ログインPukul delapan pagi, Eryx muncul di ruang makan dengan penampilan yang membuat Aeri terdiam sejenak.
Ia tidak bertelanjang dada seperti yang Aeri bayangkan. Sebaliknya, ia mengenakan kaus desainer yang pas di tubuh, celana rapi berpotongan presisi, dan arloji yang nilainya lebih tinggi dari gaji Aeri selama setahun pertama. Rambutnya ditata dengan kesan acak yang tetap elegan. Ekspresinya menunjukkan seorang pemuda yang sudah sepenuhnya bangun dan siap membuat masalah. “Pagi, Gahensa,” kata Eryx, menjatuhkan diri ke kursi tanpa sedikit pun anggun. “Aku butuh sarapan. Dan bukan makanan kelinci. Aku mau telur, bacon, dan roti dengan mentega sungguhan.” “Saya akan memberi tahu Maya,” jawab Aeri. “Tidak, kamu yang akan membuatnya,” kata Eryx, menatap Aeri dengan ekspresi yang jelas menguji. “Karena pengawal yang bagus seharusnya bisa melakukan banyak hal, kan?” Aeri menatap Eryx. Ia dibalas tatapan dengan senyum jahil yang jelas menunjukkan bahwa Eryx sedang bermain dengannya. “Saya pengawal Anda, bukan koki,” kata Aeri, suaranya tetap tenang. “Keamanan adalah prioritas, tuan.” “Baik, tapi keamananku juga mengharuskan aku tidak kelaparan,” protes Eryx. “Logika sederhana. Aku lapar, aku jadi mudah kesal. Aku kesal, aku jadi ceroboh. Aku ceroboh, orang-orang yang ingin aku mati jadi senang. Jadi secara teknis, membuatkan aku sarapan adalah bagian dari pekerjaan keamananmu.” Aeri berdiri dan pergi ke dapur. Karena, menjengkelkan atau tidak, Eryx punya poin yang tidak sepenuhnya keliru. Ia menyiapkan sarapan dengan presisi yang sama seperti ia melakukan segalanya—telur yang matang sempurna, bacon yang renyah, roti panggang dengan tingkat kematangan yang merata. Ia membawanya kembali. Eryx makan dengan selera yang mengejutkan dan antusiasme yang tidak disembunyikan. “Ini enak,” katanya dengan mulut penuh. “Kamu bisa memasak. Mengesankan. Kebanyakan pengawalku yang pernah kutemui bisa bertarung, tapi tidak bisa membuat telur sederhana.” “Saya dilatih di akademi elit, tuan. Bukan sekolah kuliner.” “Ya, tapi tetap saja telurnya lebih enak daripada buatan koki pribadiku,” kata Eryx sambil meneguk jus jeruknya. “Mungkin aku salah menempatkan orang di pekerjaan yang salah. Mungkin kamu harus jadi koki, dan kokiku jadi pengawal. Kita lihat saja hasilnya.” Aeri tidak merespons. Ia hanya berdiri di sana, mengawasi, memindai, menunggu permintaan berikutnya. Kedua tangan Aeri terkepal dan dia mengumpat di dalam hati,"Serius calon kepala keluarga Leander seperti ini?" Secara internal, ia mencatat sesuatu yang tak terduga: Eryx tidak benar-benar serius tentang apa pun. Ia tidak berpikir dua langkah ke depan. Ia tidak paranoid terhadap ancaman. Ia tidak bertindak seperti seorang CEO yang memiliki musuh. Ia bertindak seperti seorang anak yang memiliki uang dan waktu tanpa batas. “Kamu berdiri di sana seperti patung,” kata Eryx santai. “Santai sedikit, Gahensa. Aku tidak akan tiba-tiba mati hanya karena kamu berkedip.” Aeri tidak menjawab. Kemarahan menyelimutinya. “Jadwalku hari ini apa?” tanya Eryx, mengambil sepotong roti. Aeri langsung menjawab, suaranya rapi dan profesional. “Pukul sembilan, rapat internal dengan divisi investasi. Pukul sebelas, pertemuan dengan pihak eksternal. Pukul satu siang—” “Lewati,” potong Eryx. Aeri berhenti. “Maaf?” “Rapat jam sembilan, aku hadir,” lanjut Eryx sambil mengunyah. “Yang jam sebelas, batalkan. Yang jam satu, mungkin. Sisanya… lihat nanti.” “Jadwal itu sudah disusun—” “Tidak mau tahu,” potong Eryx lagi, kali ini menatap langsung ke arah Aeri. “Kalau aku ingin seperti itu, ya seperti itu." Aeri diam-diam mengumpat. Pukul delapan empat puluh lima, mereka sudah berada di dalam lift privat yang langsung terhubung ke lantai kantor. Aeri berdiri sedikit di depan, posisinya strategis—cukup dekat untuk melindungi, cukup jauh untuk tidak mengganggu. Matanya terus bergerak, membaca pantulan di dinding logam, memetakan ruang sempit itu. Eryx, di sisi lain, bersandar santai. Terlalu santai. “Kalau ada yang menyerang di lift seperti ini, kamu bakal ngapain?” tanya Eryx tiba-tiba. Aeri tidak menoleh. “Menetralkan ancaman dalam ruang terbatas. Menggunakan sudut sempit sebagai keuntungan.” “Hm.” Eryx memiringkan kepala. “Dan aku?” “Anda tetap di belakang saya.” “Selalu?” “Selalu.” Eryx tersenyum tipis. “Kedengarannya membosankan.” “Keamanan memang tidak dirancang untuk menghibur, tuan.” “Ya, itu masalahnya,” gumam Eryx. Pintu lift terbuka. Lantai kantor langsung hidup begitu mereka melangkah keluar—staf yang lewat langsung menunduk hormat, suasana berubah tegang, teratur.Setelah perbincangan beralih ke perihal gaji dan kecelakaan Felix, keheningan kembali menguasai kamar tidur utama paviliun barat. Aeri menekan seluruh gejolak emosinya, kembali memasang topeng "Gahensa" yang patuh, dan dengan telaten mengurus segala keperluan Eryx. Dia menyiapkan obat penenang dari tim medis, membantu membetulkan posisi perban di perut pria itu, hingga akhirnya Eryx memejamkan mata dan tertidur pulas di bawah pengaruh obat.Begitu deru napas Eryx terdengar konstan dan berat, Aeri bergerak tanpa suara. Mengambil kain lap dan beberapa peralatan pembersih, dia mulai menyeka sisa-sisa air hujan yang sempat terbawa masuk ke lantai marmer dekat balkon. Namun, itu hanyalah kedok. Sembari membersihkan tempat itu, Aeri menyelidiki setiap sudut kamar dengan jeli. Matanya menyisir sela-sela laci, kolong meja, hingga balik bingkai lukisan besar, berharap menemukan sisa-sisa rahasia yang mungkin Eryx sembunyikan—semacam kertas, dokumen, berkas Proyek Utama, atau petunjuk apa pun t
Setelah punggung Kaeragha menghilang di balik pintu kaca lobi, suasana koridor kembali lengang. Keheningan yang tertinggal terasa pekat dan menekan, menyisakan ketegangan yang masih berdesir di udara. Eryx membalikkan tubuhnya perlahan, jubah kebesaran yang tersampir di pundaknya berdesir halus mengikuti pergerakannya. "Kau terluka lagi, Kak Gahensa," ucap Eryx tiba-tiba. Suaranya tidak lagi menggelegar penuh harga diri seperti saat menghadapi Kaeragha tadi. Nada bicaranya melunak, kembali pada intonasi rendah yang sarat akan perhatian posesif yang teramat akrab—dan teramat dibenci Aeri karena selalu berhasil menggoyahkan dinding pertahanannya. Aeri tersentak kecil di balik topeng penyamarannya. Dia buru-buru menyembunyikan telapak tangannya yang terbalut saputangan ke balik saku celana taktisnya. "Ini hanya luka kecil akibat pecahan kaca di kantor polisi kemarin, Tuan Muda. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Eryx tidak menjawab. Dia hanya menatap Aeri dengan sepasang manik ma
Lobi Kediaman Utama Leander yang luas mendadak terasa menyempit. Aura intimidatif dari Kaeragha, berpadu dengan kekejaman laten yang menguar dari tubuh Eryx. Di antara mereka, Aeri berdiri tegak sebagai Gahensa, merasakan tatapan tajam Kaeragha seolah sedang menguliti topengnya lapis demi lapis. Pria itu belum lupa rasa sakit akibat serangan di jalan layang semalam, dan dia sepertinya sedang mencoba menyambungkan titik-titik yang meresahkan itu dengan kehadiran Aeri."Ada seseorang di balik layar, Eryx," suara Kaeragha memecah keheningan, matanya tak lepas dari wajah Aeri. "Seseorang yang cukup serius ingin mengorek kematian Felix hingga ke tulang-tulangnya. Ini bukan lagi sekadar bisingnya publik, tapi sabotase yang terencana. Kau harus lebih waspada."Eryx menanggapi dengan tawa dingin yang terdengar seperti gesekan pisau. Dia melirik Kaeragha dengan tatapan penuh penghinaan. "Kau bicara seolah kau peduli, Kaeragha. Padahal, sejak hari pertama Felix tewas, kau bahkan tidak menunjuk
