ログイン"Apa-apaan?!" jerit Malakor terkejut setengah mati melihat sebuah pilar bangunan melayang ke arah wajahnya. BRUKKK! Malakor terpaksa memecah fokus sihirnya untuk menangkis pilar raksasa tersebut. Gangguan konsentrasi itu menjadi celah fatal bagi Malakor yang ditunggu oleh Martis. "Ini akhirnya!" teriak Martis. Dengan memanfaatkan celah tersebut, Martis menembus benteng sihir Malakor dan mengayunkan Pedang Api Suci miliknya tepat mengenai tongkat tengkorak naga milik sang Tetua Agung itu. KREK... PRANGGG! DUAR... PRANGGG! Setelah mengamankan Prasasti Kuno di Kuil Astral, Martis dan Estias kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah bukit kecil di luar kota. Sinar matahari sore menyinari lanskap Lembah Astral yang nampak mulai pulih. Namun, kedamaian itu sepertinya mendadak terganggu oleh suara dentingan nyaring yang hanya bisa didengar oleh Martis di dalam kepalanya. TRIING! [NOTIFIKASI SISTEM PEMBAWA API SUCI] Status Misi: Menyelamatkan Lembah Astral & Me
Perjalanan menuju Kuil Astral dipenuhi oleh sisa-sisa kehancuran. Jalanan kota yang dulunya ramai kini sepi bak kota mati. Udara semakin terasa berat seiring semakin dekatnya Martis dan Estias ke pusat kota. Di atas Kuil Astral yang megah, ternyata ada pilar cahaya ungu kehitaman yang membumbung tinggi menembus langit, itu nampak mengikis sedikit demi sedikit pertahanan energi benua. Ketika mereka berdua akhirnya mendobrak pintu gerbang Kuil Astral yang terbuat dari perunggu tebal, pemandangan di dalam ruang altar membuat langkah mereka terhenti. Di tengah ruangan, melayang sebuah prasasti batu kuno bertuliskan ukiran sihir kuno yang memancarkan cahaya keemasan meledak-ledak. Prasasti itu dikelilingi oleh rantai-rantai bayangan tebal yang menyerap energinya secara paksa. Di depan altar tersebut, berdiri seorang pria tua berjubah hitam kelam dengan tongkat tengkorak naga, ia adalahTetua Agung Sekte Bayangan Abadi, Malakor. "Akhirnya kau datang juga, Pahlawan Api Suci," suara Malako
BRUKKK! Penjaga Dominion yang agung itu tersungkur ke depan dengan wajah menancap sempurna di dalam lumpur lengket, sementara kakinya mencuat konyol ke udara. Martis mendarat dengan mulus di sampingnya, lalu menatap tubuh Estias yang telungkup tidak bergerak. "...Estias? Kau masih hidup?" Estias menarik kepalanya keluar dari lumpur dengan suara PLOK! yang keras. Seluruh wajah dan zirah emasnya kini tertutup lumpur merah yang kental. Dia batuk berkali-kali, lalu mengusap matanya dengan ekspresi bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. "Ini... ini adalah taktik penyatuan dengan alam," kata Estias dengan suara berat dan datar, meski ada sebatang cacing tanah menempel di dahinya. "Lumpur ini berguna untuk menyamarkan bau aura milikku agar musuh tidak bisa mendeteksi kita." Martis menatap cacing di dahi Estias. "Cacing itu juga bagian dari penyamaran alamimu?" "Dia... dia adalah komandan intelijenku yang baru," sahut Estias santai sambil menyentil cacing itu hingga terbang. Sebelum Ma
"Serang mereka! Tangkap Pembawa Api Suci!" jerit Kapten Gigor sambil menarik pedangnya. Puluhan prajurit langsung mengepung mereka. Tanpa buang waktu, Estias mengayunkan tangannya yang raksasa. Tanpa menggunakan senjata, hanya dengan kibasan jubahnya yang ketat, gelombang angin kencang tercipta dan menghempaskan lima prajurit sekaligus hingga melayang ke udara. WUSSSHHH! "Martis! Buka jalannya!" teriak Estias. Martis melompat ke depan, menarik Pedang Api Suci. Dengan satu tebasan horizontal, lidah api keemasan membakar barisan tombak musuh dan menciptakan jalur ledakan di tengah Gerbang Gerhana. Kapten Gigor mencoba menyerang Martis dari belakang dengan kapaknya. Namun, Estias dengan santai menangkap mata kapak tersebut hanya menggunakan dua jarinya. "Kau mengganggu muridku," kata Estias dingin. Dengan satu sentilan jari dari tangan satunya, Estias menyentil dahi Kapten Gigor. PLEK! Kapten Gigor melesat mundur bagaikan peluru, menabrak menara pengawas gerbang hingga me
