Share

05

Penulis: Eselitaa
last update Tanggal publikasi: 2026-04-24 10:41:39

Pukul delapan pagi, Eryx muncul di ruang makan dengan penampilan yang membuat Aeri terdiam sejenak.

Ia tidak bertelanjang dada seperti yang Aeri bayangkan. Sebaliknya, ia mengenakan kaus desainer yang pas di tubuh, celana rapi berpotongan presisi, dan arloji yang nilainya lebih tinggi dari gaji Aeri selama setahun pertama.

Rambutnya ditata dengan kesan acak yang tetap elegan. Ekspresinya menunjukkan seorang pemuda yang sudah sepenuhnya bangun dan siap membuat masalah.

“Pagi, Gahensa,” kata Eryx, menjatuhkan diri ke kursi tanpa sedikit pun anggun. “Aku butuh sarapan. Dan bukan makanan kelinci. Aku mau telur, bacon, dan roti dengan mentega sungguhan.”

“Saya akan memberi tahu Maya,” jawab Aeri.

“Tidak, kamu yang akan membuatnya,” kata Eryx, menatap Aeri dengan ekspresi yang jelas menguji. “Karena pengawal yang bagus seharusnya bisa melakukan banyak hal, kan?”

Aeri menatap Eryx. Ia dibalas tatapan dengan senyum jahil yang jelas menunjukkan bahwa Eryx sedang bermain dengannya.

“Saya pengawal Anda, bukan koki,” kata Aeri, suaranya tetap tenang. “Keamanan adalah prioritas, tuan.”

“Baik, tapi keamananku juga mengharuskan aku tidak kelaparan,” protes Eryx. “Logika sederhana. Aku lapar, aku jadi mudah kesal. Aku kesal, aku jadi ceroboh. Aku ceroboh, orang-orang yang ingin aku mati jadi senang. Jadi secara teknis, membuatkan aku sarapan adalah bagian dari pekerjaan keamananmu.”

Aeri berdiri dan pergi ke dapur. Karena, menjengkelkan atau tidak, Eryx punya poin yang tidak sepenuhnya keliru.

Ia menyiapkan sarapan dengan presisi yang sama seperti ia melakukan segalanya—telur yang matang sempurna, bacon yang renyah, roti panggang dengan tingkat kematangan yang merata. Ia membawanya kembali.

Eryx makan dengan selera yang mengejutkan dan antusiasme yang tidak disembunyikan.

“Ini enak,” katanya dengan mulut penuh. “Kamu bisa memasak. Mengesankan. Kebanyakan pengawalku yang pernah kutemui bisa bertarung, tapi tidak bisa membuat telur sederhana.”

“Saya dilatih di akademi elit, tuan. Bukan sekolah kuliner.”

“Ya, tapi tetap saja telurnya lebih enak daripada buatan koki pribadiku,” kata Eryx sambil meneguk jus jeruknya. “Mungkin aku salah menempatkan orang di pekerjaan yang salah. Mungkin kamu harus jadi koki, dan kokiku jadi pengawal. Kita lihat saja hasilnya.”

Aeri tidak merespons. Ia hanya berdiri di sana, mengawasi, memindai, menunggu permintaan berikutnya.

Kedua tangan Aeri terkepal dan dia mengumpat di dalam hati,"Serius calon kepala keluarga Leander seperti ini?"

Secara internal, ia mencatat sesuatu yang tak terduga: Eryx tidak benar-benar serius tentang apa pun. Ia tidak berpikir dua langkah ke depan. Ia tidak paranoid terhadap ancaman. Ia tidak bertindak seperti seorang CEO yang memiliki musuh.

Ia bertindak seperti seorang anak yang memiliki uang dan waktu tanpa batas.

“Kamu berdiri di sana seperti patung,” kata Eryx santai. “Santai sedikit, Gahensa. Aku tidak akan tiba-tiba mati hanya karena kamu berkedip.”

Aeri tidak menjawab. Kemarahan menyelimutinya.

“Jadwalku hari ini apa?” tanya Eryx, mengambil sepotong roti.

Aeri langsung menjawab, suaranya rapi dan profesional. “Pukul sembilan, rapat internal dengan divisi investasi. Pukul sebelas, pertemuan dengan pihak eksternal. Pukul satu siang—”

“Lewati,” potong Eryx.

Aeri berhenti. “Maaf?”

“Rapat jam sembilan, aku hadir,” lanjut Eryx sambil mengunyah. “Yang jam sebelas, batalkan. Yang jam satu, mungkin. Sisanya… lihat nanti.”

“Jadwal itu sudah disusun—”

“Tidak mau tahu,” potong Eryx lagi, kali ini menatap langsung ke arah Aeri. “Kalau aku ingin seperti itu, ya seperti itu."

Aeri diam-diam mengumpat.

Pukul delapan empat puluh lima, mereka sudah berada di dalam lift privat yang langsung terhubung ke lantai kantor.

Aeri berdiri sedikit di depan, posisinya strategis—cukup dekat untuk melindungi, cukup jauh untuk tidak mengganggu. Matanya terus bergerak, membaca pantulan di dinding logam, memetakan ruang sempit itu.

Eryx, di sisi lain, bersandar santai.

Terlalu santai.

“Kalau ada yang menyerang di lift seperti ini, kamu bakal ngapain?” tanya Eryx tiba-tiba.

Aeri tidak menoleh. “Menetralkan ancaman dalam ruang terbatas. Menggunakan sudut sempit sebagai keuntungan.”

“Hm.” Eryx memiringkan kepala. “Dan aku?”

“Anda tetap di belakang saya.”

“Selalu?”

“Selalu.”

Eryx tersenyum tipis. “Kedengarannya membosankan.”

“Keamanan memang tidak dirancang untuk menghibur, tuan.”

“Ya, itu masalahnya,” gumam Eryx.

Pintu lift terbuka.

Lantai kantor langsung hidup begitu mereka melangkah keluar—staf yang lewat langsung menunduk hormat, suasana berubah tegang, teratur.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   143

    Deru mesin jip tua itu membelah suara gemuruh angin laut dan rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi. Eryx menginjak pedal gas dalam-dalam, melajukan kendaraan itu melintasi jalur berkerikil menembus rapatnya hutan pinus. Di kursi samping kemudi, Aeri duduk bersiaga, senapan otomatis masih terpangku di atas pangkuannya sambil matanya terus meneliti kaca spion, memastikan tidak ada kendaraan musuh yang menyusul.Di kursi belakang, kedua orang tua Aeri saling bergenggaman tangan rapat-rapat. Raut ketakutan masih membayang di wajah mereka setelah mendengar rentetan tembakan yang memekakkan telinga beberapa menit lalu, namun tatapan haru dan lega tak lepas dari punggung putri mereka."Mereka tidak mengejar kita," bisik Aeri, perlahan menurunkan senjatanya. Ketegangan di bahunya mendadak meluruh, memicu rasa perih yang melilit dari luka-luka memar di sekujur tubuhnya.Eryx meliriknya sejenak, melepas satu tangannya dari roda kemudi untuk meraih jemari Aeri. "Bagus. Ozias bukan tipe pr

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   142

    Sinar matahari pagi di pelabuhan tua perlahan tergantikan oleh badai mendung yang bergerak cepat dari arah laut lepas. Angin bertiup kencang, memukul jendela kayu rumah kolonial itu hingga berderit pelan. Eryx berdiri di tepi tebing, matanya yang tajam menangkap riak abnormal pada semak-semak di batas hutan pinus—ratusan meter dari perimeter aman yang telah ditentukan. Insting bertahannya yang telah terlatih bertahun-tahun seketika berdenyut kencang. Ia mengenali pola pergerakan itu: taktik pengepungan taktis. "Aeri," panggil Eryx tenang namun penuh penekanan, tanpa membalikkan badan. Aeri, yang baru saja hendak merapikan barang-barangnya di ambang pintu belakang, seketika berhenti. Ia menangkap ketegangan dalam nada suara Eryx. "Ada apa?" "Bawa orang tuamu ke dermaga bawah lewat jalur belakang. Sekarang," perintah Eryx, tangannya bergerak cepat mengambil senapan otomatis yang tersimpan di balik pintu jip tua. "Kita kedatangan tamu dari rumah." Belum sempat Aeri menjawab, su

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   141

    Sementara itu, jauh dari ketenangan pelabuhan tua yang damai, atmosfer di dalam ruang rapat utama kediaman Leander justru membara oleh ketegangan yang pekat. Ruangan melingkar berlantai marmer hitam itu dipenuhi oleh kepulan asap cerutu dan bisik-bisik penuh intrik dari para tetua konsorsium. Di ujung meja panjang, Tiago Leander duduk dengan raut wajah yang tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Gurat-gurat frustrasi tercetak jelas di keningnya; ia berada di ambang keputusasaan."Kita tidak bisa membiarkan seluruh aset di sektor selatan disita oleh kementerian akibat kecerobohan semalam!" seru salah seorang tetua, memukul meja dengan tongkat berkepala peraknya. "Dewan tetua harus bergerak cepat. Prioritas kita saat ini adalah menyelamatkan Kaeragha dan mengamankan seluruh harta yang tersisa di bawah namanya!""Menyelamatkan seorang pengkhianat yang hampir meruntuhkan reputasi keluarga?" Tiago bersuara, suaranya parau namun penuh penekanan. "Kaeragha telah bertindak di luar kendal

