Share

03

Author: Eselitaa
last update publish date: 2026-04-23 19:57:54

"Gahensa Xan, tuan."

"Gahensa," ulangi Eryx, melafalkannya dengan cara yang berlagak-lagak, seolah-olah nama itu adalah bahan lelucon.

"Nama yang aneh. Kamu dari planet mana? Atau itu nama asli? Karena ini terdengar seperti nama yang dibuat saat ayahmu sedang mabuk dan ibu mu sedang—"

"Tuan," potong Gahensa dengan nada yang sangat tenang. "Apakah ada pertanyaan serius?"

Eryx tertawa—tawa cerah yang mengisi seluruh ruangan, tawa seorang pria yang terbiasa dengan kesenangan bermain-main.

"Oh, aku suka dia," kata Eryx, duduk dengan benar di kursi untuk pertama kalinya. "Baik, pertanyaan serius. Jika aku memerintahkanmu membunuh seseorang, apakah kamu akan melakukannya?"

"Tergantung alasannya, tuan."

Eryx mengerutkan kening, seperti dia mendengar jawaban yang tidak terduga. "Tergantung? Hmm, menarik. Aku kira semua bodyguard profesional akan mengatakan 'tidak' atau 'ya, tanpa pertimbangan.' Tapi kamu mengatakan 'tergantung.' Apa yang membuatmu berpikir begitu?"

"Karena membunuh seseorang memiliki konsekuensi," jawab Gahensa. "Saya akan melakukannya untuk melindungi Anda, tapi saya akan memberitahu Anda konsekuensi sebelumnya. Jadi Anda bisa membuat keputusan yang bijak."

Eryx memandang Gahensa dengan cara yang berbeda sekarang—bukan lagi dengan kejenuhan, tapi dengan ketertarikan. Ada sesuatu tentang cara pemuda ini tidak takut untuk bicara atau tidak coba manjakan ego Eryx.

"Jadi kamu tidak akan hanya mengikuti pesanan ku?" tanya Eryx, ada nada permainan di suaranya. "Kamu akan memberitahu aku jika itu ide buruk?"

"Ya, tuan. Itu bagian dari pekerjaan saya."

"Pekerjaan apa? Bodyguard atau... ayah kedua?" Eryx tersenyum jahil. "Karena ayahku sudah cukup mengatakan apa yang harus aku lakukan, dan dia tidak pernah mendengarkan mauku."

Untuk pertama kalinya, Gahensa tidak langsung menjawab. Dia hanya memandang Eryx dengan ekspresi yang tidak berubah, seolah-olah dia sedang memproses sesuatu.

"Tuan," kata Gahensa akhirnya, "pekerjaan saya adalah memastikan Anda tetap hidup. Cara apa pun caranya."

Eryx tertawa lagi, tapi kali ini berbeda—lebih dalam, lebih nyata. Dia berdiri dari kursinya, sebuah tanda bahwa dia sedang mempertimbangkan sesuatu dengan serius.

Mata mereka bertemu. Ada sesuatu di tatapan Gahensa—fokus, intensity, tidak ada keraguan—yang membuat Eryx merasa sedikit... tertarik.

"Kamu benar-benar percaya itu? Bahwa kamu bisa melindungi seseorang seperti aku?" tanya Eryx, dan ada sesuatu yang terdengar seperti pengujian dalam pertanyaannya.

Eryx Leander dikenal sebagai orang yang paling ramah, paling sering tersenyum, dan paling baik di keluarga Leander. namun tidak sedikit juga yang mengatakan jika dia sama seperti anggota keluarga Leander yang lain, yang katanya kejam dan tidak punya perasaan. Namun pertanyaannya itu, seperti menyiratkan sesuatu.

Aeri sampai terdiam seraya berpikir keras harus menjawab bagaimana. Dia sangat percaya diri bisa menjadi pengawal yang kompeten. Namun kepercayaan itu lenyap seketika karena pertanyaan dari Eryx.

"Tentu saja tuan, saya sangat percaya diri dan tidak punya keraguan sedikitpun," jawab Gahensa dengan sederhana.

Eryx tersenyum—senyuman yang lebar, yang menyenangkan, seperti seorang anak yang baru menemukan mainan baru yang menarik.

"Kapan kamu bisa mulai?" tanya Eryx.

"Kapan pun Anda menginginkannya, tuan."

"Besok pagi," keputusan Eryx dengan cepat. "Tapi peringatan—aku akan membuat hidupmu sangat sulit. Aku sangat mudah bosan. Dan aku suka menguji orang-orang." Dia berjalan kembali ke kursinya, melempar dirinya dengan sempurna tidak sopan.

"Apakah kamu masih mau?"

"Ya, tuan," jawab Gahensa.

Aeri jelas tidak akan membuang kesempatan ini. Jika orang di depannya ini adalah yang telah membunuh kakaknya, maka dia akan membunuhnya dengan cara apapun. Tekadnya bangkit kembali dan justru semakin membara karena dia berada di depan Eryx Leander langsung.

"Bagus. Sekarang pergi. Kamu membuat ruangan ini terasa... serius." Eryx menutup matanya lagi.

"Sampai besok, Gahensa. Coba jangan membuat aku tertarik dengan cara yang akan mengganggu segalanya."

Gahensa hanya menganggukkan kepalanya.

Itu mungkin adalah pernyataan paling aneh yang pernah Eryx katakan kepada seorang calon bodyguard.

Tapi sambil Gahensa berjalan keluar dari ruangan itu, Eryx tersenyum—senyuman seorang pria yang akhirnya menemukan sesuatu yang tidak membosankan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   105

    Beberapa hari berlalu.Semenjak malam konfrontasi nama palsu di kamar itu, dan rangkaian persiapan pelantikan yang kian mencekik, Aeri sama sekali tidak bersemangat. Jalur penyelidikannya macet, dan energinya terkuras habis untuk mempertahankan topeng "Gahensa" di depan publik, sementara di dalam kamar ini, dia harus menghadapi tatapan intens dari sang tiran. Dia merasa hampir putus asa.Bagaimana tidak?Aeri merasa sangat sakit hati karena Eryx tentu saja. Logikanya berteriak bahwa pria ini adalah bagian dari dinasti yang melenyapkan Felix, tetapi interaksi jarak dekat yang mereka lalui perlahan mengikis dinding pertahanannya."Aku mulai menyukainya, tetapi itu tidak sepadan dengan perasaan gelisah karena bingung apakah dia benar-benar membunuh kakakku atau tidak. Dan sekarang, aku harus menyadari bagaimana dia berperilaku terhadapku. Dia benar-benar sangat berbeda," batin Aeri pedih.Eryx yang biasanya penuh dengan sarkasme tajam atau gestur kekanakan yang menyebalkan kini berubah t

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   104

    Suasana di dalam kamar tidur utama paviliun barat itu mendadak mendingin hingga ke titik beku. Pertanyaan Eryx yang menghunjam lurus tanpa tedeng aling-aling meruntuhkan sisa-sisa ketenangan yang susah payah Aeri bangun. Nama "Callista" yang baru saja ia sebutkan memantul di dinding ruangan, terdengar sumbang dan dipenuhi kepalsuan yang telanjang di hadapan ketajaman insting seorang Eryx Leander.Eryx melangkah maju satu kali lagi, membuat jarak di antara mereka terkikis habis. Ia menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam sepasang manik mata Aeri dengan tatapan yang begitu pekat, seolah-olah ia bisa melihat menembus tengkorak kepala wanita itu dan membaca setiap memori yang tersimpan di sana."Callista?" Eryx mengulang nama itu, lalu mendengus sinis. Sebuah tawa hambar lolos dari bibirnya. "Jangan meremehkan inteligensiku, Kak Gahensa. Atau haruskah aku memanggilmu dengan nama fiktif barumu itu? Sejak awal aku tahu kau berbohong tentang motif uang dan pengaruh, dan sekarang kau bahkan

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   103

    Aeri merasakan seluruh persendian tubuhnya membeku. Udara di dalam kamar tidur utama paviliun barat itu seolah tersedot habis, menyisakan ruang hampa yang dipenuhi oleh ketegangan yang ekstrem. Jemari dingin Eryx yang masih mengusap pipinya terasa laksana mata pisau yang siap menggores kulitnya kapan saja. Identitasnya telah dikuliti habis, dan pria di hadapannya ini adalah pemegang kendali atas hidup dan matinya malam ini. Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan dari dasar takdirnya, Aeri menepis pelan tangan Eryx. Aeri menatap lurus ke dalam manik mata gelap Eryx, menuntut jawaban. "Bukankah Anda sudah tahu sejak awal... kalau saya adalah seorang gadis?" Eryx tidak berpaling. Dia menurunkan tangannya perlahan, lalu menyandarkan tubuhnya pada tepi meja jati dengan gaya yang teramat santai, seolah-olah bongkar-pasang identitas ini hanyalah permainan catur yang membosankan. "Memang," jawab Eryx pendek, nadanya sangat datar. "Aku tahu sejak awal bahwa kau adalah seorang gadis