"Pertarungan yang bagus, Martis. Kerja sama tim kita sangat sempurna," ujar Estias bangga. Martis menatap Estias dengan pandangan tidak percaya. "Kerja sama? Kau cuma menggelinding ke semak-semak!" "Itu dinamakan bantuan psikologis," sahut Estias santai. "Tapi jika Lembah Astral dikuasai, kita harus segera bergerak. Tempat penyimpanan prasasti kuno ada di sana." "Baiklah. Tapi syaratnya satu," kata Martis tegas. "Selama perjalanan, aku yang memasak." Perjalanan menuju Lembah Astral memaksa Martis dan Estias menembus Hutan Gerhana. Wilayah ini kini sangat dijaga ketat oleh sekte lokal yang bekerja sama dengan Sekte Bayangan Abadi. Pos-pos pemeriksaan didirikan di setiap sudut, lengkap dengan poster buronan berisi sketsa wajah Martis dan Estias. Di dekat sebuah tebing, Martis dan Estias mengamati Gerbang Gerhana dari balik semak-semak. Gerbang itu dijaga oleh belasan prajurit berzirah tebal yang dipimpin oleh Kapten Gigor, dia seorang ksatria berkumis melengkung yang terkenal sanga
Asap tebal sisa pertarungan besar Martis tadi masih membumbung di atas puing-puing Kota Benteng Astral. Setelah mengalahkan Penguasa Besar dan menyatukan Tujuh Esensi Api Suci, Martis mendapati dirinya berada di ambang batas kekuatan fisik. Jiwanya membara dengan daya ilahi, namun tubuh fana-nya menuntut istirahat dan terutama, makanan. Di sampingnya, berdiri Estias. Sosok pria berbadan tegap dan kekar luar biasa yang merupakan salah satu dari Tiga Penjaga Dominion Ranah Atas. Meski penampilannya sangat mengintimidasi dengan zirah emas yang megah dan tatapan mata sekeras baja, Estias kini punya peran baru sebagai sekutu setia sekaligus pembimbing Martis. Sayangnya, keagungan Estias sering kali ternoda oleh sifatnya yang terlalu kaku dan bertindak tanpa berpikir panjang. "Martis," kata Estias dengan suara bass yang menggelegar, membuat dedaunan di sekitar mereka berguguran. "Sebagai Sekutu Setiamu dan Penjaga Dominion, aku telah menyiapkan ritual pemulihan stamina agung untuk sang
Jendral Salim sebenarnya sudah menduga bahwa hal ini pasti akan terjadi. 'Anakku ini, rasa percayanya pada seseorang sangat hati-hati. Aku tak habis pikir, setelah Ibunya meninggal, sikapnya jadi seperti ini. Apa yang harus aku lakukan agar ia kembali seperti dulu lagi?' Sambil menatap langit, Jend
Martis dan Gozil melihat bahwa Edmiral Kaziru berhasil menahan serangan yang Gozil lakukan. Melihat itu, Gozil sangat frustasi. Matanya melotot dan ia mengeraskan rahangnya lalu berteriak, "Jangan remehkan kekuatan Ras Naga...!" Gozil pun kembali membuka mulutnya berniat sekali lagi menembakkan bola
Pertemuan Martis dengan Raja Garza sangat memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Dari Martis, ia merasa untung karena akhirnya mendapatkan tempat yang sangat cocok untuknya betlatih meningkatkan kekuatannya. Sedangkan dari Kerajaan Garza, mereka merasa untung karena sejak kabar berita tentang Marti
Phynoglip merah muda yang merasa sedikit kesal pada Martis mejelaskan apa yang terjadi. Rupanya, Phynoglip merah muda tidak mau keberadaannya diketahui oleh orang lain selain Freya dan Alpha. Namun Martis bertanya-tanya, "Apakah Freya dan Alpha juga melupakanmu?" Entah mengapa, pertanyaan Martis in







