ログインKemuning Dwi Kusumadewi tak pernah menyangka bahwa pernikahan yang ia pertahankan dengan penuh kesetiaan justru berakhir pada pengkhianatan. Suaminya memilih kembali kepada cinta lamanya, bahkan membawa Kemuning tinggal di rumah yang menyimpan kenangan mereka. Namun luka terbesar datang saat Kemuning dijadikan taruhan dalam sebuah permainan kejam, dipertukarkan demi melunasi hutang dan menyelamatkan pria yang ia sebut suami. Dimenangkan oleh Rafardan Kaynan Kendrick, pria misterius dan berkuasa, hidup Kemuning berubah dalam sekejap. Akankah ia terus tenggelam dalam penderitaan, atau justru menemukan kekuatan untuk bangkit dan membalas semua yang telah menghancurkannya?
もっと見るMobil melaju menembus malam, meninggalkan Yogyakarta tanpa banyak kata. Arka tertidur dalam pelukan Kemuning, napasnya masih tersengal sesekali, seolah trauma itu belum benar-benar pergi.Kemuning menatap ke luar jendela, kosong. Jemarinya terus mengusap punggung Arka, memastikan anaknya benar-benar ada di sana.Di kursi depan, Ardan menggenggam setir dengan rahang mengeras.“Kita langsung ke Jakarta,” ucapnya tegas.Kemuning tidak langsung menjawab. “Mas, apa kita harus secepat ini?”Ardan melirik lewat kaca spion. “Aku tidak akan ambil risiko lagi.”Hening sejenak, sebelum Ardan kembali bersuara.“Aku sudah tinggalkan orang untuk jaga rumah di sini. Tidak akan ada yang masuk tanpa izinku,”Lanjutnya dingin.Kemuning mengangguk pelan. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat. Yang ia tahu, Arka ada di pelukannya.“Ayah…,” lirih Arka setengah sadar.Ardan langsung menoleh. “Iya, Nak. Ayah di sini.”Suara itu cukup untuk membuat Arka kembali tenang.Kemuning menunduk, air matanya jatuh dia
“Kembalikan anakku, Mas… kembalikan!”Suara Kemuning pecah di udara, tubuhnya melemah hingga hampir jatuh jika Ardan tidak sigap menahannya. Tangannya masih mencengkeram baju Ardan, seolah itu satu-satunya hal yang tersisa saat dunianya runtuh dalam sekejap.“Tenang, sayang,” suara Ardan rendah, namun tegas. “Menangis tidak akan mengembalikan Arka. Aku janji membawa anak kita."Kemuning menggeleng, air matanya tak berhenti. “Aku gak peduli caranya, aku cuma mau anakku pulang, Mas. Aku mau Arka…,"Ardan memejamkan mata sesaat, menahan sesuatu yang bergolak di dalam dirinya. Saat ia membukanya kembali, sorot matanya berubah bukan lagi amarah yang meledak, melainkan dingin yang berbahaya. Ia meraih ponselnya, menghubungi seseorang dengan tangan terkepal kuat.Para guru yang berada di sana tertunduk, bukan hanya takut tapi rasa bersalah karena membiarkan Arka di culik.“Faris, aku gak mau alasan. Cari semua rekaman CCTV di sekitar sekolah. Tutup semua akses keluar kota. Aku mau anakku dit
Beberapa hari berlalu sejak kebahagiaan itu kembali menyapa. Rumah yang dulu terasa asing, kini perlahan menjadi tempat pulang yang sesungguhnya bagi Kemuning.Tidak ada lagi jarak yang terlalu kaku. Tidak juga luka yang terus dipaksakan untuk diingat. Semua berjalan pelan, namun pasti.Pagi itu, Ardan menggenggam tangan Arka kecil, sementara Kemuning berjalan di sisi mereka. Senyum tipis terukir di wajahnya, melihat bagaimana Arka begitu antusias. Sekolah Arka jauh lebih bagus dari sebelumnya, kali ini Ardan memilih sekolah elite tidak jauh dari kediamannya sekarang. “Ibu, sekolahnya besar banget!"“Hmm, kamu suka nak?""Suka bangat ibu."Kemuning tersenyum, Ardan tidak kalah senang melihat dua orang penting dalam hidupnya kini berada dalam pandangannya."Nanti Arka harus jadi anak pintar, ya,” ujar Kemuning lembut."Pasti ibu."Ardan melirik, tersenyum. “Anaknya siapa dulu.”Kemuning mendengus pelan. “Jangan besar kepala, Mas.”"Harus, itu Yang. Masa punya istri sholehah, anak yang
Cahaya matahari masuk melalui jendela, menyinari ruang makan yang sederhana, namun penuh kehangatan yang sempat lama hilang. Arka duduk di kursinya, sibuk dengan sarapan, sementara Ardan berdiri di dapur, mencoba, dengan usaha yang terlihat jelas menyiapkan sesuatu.Kemuning bersandar di dekat pintu, memperhatikan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.“Mas…," panggilnya pelan.Ardan menoleh cepat. “Iya? Tunggu, ini hampir jadi.”Kemuning mengernyit. “Mas lagi ngapain?”“Membuktikan kalau aku suami yang bisa diandalkan,” jawab Ardan percaya diri.Beberapa detik kemudian, aroma yang sedikit aneh tercium.Arka mengangkat kepala. “Ayah, itu bau apa?”Ardan terdiam sebentar, lalu tersenyum kaku. “Itu, aroma perjuangan.”Kemuning menahan tawa, tapi tetap lolos juga dari bibirnya. “Mas, itu gosong.”“Enggak, ini, setengah matang dengan sentuhan karakter,” bela Ardan.Arka langsung turun dari kursinya, menghampiri. “Ayah, Arka bantu ya. Nanti makin gosong.”Ardan menatap anak itu, lalu terta
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー