تسجيل الدخولAeri datang lebih awal karena itu adalah cara untuk menunjukkan kepada Eryx Leander bahwa keputusannya untuk mengambil Gahensa Xan bukan kesalahan—itu adalah investasi dalam hidupnya sendiri.
Maya, pembantu rumah tangga, terlihat terkejut melihat Aeri sudah di penthouse saat pagi buta. "Tuan Eryx masih tidur," kata Maya. "Dia biasanya bangun jam delapan atau sembilan." Aeri mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dia mulai berjalan melalui penthouse—mengingat setiap jalan keluar, setiap jendela, setiap area yang bisa menjadi blind spot. Kebiasaan akademi. Kebutuhan bertahan hidup. "Kupikir mereka yang punya banyak uang itu bangun sangat pagi ternyata tidak mesti. Ngomong-ngomong, kata kakak, orang-orang dari keluarga ini sangat disiplin. Mereka bangun pagi semua. Mereka tidak diperbudak oleh kemalasan. Tetapi Eryx Leander. Sepertinya memang benar seperti yang dirumorkan. Dia jauh berbeda dengan anggota keluarga lainnya," batin Aeri. Aeri tiba-tiba bertemu dengan seorang pria yang membuat dia langsung berhenti berjalan. Pria itu menyipitkan kedua matanya. Ekspresinya tenang, sangat tenang, hampir kosong. Pria itu berhenti di depan Aeri. Pakaian pria itu gelap, menunjukkan aura dingin. Aeri sampai tidak berkutik karena batinnya langsung memberitahunya bahwa pria itu sangat berbahaya. "Hey tunjukkan sopan santunmu pada kepala keluarga Leander!" titah pria dibelakangnya. Aeri sangat terkejut mengetahui kalau pria itu ternyata kepala keluarga Leander sekaligus ayah Eryx. Aeri pun langsung membungkuk dengan hormat dan menyapa pria itu. "Aku baru pertama kali melihatmu. Siapa kamu?" "Gahensa Xan. Pengawal baru tuan muda Eryx Leander," jawab Aeri dengan suara yang berusaha ia buat seperti laki-laki maskulin. "Dimana Eryx? Pengawalnya berkeliaran tidak jelas seperti ini? Dasar sampah itu." "Tuan muda masih tidur tuan," jawab Aeri. "Masuk saja ke kamarnya dan bangunkan dia! Jika tidak diperbolehkan oleh pelayan, katakan saja itu perintahku." "Baik tuan." Aeri bersyukur kepala keluarga Leander tidak curiga dia berasal dari keluarga yang sama dengan Felix. Kamar Eryx adalah kekacauan yang diorganisir oleh uang. Furniture mewah. Sheets yang terlalu mahal untuk sembarangan. Tapi pakaian berserakan, botol kosong, gorden tertutup rapat seperti seseorang ingin menyembunyikan diri dari dunia. Aeri memandang Eryx yang tidur—pemuda dengan wajah yang terlalu lembut, mulut sedikit terbuka, lengan menggantung dari tepi tempat tidur. Ini adalah pemuda yang kemarin duduk di hadapannya dengan senyum ramahnya tetapi tatapannya seperti menyiratkan sesuatu. Dan sekarang dia tidur seperti anak kecil yang tidak memiliki beban dunia. Aeri menemukan kaleng logam di sudut—sudah berdebu, tidak digunakan dalam berbulan-bulan. "Huh? Apa pelayannya tidak sesekali masuk kamarnya untuk membersihkannyai?" batin Aeri. Sempurna. Dia menendang kaleng. Suaranya menggelegar—dalam, resonan, brutal. Seperti sebuah peringatan yang tidak bisa diabaikan. Eryx terbangun dengan sentakan keras. Tubuhnya langsung bangkit dari tempat tidur, mata membelalak, mencari ancaman yang sebenarnya tidak ada. Untuk sesaat, Aeri melihat kilasan seorang pemuda yang sepenuhnya waspada, benar-benar siap untuk bertarung. Lalu Eryx melihat Aeri, dan ekspresinya berubah. "Apa—kaleng?!" teriak Eryx, suaranya parau. "Kamu pakai kaleng buat bangunin aku?" "Anda harus bangun pagi tuan," jawab Aeri dengan nada profesional yang datar. "Tidak bisa ditawar, tuan." Eryx menatap Aeri dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada keterkejutan. Ada kekesalan. Tapi juga… sesuatu yang tampak seperti hiburan? "Kamu serius," kata Eryx, bukan sebuah pertanyaan. "Sangat serius, tuan." "Oke," kata Eryx, lalu menjatuhkan diri kembali ke tempat tidur dan menarik selimut menutupi kepalanya. "Pergi. Kembali lagi nanti." Aeri tetap berdiri di sana. Ia menunggu. Eryx tidak bergerak. "Tuan, kamu harus bangun—" "Aku akan bangun kalau ada orang yang benar-benar mencoba membunuhku," sahut Eryx dari balik selimut, suaranya teredam. Aeri terdiam. Dia bergumam di dalam hati, "Aku sendiri yang akan membunuhmu." "Sampai saat itu, biarkan aku tidur atau aku pecat kamu di hari pertama dan reputasimu hancur sebelum kamu sempat sarapan." Aeri tidak bergerak. Bukan karena ia takut kehilangan pekerjaan—pekeran ini hanyalah alat untuk mencapai tujuannya. Tapi karena ia sedang memproses bahwa Eryx Leander, pemuda yang kemarin berbicara dengan keseriusan yang dibalut dengan sikap kekanakan, sekarang sedang bernegosiasi soal tidur dengan cara yang sangat manja. "Satu jam lagi, tuan," kata Aeri akhirnya. "Setelah itu kita lanjut dengan jadwal penuh." Dari balik selimut, Eryx mengeluarkan suara yang terdengar seperti sorakan kemenangan.Aeri berdiri diam dibalik tembok. Tak jauh darinya, orang-orang dari perusahaan Leander tengah membicarakan bos mereka, Eryx Leander. "Bukankah badan Eryx semakin bagus?" "Benar. Wajahnya juga rasanya semakin hari semakin tampan. Namun sifatnya sangat disayangkan. Kupikir wanita yang paling mencintainya dengan tulus sekalipun lama kelamaan akan kerepotan dengan sifatnya. Kemungkinan besar dia akan dijodohkan. Tetapi sejauh ini, kita belum mendengar kabar soal pasangannya." "Karena dia seorang pewaris tentu saja harus memiliki keturunan untuk mewarisi kepala keluarga. Saat ini kepala keluarga adalah orang yang tidak akan membiarkan takhta itu jatuh ke tangan siapapun. Meskipun keluarga Leander begitu tenang di luar, tetapi aku yakin di dalam mereka penuh persaingan yang sangat busuk." "Dan bos kita malah semakin bermain-main seperti itu." "Kabarnya pengawalnya sekarang adalah orang yang sangat ahli bela diri. Semoga ke depannya dia tidak diserang lagi. Entah dia sudah terlu
"Aku tidak suka makan malam keluarga," kata Eryx dengan tone yang terdengar putus asa sekaligus punya ketegasan di dalamnya yang mengartikan keinginan kuatnya. "Karena mereka selalu komplain. Tentang keputusan bisnisnya, tentang skandal, tentang apa yang aku lakukan salah. Setiap kali ada masalah, aku yang disalahkan. Setiap kali ada pertanyaan sulit, aku yang ditanya." Eryx terdengar sangat mengeluh. Berdasarkan pengakuannya, Aeri sekarang jadi bisa merasakan tekanan keluarga Leander. Keluarga ini juga dianggap misterius. Kenyataannya memang benar. "Aku terus meminta pada ayahku untuk tidak selalu mengikuti makan malam keluarga dan akhirnya dia mengizinkanku untuk tidak hadir," lanjut Eryx. "Aku biasanya menulis surat permintaan maaf dengan berbagai macam alasan. Ayahku menyetujui itu tanpa pertanyaan." Aeri merasa kecewa, tapi juga... penasaran. "Jadi kamu tidak akan hadir?" tanya Aeri. Eryx tersenyum dengan cara yang jahil—senyum yang sudah dikenali Aeri sebagai tanda
"Tidak apa-apa kak. Aku dikenal sebagai yang paling baik di keluarga ini jadi jika ada masalah dalam keluarga ini yang diketahui publik, biasanya aku yang disalahkan. Itu seperti...memang kinerjanya seperti itu. Jika aku berbalik menyerang, itu malah bisa menimbulkan masalah yang lebih serius, jadi lebih baik diam saja. Lagipula aku benci pertarungan dalam bentuk apapun," kata Eryx seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam."Tcih, apakah keputusan menjadi pengawal Eryx salah? Mungkin seharusnya aku menjadi pengawal anggota keluarga Leander yang lain yang bisa memberiku lebih banyak informasi. JIka perlu, atasan Kak Felix langsung," keluh Aeri di dalam hati. "Meskipun di sisi lain aku bisa memanfaatkan Eryx tetapi tampaknya butuh waktu lama," batin Aeri. "Sayang sekali Eryx. Saya harap bisa berguna untuk membelamu," kata Aeri. "Haha kakak kamu sepertinya tertarik dengan berita itu. Padahal itu kan sudah lama. Tetapi memang dibandingkan berita soal keluarga Leander yang lain, berita t
Untuk sesaat, Eryx tidak bergerak. Lalu ia tertawa—tawa yang ringan dan santai, seolah Aeri baru saja mengatakan sesuatu yang lucu. “Membunuh?” ulang Eryx, menatap Aeri dengan ekspresi polos. “Ya jelas lah aku tidak membunuh. Memegang senjata saja aku tidak berani." Aeri mengamati matanya. Mencari tanda. Ada sesuatu yang sempat berkilat—sangat cepat—lalu menghilang. “Tapi bagaimana dengan tuduhan itu,” kata Aeri hati-hati. “Iya, dituduh,” jawab Eryx sambil mengangkat bahu dengan santai. “Tapi ada perbedaan antara dituduh dan benar-benar melakukannya, kan? Ayahku hanya ingin aku punya pengawal karena dia terlalu protektif. Kamu tahu sendiri bagaimana orang tua—dengar gosip sedikit langsung panik.” Eryx berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap kota di bawah. “Lagi pula, ini topik yang membosankan,” katanya. “Bisa kita bicara hal lain? Kamu punya orang yang kamu suka atau semacamnya?” Perubahan topik yang tiba-tiba itu adalah ciri khas Eryx. Mengalihkan dengan pertanya
Aeri semakin kesal dengan segala omong kosong ini. Tetapi demi mencapai tujuannya, mau tidak mau dia harus melayani hal-hal tidak penting ini. "Benar tuan. Saya lebih tua dari tuan. Saya berusia hampir 27 tahun sementara tuan 25 tahun," kata Aeri. Aeri pernah melihat informasi di internet bahwa usia sebenarnya anggota keluarga Leander bisa jadi tidak sama dengan yang ditampilkan ke publik. Saat pertama kali bekerja pada Eryx, dia diberikan informasi oleh salah satu pengawal bahwa Eryx berusia hampir 25 tahun. "Jadi tidak masalah jika aku memanggilmu kakak," kata Eryx lagi dengan senyum puas seperti anak kecil. Mendengar itu, Aeri menjadi merasa punya masalah. Masalah pertama adalah setiap hari di sini membuat tujuan awal Aeri semakin kabur. Masalah kedua—yang paling mengganggu—adalah kemungkinan bahwa Eryx tidak bersalah sama sekali. "Aku harus pancing dia," batin Aeri. Saat Aeri akan menggali informasi lebih jauh soal keluarga Leander terutama soal Eryx, Eryx bicara la
Rapat berlanjut.Eryx menyetujui beberapa hal. Menolak yang lain. Membuat keputusan besar berdasarkan kriteria yang Aeri tidak sepenuhnya pahami—apakah ia tertarik, apakah ia bosan, apakah ia sedang merasa beruntung.Di tengah rapat, seorang asisten membawa makanan ringan. Eryx langsung mengambil pastry dan mulai makan dengan santai, sementara CFO sedang menjelaskan arus kas.Aeri ingin menarik rambutnya sendiri.Ketika rapat akhirnya selesai pukul sepuluh tiga puluh—tiga puluh menit lebih cepat dari jadwal karena Eryx jelas sudah bosan—Aeri merasa seperti baru menyelesaikan maraton.“Itu brutal,” kata Eryx sambil berjalan keluar dari ruang rapat, seolah itu hanya komentar santai. “Serius, kenapa mereka harus presentasi sampai membosankan begitu? Kenapa tidak langsung ke inti saja?”“Mereka berusaha menyampaikan secara menyeluruh, Tuan,” jawab Aeri kaku. “Itu bagian dari pekerjaan mereka.”“Ya, tapi ada perbedaan antara menyeluruh dan terlalu bertele-tele,” kata Eryx sambil masuk ke l







