เข้าสู่ระบบSara Riders telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk belajar bertahan di dunia di mana kepercayaan bisa berujung pada kematian. Dilatih oleh organisasi rahasia bernama The Forge dan bekerja sebagai agen intelijen, Sara terbiasa menciptakan identitas palsu, membaca situasi, menghilang tanpa jejak, dan menghabisi ancaman sebelum ancaman itu sempat mendekatinya. Namun setelah sebuah target bernama Samuel tewas, Sara menyadari bahwa kematian itu hanyalah awal. Sebuah identitas misterius muncul dalam operasi lapangan. Seorang pria biasa bernama Daniel White tiba-tiba menjadi target organisasi berbahaya. Sebuah chip tersembunyi menyimpan rahasia yang mampu membahayakan banyak nyawa. Yang lebih mengkhawatirkan, metode yang digunakan musuh terasa begitu familiar bagi Sara—karena metode itu adalah bagian dari pelatihan yang pernah ia terima sendiri. Bersama James, seorang agen BIN, Sara terseret semakin jauh ke dalam konspirasi yang perlahan mengarah pada masa lalunya sendiri. Semakin banyak jawaban yang ia temukan, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Dan kali ini, musuh yang paling harus ditakuti Sara mungkin bukan orang yang sedang ia buru. Melainkan seseorang yang tahu persis bagaimana cara berpikirnya.
ดูเพิ่มเติมSara tidak mengerti obsesi orang kaya dengan segala sesuatu yang bergemerlap. Kalung yang apabila terkena sedikit sorotan lampu bisa menimbulkan cahaya yang lebih terang dari lampu jalanan, membuat mereka seperti IronMan yang tengah menembakkan lessernya.
Masalahnya mereka memadukan hal-hal tersebut dengan pakaian yang lebih sederhana. Alasannya, agar terlihat lebih rendah hati saja. Padahal dengan sekali pandang saja, Sara tahu kalau uang-uang yang mereka hasilkan bukan berasal dari pekerjaan yang bersih.
Gracie Mansion selalu memancarkan aura kecemasan yang berlebih. Untungnya saja dirinya sudah terbiasa dengan hal ini, karena sudah hampir satu tahun Sara membangun profil rahasia melalui jabatan sekertaris pribadi Walikota New York yang terpilih—yang ia sandang—cukup lama untuk tahu persis di titik mana senyum seorang diplomat mulai retak, dan cukup lama untuk berhenti terkejut setiap kali menemukan bahwa di balik gemerlap kalung berlian, selalu ada sesuatu yang lebih busuk dari yang terlihat.
Sara sendiri sedikit bersyukur dengan posisi yang ia miliki karena posisi itu membuatnya bebas berkeliaran di segala penjuru gedung tanpa seorang pun repot-repot bertanya kenapa. Sekretaris pribadi punya semacam kekebalan aneh yang tidak dimiliki jabatan lain—ia bisa muncul di lorong mana pun, di lantai mana pun, membawa map yang terlihat penting, wajah yang terlihat terburu-buru menuju rapat berikutnya, dan tak seorang pun akan berpikir dua kali untuk menghentikannya. Bahkan agen Secret Service yang berjaga di setiap sudut ruangan malam ini sudah cukup hafal wajahnya untuk sekadar mengangguk, bukan menggeledah.
Sudut matanya berkeliaran di segala penjuru ruangan—sebuah teknik yang diajarkan agensi intelijen tempatnya berasal, The Forge. Meneliti segala hal yang ada tanpa terlihat mencurigakan dengan sesekali menanggapi orang yang berbicara dengannya.
Kini fokusnya sudah berada pada seseorang yang duduk diujung ruangan terlepas pada seberapa penting orang tersebut, Samuel White, ahli cybersecurity yang kini diperkerjakan oleh FBI. Laki-laki yang sama sekali tidak memiliki latar belakang militer, berdiri sendiri tanpa ada satupun orang yang melindunginya. Statusnya sebagai konsultan di FBI memang dirahasiakan, tapi itu hanya berlaku untuk publik bukan untuk mata-mata seperti Sara.
Sara bisa melihat laki-laki diajak bicara oleh salah satu tamu undangan yang berasal dari Indonesia. Amaruddin Adnan, pendiri sekaligus CEO ADN Corp—perusahaan teknologi yang keberadaannya menjadi perhatian global karena satu alasan sederhana: tak seorang pun benar-benar tahu di mana batas antara inovasi dan senjata yang dihasilkan ADN Corp berhenti. Amaruddin Adnan tersenyum ramah ke arah Samuel, tangannya sesekali bergerak seolah sedang menjelaskan sesuatu yang teknis, sementara matanya—Sara mengenal jenis tatapan itu luar kepala, karena ia sendiri sering memakainya—sama sekali tidak sedang membicarakan hal teknis.
Sara menahan napas sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
Kalau berkasnya benar, Amaruddin Adnan tidak seharusnya mengenal nama Samuel White, apalagi mendekatinya secara personal di tengah acara resmi seperti ini. Orang sekaliber pendiri ADN Corp punya staf, punya protokol, punya alasan untuk tidak pernah berbicara langsung dengan siapa pun di bawah level menteri tanpa lima lapis orang lain di antaranya. Tapi di sinilah dia, berdiri berdua saja dengan seorang "konsultan cybersecurity" yang sebenarnya bekerja untuk FBI, berbicara dengan nada yang, dari jarak sejauh ini, terlihat jauh lebih akrab daripada basa-basi standar acara diplomatik.
Sara memutar otak. Entah Amaruddin Adnan tahu identitas asli Samuel—yang berarti kebocoran ini jauh lebih dalam dari yang diperkirakan siapa pun di kantornya—atau ada hal lain yang menghubungkan keduanya, sesuatu yang sama sekali tidak tercatat di berkas mana pun yang pernah ia baca.
Ia menambahkan satu nama lagi ke daftar orang yang harus ia awasi malam ini. Daftar itu, sejauh ini, sudah jauh lebih panjang daripada yang ia harapkan untuk sebuah "makan malam kemitraan ekonomi" biasa.
Misinya malam ini hanya untuk mengamati pergerakan mencurigakan disekitar Samuel White, Sara tidak diperintahkan untuk melangkah setengah langkah saja lebih dekat. Jadi disinilah dia, berbincang dengan delegasi dari berbagai asal atau terkadang mengikuti atasanya—Walikota New York menyambut para tamu yang baru saja menyapanya.
Acara makan malam itu berjalan tanpa adanya baku tembak atau kejadian yang tidak diinginkan, setidaknya untuk dua jam pertama. Sara menghabiskan waktu itu berpindah dari satu kelompok kecil ke kelompok kecil lainnya, tersenyum pada lelucon yang tidak lucu, mengangguk pada basa-basi tentang cuaca New York yang tidak pernah benar-benar berubah topik, sesekali menyelipkan diri ke percakapan Walikota dengan tamu-tamu penting hanya untuk memastikan tidak ada yang salah ucap soal hal-hal yang seharusnya tetap tertutup rapat.
Ia pulang ke apartemen flat yang letaknya tak jauh dari kantor Walikota. Apartemen itu kecil, sederhana, disengaja sesederhana itu—satu kamar tidur, dapur yang nyaris tidak pernah benar-benar dipakai, dan tirai yang selalu tertutup rapat meskipun tak ada satu pun bangunan di sekitarnya yang cukup tinggi untuk mengintip ke lantai delapan belas. Ini bukan rumah, sebenarnya. Lebih tepat disebut cangkang—alamat yang tercatat rapi di setiap dokumen atas nama Sara Riders, cukup meyakinkan untuk lolos pemeriksaan latar belakang tingkat menengah, tapi tidak cukup pribadi untuk menyimpan sesuatu yang benar-benar berarti baginya.
Ia melepas sepatu haknya di ambang pintu—ritual pertama setiap kali pulang, semacam garis batas antara Sara Riders dan dirinya yang sesungguhnya, yang namanya sendiri sudah lama tidak pernah ia dengar diucapkan orang lain selain lewat radio enkripsi. Rambut yang disanggul sejak subuh dilepas begitu saja, jatuh berantakan ke bahu, dan untuk sesaat, di depan cermin lorong yang temaram, wajah yang menatap balik terlihat jauh lebih lelah daripada yang pernah diizinkannya terlihat di depan siapa pun malam ini.
Ponsel kerjanya—yang satu lagi, yang tidak pernah tersimpan di tas tangan resminya—berkedip pelan di atas meja dapur begitu ia menyalakannya. Satu pesan, tanpa nama pengirim, hanya rangkaian angka yang harus ia terjemahkan sendiri dengan buku kode yang disimpan di balik panel dapur yang sengaja dilonggarkan.
Sara menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya duduk di meja dapur, menuang segelas air—bukan wine, tidak pernah ada wine di apartemen ini—dan mulai menguraikan pesan yang, entah kenapa, membuat tengkuknya terasa dingin bahkan sebelum ia selesai membacanya sepenuhnya.
Subject has died.
Begitulah pesan yang berhasil ia uraikan isinya. Ia menghela nafas panjang sebelum memencet tombol panggil pada nomor tersebut. Hanya butuh tiga detik untuk panggilan itu dijawab.
"So failed?" tanya Sara pada seseorang di balik ponselnya.
"Not really," kata suara seorang laki-laki yang kerap ia panggil sebgai the Whistler. "Orangnya aja yang mati, target utamanya bukan orangnya tapi apa yang disimpan."
"Is he murdered?"
"Official statement or you want the real one?"
"The real one, obviously." Sara menyandarkan punggungnya ke kursi dapur, mata masih menatap kosong ke arah dinding. "Kalau aku cuma butuh laporan resmi, aku nggak akan susah payah menghubungimu jam segini."
The Whistler terkekeh pelan di ujung sana, suara yang selalu terdengar seperti orang yang baru saja bangun tidur meskipun jam berapa pun Sara meneleponnya. "Fine. Jantungnya berhenti dua puluh menit setelah dia keluar dari gedung. Di taksi, di tengah jalan, sopirnya panik, bawa dia ke rumah sakit terdekat, dokter bilang serangan jantung mendadak. Rapi. Terlalu rapi buat orang yang punya riwayat aritmia."
"Terlalu rapi gimana maksudnya?"
"Nggak ada jarum suntik, nggak ada racun yang kedeteksi di tes standar, nggak ada tanda perlawanan. Kalau aku nggak tahu detail berkasnya, aku juga bakal percaya itu emang cuma jantungnya yang nyerah duluan." Ada jeda, suara kertas dibolak-balik di seberang sana. "Tapi kamu tahu sendiri, Sara. Orang-orang macam Samuel nggak pernah benar-benar mati wajar. Mereka cuma dibikin keliatan wajar."
"Ini alasan kenapa aku tak pernah mau ambil tugas cuma mengawasi walau bayarannya terkadang memang lebih banyak," kata Sara, menyalakan sebuah rokok yang sengaja ia simpan di balik micorwave. "Kalau aku diizinkan untuk selangkah saja untuk lebih dekat, tidak akan ada korban jiwa."
"Salah, bukan tidak ada korban jiwa melainkan tidak ada korban jiwa dari target yang kita tujui ataupun tim kita. Korban jiwa kalau kau diizinkan untuk maju setengah langkah saja akan mengalahkan korban jentikan jari Thanos."
Sara diam-diam tersenyum mendengar perkataan tersebut. Asap mengepul di balkon apartemennya. Pemilik gedung ini memiliki peraturan ketat tentang alkohol dan rokok di area dalam ruangan—salah satu dari sedikit hal soal apartemen ini yang benar-benar Sara syukuri, karena itu berarti tidak ada alasan mencurigakan kenapa jendelanya selalu terbuka sedikit di jam-jam aneh malam hari, dan tidak ada tetangga yang cukup peduli untuk bertanya kenapa cahaya di unitnya sering menyala sampai subuh.
Ia menyandarkan punggung ke pagar besi yang dingin, menatap kerlap-kerlip lampu kota di bawahnya yang sama sekali tidak peduli bahwa seorang pria baru saja mati dua puluh menit setelah meninggalkan sebuah gedung yang jaraknya tidak sampai tiga kilometer dari sini. New York selalu begitu—terlalu sibuk untuk berduka, terlalu terang untuk benar-benar gelap, terlalu ramai untuk benar-benar sunyi, bahkan pada jam sebelas malam seperti ini.
"Kamu masih di line?" suara The Whistler memecah lamunannya.
"Masih." Sara menghembuskan asap ke udara malam. "Cuma mikir."
"Aku akan kirim laporan ini ke atas pagi ini juga," katanya akhirnya. "Kemungkinan besar mereka bakal buka file baru. Dan kemungkinan besar juga, Sara, namamu ada di daftar orang pertama yang mereka pertimbangkan buat pegang file itu—karena kau satu-satunya aset yang ada di lokasi malam ini."
Sara mematikan rokoknya di tepi pagar balkon, pelan-pelan, memberi dirinya waktu berpikir sebelum menjawab.
"Kalau mereka tanya atau meminta aku melakukan sesuatu," katanya, "bilang aku bersedia. Kirim saja materialnya."
Ia menutup telepon sebelum The Whistler sempat berkomentar apa pun soal betapa cepatnya jawaban itu keluar, dan berdiri sendirian di balkon cukup lama—cukup lama untuk membiarkan dingin malam menembus piyama tipisnya, cukup lama untuk menyusun kembali satu per satu detail yang ganjil dari malam ini: senyum Amaruddin Adnan yang terlalu ramah, hard drive yang menguap tanpa jejak, dan kepergian mendadak seorang kepala negara yang, kalau firasatnya benar, baru saja meninggalkan New York dengan sesuatu yang bukan miliknya.
Pintu apartemen 1803 baru saja menutup di belakangnya waktu James mendengar decit sepatunya sendiri di karpet abu-abu, satu-satunya suara di koridor sepi itu selain dengungan AC yang tidak pernah benar-benar berhenti. Ia berjalan menuju lift dengan kepala penuh—Sara, Samuel White, nama yang belum ia dengar, laporan yang harus ia susun tanpa benar-benar tahu apa yang harus ia tulis di dalamnya.Ponselnya bergetar di saku jaket. Ia meraihnya, layar menyala dengan pesan dari atasannya, dan itulah alasan kenapa matanya sempat teralih dari jendela besar di ujung koridor—jendela kaca setinggi langit-langit yang menghadap ke arah gedung apartemen lain di seberang jalan, salah satu fitur "mewah" yang selalu dibanggakan brosur properti New York, pemandangan kota di malam hari yang berkelap-kelip tanpa peduli apa pun yang terjadi di baliknya.Kaca itu pecah sepersekian detik sebelum suara tembakan sampai ke telinganya.Bukan urutan yang seharusnya masuk akal—James tahu itu, bagian otaknya yang
Butuh tiga hari bagi James untuk berhenti mencari alasan supaya jantung Samuel White berhenti berdetak secara wajar.Tiga hari itu ia habiskan sendirian di ruang aman kedutaan, membongkar ulang setiap laporan toksikologi yang bisa ia akses—resmi maupun yang seharusnya tidak pernah keluar dari server BIN sama sekali—sampai akhirnya ia menemukan satu nama teknik yang cuma pernah ia baca sekali di modul pelatihan lanjutan, jenis yang diajarkan sebagai referensi, bukan sebagai keahlian yang harus dikuasai: serangan jantung yang diinduksi lewat titik tekanan saraf tertentu, nyaris mustahil dideteksi kecuali autopsi dilakukan dalam enam jam pertama oleh seseorang yang tahu persis apa yang harus dicari.The Forge mengajarkan itu. Bukan BIN, bukan CIA, bukan satu pun agensi yang pernah masuk radar James sepanjang kariernya.Ia tidak butuh bukti lagi setelah itu. Ia cuma butuh alamat.Dan percakapan di kamar hotel Amar tiga hari lalu—yang sebagiannya ia dengar sendiri lewat sadapan yang seharu
Sara juga memiliki kemampuan untuk muncul di ruangan seolah dia bagian dari furniturnya sejak awal—bukan berteleportasi (itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia ini), melainkan hasil dari bertahun-tahun mempelajari satu kebenaran sederhana yang kebanyakan orang tidak pernah sadari: tidak ada yang benar-benar memperhatikan siapa yang membawa nampan, siapa yang memegang clipboard, atau siapa yang berdiri di sudut ruangan dengan earpiece kecil di telinga. Orang-orang penting terlalu sibuk merasa penting untuk bertanya-tanya siapa yang melayani kepentingan mereka. Ada banyak hal yang tidak disadari kebanyakan orang, apalagi pada kerumunan orang penting. Orang-orang penting terlalu sibuk merasa penting untuk bertanya-tanya siapa yang melayani kepentingan mereka. Juga terlalu sibuk pada pikiran mereka sendiri sehingga mengabaikan kalau ada manusia yang mampu menyelinap masuk kemana saja. Ia sudah berada di sebuah kamar hotel mewah, jauh sebelum resepsi di lantai bawah bahkan menc
"Kita perlu lacak sumber transaksinya," kata Sara, sudah berdiri, jarinya bergerak ke salah satu keyboard sambil separuh badannya masih menghadap James. "Tapi nggak dari sini. Fed Reserve pasti udah mulai audit internal begitu ada percobaan akses kayak gitu, dan kalau timku ikut nongol di log mereka sekarang, itu bakal jadi pertanyaan yang nggak perlu.""Jadi kita nunggu?""Kita nunggu jejaknya dingin dulu," kata Sara, "baru kita masuk lewat pintu belakang yang nggak ninggalin catatan kunjungan."James menyandarkan diri ke meja, mengamatinya bekerja—dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke ruangan ini, ia membiarkan dirinya benar-benar diam cukup lama untuk memperhatikan, bukan cuma mendengarkan“James, kau kenal Amaruddin Adnan.” kata Sara secara tiba-tiba.“Semua orang kenal dia, Sara.” kata James, bahunya sedikit rileks daripada ketika dia memasuki ruangan ini. “Orang terkaya se Asia, masuk top 50 orang terkaya di dunia. Orang-orang bilang kalau dirinya itu Tony Stark yang k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.