. “Dia barang bagus. Tidak jauh berbeda dengan tunanganku.” Tatapan Liam tanpa sengaja bertemu dengan mata Kemuning. Iris sendu itu menatapnya lurus. Air mata menetes membasahi cadarnya. Sial. Liam memalingkan wajah. Ada dorongan asing yang membuat dadanya terasa sesak. Jika ini akhir takdirku… aku ikhlas, batin Kemuning. “Tunggu!” Semua mata tertuju pada Liam. “Aku terima taruhan ini,” lanjutnya. “Aku serahkan dia padamu. Lakukan apa pun. Aku tidak punya hubungan apa pun lagi dengannya.” “Kau akan pergi?” tanya pria berkacamata. “Ya.” “Tanda tangani ini,” katanya sambil menyerahkan dokumen. “Sekali kau melewati pintu itu, tidak ada jalan kembali. Dia akan menjadi milikku selamanya.” Liam menandatangani tanpa ragu. “Menyesal?” Ia tertawa kecil. “Tentu tidak. Justru aku lebih bahagia jika dia lenyap dari hidupku.” “Karena sejak dia ada… hidupku hancur.” Kemuning berusaha mendekat, meski kakinya gemetar. “Mas… aku istrimu.” Suaranya hampir habis. “Tolong jangan tinggalkan aku di sini. Jika perlu, ceraikan aku. Aku janji tak akan mengusik hidupmu lagi.” Air mata jatuh di lantai dingin. Namun Liam tak menoleh sedikit pun.Mobil melaju menembus malam, meninggalkan Yogyakarta tanpa banyak kata. Arka tertidur dalam pelukan Kemuning, napasnya masih tersengal sesekali, seolah trauma itu belum benar-benar pergi.Kemuning menatap ke luar jendela, kosong. Jemarinya terus mengusap punggung Arka, memastikan anaknya benar-benar ada di sana.Di kursi depan, Ardan menggenggam setir dengan rahang mengeras.“Kita langsung ke Jakarta,” ucapnya tegas.Kemuning tidak langsung menjawab. “Mas, apa kita harus secepat ini?”Ardan melirik lewat kaca spion. “Aku tidak akan ambil risiko lagi.”Hening sejenak, sebelum Ardan kembali bersuara.“Aku sudah tinggalkan orang untuk jaga rumah di sini. Tidak akan ada yang masuk tanpa izinku,”Lanjutnya dingin.Kemuning mengangguk pelan. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat. Yang ia tahu, Arka ada di pelukannya.“Ayah…,” lirih Arka setengah sadar.Ardan langsung menoleh. “Iya, Nak. Ayah di sini.”Suara itu cukup untuk membuat Arka kembali tenang.Kemuning menunduk, air matanya jatuh dia
“Kembalikan anakku, Mas… kembalikan!”Suara Kemuning pecah di udara, tubuhnya melemah hingga hampir jatuh jika Ardan tidak sigap menahannya. Tangannya masih mencengkeram baju Ardan, seolah itu satu-satunya hal yang tersisa saat dunianya runtuh dalam sekejap.“Tenang, sayang,” suara Ardan rendah, namun tegas. “Menangis tidak akan mengembalikan Arka. Aku janji membawa anak kita."Kemuning menggeleng, air matanya tak berhenti. “Aku gak peduli caranya, aku cuma mau anakku pulang, Mas. Aku mau Arka…,"Ardan memejamkan mata sesaat, menahan sesuatu yang bergolak di dalam dirinya. Saat ia membukanya kembali, sorot matanya berubah bukan lagi amarah yang meledak, melainkan dingin yang berbahaya. Ia meraih ponselnya, menghubungi seseorang dengan tangan terkepal kuat.Para guru yang berada di sana tertunduk, bukan hanya takut tapi rasa bersalah karena membiarkan Arka di culik.“Faris, aku gak mau alasan. Cari semua rekaman CCTV di sekitar sekolah. Tutup semua akses keluar kota. Aku mau anakku dit
Beberapa hari berlalu sejak kebahagiaan itu kembali menyapa. Rumah yang dulu terasa asing, kini perlahan menjadi tempat pulang yang sesungguhnya bagi Kemuning.Tidak ada lagi jarak yang terlalu kaku. Tidak juga luka yang terus dipaksakan untuk diingat. Semua berjalan pelan, namun pasti.Pagi itu, Ardan menggenggam tangan Arka kecil, sementara Kemuning berjalan di sisi mereka. Senyum tipis terukir di wajahnya, melihat bagaimana Arka begitu antusias. Sekolah Arka jauh lebih bagus dari sebelumnya, kali ini Ardan memilih sekolah elite tidak jauh dari kediamannya sekarang. “Ibu, sekolahnya besar banget!"“Hmm, kamu suka nak?""Suka bangat ibu."Kemuning tersenyum, Ardan tidak kalah senang melihat dua orang penting dalam hidupnya kini berada dalam pandangannya."Nanti Arka harus jadi anak pintar, ya,” ujar Kemuning lembut."Pasti ibu."Ardan melirik, tersenyum. “Anaknya siapa dulu.”Kemuning mendengus pelan. “Jangan besar kepala, Mas.”"Harus, itu Yang. Masa punya istri sholehah, anak yang
Cahaya matahari masuk melalui jendela, menyinari ruang makan yang sederhana, namun penuh kehangatan yang sempat lama hilang. Arka duduk di kursinya, sibuk dengan sarapan, sementara Ardan berdiri di dapur, mencoba, dengan usaha yang terlihat jelas menyiapkan sesuatu.Kemuning bersandar di dekat pintu, memperhatikan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.“Mas…," panggilnya pelan.Ardan menoleh cepat. “Iya? Tunggu, ini hampir jadi.”Kemuning mengernyit. “Mas lagi ngapain?”“Membuktikan kalau aku suami yang bisa diandalkan,” jawab Ardan percaya diri.Beberapa detik kemudian, aroma yang sedikit aneh tercium.Arka mengangkat kepala. “Ayah, itu bau apa?”Ardan terdiam sebentar, lalu tersenyum kaku. “Itu, aroma perjuangan.”Kemuning menahan tawa, tapi tetap lolos juga dari bibirnya. “Mas, itu gosong.”“Enggak, ini, setengah matang dengan sentuhan karakter,” bela Ardan.Arka langsung turun dari kursinya, menghampiri. “Ayah, Arka bantu ya. Nanti makin gosong.”Ardan menatap anak itu, lalu terta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews