로그인Enam bulan kemudian, Aeri masuk ke akademi keamanan elite dengan nama palsu dan identitas palsu yaitu Gahensa Xan. Selama enam bulan itu, dia berlatih sangat keras. Ketika kakaknya libur bekerja, dia biasanya cerita soal pekerjaannya termasuk bagaimana caranya menjadi seorang pengawal terlatih. Dan Aeri mengingat kembali pelajaran dari kakaknya dan menerapkannya.
Aeri duduk di antara pria-pria lain yang meremehkannya, meremehkan "calon bodyguard muda" yang terlihat terlalu kurus dan kecil untuk pekerjaan ini. Namun selama pelatihan, para pria itu dibuat terkejut oleh Aeri. Aeri adalah yang terbaik. Tidak hanya secara fisik, tapi juga secara strategis. Dalam simulasi pertarungan, dia mengalahkan peserta lain tanpa terlihat seperti dia benar-benar berusaha keras. Dia membaca gerakan mereka, mengantisipasi langkah berikutnya, dan mengatur mereka jatuh dengan presisi yang terlihat seperti keberuntungan tapi sebenarnya adalah perhitungan. Dalam kelas tentang manajemen klien, dia adalah yang paling memperhatikan. Ketika instruktur berbicara tentang bagaimana menangani klien yang arogan, dia mencatat setiap detail. Ketika berbicara tentang cara mendeteksi ancaman tersembunyi, dia mendengarkan setiap kata. Dia lulus pelatihan dengan skor tertinggi. Hari kelulusan, Darius, sang pelatih, mendekati Aeri dengan sesuatu yang terlihat seperti penghormatan di matanya. "Gahensa," katanya, "aku tidak pernah melihat seseorang seperti dirimu sebelumnya. Kamu tidak hanya terlatih dengan baik. Kamu juga berjauh-jauh untuk datang ke sini. Ada sesuatu di balikmu yang gelap, aku bisa merasakannya. Dan itu membuatmu menjadi bodyguard yang sempurna." Aeri tidak tersenyum. "Terima kasih, Sir." "Jangan ucapkan terima kasih," kata Darius. "Hanya... berhati-hatilah. Orang-orang seperti kamu, yang memiliki sesuatu untuk dibuktikan, mereka cenderung melakukan hal-hal yang tidak bisa mereka kembalikan." Aeri memandang Darius, bertanya-tanya apakah dia benar-benar tahu, atau hanya berpikir dia tahu. "Saya akan berhati-hati, Sir," jawab Aeri, dan itu adalah kebohongan terindah yang pernah dia ucapkan. Sementara itu di sebuah ruangan mewah, Eryx Leander dikawal oleh sekretaris ayahnya. Eryx saat ini tengah menjadi perbincangan hangat di internet. Dia tidak boleh keluar sembarangan makanya akhir-akhir ini dia berpakaian tidak mencolok. Biasanya, keluarga Leander mengenakan pakaian yang menunjukkan aura dingin, Eryx sebaliknya. Memang masih kasual tetapi tidak menunjukkan kesan dingin. Dia memang sangat berbeda dengan anggota keluarga yang lain. Eryx menolak dengan tegas mengambil bodyguard baru tetapi kepala keluarga alias ayahnya sudah memerintahkan dia. Jadi mau tidak mau dia harus mengambil bodyguard baru. Eryx harus melalui proses yang paling membosankan dalam hidupnya—wawancara dengan lima puluh bodyguard potensial. Mereka semua terlihat sama. Terlihat kuat. Terlihat serius. Eryx membuat semuanya sulit. Dengan yang pertama, dia bertanya, "Jika aku memerintahkanmu untuk membunuh seseorang, apakah kamu akan melakukannya?" Bodyguard pertama (bernama Grant) menjawab dengan benar, "Tidak, Sir. Itu melawan hukum." Eryx mengeluarkan dia dari daftar. "Aku butuh seseorang yang bisa berpikir out of the box, bukan seseorang yang peduli dengan hukum." Dengan yang kedua, dia bertanya tentang kehidupan pribadi mereka. Bodyguard kedua bernama Sax menjawab dengan datar, "Saya tidak memiliki kehidupan pribadi, Sir. Saya hanya ada untuk pekerjaan." Eryx mengeluarkan dia juga. "Terlalu boring. Aku butuh seseorang yang bisa menangani aku sebagai manusia, bukan hanya sebagai klien." Setelah lima belas wawancara, Eryx mulai bosan. Dia berbaring di kursi kantornya, tidak mendengarkan—hanya memandangi langit-langit dan berpikir tentang betapa membosankan hidupnya. Lalu masuklah bodyguard ke-16. Seorang pemuda, terlihat terlalu kurus untuk pekerjaan ini, tapi ada sesuatu tentang cara dia berjalan. Ada sesuatu tentang cara dia memindai ruangan dengan mata yang tajam sebelum melangkah masuk. Dia duduk di hadapan Eryx tanpa diundang duduk. Dia hanya duduk. Eryx membuka satu mata untuk memandang pemuda itu, lalu menutupnya lagi dengan bosan. "Tunggu, berapa nomor kamu?" tanya Eryx tanpa membuka mata. "Yang ke-enam belas, tuan," jawab pemuda itu, suaranya dalam dan tenang. Eryx membuka kedua mata sekarang, mengangkat kepalanya dari sandaran kursi. "Enam belas? Benar-benar? Aku serius, kamu semua terlihat sama—serius, membosankan, seperti kalian dikloningkan dari DNA yang sama." Dia meregangkan tubuhnya, lalu memandang Gahensa dengan ekspresi yang menggoda. "Namamu siapa, klone nomor enam belas?"Setelah perbincangan beralih ke perihal gaji dan kecelakaan Felix, keheningan kembali menguasai kamar tidur utama paviliun barat. Aeri menekan seluruh gejolak emosinya, kembali memasang topeng "Gahensa" yang patuh, dan dengan telaten mengurus segala keperluan Eryx. Dia menyiapkan obat penenang dari tim medis, membantu membetulkan posisi perban di perut pria itu, hingga akhirnya Eryx memejamkan mata dan tertidur pulas di bawah pengaruh obat.Begitu deru napas Eryx terdengar konstan dan berat, Aeri bergerak tanpa suara. Mengambil kain lap dan beberapa peralatan pembersih, dia mulai menyeka sisa-sisa air hujan yang sempat terbawa masuk ke lantai marmer dekat balkon. Namun, itu hanyalah kedok. Sembari membersihkan tempat itu, Aeri menyelidiki setiap sudut kamar dengan jeli. Matanya menyisir sela-sela laci, kolong meja, hingga balik bingkai lukisan besar, berharap menemukan sisa-sisa rahasia yang mungkin Eryx sembunyikan—semacam kertas, dokumen, berkas Proyek Utama, atau petunjuk apa pun t
Setelah punggung Kaeragha menghilang di balik pintu kaca lobi, suasana koridor kembali lengang. Keheningan yang tertinggal terasa pekat dan menekan, menyisakan ketegangan yang masih berdesir di udara. Eryx membalikkan tubuhnya perlahan, jubah kebesaran yang tersampir di pundaknya berdesir halus mengikuti pergerakannya. "Kau terluka lagi, Kak Gahensa," ucap Eryx tiba-tiba. Suaranya tidak lagi menggelegar penuh harga diri seperti saat menghadapi Kaeragha tadi. Nada bicaranya melunak, kembali pada intonasi rendah yang sarat akan perhatian posesif yang teramat akrab—dan teramat dibenci Aeri karena selalu berhasil menggoyahkan dinding pertahanannya. Aeri tersentak kecil di balik topeng penyamarannya. Dia buru-buru menyembunyikan telapak tangannya yang terbalut saputangan ke balik saku celana taktisnya. "Ini hanya luka kecil akibat pecahan kaca di kantor polisi kemarin, Tuan Muda. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Eryx tidak menjawab. Dia hanya menatap Aeri dengan sepasang manik ma
Lobi Kediaman Utama Leander yang luas mendadak terasa menyempit. Aura intimidatif dari Kaeragha, berpadu dengan kekejaman laten yang menguar dari tubuh Eryx. Di antara mereka, Aeri berdiri tegak sebagai Gahensa, merasakan tatapan tajam Kaeragha seolah sedang menguliti topengnya lapis demi lapis. Pria itu belum lupa rasa sakit akibat serangan di jalan layang semalam, dan dia sepertinya sedang mencoba menyambungkan titik-titik yang meresahkan itu dengan kehadiran Aeri."Ada seseorang di balik layar, Eryx," suara Kaeragha memecah keheningan, matanya tak lepas dari wajah Aeri. "Seseorang yang cukup serius ingin mengorek kematian Felix hingga ke tulang-tulangnya. Ini bukan lagi sekadar bisingnya publik, tapi sabotase yang terencana. Kau harus lebih waspada."Eryx menanggapi dengan tawa dingin yang terdengar seperti gesekan pisau. Dia melirik Kaeragha dengan tatapan penuh penghinaan. "Kau bicara seolah kau peduli, Kaeragha. Padahal, sejak hari pertama Felix tewas, kau bahkan tidak menunjuk
Setelah merangkak keluar dari pipa ventilasi, Aeri bergegas merapikan kembali seragam taktisnya di toilet lantai dua. Dia mengatur napasnya yang memburu, menghapus sisa abu besi yang menempel pada wajah penyamarannya, lalu melangkah kembali ke koridor luar ruang rapat dengan postur "Gahensa" yang tegak.Tidak lama kemudian, pintu mahagoni ruang rapat terbuka. Eryx melangkah keluar sendirian, jubah kebesarannya tampak sedikit longgar, memancarkan aura frustrasi yang jarang ia tunjukkan. Aeri segera menyambutnya dan berjalan di sampingnya menuju paviliun barat.Memanfaatkan situasi, Aeri memberanikan diri untuk bertanya soal rapatnya. "Bagaimana hasil rapatnya, Tuan Muda?"Eryx mendengus pendek, rahangnya mengeras. "Rapatnya masih belum selesai, Kak Gahensa. Dewan tetua masih belum menetapkan aku sebagai calon pewaris kepala keluarga yang sah. Mereka terlalu pengecut."Eryx menjeda langkahnya, menatap Aeri dengan sorot mata yang dipenuhi kejengkelan yang mendalam. "Mereka ketakutan kare
Aeri melangkah dengan tergesa menuju lorong darurat yang sepi di sisi barat aula utama. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam karena terbentur oleh tembok kerahasiaan keluarga Leander. Di dalam ruangan di ujung koridor sana, rapat rahasia yang akan menentukan nasib penyelidikan kematian kakaknya sedang berlangsung, dan dia dikunci di luar seperti orang asing.Dengan tangan yang masih gemetar menahan amarah, Aeri meraba saku taktisnya dan mengeluarkan gawai enkripsi khusus. Dia langsung menghubungi saluran anonim milik detektif terhebat di negara itu."Mereka sedang berkumpul di ruang rapat utama sekarang," bisik Aeri dengan nada bariton penyamarannya yang mendesak, matanya melirik tajam ke setiap sudut langit-langit untuk menghindari kamera pengawas. "Tiago, Selena, dan Eryx ada di dalam. Ini saatnya. Lakukan penyerangan sekarang juga ke kediaman ini. Gunakan wewenang pasukan kementerian untuk mendobrak mereka saat mereka sedang lengah!"Namun, di seberang sa
Malam pelantikan yang agung itu tiba dengan kemegahan yang dingin. Riuh rendah musik klasik dan obrolan para petinggi distrik di aula utama Kediaman Leander terdengar samar hingga ke koridor ruang kerja Tiago yang sepi. Sesuai rencana Calixto, lampu indikator kamera pengawas di lorong itu mendadak mati, berkedip merah sebelum padam total selama lima belas menit.Aeri bergerak laksana bayangan. Menggunakan duplikat stempel digital Eryx yang berhasil ia kloning, ia menempelkannya pada panel pemindai pintu baja di balik tirai mahagoni.Klik. Pintu brankas terbuka tanpa suara.Jantung Aeri bertalu hebat saat jemarinya memilah tumpukan dokumen rahasia, arsip Proyek Utama, hingga mutasi rekening gelap faksi militer. Namun, nihil. Aeri tidak menemukan berkas apa pun soal kematian Felix. Lembar arsip untuk bulan tersebut kosong melompong, seolah sengaja dieliminasi dari sejarah keluarga.Aeri mengepalkan tangannya hingga gemetar. Dia yakin berkas itu sudah diamankan di tempat lain, karena Ery
Pagi hari tiba membawa kabut tipis yang menyelimuti Renhill. Sesuai dengan instruksi Tiago, sebuah mobil limusin hitam mewah sudah terparkir di depan lobi utama. Tidak lama kemudian, Lyra Xan datang. Wanita itu tampak anggun sekaligus angkuh dalam balutan gaun kasual mahal, lengkap dengan kacamata
"Kak Gahensa, kenapa kamu buru-buru sekali? Aku masih hidup sekarang. Artinya adalah, aku masih bisa bertarung," bisik Eryx di depan wajah Aeri. Aeri menahan nafas dengan kedua mata terbelalak. Lagi-lagi dia gegabah. Namun jika tidak didorong, bagaimana dia akan segera mengetahui dibalik kematia
Di daratan utama, jeritan peluru di Gudang 44 akhirnya mereda. Pasukan elite akademi yang digerakkan oleh dana taktis Eryx, berkolaborasi dengan tim taktis Tiago Leander, berhasil membalikkan keadaan. Alih-alih melakukan pembantaian, perintah mutlak dari Eryx yang diteruskan secara rahasia membu
Jasad Felix berbaring di ruang perawatan dengan pakaian formal yang terlalu rapi. Aeri Roseanne berdiri di ambang pintu, tidak bergerak, tidak menangis. Matanya—mata yang indah dengan irisan mata yang tajam—tetap terbuka mengamati wajah kakaknya yang sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi