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   140

    Langkah kaki Eryx terasa lebih ringan dari yang pernah ia rasakan seumur hidupnya saat ia menapaki undakan tangga kayu teras tersebut. Sepatu boot militernya yang biasanya berdentang angkuh di koridor marmer kementerian, kini hanya memicu decit halus pada kayu tua yang lembap oleh embun pagi.Saat ia mendekat, interaksi hangat antara Aeri dan kedua orang tuanya mendadak terjeda. Sang ayah, seorang pria dengan rambut yang memutih sebelum waktunya dan gurat kecemasan yang mendalam di wajahnya, seketika memasang posisi protektif di depan istri dan putrinya. Sorot matanya dipenuhi kewaspadaan yang wajar; bagi mereka, lambang keluarga Leander adalah sinonim dari petaka.Aeri menyadari ketegangan itu. Ia segera memegang lengan ayahnya, lalu menatap Eryx. "Ayah, Ibu... dia yang membawaku pulang. Pria ini yang memastikan kita semua bisa keluar dari cengkeraman kementerian."Mendengar penuturan putrinya, ketegangan di bahu sang ayah perlahan melendur, berganti dengan riak ketidak

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   139

    Langkah mereka berdua membekas di atas aspal basah yang mulai disinari cahaya fajar. Di belakang mereka, menara kementerian yang megah kini tampak tak lebih dari sekadar monumen batu yang dingin dan berlubang. Bagi Aeri, berjalan di samping pria yang beberapa jam lalu memegang kendali atas separuh aset distrik atas terasa sangat surealis. Sisa-sisa amarah dan ketegangan di tubuhnya perlahan meluruh, digantikan oleh rasa lelah yang teramat sangat yang kini menghantam kesadarannya. Eryx menuntunnya menuju sebuah mobil sedan hitam sederhana yang terparkir di sudut distrik luar, jauh dari kendaraan taktis bermerek Leander yang biasa ia gunakan. Tanpa sepatah kata pun, ia membukakan pintu untuk Aeri, memastikan gadis itu masuk dengan aman sebelum dia sendiri memutari haluan dan duduk di kursi kemudi. Mesin mobil menyala dengan deru halus. Eryx melajukan kendaraan itu membelah jalanan distrik bawah yang mulai menggeliat seiring terbitnya matahari.

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   138

    Keheningan di dalam ruang interogasi itu terasa lebih menyesakkan daripada suara desing peluru. Tiago Leander, sang patriark yang selama puluhan tahun memegang kendali atas nasib ribuan orang, berdiri mematung. Matanya yang tajam, yang biasanya menyimpan rahasia dunia, kini terkunci pada map folder di tangan putranya. Tiago adalah seorang pragmatis ulung; dia tahu betul bahwa jika data korupsi dan bukti pembunuhan itu jatuh ke tangan pers, dinasti Leander bukan hanya akan kehilangan kehormatan, tapi akan runtuh hingga ke fondasinya. Tiago menghela napas, sebuah embusan panjang yang seolah mengeluarkan seluruh sisa kebijaksanaannya. Dia menoleh ke arah Kaeragha yang terikat, lalu menatap putranya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kekecewaan mendalam dan rasa hormat yang enggan ia akui. "Kaeragha," suara Tiago memecah kesunyian, dingin seperti es. "Aku memberimu segalanya. Posisi, kekuasaan, dan perlindungan keluarga. Tapi kau menggu

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   04

    Aeri datang lebih awal karena itu adalah cara untuk menunjukkan kepada Eryx Leander bahwa keputusannya untuk mengambil Gahensa Xan bukan kesalahan—itu adalah investasi dalam hidupnya sendiri.Maya, pembantu rumah tangga, terlihat terkejut melihat Aeri sudah di penthouse saat pagi buta."Tuan Eryx m

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   08

    Aeri semakin kesal dengan segala omong kosong ini. Tetapi demi mencapai tujuannya, mau tidak mau dia harus melayani hal-hal tidak penting ini. "Benar tuan. Saya lebih tua dari tuan. Saya berusia hampir 27 tahun sementara tuan 25 tahun," kata Aeri. Aeri pernah melihat informasi di internet bahw

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   07

    Rapat berlanjut.Eryx menyetujui beberapa hal. Menolak yang lain. Membuat keputusan besar berdasarkan kriteria yang Aeri tidak sepenuhnya pahami—apakah ia tertarik, apakah ia bosan, apakah ia sedang merasa beruntung.Di tengah rapat, seorang asisten membawa makanan ringan. Eryx langsung mengambil p

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   06

    Namun ketegangan itu segera berubah total. Lantai kantor Leander Corporation adalah gambaran efisiensi dan kekuasaan. Setiap orang bergerak dengan tujuan. Setiap interaksi terukur. Setiap detail direncanakan. Lalu Eryx masuk, dan semuanya berubah menjadi kacau. “Halo, semuanya,” katanya denga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status