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   102

    Setelah perbincangan beralih ke perihal gaji dan kecelakaan Felix, keheningan kembali menguasai kamar tidur utama paviliun barat. Aeri menekan seluruh gejolak emosinya, kembali memasang topeng "Gahensa" yang patuh, dan dengan telaten mengurus segala keperluan Eryx. Dia menyiapkan obat penenang dari tim medis, membantu membetulkan posisi perban di perut pria itu, hingga akhirnya Eryx memejamkan mata dan tertidur pulas di bawah pengaruh obat.Begitu deru napas Eryx terdengar konstan dan berat, Aeri bergerak tanpa suara. Mengambil kain lap dan beberapa peralatan pembersih, dia mulai menyeka sisa-sisa air hujan yang sempat terbawa masuk ke lantai marmer dekat balkon. Namun, itu hanyalah kedok. Sembari membersihkan tempat itu, Aeri menyelidiki setiap sudut kamar dengan jeli. Matanya menyisir sela-sela laci, kolong meja, hingga balik bingkai lukisan besar, berharap menemukan sisa-sisa rahasia yang mungkin Eryx sembunyikan—semacam kertas, dokumen, berkas Proyek Utama, atau petunjuk apa pun t

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   101

    Setelah punggung Kaeragha menghilang di balik pintu kaca lobi, suasana koridor kembali lengang. Keheningan yang tertinggal terasa pekat dan menekan, menyisakan ketegangan yang masih berdesir di udara. Eryx membalikkan tubuhnya perlahan, jubah kebesaran yang tersampir di pundaknya berdesir halus mengikuti pergerakannya. "Kau terluka lagi, Kak Gahensa," ucap Eryx tiba-tiba. Suaranya tidak lagi menggelegar penuh harga diri seperti saat menghadapi Kaeragha tadi. Nada bicaranya melunak, kembali pada intonasi rendah yang sarat akan perhatian posesif yang teramat akrab—dan teramat dibenci Aeri karena selalu berhasil menggoyahkan dinding pertahanannya. Aeri tersentak kecil di balik topeng penyamarannya. Dia buru-buru menyembunyikan telapak tangannya yang terbalut saputangan ke balik saku celana taktisnya. "Ini hanya luka kecil akibat pecahan kaca di kantor polisi kemarin, Tuan Muda. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Eryx tidak menjawab. Dia hanya menatap Aeri dengan sepasang manik ma

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   100

    Lobi Kediaman Utama Leander yang luas mendadak terasa menyempit. Aura intimidatif dari Kaeragha, berpadu dengan kekejaman laten yang menguar dari tubuh Eryx. Di antara mereka, Aeri berdiri tegak sebagai Gahensa, merasakan tatapan tajam Kaeragha seolah sedang menguliti topengnya lapis demi lapis. Pria itu belum lupa rasa sakit akibat serangan di jalan layang semalam, dan dia sepertinya sedang mencoba menyambungkan titik-titik yang meresahkan itu dengan kehadiran Aeri."Ada seseorang di balik layar, Eryx," suara Kaeragha memecah keheningan, matanya tak lepas dari wajah Aeri. "Seseorang yang cukup serius ingin mengorek kematian Felix hingga ke tulang-tulangnya. Ini bukan lagi sekadar bisingnya publik, tapi sabotase yang terencana. Kau harus lebih waspada."Eryx menanggapi dengan tawa dingin yang terdengar seperti gesekan pisau. Dia melirik Kaeragha dengan tatapan penuh penghinaan. "Kau bicara seolah kau peduli, Kaeragha. Padahal, sejak hari pertama Felix tewas, kau bahkan tidak menunjuk

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   04

    Aeri datang lebih awal karena itu adalah cara untuk menunjukkan kepada Eryx Leander bahwa keputusannya untuk mengambil Gahensa Xan bukan kesalahan—itu adalah investasi dalam hidupnya sendiri.Maya, pembantu rumah tangga, terlihat terkejut melihat Aeri sudah di penthouse saat pagi buta."Tuan Eryx m

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   02

    Enam bulan kemudian, Aeri masuk ke akademi keamanan elite dengan nama palsu dan identitas palsu yaitu Gahensa Xan. Selama enam bulan itu, dia berlatih sangat keras. Ketika kakaknya libur bekerja, dia biasanya cerita soal pekerjaannya termasuk bagaimana caranya menjadi seorang pengawal terlatih. Dan

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   01

    Jasad Felix berbaring di ruang perawatan dengan pakaian formal yang terlalu rapi. Aeri Roseanne berdiri di ambang pintu, tidak bergerak, tidak menangis. Matanya—mata yang indah dengan irisan mata yang tajam—tetap terbuka mengamati wajah kakaknya yang sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   53

    "Kak Gahensa, kenapa kamu buru-buru sekali? Aku masih hidup sekarang. Artinya adalah, aku masih bisa bertarung," bisik Eryx di depan wajah Aeri. Aeri menahan nafas dengan kedua mata terbelalak. Lagi-lagi dia gegabah. Namun jika tidak didorong, bagaimana dia akan segera mengetahui dibalik kematia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status