Setelah merangkak keluar dari pipa ventilasi, Aeri bergegas merapikan kembali seragam taktisnya di toilet lantai dua. Dia mengatur napasnya yang memburu, menghapus sisa abu besi yang menempel pada wajah penyamarannya, lalu melangkah kembali ke koridor luar ruang rapat dengan postur "Gahensa" yang tegak.Tidak lama kemudian, pintu mahagoni ruang rapat terbuka. Eryx melangkah keluar sendirian, jubah kebesarannya tampak sedikit longgar, memancarkan aura frustrasi yang jarang ia tunjukkan. Aeri segera menyambutnya dan berjalan di sampingnya menuju paviliun barat.Memanfaatkan situasi, Aeri memberanikan diri untuk bertanya soal rapatnya. "Bagaimana hasil rapatnya, Tuan Muda?"Eryx mendengus pendek, rahangnya mengeras. "Rapatnya masih belum selesai, Kak Gahensa. Dewan tetua masih belum menetapkan aku sebagai calon pewaris kepala keluarga yang sah. Mereka terlalu pengecut."Eryx menjeda langkahnya, menatap Aeri dengan sorot mata yang dipenuhi kejengkelan yang mendalam. "Mereka ketakutan kare
Aeri melangkah dengan tergesa menuju lorong darurat yang sepi di sisi barat aula utama. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam karena terbentur oleh tembok kerahasiaan keluarga Leander. Di dalam ruangan di ujung koridor sana, rapat rahasia yang akan menentukan nasib penyelidikan kematian kakaknya sedang berlangsung, dan dia dikunci di luar seperti orang asing.Dengan tangan yang masih gemetar menahan amarah, Aeri meraba saku taktisnya dan mengeluarkan gawai enkripsi khusus. Dia langsung menghubungi saluran anonim milik detektif terhebat di negara itu."Mereka sedang berkumpul di ruang rapat utama sekarang," bisik Aeri dengan nada bariton penyamarannya yang mendesak, matanya melirik tajam ke setiap sudut langit-langit untuk menghindari kamera pengawas. "Tiago, Selena, dan Eryx ada di dalam. Ini saatnya. Lakukan penyerangan sekarang juga ke kediaman ini. Gunakan wewenang pasukan kementerian untuk mendobrak mereka saat mereka sedang lengah!"Namun, di seberang sa
Malam pelantikan yang agung itu tiba dengan kemegahan yang dingin. Riuh rendah musik klasik dan obrolan para petinggi distrik di aula utama Kediaman Leander terdengar samar hingga ke koridor ruang kerja Tiago yang sepi. Sesuai rencana Calixto, lampu indikator kamera pengawas di lorong itu mendadak mati, berkedip merah sebelum padam total selama lima belas menit.Aeri bergerak laksana bayangan. Menggunakan duplikat stempel digital Eryx yang berhasil ia kloning, ia menempelkannya pada panel pemindai pintu baja di balik tirai mahagoni.Klik. Pintu brankas terbuka tanpa suara.Jantung Aeri bertalu hebat saat jemarinya memilah tumpukan dokumen rahasia, arsip Proyek Utama, hingga mutasi rekening gelap faksi militer. Namun, nihil. Aeri tidak menemukan berkas apa pun soal kematian Felix. Lembar arsip untuk bulan tersebut kosong melompong, seolah sengaja dieliminasi dari sejarah keluarga.Aeri mengepalkan tangannya hingga gemetar. Dia yakin berkas itu sudah diamankan di tempat lain, karena Ery
Pagi hari tiba membawa kabut tipis yang menyelimuti Renhill. Sesuai dengan instruksi Tiago, sebuah mobil limusin hitam mewah sudah terparkir di depan lobi utama. Tidak lama kemudian, Lyra Xan datang. Wanita itu tampak anggun sekaligus angkuh dalam balutan gaun kasual mahal, lengkap dengan kacamata
Eryx masih terpaku. Rasa panik yang samar di matanya perlahan mengendap, digantikan oleh senyuman tipis yang dipaksakan. Dia menatap Gahensa dengan pandangan menilai. Pertanyaan tentang Kaeragha dan Felix jelas mengusik ketenangannya, namun hasrat untuk bebas dari cengkeraman ayahnya jauh lebih bes
Aeri semakin kesal dengan segala omong kosong ini. Tetapi demi mencapai tujuannya, mau tidak mau dia harus melayani hal-hal tidak penting ini. "Benar tuan. Saya lebih tua dari tuan. Saya berusia hampir 27 tahun sementara tuan 25 tahun," kata Aeri. Aeri pernah melihat informasi di internet bahw
Rapat berlanjut.Eryx menyetujui beberapa hal. Menolak yang lain. Membuat keputusan besar berdasarkan kriteria yang Aeri tidak sepenuhnya pahami—apakah ia tertarik, apakah ia bosan, apakah ia sedang merasa beruntung.Di tengah rapat, seorang asisten membawa makanan ringan. Eryx langsung mengambil p







