LOGINKeheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja Kepala Akademi. Darius, yang sempat tertegun selama beberapa detik, segera menguasai kembali ekspresi wajahnya. Otot-otot rahangnya mengeras, menolak untuk menunjukkan kepanikan di hadapan sang tuan muda yang sedang terluka namun memiliki tatapan sepekat malam. Darius menggelengkan kepalanya dengan tegas, memasang raut wajah bingung yang dibuat-buat. "Saya sama sekali tidak mengerti apa yang Anda maksud, Tuan Muda Eryx. Pertanyaan bahwa Gahensa adalah seorang perempuan... itu sungguh tidak masuk akal. Dia adalah lulusan terbaik dari angkatan berat, melintasi simulator tempur paling brutal di distrik utara, dan memiliki rekam medis prajurit laki-laki yang sah sejak hari pertama menapakkan kaki di sini." Eryx tidak mengedipkan mata sedikit pun mendengar pembelaan itu. Dia justru menegakkan tubuhnya, melangkah perlahan mendekati meja kerja Darius dengan senyuman miring yang terlihat sangat berbahaya. Setiap langkahnya memancarkan aur
Aeri bergerak dengan efisiensi yang luar biasa. Sebagai seseorang yang terlatih untuk menyusup dan meloloskan diri dari situasi paling krusial, dia memanfaatkan jalur evakuasi darurat rumah sakit yang biasanya digunakan untuk limbah medis. Menghindari kerumunan wartawan yang bising di lobi utama, Aeri memapah tubuh tegap Eryx menuruni tangga belakang menuju area parkir bawah tanah. Di sana, sebuah mobil van hitam taktis milik unit pengamanan cadangan terparkir. Tanpa membuang waktu, Aeri mendudukkan Eryx di kursi belakang, mengambil alih kemudi, dan menginjak pedal gas dalam-dalam, membelah jalanan distrik utara yang mulai temaram. Dua puluh menit kemudian, bangunan megah bergaya brutalistik dengan dinding beton tinggi menjulang tampak di hadapan mereka. Akademi Pengawal Elit Leander. Begitu van hitam itu melewati gerbang baja berlapis, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat disiplin dan protektif. Aeri memarkirkan kendaraan di paviliun medis akademi. Tak
Aeri terpaku selama beberapa saat, mencerna pengakuan jujur yang baru saja keluar dari bibir Eryx. Keheningan yang canggung sempat merayap di antara mereka sebelum akhirnya Aeri teringat pada sosok wanita bergaun satin hitam yang baru saja pergi bersama Tiago."Jika kau merasa asing di dalam keluargamu sendiri, lalu bagaimana dengan wanita tadi?" tanya Aeri, suaranya merendah seiring rasa penasarannya yang kian menuntut jawaban. "Selena Leander. Siapa dia sebenarnya? Mengapa kedatangannya bisa membuat ayahmu langsung tunduk, dan mengapa dia begitu gigih ingin mempertahankan posisimu sebagai calon kepala keluarga?"Eryx mengembuskan napas berat. Mendengar nama itu disebut, sorot mata gelapnya seketika berubah menjadi sangat dingin dan dipenuhi oleh kabut kewaspadaan yang pekat."Selena adalah wanita yang sangat berpengaruh, baik bagi pemerintahan kota maupun bagi lingkaran dalam keluarga Leander," jawab Eryx, rahangnya mengetat samar. "Dia memiliki otak yang terlalu cerdas untuk ukura
Aeri terpaku di tempatnya berdiri. Kedua matanya melebar sempurna menatap perubahan drastis yang terjadi pada pria di atas ranjang rumah sakit itu. Baru beberapa menit yang lalu seluruh petinggi dinasti Leander bertaruh nyawa dan reputasi demi memperebutkan posisinya, namun kini, begitu pintu tertutup rapat, sisa-sisa menawan dan keangkuhan mutlak Eryx lenyap tanpa bekas. Air mata mulai mengalir deras dari sudut mata gelap Eryx, membasahi bantal putih di bawah kepalanya. Tubuhnya yang terbalut perban tebal bergerak gelisah. "Kak Gahensa... sakit... ini sakit sekali," rengek Eryx dengan suara sengau, persis seperti anak kecil yang sedang mengadu setelah terjatuh dari sepeda. Dia meraba-raba lengan seragam Aeri, mencoba mencari perlindungan. "Lyra jahat sekali... perutku rasanya seolah mau lepas. Kenapa tidak ada yang memelukku? Aku mau mati saja kalau sakit begini..." Melihat tingkah manja yang teramat kontras dengan kekejaman taktis yang ditunjukkannya beberapa jam lalu di halaman
Selena melangkah lebih dekat ke arah ranjang tempat Eryx terbaring, mengabaikan tatapan defensif yang dilayangkan oleh Aeri. Sepasang mata safirnya menyapu wajah pucat sang tuan muda sebelum akhirnya beralih menatap Tiago Leander."Aku telah mendengar apa yang terjadi akhir-akhir ini di keluarga kita Paman," ucap Selena, suaranya mengalun tenang, seolah membicarakan cuaca dan bukan tentang pembatalan pernikahan yang nyaris merenggut nyawa pewaris dinasti. "Dan aku harus mengatakan... aku setuju dengan pengawal ini. Eryx tidak bisa disingkirkan begitu saja dari posisi calon kepala keluarga. Memilih Regan hanya akan menunjukkan kepada daratan utama bahwa Leander sedang mengalami keretakan internal yang lemah."Mendengar pernyataan Selena yang tak terduga, ketegangan di wajah Tiago perlahan mencair. Meskipun Tiago justru merasa semakin tidak nyaman akan kenyataan bahwa apa yang ada di dalam keluarga Leander ternyata sudah sampai ke Selena. Selena memang bagian dari keluarga Leander te
Aroma antiseptik yang menyengat dan bunyi ritmis dari layar monitor jantung memenuhi ruang perawatan intensif Rumah Sakit Pusat Leander. Di sudut ruangan, Aeri duduk membeku di atas kursi besi. Kedua tangannya yang masih bernoda darah kering bertumpu pada lututnya yang bergetar. Wajahnya ketara lesu, matanya sembap, dan gumpalan mendung hitam seolah bergelayut di atas kepalanya. Dia sangat ketakutan. Ketakutan yang belum pernah dia rasakan bahkan saat dirinya sendiri berada di ambang maut. Melihat Eryx yang biasanya begitu angkuh dan penuh kendali kini terbaring tak berdaya dengan selang oksigen, nyaris meninggal akibat tikaman Lyra, membuat dinding pertahanan emosional Aeri runtuh total. Di dalam hatinya, ada rasa bersalah dan kekhawatiran yang teramat berat, mengaburkan tujuan awalnya tentang balas dendam. Klek. Suara pintu yang terbuka membuat Aeri tersentak dari lamunannya. Dia segera berdiri dan menegakkan tubuhnya saat melihat Tiago Leander melangkah masuk. Kepala
Matanya melebar sempurna menatap Eryx yang masih menampilkan ekspresi tenang, bahkan cenderung acuh tak acuh. Jantung Aeri rasanya seperti berhenti berdetak selama beberapa detik. Kalimat yang baru saja diucapkan oleh Eryx bukan hanya meruntuhkan asumsinya malam ini, melainkan menelanjangi sel
Kaeragha tidak terkejut dengan serangan balik verbal dari Eryx. Pria paruh baya itu justru menaikkan sebelah alisnya, membiarkan senyum sinisnya melebar. Di bawah remang lampu ambulans dan kilatan lampu merah-biru dari mobil patroli, ketegangan di antara kedua pria dari silsilah Leander ini tera
Di daratan utama, jeritan peluru di Gudang 44 akhirnya mereda. Pasukan elite akademi yang digerakkan oleh dana taktis Eryx, berkolaborasi dengan tim taktis Tiago Leander, berhasil membalikkan keadaan. Alih-alih melakukan pembantaian, perintah mutlak dari Eryx yang diteruskan secara rahasia membu
"Tuan Tiago, ada pasukan yang tampaknya sangat kuat tetapi tidak dikenal mengepung tempat ini. Salah satu dari mereka bertanya ke kami, kelihatannya pemimpinnya kami dari pasukan mana. Jadi kami jawab dari Tiago Leander. Itu benar-benar refleks. Kami sangat ketakutan, tuan Leander," seru pengawal y







